
"Melindungi...dari jauh ya....?"
Lin Tian menengadah memandangi langit kelabu yang sedikit mendung. Dirinya duduk di bawah sebatang pohon besar hanya dengan sebab ingin duduk saja, jika ia ingin lanjutkan perjalanan, maka tak sulit akan hal itu bagi Lin Tian.
Pagi hari ini dunia cukup suram karena sejak tadi belum juga terlihat sosok sang surya. Sejak cuaca masih gelap gulita sampai sekarang yang seharusnya sudah cukup terang, langit di atas sana masih belum menunjukkan cahayanya.
Cuaca mendung, awan-awan kelabu kehitaman itu menutup rapat sinar matahari yang ingin menjenguk keadaan dunia. Membuat suasana di hutan tempat Lin Tian duduk menjadi suram dan remang-remang.
Entah sudah hari keberapa dia turun gunung setelah berhasil menamatkan pelajaran-pelajaran Wang Ling Xue, yang pasti saat ini pemuda itu sudah keluar dari wilayah Pegunungan Tembok Surga dan sedang berada di kaki gunung terluar pegunungan itu.
Sejak perjalanannya menuju Utara, belum pernah sekalipun dia bertemu dengan manusia lain. Hal ini wajar karena di sini selain hutan yang sangat lebat, juga wilayah ini cukup jauh dari desa atau kota terdekat.
Berpikir sampai sini, Lin Tian mengerutkan kening tatkala indera pendengarnya menangkap sebuah suara yang sangat tak asing bagi seorang pendekar. Itu adalah suara pertempuran.
"Hm, apa aku salah dengar?" gumamnya sambil mencoba memfokuskan perhatian ke kedua telinganya.
"Trang-Trang."
Samar-samar terdengar suara seperti beradunya dua senjata dan teriakan-teriakan kesakitan. Lin Tian buru-buru menoleh ke sumber suara akan tetapi yang ditemuinya hanyalah pohon-pohon semata.
"Seberapa jauh mereka dari sini?" dia menimang-nimang pilihan terbaik antara datang menengok atau pergi tanpa peduliakan hal tersebut.
"Lihat sajalah, aku juga penasaran dengan kekuatan pendekar Utara."
Lin Tian bangkit dan dengan langkah seenaknya, dia berjalan menuju sumber suara tersebut. Akan tetapi walaupun seperti berjalan, jika ada orang lihat, tentu dia akan terkejut sekali karena jalannya Lin Tian sangat cepat bagaikan terbang.
Setiap langkahnya mampu membawa dia sejauh tiga lima meteran. Kecepatan ini mungkin sekali mampu menyamai atau mengalahkan ilmu lari cepat.
Beberapa menit kemudian, dia sepertinya sudah sampai di tempat kejadian. Lin Tian melihat jelas ada banyak sekali manyat bergelimpangan dengan satu orang kakek sepuh berdiri di atas sebuah batu.
Kakek itu sudah tua sekali, pakaiannya hanya menggunakan kain putih yang dilibat-libatkan ke sekujur tubuh. Celana panjangnya juga berwarna putih senada dengan rambut panjang tanpa dikuncir namun sangat lurus dan rapih.
Karena berada di balik kakek itu, Lin Tian tak mampu melihat wajahnya.
"Mari kita lihat, apa yang terjadi?" Lin Tian bergumam sambil berdiri di balik pohon besar. Dirinya sama sekali tidak takut terhadap kakek sepuh itu karena kekuatannya saat ini sudah lebih dari cukup untuk menghadapinya. Walaupun hanya sekedar firasat.
"Inikah Iblis Tiada Banding yang sedang naik daun itu? Hanya segini kemampuan kalian?"
Ucap kakek itu penuh intimidasi kepada orang-orang di bawahnya yang masih berhasil selamat. Mereka ini wajahnya sudah tak karuan, pucat seperti mayat dengan bibir membiru.
"Mengganggu saja." ucap kakek itu kemudian disusul dengan kibasan tangannya. Detik berikutnya, beberapa orang yang masih selamat itu terpelanting dengan tubuh tak bernyawa lagi.
"Hem, Iblis Tiada Banding? Mereka itukah orangnya? Kenapa bisa sampai ke Utara?" Lin Tian bertanya-tanya kepada diri sendiri mengenai hal tersebut. Namun yang membuatnya cukup terkejut adalah keberadaan kakek itu.
"Kekuatannya besar, namun tak sehebat guru Wang Ling Xue ataupun kakek Chong San. Mungkin sekali kalau orang ini yang disebut sebagai pendekar sejati. Beruntungnya aku, baru turun gunung sudah bisa bertemu dengan salah satu dari mereka."
Selama Lin Tian berpikir demikian, kakek itu sudah membantai habis-habisan semua orang yang tersisa tanpa kecuali. Sampai ke bagian orang terakhir yang mati dibunuhnya, dia mengangkat mayat itu dan melemparkannya ke pohon dimana Lin Tian bersembunyi.
__ADS_1
"Tamatlah riwayatmu!!" bentaknya yang entah ditujukan kepada Lin Tian atau mayat tersebut.
"Hm, dia sudah sadar?" Lin Tian sedikit terkejut akan hal itu, namun dia bergerak cepat sekali. Menghindari mayat itu dan sudah berpindah tempat ke atas pohon.
Terjadi keheningan yang cukup lama di sana. Kakek tua itu memandang tajam ke pohon dimana tadi Lin Tian berdiri. Luar biasa sekali, tak terlihat sedikit pun rasa lelah di wajahnya, agaknya dia memang benar-benar pendekar sejati, pikir Lin Tian sedikit menyunggingkan senyum.
"Hei...tak sopan bertamu di rumah orang tanpa permisi." setelah mengatakan ini, kakek itu perlahan-lahan menoleh ke atas dan memandang Lin Tian dengan marah.
"Tak sopan rasanya melempari seorang tamu tanpa tahu siapa tamunya." balas Lin Tian sambil bersedekap tangan dan memandang dingin kearah kakek tersebut.
"Siapa kau?" tanya mereka secara berbarengan.
Secara berbareng pula, mereka sedikit kaget mengetahui persamaan dalam pikiran mereka. Akan tetapi kakek itu lebih dulu menyahut.
"Ini tempatku, kau orang luar lah yang harus memperkenalkan diri lebih dulu!"
Lin Tian tak langsung jawab, dia masih diam dengan wajah yang sedikit angkuh. Hal ini dia lakukan bukan semata-mata karena sifat tinggi hati, melainkan karena ingin sedikit menggetarkan hati lawan melihat dirinya tidak takut diancam.
"Aku tidak ingin menyebut nama." balas singkat Lin Tian acuh.
"Julukan? Orang yang bisa bergerak tanpa mengeluarkan suara sepertimu, aku tidak percaya tidak ada orang yang mengenalmu."
"Orang-orang menyebutku sebagai Pendekar Hantu Kabut."
Mata kakek itu sedikit terbelalak, lalu sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Perbuatannya ini sedikit tak memyenangkan Lin Tian karena dirinya merasa sedang diejek.
"Apanya yang lucu?" tanya dingin pemuda tersebut.
Sebelum Lin Tian menjawab, kakek itu sudah lebih dulu mengirimkan serangannya diiringi bentakan nyaring. "Turun!"
Angin kencang menyambar dan dapat dirasakan dengan jelas oleh Lin Tian. Akan tetapi bukannya menghindar, dia malah tersenyum remeh dan mengalirkan hawa saktinya.
"Dess!"
"Apa? Bagaimana mungkin?"
Tercipta kabut-kabut tipis di sekeliling Lin Tian, sedangkan serangan kakek itu seolah tak berefek kepadanya atau pada batang pohon yang dipijakinya. Seharusnya jika Lin Tian mampu menahan serangan, batang pohon itu akan roboh. Namun sekarang baik batang pohon maupun Lin Tian tidak ada yang roboh, bergoyang pun tidak.
"Kau, bagaimana kau melakukan itu?"
"Jangan pura-pura tak tahu, kau juga bisa melakukan ini. Benar bukan?" pandangan Lin Tian makin menusuk.
"Heheh...Hantu Kabut? Agaknya benar bahwa kau adalah seorang yang selalu berteman dengan kabut-kabut. Sekarang, ayo kita bermain!!" serunya ketika menerjang ke atas dengan kecepatan seperti menghilang. Sedetik kemudian, dia sudah berada di hadapan Lin Tian dan melayangkan tendangan maut.
"Tahan!" seru kakek tersebut memberi peringatan. Namun seolah malah seperti ejekan.
Lin Tian mengangkat tangan kiri dengan gerakan seperti orang malas. Seolah pemuda itu tidak mengerahkan tenaga sama sekali sehingga membuat lawannya tersenyum girang karena berpikir kemenangan sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
"Bughh!"
Akan tetapi, matanya melotot hampir keluar tatkala tangan kiri yang seperti lemas itu berhasil menahan tendangan kakinya yang seharusnya mampu menumbangkan pohon besar. Lebih mengejutkan lagi, tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergerak.
Akan tetapi kakek itu tak mau menyerah, menggunakan pengolahan hawa sakti yang sudah sempurna, dia berputaran di udara dan mengirim tendangan kaki kiri ke wajah pemuda tersebut.
"Lemah!" ucap Lin Tian perlahan dan menutupi wajahnya dengan tangan kiri.
"Tep"
"Apa!?"
Kaki itu berhasil ditangkap dengan sempuran. Detik berikutnya, dia menggerakkan tangan itu dan membanting tubuh lawannya ke tanah. Menciptakan suara dentuman nyaring yang bergema ke seluruh penjuru hutan.
Jika saja yang dibanting bukanlah sosok pendekar sejati, dapat dipastikan saat ini tubuhnya sudah cerai berai.
"Bagaimana? Masih hidupkah?" ucap Lin Tian dari atas sana dengan suara sedikit nyaring. Saat debu-debu menghilang, dia mampu melihat jelas tubuh lawannya yang sudah berdiri dan memandanganya marah.
"Kau pikir serangan seperti itu mampu mematikanku?" bentak orang itu tak terima.
"Lalu, apa kau pikir orang sepertiku mampu kau tendang dengan kaki tak bertenagamu?" balas Lin Tian merendahkan.
"Jangan sombong dulu kau..." lagi-lagi dua suara ini terucap dari dua mulut yang berbeda namun dalam tempo bersamaan.
"Pendekar Hantu Kabut kan? Kali ini kau tak akan lolos karena mengganggu kediamanku!!" bentak kakek tersebut dan melesat lagi. Kali ini jauh lebih cepat dari yang sebelumnya, agaknya dia mulai menggunakan kekuatan penuh.
Lin Tian tak menghiraukan serangan itu, dia malah memikirkan hal lain yang cukup tidak penting di saat pertarungan seperti ini.
"Sekarang di Utara, aku harus mengukir nama sebagai Pendekar Hantu Kabut. Soal kecepatan aku sudah mampu menyaingi guru Wang Ling Xue dan sudah seperti hantu sungguhan. Untuk kabutnya...." batin Lin Tian.
"Ah...aku tahu!" serunya dalam hati kegirangan. Tapi tentu saja demi menjaga harga diri, dia tetap mempertahankan wajah angkuhnya.
Dia mengerahkan hawa sakti ke seluruh tubuhnya, membuat udara di sekitar tubuhnya menurun drastis hingga terciptalah kabut-kabut tipis.
Saat pukulan orang itu hampir mengenai wajah Lin Tian, secepat kilat dia sudah menggerakkan kaki dengan ilmu Langkah Kilat untuk berpindah tempat ke batu besar dimana kakek itu tadi berdiri.
"Syutt!–Wussh!" kakek itu hanya memukul kabut kosong saja. Namun detik berikutnya, dia merasa sedikit menggigil akibat suhu kabut itu yang di luar nalar.
"Apa-apaan, kemana dia? Menghilang?" dia menoleh ke sana-sini sambil menahan dingin.
"Bagaimana? Sudah pantaskan aku memakai julukan Hantu dan Kabut?"
Refleks kakek ini menoleh ke bawah dan memandang terbelalak. Mata tuanya tadi melihat jelas dia masih berdiri di atas pohon, sedangkan entah bagaimana sekarang sudah duduk bersila di atas batu besar.
"Bagaimana menurutmu? Cukup bagus bukan?" kembali pemuda itu bertanya.
"Hantu sungguhan!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG