
Pembantaian besar-besaran itu terus terjadi sampai berjam-jam. Dua ratusan orang Zhang itu ternyata memang kuat-kuat, hal ini tak mengherankan karena hampir seluruh keluarga Zhang diisi dengan pendekar.
Kegiatan yang awalnya hanya berfokus untuk membunuh para lacur itu, berubah menjadi pemusnahan. Pasukan Zhang mulai membakari rumah-rumah penduduk atas perintah Zhang Qiaofeng.
Mereka tak peduli seberapa banyak mayat lacur di dalam bangunan tersebut, tetap mereka bakar karena itu adalah perintah.
Di suatu ruangan salah satu bangunan yang masih selamat dari kobaran api.
"Tuan, semuanya berantakan, kita akan melawan sekarang?" seru wanita cantik berbaju merah.
Terdapat lima orang wanita cantik yang semuanya berbaju merah. Bajunya itu ketat sekali sehingga membayangkan lekuk tubuh dengan sangat jelas.
Kelimanya ini sedang menghadap seorang lelaki sepuh yang terlihat sudah sangat tua. Namun walaupun begitu, baju dari lelaki ini terbuat dari sutra halus yang mahal.
"Kita akan lawan, tak ada pilihan lain."
"Tuan, anda adalah salah satu dari pendekar sejati, mengapa daritadi anda tidak turun tangan?"
Kakek itu diam sejenak mendengar pertanyaan anak buahnya. Bukan tanpa alasan dia tidak turun tangan sejak kedatangan keluarga Zhang, hanya satu hal yang menjadi alasan itu.
"Aku khawatir akan satu hal. Dan setelah kupastikan, ternyata kekhawatiranku hanyalah kekhawatiran kosong saja. Maka dari itulah, aku memutuskan untuk turun tangan sekarang."
Jawaban ini berhasil membuat kelimanya melongo heran, kaget juga jengkel. Hanya karena kekhawatiran tak jelas saja sampai-sampai membuat ia terus bersembunyi.
"Kekhawatiran apakah itu tuan?" tanya salah satu dari mereka yang sudah tak bisa menahan diri.
"Kujelaskan pun kau tak akan paham. Sudahlah, kalian tak perlu tahu, ayo bergerak."
Sesaat setelah ucapan ini usai, mereka berkelebat lenyap dari ruangan itu menuju distrik merah yang sedang dilanda kekacauan.
Zhang Qiaofeng dan Hantu Merah mengamuk hebat di jalanan. Entah sudah berapa puluh atau bahkan ratusan nyawa yang melayang di tangan mereka.
Orang-orang pencari kesenangan di tempat ini sudah mendengar siapa adanya keluarga Zhang. Maka begitu mengetahui bahwa dalang di balik kekacauan ini adalah keluarga Zhang, mereka lari pontang-panting untuk menyelamatkan diri.
Sehingga saat ini, distrik merah sepenuhnya sudah menjadi tempat pertempuran antara keluarga Zhang dan Iblis Tiada Banding yang entah berjumlah berapa ribu jiwa.
Akan tetapi, walaupun jumlah penghuni Iblis Tiada Banding yang berada di distrik merah lebih dari seribu pasukan, hal ini belum cukup untuk mendesak mundur dua ratus pasukan Zhang.
Terlihat jelas dengan seiring berjalannya waktu, wilayah kebakaran makin luas dan darah-darah yang menjadi penghias jalan makin tebal warnanya. Hal ini membuktikan bahwa pihak Zhang lah yang mendominasi pertempuran.
Ditambah dengan adanya Si Gadis Hantu Zhang Qiaofeng yang menunjukkan taring aslinya. Membikin semua lawan yang memandang gadis bertopeng itu menjadi gentar dan jika ada kesempatan, akan melarikan diri.
Hal ini jugalah yang menjadi penyemangat seluruh pasukan Zhang. Karena mengingat akan kesaktian nona mereka yang sudah jauh lebih kuat dari Sastrawan Sakti dan menyamai Zhang Hongli, membuat semangat tempur mereka meluap-luap. Apalagi lawan mereka adalah Iblis Tiada Banding.
Namun semua itu sedikit berubah tatkala terjadi ledakan besar di salah satu tempat distrik merah. Ledakan besar yang cukup mengejutkan itu berasal dari sebuah rumah yang terbakar dan roboh ketika menerima hantaman hawa pukulan seseorang.
Zhang Qiaofeng bersama lima pengawalnya dengan cekatan menghindar dari bangunan yang roboh itu. Mereka terkejut sekali karena secara kebetulan bangunan yang hancur itu berada di dekat mereka.
__ADS_1
Namun tidak dengan Zhang Qiaofeng yang mengetahui pasti sebab musabab bangunan itu roboh. Dia yang bermata tajam itu mampu menyadari bahwa ambruknya bangunan itu adalah akibat dari perbuatan seseorang.
"Hm...kalau berani jangan hanya menggertak!" seru Zhang Qiaofeng dan mengirim tebasan jarak jauh menggunakan belatinya.
"Braakk!!"
Atap salah satu bangunan yang masih terbakar itu pecah seketika. di saat bersamaan, terlihat bayangan beberapa orang yang berkelebat dan berdiri di hadapan Zhang Qiaofeng.
Ternyata meraka ada enam orang yang terdiri dari lima orang wanita dan satu kakek sepuh. Keenam orang itu bersikap mengancam dan mengintimidasi.
"Kaliankah para pimpinan distrik merah?" tanya Zhang Qiaofeng setelah memandangi wajah mereka satu-satu.
"Si Gadis Hantu dan para Hantu Merah, hebat juga kalian bisa membuat kekacauan separah ini." kata sang kakek yang tak lain adalah Ang Lin. Sedangkan lima orang itu adalah orang-orang terkuat baik di sisi pelacur maupun pendekar distrik merah.
"Jawab pertanyaanku!" desak Zhang Qiaofeng.
"Orang yang akan mati kalau kuberitahu pun tak akan berguna." balasnya dan mengayunkan tangan kanan.
Zhang Qiaofeng terkejut sekali, cepat ia kerahkan hawa saktinya ke kedua lengan dan menyilangkan sepasang lengan kecilnya secara menyilang di depan wajah.
"Dess!"
Gadis itu terpental beberapa langkah, namun saat mendarat masih tetap dalam keadaan berdiri tegak.
"Sialan, pendekar sejati?" batin Zhang Qiaofeng dengan perasaan sedikit khawatir.
"Serang lima orang baju merah itu. Aku akan menghadapi kakek bau tanah ini!" perintah Zhang Qiaofeng yang segera melesat maju menerjang Ang Lin.
"Gadis sombong!"
Terjadi pertarungan sengit di sana. Pertarungan sepuluh wanita yang sama-sama berjubah merah itu terjadi seimbang. Namun jika dilihat lebih teliti, sejatinya lima orang Hantu Merah sedikit lebih unggul.
Akan tetapi berbanding terbalik dengan pemimpin mereka. Kakek sepuh itu sedikit mendominasi dalam pertarungannya melawan Zhang Qiaofeng. Bagaimana tidak, Ang Lin merupakan pendekar sejati, sedangkan Zhang Qiaofeng hanyalah seorang yang masih sedikit menguasai hawa sakti. Tentu saja perbedaannya sangat terlihat jelas.
Bahkan Ang Lin saat ini masih menahan diri karena ingin bermain-main dengan gadis hantu itu, sehingga posisi Zhang Qiaofeng saat ini benar-benar dipermainkan.
"Aghh!!"
Zhang Qiaofeng terpental ketika tendangan Ang Lin dengan telak mendarat di perutnya. Zhang Qiaofeng berjungkir balik di udara beberapa kali sebelum mendarat dengan sempurna.
"Cukup main-mainnya, distrik merah sudah menjadi puing-puing. Sebentar lagi pasukanmu pasti akan datang kemari dan itu adalah hal merepotkan. Kau harus mati kali ini!" ucap dingin Ang Lin yang melangkah mendekati Zhang Qiaofeng pelan-pelan.
"Huh...?" gadis itu terkejut sekali ketika tiba-tiba dia jatuh berlutut tanpa alasan yang jelas. Kedua tangannya pun tiba-tiba melemas dan sepasang belatinya jatuh ke tanah.
"Apa ini? Aku tak bisa mengalirkan hawa saktiku?" gumam Zhang Qiaofeng mulai panik.
"Nona!" seru Song Qian datang mendekat.
__ADS_1
Namun sebelum benar-benar sampai, Ang Lin mengibaskan tangan kiri dan Song Qian terpental seketika.
"Jangan mendekat, hadapi lawanmu sendiri!" bentak Zhang Qiaofeng ketika melihat musuh Song Qian melesat cepat ingin menewaskan mantan murid Golok Penghancur Gunung itu.
Untung Song Qian bergerak cepat sehingga mampu menangkis senjata lawan. Dia lalu kembali bertarung sengit tanpa mampu menolong nonanya.
"Tak ada lagi yang akan menolongmu." kata Ang Lin ketika sudah datang dekat.
"Apa yang kau lakukan padaku?"
"Ini teknik dasar pengolahan hawa sakti. Kau tak mampu sampai ke tingkat ini bukan? Kau masih terlalu pemula dalam pengolahan hawa sakti. Tendanganku tadi berhasil menotok urat lumpuhmu, jika kau tak disembuhkan dalam waktu satu jam, maka kau akan lumpuh selamanya."
Zhang Qiaofeng terbelalak dan mukanya berubah pucat. Dia merasa takut sekali sekarang ini lebih dari ketakutan yang selama ini dia rasa.
Jika dia takut mati, itu salah besar. Jika dia takut lumpuh selamanya, itu jelas tidak benar. Yang dia takutkan adalah, dia sebentar lagi akan mati dengan keyakinan bahwa Lin Tian masih hidup, dan saat dia mati, dia tidak mampu untuk melihat pencuri hatinya itu untuk terakhir kali!
"Benarkah aku akan mati? Tidak....tidak....aku belum bertemu dengannya..!" jeritnya dalam hati dan tanpa sadar dua titik air mata turun membasahi pipi.
"Kau takut? Hahaha...kali ini kau akan menjadi hantu sungguhan! Selamat tinggal!" Ang Lin menebaskan tangannya yang penuh dengan aliran hawa sakti. Jika itu berhasil mendarat telak di tubuh Zhang Qiaofeng, maka tak ada lagi kesempatan untuknya hidup lebih lama.
"Tidak...tidak...! Siapa pun tolong....!"
"Buaghh!!"
Tiba-tiba, ada bayangan hitam berkelebat yang datang entah darimana. Bayangan itu berhasil mendaratkan kakinya dengan telak ke wajah Ang Lin yang masih menyeringai.
"Aaagghh!!" Ang Lin berteriak kesakitan dan terpental jauh. Sedangkan orang yang menendang tadi masih berada di udara dan belum menyentuh tanah.
Masih dalam keadaan melayang, orang misterius berbaju serba hitam itu sudah berkelebat lagi dan berturut-turut terdengar jeritan ngeri beberapa wanita.
"Ada apa ini?" seru Yin Yin heran karena tiba-tiba kepala lawannya pecah.
"Nona!!" Fen Lian dan Song Qian menghampiri nonanya yang sudah jatuh berlutut itu.
Sedangkan Zhang Qiaofeng, dia terbelalak lebar dan wajahnya makin pucat. Dia terus memperhatikan sosok itu yang membunuhi lima gadis lawannya dengan secepat kilat dan melompat tinggi ke atas genteng.
Di atas sana, dia memandang kearahnya dan sedikit senyum terbentuk di bibirnya. Dari dahi kanan sampai pipi kanan tertutup topeng sebelah wajah berwarna hitam.
Karena api masih menari-nari dengan hebatnya, sehingga setengah wajahnya yang lain tertutup kobaran api tersebut. Sehingga Zhang Qiaofeng hanya mampu melihat setengah senyumnya dan topeng hitamnya.
Akan tetapi, Zhang Qiaofeng merasa sangat kenal dengan orang tersebut. Batinnya terus berteriak menyuruhnya agar segera bangkit dan menghampiri penolongnya. Namun hal itu mustalhil karena saat ini kondisinya sedang lumpuh, di lain sisi, penolongnya itu sudah cepat-cepat menghilang sesaat setelah tersenyum padanya.
Walaupun wajahnya tertutup topeng dan api, namun senyum itu...senyum itu akan selalu membekas di relung hatinya yang terdalam. Tanpa sadar, mulutnya sedikit terbuka dan terdengar gumaman lirih penuh getaran haru.
"Lin....Tian...?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG