
Lin Tian dan Zhi Yang jelas terkejut. Mereka memang tahu jika di tengah perjalanan, tidak sedikit orang-orang yang jatuh dan termakan buaya. Akan tetapi mereka tidak menyangka jumlahnya akan sebanyak itu.
Bahkan lima puluh pasukan Zhang yang sebelumnya berangkat bersama Lin Tian, kali ini hanya tersisa enam orang jika Lin Tian dihitung.
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, lebih baik kita fokus akan tugas ini." Golok Merah berkata.
Memang tak ada pilihan lain, hanya maju teruslah yang menjadi pilihan terakhir mereka.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka melihat di depan sana terdapat sebuah tempat yang terkurung oleh banyak batu tinggi besar. Begitu memandang lebih teliti, ternyata di tengah-tengah kurungan batu itu berdiri seseorang yang seolah sudah menanti mereka.
"Siaga!! Ada seseorang yang menghadang kita!"
Mereka terus maju sampai cahaya api obor mencapai orang tersebut. Ternyata di sana berdiri seorang nenek bertongkat butut yang sedang menundukkan kepala.
Pakaiannya seba hitam, di kepalanya juga terdapat tudung yang mampu menyembunyikan seluruh muka nenek itu. Di pundak kanannya berdiri seekor burung hantu yang juga berwarna hitam, menatap rombongan itu dengan mata bulat menyeramkan.
"Kehkeh...ternyata kalian mampu mencapai tempat ini. Boleh juga." nenek itu berkata setelah rombongan Golok Merah sampai mendekat.
"Kau kah si penebar teror di desa? Mengapa kau melakukan hal itu?"
"Kehkeh, untuk meningkatkan ilmuku tentunya."
"Sialan, kau akan mati mengenaskan, dasar siluman!!" bentak Golok Merah sambil menerjang ke depan.
Nenek itu malah terkekeh dan menjentikkan jari. Seketika, burung hantu itu melesat cepat sekali dengan kedua kaki lebih dulu, mengarah mata Golok Merah. Golok Merah dengan cekatan menebaskan golok menangkis.
"Tring-Tring!"
"Wah benar-benar siluman!" seru para penonton melihat kejadian barusan.
Bagaimana tidak, burung hantu itu dengan mudah saja menangkis senjata Golok Merah. Tak sampai di sana, ternyata burung itu kembali melanjutkan serangan dengan cara terbang ke atas dan menukik tajam mengarah kepala.
Golok Merah terkejut, namun dengan cekatan sekali, dia membacokkan golok mengarah paruh tajam itu, berharap bahwa dengan tindakannya itu mampu memotong paruh burung tersebut.
Namun kembali semua orang dibuat terkejut. Pasalnya, paruh itu sama kerasnya dengan cakar kaki, atau bahkan mungkin lebih keras dan tajam. Maka mampu membalikkan serangan Golok Merah.
Selagi dua makhluk itu sedang bertarung sengit, perlahan tapi pasti, tempat itu telah dikurung oleh banyak anak buah nenek tersebut. Hal ini tentu tak luput dari pandangan mereka semua.
"Kita terkepung!!"
"Bersiap!!" teriak Zhi Yang memberi peringatan.
Nenek itu terkekeh dan kembali menjentikkan jari. Seketika orang-orang yang mengurung itu menrjang maju mengeroyok mereka.
__ADS_1
Maka ributlah mereka semua. Suara dentingan senjata bergema ke seluruh hutan, memecah kesunyian malam mencekam di Bukit Pedang. Para pendekar dan anak buah nenek itu saling gempur dengan hebatnya, namun karena kalah jumlah, sedikit demi sedikit rombongan Golok Merah terdesak juga.
Lin Tian dan Zhi Yang mengamuk amat hebatnya. Membunuhi satu per satu musuh dengan sangat cepat dan ganas. Akan tetapi tindakan mereka belum juga cukup untuk membalikkan keadaan, hanya mampu menahan gempuran itu agar tidak jatuh lebih banyak korban.
"Zhi Yang kejar dia!! Serahkan yang di sini kepada kami!!" teriak Lin Tian begitu melihat nenek itu membalikkan tubuh pergi dari sana.
"Sialann!! Jangan lari nenek siluman!!!" bentak Zhi Yang sambil membuka jalan darah. Kemudian setelah berhasil keluar dari pengepungan, pendekar bertopeng ini segera melesat cepat mengejar.
...****************...
"Tring-Trang!!" pisau dan tongkat itu beradu. Menciptakan suara nyaring di dalam ruangan besar itu.
"Hari ini tak sama seperti dulu!! Kau sendirian nenek!!" bentak Zhi Yang sambil kembali melancarkan serangan.
"Hehe...walaupun aku sendirian, kau tidak akan mudah merobohkanku!!" balas nenek itu sambil menangkis pisau lawan.
Pertarungan terjadi amat serunya di dalam ruangan besar itu. Entah ruangan apa ini Zhi Yang juga tidak tahu, namun di langit-langit ruangan terdapat lubang besar yang agaknya dijadikan tempat masuknya cahaya matahari.
Menginjak jurus ke enam puluh, Zhi Yang berhasil menancapkan empat pisaunya di kanan dan kiri pundak lawan. Membuat si nenek marah bukan main.
Sehingga ia mengeluarkan pekik nyaring dan memutar tongkat.
"Aaaaarrrgghh!!" teriaknya menyeramkan yang membikin bulu kuduk meremang.
Pasalnya, begitu tongkat diputar di atas kepala, tongkat itu berubah warna menjadi merah darah dan mengepulkan asap. Di ruangan itu juga terasa angin ribut yang seolah-olah hendak menerbangkan Zhi Yang.
"Sial...sepertinya orang ini benar-benar siluman!" gumam Zhi Yang sambil mempertahankan posisinya.
Detik berikutnya, nenek itu sudah menerjang cepat sekali kearah lawan. Mengarahkan tongkat itu ke dada Zhi Yang.
"Matilaaaahh!!" pekiknya keras.
Zhi Yang segera bertindak cepat. Menggunakan enam buah pisau di kedua jari, kemudian menangkis tongkat tersebut.
"Breesshh-Traakk!!"
Tongkat itu berhasil tertangkis, namun ternyata belum berhenti. Senjata itu terus bergerak naik keatas dan berhasil mendorong topeng bagian dagu milik Zhi Yang. Tak mampu dicegah lagi, kedok yang selama ini dia gunakan terlepas seketika.
"Aahh!!" Zhi Yang terhuyung mundur tiga langkah.
Terlihatlah rupa yang membuat semua orang tercengang. Sebuah wajah yang sangat cantik jelita, yang selama ini bersembunyi dengan baik di balik topeng tengkorak menyeramkan.
Matanya sedikit sayu, alisnya tipis panjang. Hidung mancung dengan cuping tipis, lengkap disertai bibir merah jambu yang sangat menggemaskan. Wajah yang putih susu sampai membuat sepasang pipi itu sedikit kemerahan. Rambut hitam legamnya pendek sebahu. Benar-benar gadis yang sempurna.
__ADS_1
"Eh...eh....?" nenek itu pun juga terkejut sampai tidak sadar bahwa dia telah menghentikan serangan.
"Hohahaha....ternyata kau adalah perempuan!! Beruntungnya aku! Hahaha....mataku ini tajam, melihat dari wajah dan tubuhmu itu, walau sudah tertutup jubah lebar, tapi aku tahu kau masih perawan!! Hahah benar-benar hari keberuntungan!!" nenek itu malah tertawa terbahak-bahak sambil meloncat-loncat seperti anak kecil.
"Sial topengku!"
Zhi Yang segera mencari topeng tengkoraknya, ternyata benda itu telah terlempar sampai ke sudut ruangan. Segera saja dia melompat untuk mengambil. Tapi tiba-tiba, ada sebuah tongkat yang langsung menggebuk dadanya.
"Buughh!!"
"Aakkhh!!"
Zhi Yang terlempar, namun dapat segera bangkit kembali. Menyadari tidak ada jalan untuk mengambil topengnya, dia segera menyiapkan pisau dan bersiap untuk pertarungan barikutnya.
"Hohahaa...gadis cantik yang membuatku semangat!!" sambil berkata, nenek itu menerjang maju.
Kembali pertarungan hebat terjadi, bahkan mungkin lebih hebat ketimbang yang sebelumnya. Nenek itu entah mengapa begitu melihat gadis perawan, seolah-olah seperti melihat setumpuk berlian. Matanya memandang liar dan mulutnya terus menyeringai seram.
"Cih, apa-apaan ini? Kenapa menajadi semakin kuat? Bukankah tadi kita berimbang!?" Zhi Yang mengumpat dalam hati.
Hingga seratus jurus terlewat, dan Zhi Yang sudah merasa betapa kedua tangannya kebas. Memang nenek itu luar biasa, jarang-jarang ada yang membuat Zhi Yang kelelahan hanya dalam seratus jurus saja. karena itulah, gadis ini makin lama makin terdesak.
"Gawat, ada yang tidak beres!" batin Zhi Yang begitu menyadari ada sesuatu yang janggal.
Entah mengapa, makin lama dia bertarung, pandangannya makin buram dan berkunang. Juga dia merasa seolah-olah tubuhnya lebih lemah dari biasanya.
Kemudian dia melihat asap merah yang keluar dari tongkat musuhnya. Zhi Yang yang sudah berpengalaman, tahulah ia bahwa sedari tadi dia telah menghisap racun.
"Bangsat kau!! Dasar racun sialan!!" bentaknya. Namun apa daya, karena tubuh yang kian melemas, dia tak mampu menghindarkan diri dari totokan tongkat ke arah perut.
"Deeesss!!"
"Aaahhkkk!!"
Zhi Yang terpelanting roboh. Dari mulutnya, mengalir darah segar yang banyak sekali. Begitu dia jatuh ke tanah, rasanya tubuhnya itu seperti tersengat aliran listrik kuat yang membuat ia seperti cacing kepanasan, berkelojotan hebat sekali.
Matanya mendelik kesakitan, seluruh urat syaraf menegang. Darah yang ia muntahkan makin banyak, gadis itu saat ini benar-benar sekarat!!
Namun didepan ancaman maut yang makin menghebat itu, entah mengapa dia juga tidak tahu, muncul nama seseorang yang sangat ia harapkan untuk datang menolong. Padahal sebelumnya dia sudah terbiasa hidup sendiri, merasa seolah sudah tidak membutuhkan bantuan orang lagi. Sambil masih memelototkan mata menahan sakit yang amat hebat ini, dia menjeritkan nama itu di dalam hati kuat-kuat.
"Lin Tian....!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG