
Sie Lun menyambut serangan dengan tangan kosong. Menggerakkan tangan kanan ke depan dengan dialiri tenaga dalam. Sedetik kemudian, tongkat butut dan telapak tangan yang nampak halus namun kuat itu bertemu di udara.
"Duk!!"
Alangkah terkejutnya hati Kim Chao. Pasalnya begitu tongkatnya bertemu tapak lawan, tongkat itu seperti melekat dan sama sekali tidak sanggup ia tarik pulang.
Sie Lun tersenyum mengejek melihat reaksi Kim Chao. Sedetik kemudian, dia mencengkram tongkat dan...
"Krek"
"Aaahh!!" Kim Chao melompat mundur ke belakang.
Tongkat itu remuk seketika begitu tangan Sie Lun mencengkram dengan pengerahan tenaga dalam yang tidak lemah. Akan tetapi dia sama sekali belum menyerah, Kim Chao kembali menerjang maju dengan tangan kosong.
"Bodoh sekali..." gumam Sie Lun mengejek dan menyambut serangan lawan.
Terjadilah pertarungan yang seru dan menegangkan. Dua orang yang sedang beradu ilmu di tengah jalanan kota ini tentu telah menarik perhatian banyak orang, namun karena keberadaan walikota dan banyak sekali pasukan Zhang di sana, mereka semua tidak berani menonton terlalu dekat.
Tapi ternyata, pertarungan tidaklah terlalu lama. Setelah kurang lebih dua puluh jurus berlalu, Kim Chao lambat laun mulai terdesak dan tanpa dielakkan lagi, menginjak jurus ke dua puluh lima, dia sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari pukulan Sie Lun yang mengarah dadanya.
"Aakhhh!!" kakek itu sama sekali tidak sempat menangkis dengan tangan. Sehingga pilihan satu-satunya hanya melindungi dadanya dengan aliran tenaga dalam yang ia padatkan di sekitar paru-paru.
"Nah, bagaimana? Hendak mengacau lagi?" masih dengan nada mengejek, Sie Lun bertaya, walaupun sesungguhnya itu adalah sebuah cemoohan.
Kim Chao tak mampu menjawab, hanya memandang penuh kebencian dan bangkit perlahan sebelum kembali berdiri di samping Nona Zhang.
"Heh laki-laki sombong, jangan kau pikir hanya ada kakek ini saja di sini. Lihat! Keluarga Zhang masih memiliki jago-jago yang harus kau kalahkan lebih dulu sebelum menindak lanjut kakek yang menjadi korban penindasan ini." dengan marah Zhang Qiaofeng berkata.
Ucapan itu disambut gelak tawa oleh Sie Lun yang tentu mengherankan hati semua orang.
"Hahaha....bukan hanya dia yang akan kami tindak lanjut, namun kau juga tak luput pula Nona. Anak buahmu telah memukuli pengawal kami, lantas apakah bisa kami mendiamkan saja perbuatan mereka?"
"Lalu kau mau apa!?" marahlah Zhang Qiaofeng, hatinya benar-benar dalam suasana buruk kali ini.
"Tentu saja, bersama kakek Kim Chao itu, ikutlah bersama kami untuk dimintai pertanggung jawaban nona!" sambil menyeringai Sie Lun berkata. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
Melihat tak ada respon dari Nona Zhang, dia kembali berkata, "Ah...keluarga Zhang pengecut ya...berani berbuat, tak berani tenggung jawab."
Mendengar ini, makin jengkel hati Zhang Qiaofeng. Maka dengan tegas dia berkata, "Baiklah aku ikut!! Ayo kek, kita buktikan kepada tikus-tikus ini kalau kita tak bersalah!!"
__ADS_1
"Tunggu..." ada suara dingin yang berhasil menginterupsi mereka semua.
"Hey orang sombong yang buta tingginya langit, tak lihatkah ada aku di sini?" lanjutnya.
Sie Lun tertawa sebelum menjawab, "Pendekar Hantu Kabut? Kau mau apa memangnya, hendak menuntut balas atas perlakuanku yang ingin meringkus Nonamu? Kau pikir aku sama seperti orang lain? Aku tak takut kepada engkau pendekar baru!!"
"Siapa yang menakutimu dan siapa pula yang ingin kau takut padaku? Aku hanya bilang, bahwa aku berdiri di sini sebagai pengawalnya, tentulah keselamatan Nona adalah tanggung jawabku."
"Oh...kau tenang saja, nanti juga akan kami kembalikan Nonamu itu setelah beberapa hari." berkatalah Sie Lun sambil menyeringai dan memandangi tubuh Zhang Qiaofeng yang masih terfokus kepada Lin Tian, sehingga dia tak sadar akan tatapan itu.
Lin Tian yang sadar sedang diremehkan, dan sadar pula dengan tatapan itu, segera dirinya berdeham.
"Ekhm!"
Sunyi, hening. Itulah yang terjadi sesaat setelah Lin Tian mengeluarkan dehaman itu. Mereka semua memandang kearah Lin Tian dengan muka pucat dan keringat dingin, tak terkecuali walikota dan pasukan Zhang maupun Hu.
Apa yang terjadi? Dehaman Lin Tian bukan hanya sekedar dehaman biasa. Pasalnya, dehaman itu mengandung tenaga dalam kuat sekali, yang berhasil mengguncangkan dada mereka semua. Bahkan burung-burung yang sedang lewat pun hilang keseimbangan dan arah terbangnya berbelok, sehingga tak sedikit yang paruhnya menancap di batang-batang pohon.
"Aku tetap tak setuju dengan usulanmu. Bagaimana jika kita selesaikan seperti kakek Kim tadi? Sebagai seorang pendekar, bukankah lebih adil?" Lin Tian mulai melangkah maju perlahan-lahan. Sampai empat langkah baru dia berhenti.
Namun belum ada reaksi dari Sie Lun ataupun yang lainnya, malahan wajah mereka makin pucat dan keringat dingin makin deras mengucur.
Akan tetapi hal itu adalah hal biasa dan Sie Lun pun mampu melakukannya bahkan lebih dalam lagi. Yang membuat dia bungkam adalah, isi dari cekungan jejak kaki Lin Tian.
"Apa itu? Aku belum pernah melihat yang seperti itu!" Sie Lun menjerit dalam hati. Mulai timbulah perasaan jerinya.
Di dalam cekungan itu, dengan luar biasa sekali Lin Tian membekukannya berbarengan ketika dirinya memijak tanah. Sehingga, tanah di dalam cekungan itu berubah menjadi es. Itulah yang menggentarkan hati mereka.
Melihat tak ada kesempatan, walikota yang terkenal bijak dikalangan penduduk itu segera berkata.
"Maafkan sahabatku ini yang telah menyinggung anda tuan." katanya yang sudah menjura kearah Lin Tian.
"Lalu, bagaimana baiknya ini? Kau masih ingin membela para pengawalmu yang semena-mena? Jika kau ingin tahu, tak perlu dengan pasukan Zhang yang sebayak ini. Hanya cukup aku bersama Sastrawan Sakti dan Dewi Pedang Terbang saja, kami bisa meratakan kalian semua." dengan penuh intimidasi, Lin Tian mengancam.
Membuat sang walikota bergidik dan cepat-cepat berkata. "Maaf beribu maaf tuan, kami berjanji tidak akan mengungkit-ungkit masalah ini lagi. Kalau begitu, kami pamit."
Setelah itu, berbondong-bondong rombobgan walikota itu pergi meninggalkan depan rumah makan itu, menghiraukan makian dan umpatan yang terus terlontar dari orang-orang rombongan Zhang.
"Huh, dasar tak tahu malu!!"
__ADS_1
"Berani berbuat tak mau tanggung jawab. Situ yang menyalah, mengapa pula kita yang jadi korban!"
"Ingin berlagak di depan kami? Kalian malah seperti serombongan tikus yang bergaya di depan kucing!!"
"Dasar orang-orang sinting!!"
Dan masih banyak lagi makian yang terus ditujukan kepada rombongan walikota. Membuat banyak warga yang sebelumnya memang tidak tahu, memandang penuh kebingungan.
...****************...
"Braaakk!!" meja kecil itu terlempar menghantam dinding dan hancur berkeping-keping.
Di sebuah ruangan yang cukup luas, terlihat seorang pemuda yang mukanya merah sekali. Matanya tajam dan nafasnya menggebu-gebu. Terlihat jelas bahwa dia sedang marah.
Sedangkan tujuh orang anak buahnya yang berdiri di ruangan itu pula, hanya mampu menundukkan kepala penuh rasa takut.
"Sialan, bangsatt!! Aku gagal mendapatkannya!!!" kembali dia mengamuk dan mengirim pukulan jarak jauh untuk menghancurkan meja lain di sudut kamar.
Dia adalah Sie Lun. Pemuda ini benar-benar merasa frustasi karena tidak berdaya menghadapi pengawal pribadi daripada wanita yang dikaguminya itu. Memang dia mengajak Zhang Qiaofeng tadi siang untuk maksud tujuan tertentu.
"Aku harus mendapatkannya, harus!! Selama ini tak ada seorang pun wanita yang gagal kudapatkan jika aku ingin." masih dengan mata tajam penuh rasa benci, dia berkata seraya mencengkeram dinding ruangan, membuat jari-jarinya melesak ke dalam.
"Kalian!! Tujuh Cakar Harimau!! Tangkap gadis itu malam ini!! firasatku mengatakan, dia jauh lebih lemah ketimbang Pendekar Hantu Kabut. Bahkan mungkin sekali lebih lemah dari Kim Chao. Aku yakin kalian semua bisa meringkusnya ketika dia sedang tidur dan lengah."
"Ta-tapi Tuan, di sana pasti ada Pendekar Hantu Kabut, dan Sastrawan Sakti, mana kami berani?" jawab seorang yang tertua dari Tujuh Cakar Harimau.
"Omong kosong!! Walaupun mereka berdua ada di sana, tak mungkin mereka akan sekamar dengan Nona Zhang itu!! Kalian hanya tinggal menyelinap dari jendela kamar dan culik dia dalam keadaan tertotok, sehingga dia tak akan mampu berterak atau berontak!" balas Sie Lun dengan keras.
"Ta-tapi..."
"Crringg-Crap!!" sebuah golok tiba-tiba menancap di tembok tepat satu senti di sebelah telinga kiri orang tertua Tujuh Cakar Harimau tersebut.
"Ba-baik Tuan, akan kami laksanakan!!" serentak mereka langsung meninggalkan kediaman Sie Lun itu cepat-cepat. Melihat dari gerakan mereka yang ringan, tentu orang-orang yang disebut Tujuh Cakar Harimau itu bukanlah pendekar lemah.
"Hehe....kau tak akan bisa lari Nona...." gumam Sie Lun sembari menjilat bibirnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1