
Setelah penaklukan distrik merah oleh keluarga Zhang, seluruh kekaisaran Song gempar. Mereka bingung, kaget dan tentunya...sedih atas menghilangnya distrik hiburan yang selama ini mereka agung-agungkan.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah, fakta bahwasannya distrik merah adalah tempat dimana berkumpulnya anggota-anggota Iblis Tiada Banding. Entah mengapa kaisar Song tidak tahu akan masalah ini, tapi mungkin sekali bahwa kaisar itu tak pernah mengira sebelumnya bahwa tempat pelacur tersebut digunakan sebagai markas para mata-mata.
Saat pasukan kekaisaran datang ke sana, seluruh distrik sudah acak-acakan tak berbentuk. Hanya menyisakan puing-puing gosong akibat pembakaran besar-besaran yang dilakukan keluarga Zhang. Tapi tentu saja komplek Timur masih selamat dan sehat.
Karena semua orang penghuni distrik merah sudah mati, pihak kekaisaran tidak mempunyai seseorang untuk diinterogasi. Maka satu-satunya jalan untuk mengetahui semuanya adalah melalui keluarga Zhang yang menjadi pertama kali tahu akan masalah tersebut.
Dan pagi ini, Zhang Hongli mewakili cucunya mendatangi istana bersama tiga Barisan Hantu lain. Kunjungan ini kaisar Song lakukan bukan lain untuk mengetahui siapa pemimpin dari distrik merah dan apa tujuan sesungguhnya distrik merah didirikan. Dia juga ingin meminta pendapat kepada Zhang Hongli tentang perkiraan tindakan yang akan dilakukan Iblis Tiada Banding setelah mengetahui salah satu tempatnya hancur.
Bersamaan dengan dimulainya rapat, di suatu desa yang berada di Timur kota raja, terlihat Lin Tian dengan wujud pengemisnya, berjalan gontai di jalanan desa.
Langkahnya tidak pasti, kadang miring ke kanan, kadang miring ke kiri, atau bahkan tak jarang terlihat dirinya hampir jatuh ke depan. Tapi tentu saja semua ini hanya akting dan dibuat-buat.
Sampailah ia di salah satu rumah makan yang tak terlalu mewah, namun cukup megah untuk seukuran "pengemis" sepertinya.
Dia berjalan perlahan ke rumah makan itu dan sesuatu yang lumrah terjadi. Saat dirinya menjejakkan kakinya di pintu masuk, seorang pelayan paruh baya buru-buru berlari kearahnya dan segera menghardik sembari menggerakkan tangan seperti mengusir kucing.
"Pergi, pergi, di sini tidak boleh ada pengemis."
Mengangkat mukanya yang tertutup rambut riap-riapan, Lin Tian menjawab sambil sesekali batuk-batuk, "Uhuk...kau mengusirku? Kenapa kau mengusir pengemis miskin macam aku? Uhuk...uhuk..."
"Apa kau tidak melihat mereka? Bisa-bisa mereka pergi karena merasa jijik terhadapmu!" katanya menunjuk para pelanggan yang menatap Lin Tian dengan tatapan tajam. Tapi ada juga yang memandanganya dengan sedikit iba.
Lin Tian mengedarkan pandangannya dan tersenyum, "Entah itu jijik atau apapun, tapi kulihat diriku masih cukup bersih. Lihat, mereka memandangku dengan kasihan." Lin Tian menunjuk ke salah satu meja.
"Hei kawan...kau terlalu kasar dengan pelangganmu." lanjut Lin Tian dan melempar satu koin emas ke muka pelayan tersebut.
Pelayan ini gelagapan dan begitu menangkap satu koin emas itu, dia menunjukkan wajah sumringah dan segera mengantonginya. Namun sedetik kemudian dia kembali menghardik.
"Terserah kau mau menyuapku dengan berapa pun, tapi aku tak akan melihatnya! Uang ini kau berikan, aku terima! Tapi tetap saja, kau pengemis dan itu membuat para pelanggan jijik. Pergi-pergi!"
Bukannya menanggapi bentakan pelayan itu, Lin Tian malah memandang ke satu meja yang berisi tiga orang pria berperawakan angkuh. Pakaian mereka hitam-hitam dan kesemuanya membawa pedang.
"Iblis Tiada Banding...hehe, ternyata kalian sudah menyebar kemana-mana." batin Lin Tian dan tersenyum kearah mereka bertiga. Tiga orang ini melihat senyum Lin Tian dengan tatapan tajam dan curiga.
Beberapa detik setelah itu, salah satu dari tiga orang tersebut berseru kepada pelayan, "Biarkan dia masuk!"
Pelayan ini tentu saja kaget dan sontak membalikkan badan. Menatap tiga orang itu dengan mata terbelalak seraya mengajukan protes tidak setuju, "Tuan, dia adalah pengemis kotor. Tidak bisa–"
__ADS_1
"Biarkan dia masuk!" kembali suara itu terdengar untuk memotong ucapan pelayan. Terdengar lebih tegas daripada yang tadi.
Pelayan itu menjadi jeri juga dan menjura kearah mereka. "Baiklah."
Dia lalu pergi dari sana setelah melemparkan tatapan menusuk kepada Lin Tian yang masih senyum-senyum.
"Oh...menarik." gumamnya dalam hati dan berjalan menghampiri meja ketiga orang tersebut.
Tanpa basa-basi, dia langsung duduk di salah satu kursi kosong dan meletakkan "tongkat" nya di meja.
"Terima kasih untuk tuan-tuan yang telah membantuku. Cecunguk itu benar-benar tidak bisa menghargai orang." ujarnya dengan seringaian yang mampu memberi rasa curiga terhadap ketiganya.
Tiga orang anggota Iblis Tiada Banding itu saling pandang dan melihat "tongkat" Lin Tian penuh perharian. "Ini bukan tongkat." batin mereka bersamaan.
Sedangkan Lin Tian sudah memanggil pelayan lain dan memesan makanan. Tak lama setelah itu makanan datang dan Lin Tian segera menyantapnya, namun setelah satu suapan, Lin Tian mengomel sebal.
"Nasi ini hambar, ikan goreng ini sama sekali tidak ada rasanya! Beginikah tempat makan yang terlalu suci bagi para pengemis?"
Para pelayan di sana sontak melemparkan tatapan tidak suka. Memang sang koki tadi sengaja tidak memberi bumbu ke masakannya karena diam-diam dia juga memandang rendah Lin Tian.
"Wah-wah...pengemis baik ditentang, pendekar buruk disanjung. Beginikah watak orang-orang di sekitar sini?" kembali dia mengirim celaan sambil terus mengunyah makanannya tanpa mempedulikan tatapan tak bersahabat dari semua orang.
Namun sedetik kemudian, pemuda ini menyeringai begitu mengetahui ada sepuluh orang pelanggan yang sudah mengurungnya setelah mendengar jentikan jari itu.
"Sebuah perintah? Tidak buruk....tidak buruk...."
"Pengemis muda, sungguh malang nasibmu yang harus meminta-minta di usia dini. Namun lebih malang lagi nasib engkau yang bertemu kami di pagi hari ini. Jika kau mau meminta maaf atas semua ucapanmu, maka kami akan membiarkanmu hidup tanpa satu kaki." kata salah satu pria di hadapan Lin Tian dengan senyum mengejek.
Seringaian Lin Tian makin lebar dan dia menjawab, "Haha, apa maksudmu? Apakah yang kumaksud pendekar buruk itu kalian? Ataukah, kalian memang merasa seperti itu?"
"Tarik kata-katamu anak kecil."
"Menarik kata-kataku? Heh...lelaki sejati sekali bicara akan dipegang sampai mati!"
"Bangsat kau bocah, bosan hidup!" bentak pria itu tak sabar dan menebaskan pedangnya.
"Syuut."
Pedang melesat cepat menuju wajah belang Lin Tian yang masih enak-enak memakan hidangan hambarnya. Dia hanya melirik sekilas sebelum berdeham pelan.
__ADS_1
"Nging...."
Pedang itu seperti membentur sesuatu yang tak kasat mata, membuat suara berdengung keras. Sedetik kemudian, pedang itu membalik dan malah menyerang wajah pemiliknya.
"Apa!? Ugh!" secepat kilat dia menghindar dan melihat pedangnya itu terlempar jauh ke belakang sampai berhasil memecahkan sebuah guci besar.
Sontak hal ini membuat sepuluh orang sekutunya mencabut senjata masing-masing dan menodong Lin Tian dengan pedang mereka. Kecuali seorang pria paruh baya dan seorang anak kecil yang duduk di pojokan ruangan. Mereka memandang Lin Tian dengan kening berkerut.
"Oh...oh...ingin ribut? Boleh...boleh..." ucap Lin Tian santai dan melemparkan sisa makananya di atas.
Hebat dan juga aneh, piring dan lauk-pauk itu mengambang di udara dan berputar-putar. Dalam perputaran itu, butir-butir nasi dan tulang-tulang ikan melesat kesana kemari mencari mengsanya.
Karena terkejut dan juga heran, kesepuluh orang itu tak sanggup menghindar dan membuat empat di antaranya tewas seketika. Menyisakan enam orang dan tiga orang di hadapan Lin Tian.
Sembilan orang ini lantas berseru marah dan menubruk maju. Saking marahnya, mereka melupakan aksi Lin Tian tadi yang sejatinya hanya bisa dimainkan oleh pendekar tingkat tinggi.
"Bosan hidup!" kata Lin Tian santai dan mengambil "tongkatnya".
Dia putar-putar tongkat itu untuk menahan setiap hujan pedang yang datang mengarah padanya. Tanpa bangkit berdiri, dia mampu memblokir semua serangan mereka tanpa terluka sedikit pun.
"Uagh! Aaaghh!"
Terdengar jerit-jerit mengerikan tatkala tongkat Lin Tian berhasil merontokkan tulang leher mereka. Bersamaan dengan itu, Lin Tian mengirim pula totokan kilat yang berhasil memutuskan urat nadi mereka, membuat mereka mati saat itu juga.
"Woaahh!"
Pelayan-pelayan yang ada di sana berlari kocar-kacir karena ketakutan. Mereka masuk ke ruang dalam dan lari keluar melalui pintu belakang karena takut jika terus berada di sana, mereka akan terbawa-bawa.
Menyisakan tiga orang di ruangan itu. Lin Tian dan pria paruh baya bersama gadis kecilnya.
"Pengemis muda, kau bukan orang biasa."
"Jangan panggil aku pengemis! Pengemis mana yang akan mampu mengeluarkan satu koin emas secara cuma-cuma?" jawab Lin Tian tanpa mengalihkan pandangan.
"Ehm, maaf tuan."
"Hm, siapa dirimu? Kau sama sekali tidak bergerak saat mereka menyerbuku? Apakah kau tahu bahwa aku ini tak sesederhana yang terlihat? Jika memang seperti itu...kau pasti juga bukan orang biasa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG