Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 150. Aku Telah Berkhianat


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya Zhang Qiaofeng dan Lin Tian tinggal di markas Perkumpulan Bunga Teratai. Dalam waktu seminggu ini, setiap harinya Zhang Qiaofeng terus berlatih di bawah bimbingan Cin Kok yang dengan sukarela membagikan beberapa ilmunya.


Salah satunya adalah ilmu belati yang ia beri nama Taring Harimau Pencabik. Ilmu ini sangat cocok dengan Zhang Qiaofeng, karena selain mengandalkan kecepatan di setiap serangannya, juga ilmu ini mengharuskan si pengguna memiliki tenaga kuat. Hal ini sangat bagus untuk Zhang Qiaofeng karena memaksa gadis itu melatih daya serangnya agar lebih kokoh dan mantap, tidak hanya mengandalkan kecepatan saja seperti sebelumnya.


Sedangkan Lin Tian? Sehari-harinya dia hanya melihat nonanya berlatih sambil sesekali mengobrol dengan Kim Chao, atau dia sendiri yang akan berlatih sendirian. Tak jarang pula dia membaca kitab kecil yang sudah dihafalnya itu tetapi sampai sekarang belum juga paham apa maksudnya. Yah, tentu semuanya sudah tahu kitab apa itu.


Pagi yang cerah ini, Lin Tian dan Zhang Qiaofeng sudah berkemas dan sudah siap untuk pergi meninggalkan markas Perkumpulan Bunga Teratai. Di depan kediaman Cin Kok, mereka berdua berpamitan dengan tuan rumah.


"Terima kasih atas bimbingannya selama ini tuan!" seru Zhang Qiaofeng semangat sambil menundukkan badan.


"Saya sungguh senang bisa membantu saudara sendiri." jawab Cin Kok yang di belakangnya terdapat murid-muridnya. Mereka memang hendak mengantar kepergian dua orang itu pula.


"Dan terima kasih juga kepada kakek Kim yang sudah dengan sukarela sudi untuk menemani pengawal saya ini. Hehe, agaknya dia kesepian karena jarang bicara padaku." lanjut Zhang Qiaofeng kepada Kim Chao. Dilanjutkan dengan sedikit menggoda Lin Tian.


"Haha, tidak apa nona, saya senang bisa mengobrol dengan Tuan Lin Tian yang sama sekali belum saya lihat wajahnya." balas Kim Chao setengah menyindir.


Seketika pecahlah gelak tawa mereka semua, namun itu bukanlah tawa mengejek, mereka tertawa hanya karena ucapan Kim Chao yang memang benar adanya. Sungguh aneh memang, Kim Chao dan Lin Tian sudah sangat akrab, namun kakek itu tidak berbohong soal dia belum pernah melihat wajah Lin Tian.


Lin Tian tetap bergeming di tempat seperti arca, entah apa maksud dari tindakan anehnya itu.


"Kalau begitu, kami mohon diri tuan." kata Zhang Qiaofeng setelah semua tawa mereda. Kembali dia menjura dan diikuti oleh Lin Tian pula.


"Hati-hati di jalan." jawab Cin Kok sambil menjura beserta seluruh muridnya.


Namun sebelum Zhang Qiaofeng berbalik, tiba-tiba Lin Tian berkata, "Tuan, untuk kitab yang dicuri itu, aku akan mengusahakan semaksimal mungkin. Karena aku sudah tahu bagaimana wujud gerakan dari kitab itu, tentu aku akan mengenalnya jika si pencuri itu menunjukkan ilmunya."


"Hm, tapi apakah kau yakin jika kau bisa bertemu dengan pencuri itu? Tak perlu repot-repot." balas Cin Kok.


"Aku yakin akan bertemu dengannya, karena akan kucari dia sampai dapat." Lin Tian berkata.


Cin Kok hanya mengangguk saja, namun sebetulnya dia tidak terlalu berharap. Karena selain tidak ingin merepotkan orang lain, dia juga berniat untuk menyelidiki sendiri masalah ini. Karena dia tahu, si pencuri itu tentu bukanlah lemah karena mampu membunuh anggota tingkat ketiga dari perkumpulannya.


"Kalau begitu, kami pamit." kata Zhang Qiaofeng dan pergi dari sana.

__ADS_1


...****************...


"Lin Tian, mari berhenti di sini dulu, aku ingin mandi." seru Zhang Qiaofeng dengan mata berbinar tatkala melihat sebuah telaga yang sangat luas dan jernih airnya.


"Baiklah nona." Lin Tian menjawab singkat ketika Zhang Qiaofeng berkata seperti itu.


Melihat Lin Tian masih berdiri di sana, dengan menggembungkan pipinya yang kemerahan, Zhang Qiaofeng mencela, "Kenapa masih berdiri di situ, aku akan melepas pakaianku. Sana pergi!"


"Maaf nona." kembali Lin Tian berkata singkat dan berbalik. Kemudian pergi dari sana, memasuki hutan yang berada tak jauh dari telaga.


Zhang Qiaofeng mengerutkan kening, ada yang aneh pikirnya. Dia sangat kenal betul akan watak Lin Tian yang dingin dan cenderung tidak pedulian itu. Namun secuek apapun Lin Tian, selama ingatannya belum pernah Lin Tian bersikap sedingin itu kepadanya. Setidaknya dia akan menjawab setiap perkataannya dengan kalimat yang tidak begitu singkat seperti tadi.


Akan tetapi Zhang Qiaofeng tak ambil peduli dan hanya menghendikkan bahu saja. Mungkin suasana hatinya sedang buruk, pikirnya.


Ketika bayangan Lin Tian sudah tak nampak, Zhang Qiaofeng segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan tanpa ragu-ragu lagi, dia melompat ke dalam telaga yang amat besar dan jernih itu.


Sedangkan Lin Tian yang pergi meninggalkan nonanya, dia segera berjalan menjauh dan duduk di bawah pohon besar. Kebetulan di bawah pohon itu terdapat sebongkah batu sebesar anak kerbau, pemuda ini kemudian duduk di sana.


Jika seandainya Zhang Qiaofeng melihat wajah yang terpampang di balik topeng pucat itu, tentu dia akan merasa prihatin dan khawatir sekali. Pasalnya, air wajah Lin Tian saat ini sangatlah keruh dan tidak enak dipandang. Alisnya bertaut menjadi satu, membuat kerutan dalam di dahinya, matanya sayu penuh kedukaan dan kegelisahan. Sedangkan wajahnya sedikit pucat dan bibirnya agak membiru.


Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, Zhang Qiaofeng sudah selesai dengan mandinya. Ketika gadis itu datang ke tempatnya, Lin Tian dibuat terpaku. Rambut panjang yang masih basah dan wajah segar itu benar-benar amat cantik jelita, seolah mampu membius lelaki mana pun yang memandangnya.


Namun sayang, agaknya prasangka Zhang Qiaofeng tadi benar adanya. Saat ini Lin Tian sedang buruk suasana hatinya, sehingga dia hanya merasa kagum dalam sekejap saja sebelum kembali murung.


"Kau tak ingin mandi Lin Tian?" tanya Zhang Qiaofeng begitu sudah tiba di hadapan pemuda itu.


"Tidak, hari masih pagi dan dingin." jawab pemuda itu yang berhasil membuat si penanya mengerutkan kening.


Hari masih dingin? Bukankah keahlianmu bermain yang dingin-dingin? Pikir gadis itu penuh keheranan.


"Hm, begitu ya? Kalau begitu ayo kita kembali melanjutkan perjalanan." akhirnya gadis itu berucap setelah melupakan keheranannya.


Lin Tian tak menjawab dan hanya mengangguk saja sembari turun dari atas batu. Kemudian tanpa berkata-kata lagi, dia berjalan mendahului nonanya dan pergi menuju arah kediaman Zhang.

__ADS_1


Masih dengan keheranan yang kian menebal, Zhang Qiaofeng mengekor di belakang Lin Tian.


...****************...


"Cukup Lin Tian!!!" Zhang Qiaofeng membanting tulang ayam yang sudah habis dagingnya itu kearah api unggun. Matanya bersinar marah ketika dia membentak Lin Tian dengan keras.


Anehnya, Lin Tian tidak kelihatan terkejut atau bagaimana. Dia hanya memandang sekilas kearah gadis itu sebelum kembali melanjutkan makannya.


Selama seharian penuh, dari ketika mereka meninggalkan markas Perkumpulan Bunga Teratai sampai malam hari ini, gelagat Lin Tian nampak sangat aneh dan tidak wajar. Dia terlalu dingin kepada Zhang Qiaofeng dan membuat gadis itu naik pitam.


Bagaimana tidak, setiap kali gadis itu bertanya, Lin Tian hanya menjawab seperlunya. Ketika gadis itu berkata untuk memulai obrolan, Lin Tian hanya menjawab satu dua kata saja yang seolah mengisyaratkan kepada gadis itu untuk berhenti berbicara padanya. Dan yang paling parah, ketika Zhang Qiaofeng menawarkan makanan seperti buah-buahan atau tetumbuhan yang mereka temukan di kedalaman hutan, Lin Tian hanya menggeleng saja, tidak menjawab apapun!


Tentu saja hal ini membuat seorang Zhang Qiaofeng, yang sudah menganggap Lin Tian sebagai adiknya itu merasa mendongkol sekali. Dirinya seakan-akan tidak tampak dan sama sekali tidak dihargai.


Terbukti ketika dirinya membentak barusan, Lin Tian sama sekali tak acuh. Bahkan terkejut pun tidak.


Hal ini menambah kemarahan dan kemendongkolan di hati Zhang Qiaofeng. Melihat Lin Tian yang sama sekali tidak meliriknya, lekas dia bangkit berdiri dan menghampiri pemuda itu dengan langkah kesal. Kemudian dalam sekali renggut saja, dia sudah berhasil merebut paha ayam bakar Lin Tian dan membuangnya.


"Ah...!!" Lin Tian terkejut dan mendongak.


Sedetik kemudian, dia menelan ludahnya sendiri. Kiranya di sana sudah berdiri nonanya yang menatapnya dengan buas. Lebih parahnya lagi, dia baru sadar sekarang.


"N-nona...ehh!!" dia terkejut ketika tiba-tiba Zhang Qiaofeng menarik syal hitamnya itu dengan keras, membuat lehernya sedikit tercekik.


"Apa maksud dari segala sikapmu itu hah!?? Kuperhatikan sejak kemarin kita masih di markas kakek Kim, sikapmu menjadi lebih dingin kepadaku!! Dan sekarang malah lebih parah, apa maksudmu hah!!??" gadis itu membentak. Matanya yang kemerahan itu melotot lebar, manandakan bahwa saat ini amarahnya benar-benar sedang berada di puncak.


Mendengar pertanyaan Zhang Qiaofeng itu, seketika wajah Lin Tian menjadi murung kembali. Dia tak berani menatap langsung wajah gadis itu, hanya mampu menundukkan mukanya saja.


"Jawab!!!" Zhang Qiaofeng makin marah.


Dengan lemah dan nada putus asa, Lin Tian menjawab, "Aku...telah berkhianat nona."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2