
"Ayah....Ayah....!!"
Belum juga selesai pekerjaan mereka untuk mengurusi mayat-mayat itu, tiba-tiba ada suara teriakan yang familiar dari kejauhan. Serentak mereka semua menoleh ke sumber suara hanya untuk menemukan anak walikota yang sedang berlari dengan wajah panik.
"Ayah gawat!!" katanya setelah sampai dekat.
"Ada apa!?" tanya walikota yang terbawa panik pula. Firasatnya mulai buruk.
"Hilang....hilang...!! Kitab itu hilang!!" jawab putra walikota dengan wajah pucat dan berkeringat dingin.
Tepat setelah ucapan ini selesai, Zhang Qiaofeng dan lainnya sampai di sana dengan wajah yang sedikit kebingungan. Namun mereka tahu jika ada sesuatu yang hilang dari keluarga Wang itu, akan tetapi dia tak tahu apa itu.
"Apa katamu!? Sial!!" walikota segera berlari cepat untuk pulang ke rumahnya.
Lin Tian yang melihat hal ini pun segera mengejar, dia pun juga penasaran tentang kitab yang hilang itu. Begitu lewat di sebelah Nonanya, dia bertanya.
"Nona, apa yang hilang?"
"Aku tak tahu, tapi menurut ucapannya tadi, bukankah yang hilang adalah sebuah kitab?"
"Iya, tapi kitab apakah itu?"
"Aku tidak tahu!! Peti penyimpanan sudah pecah dan isinya kosong sama sekali."
Lin Tian mengangguk dan melanjutkan langkah untuk pergi ke rumah walikota. Entah kenapa dia pun tidak tahu, namun pencurian kitab ini menurut firasatnya, sangat berhubungan dengan pencurian kitab milik perkumpulan Bunga Teratai.
Lin Tian semakin jauh pergi, karena bingung, maka Zhang Qiaofeng memilih untuk ikut. Melihat Nonanya ikut, Minghao dan Lu Jia Li ikut pula. Karena tak ada kawan dan tak tahu harus melakukan apa, Kim Chao akhirnya ikut juga bersama mereka.
Begitu sampai di gudang harta, terdengar suara seperti bisik-bisik dari dalam gudang. Saat Lin Tian memandang, kiranya suara itu berasal dari walikota Wang yang sedang berlutut seraya memandangi peti kosong yang sudah pecah.
"Hilang....benar-benar hilang....." gumamnya dengan suara gemetar.
__ADS_1
Lin Tian lekas menghampiri dan memegang pundak pria tersebut. "Tenanglah Tuan, ceritakan padaku apa yang hilang dan kitab apakah itu?"
...****************...
Mereka duduk di dalam kamar walikota, melingkari sebuah meja bundar yang cukup lebar. Nampak di sana duduk Zhang Qiaofeng dan anggota-anggota keluarga Zhang, Kim Chao, dan walikota Wang beserta anak istrinya.
Wajah tiga orang keluarga Wang itu nampak pucat sekali seperti tidak ada gairah hidup. Diam-diam Lin Tian merasa heran dan makin penasaran akan kitab yang hilang tersebut.
"Maafkan aku bila merepotkan kalian. Namaku Wang Su, dan putraku ini bernama Wang Yuwen, sedangkan isteriku Ming Na." kata walikota membuka pembicaraan.
"Jujur saja kami tidak ingin merepotkan keluarga Zhang, mengingat akan tindakan kami yang semena-mena terhadap Nona Zhang waktu itu, kami benar-benar malu. Karena itulah, mohon Nona tidak perlu repot-repot membantu kami."
"Tidak, aku akan tetap membantu kalian, tak bisa kutinggalkan sesuatu urusan yang berhubungan dengan Aliansi Golongan Hitam. Walaupun kita baru saja saling jumpa, namun musuh kalian adalah Aliansi dan mereka itu merupakan musuh besar keluarga Zhang!" jawab Zhang Qiaofeng.
"Karena itulah, mohon ceritakan apa isi kitab itu?" lanjutnya.
Tiga orang itu saling pandang sejenak, nampak ragu-ragu. Akan tetapi Ming Na segera memegang lengan suaminya untuk menyakinkan. Agaknya perempuan itu sudah tak ada harapan lain selain bergantung kepada keluarga Zhang.
Mulailah walikota itu menceritakan dengan jelas. Soal kitab itu yang katanya jauh lebih berharga ketimbang tiga buah batu berlian yang besar berkilauan di gudang harta.
Menurut penuturannya, sepasang kitab itu merupakan kitab ilmu silat yang merupakan warisan keluarga Wang. Kitab itu bernama Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari, dua buah kitab yang selalu terjaga ketat di ruang harta. Menurut cerita Wang Su, sepasang kitab itu merupakan dua buah kitab yang dimiliki pendiri keluarga Wang ratusan tahun lalu. Sehingga benda itu dianggap keramat.
Akan tetapi, selama ratusan tahun itu pula, belum pernah ada seorang pun yang mampu menguasai ilmu Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari kecuali putra tunggal pendiri keluarga Wang. Bahkan seorang biksu yang waktu itu menjadi ketua Perguruan Tapak Putih, yang konon menjadi manusia terpintar kala itu karena pengetahuannya akan filsafat dan ujar-ujar kuno yang tak tertandingi, masih belum paham akan isi sepasang kitab itu begitu melihat kalimat-kalimat di dalamnya.
Maka ributlah dunia persilatan waktu itu, banyak orang baik dari golongan hitam maupun putih memperebutkan sepasang kitab itu. Dan pendiri keluarga Wang sama sekali membiarkan saja ketika dua buah kitab itu selalu berpindah tangan dan membuat pertumpahan darah di mana-mana, karena bagaimana pun juga, pendiri keluarga Wang percaya betul bahwasaanya tidak akan ada satu pun orang yang mampu menguasai dua ilmu itu kecuali orang-orang yang dia kehendaki.
Namun melihat kekacauan itu, pendiri keluarga Wang memutuskan untuk mencari dua buah kitab miliknya dan begitu berhasil ditemukan, dia membakar kitab itu. Kemudian menyuruh putranya untuk membuat salinan kitab baru yang isinya sama persis seperti kitab asli, dan setelah selesai dibuat, kitab itu disimpan di ruang harta keluarga Wang, sampai saat ini.
"Bahkan kalian yang merupakan bagian dari keluarga Wang, tidak dikehendaki oleh pendiri Wang sehingga sama sekali tidak ada yang mewarisi ilmu itu?" tanya Lin Tian.
"Benar tuan, tapi..."
__ADS_1
Wang Su melanjutkan ceritanya. Sesaat setelah kitab asli dimusnahkan dan kitab salinan berhasil dibuat secara diam-diam, putra pendiri Wang itu tiba-tiba lenyap, entah pergi kemana tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan ayahnya saja hanya tahu kalau anaknya pergi jauh, tidak pernah tahu kemana tujuan pasti putranya itu.
Akan tetapi diam-diam dia merasa lega, karena anaknya telah mewarisi dua ilmu hebatnya, sehingga jika tidak mengasingkan diri, tentu dia akan menjadi buronan orang persilatan di seluruh dunia. Maka setelah anaknya pergi, tak berselang lama setelah itu, pendiri Wang turun jabatan dari kursi pemimpin digantikan oleh orang kepercayaannya. Kemudian dia pun ikut mengasingkan diri, tak pernah muncul lagi ke dunia ramai.
"Karena itulah tuan, kami sama sekali tidak takut kitab itu dicuri karena kami pun yakin si Golok Penghancur Gunung itu tak akan mampu untuk menguasai sepasang kitab warisan keluarga kami. Namun, yang kami takutkan adalah, kami telah melanggar sumpah kami kepada para leluhur." kata Wang Su dengan lesu dan mengakhiri ceritanya.
"Bahkan tiga bongkah batu berlian yang sengaja kita taruh di sana untuk mengalihkan perhatian jika sewaktu-waktu ada pencuri, masih tidak mampu memgelabui para pencuri anak buah Golok Penghancur Gunung itu. Bagaimana mereka bisa tahu keadaan di sini?" kata pula Wang Yuwen.
"Lalu, apa kalian hendak mencari kitab itu dan bentrok dengan Golok Penghancur Gunung?"
"Tentu saja Nona, walaupun kami keluarga Wang harus terbasmi habis, namun kami harus tetap menjaga sumpah kami!!" jawab Wang Su.
Setelah itu ruangan menjadi hening, semua orang larut dalam pikiran masing-masing. Keluarga Wang sedang bingung memikirkan bagaimana cara untuk merebut kembali dua buah kitab itu. Zhang Qiaofeng dan anggotanya juga ikut memikirkan strategi terbaik jika senadainya dalam pencarian dua buah kitab itu, mereka sampai bentrok dengan Golok Penghancur Gunung. Walaupun hanya membantu, namun Zhang Qiaofeng sendiri tidak ingin membantu setengah-setengah.
Sedangkan Kim Chao, daritadi dia hanya diam dan makin lama matanya kian mencorong tajam. Sebenarnya dia daritadi sedang menahan lapar yang lama-lama makin terasa melilit. Dia tak mampu untuk berpikir saat ini.
Setelah beberapa lama, akhirnya Zhang Qiaofeng berkata, "Paman dan kakak, kembalilah kalian ke kediaman dan tolong laporkan semuanya pada kakek. Aku dan Lin Tian akan membantu keluarga Wang."
Minghao dan Lu Jia Li terkejut sekali mendengar perintah ini, mereka merasa seperti "dibuang" karena kepandaian mereka yang belum mumpuni untuk membantu. Maka segera Minghao mengajukan protes.
"Bagaimana bisa begitu Nona? Kami akan tetap membantu!!" ucapan tegas Minghao ini diangguki oleh Lu Jia Li.
Zhang Qiaofeng tersenyum manis sebelum berkata, gadis ini tahu benar akan perasaan keduanya, "Keluarga Zhang membutuhkan kalian, paman Lu dan juga adik-adiknya tak bisa mengurus semuanya sendirian. Juga kakak Lu, bukankah kau harus melatih bibi Yin dan lainnya? Paman Minghao, bukankah kau harus mengatur pembangunan kediaman utama keluarga Zhang di dekat air terjun itu? Kalian masih punya tugas penting."
Minghao dan Lu Jia Li terdiam, mereka nampak kecewa karena tak mampu untuk berkonstribusi dalam masalah ini.
"Percayalah pada kami." Zhang Qiaofeng berkata dan senyum manis itu makin mengembang lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1