
Tentu saja dua orang utusan keluarga Zhang ini terkejut setengah mati begitu mendengar bahwasannya Hu Tao ini memanggil pria tua itu dengan sebutan guru. Sebagai seorang pandai, mereka tentu dapat mengenal orang tua ini dalam sekali pandang.
Memakai pakaian sastrawan, dan dipunggungnya terdapat kecapi. Ciri-ciri ini sudah cukup bagi mereka berdua untuk mengetahui bahwa orang itu adalah sang datuk dunia putih yang berjuluk Dewa Angin Timur.
Setelah memuji-muji dua orang muda itu, kakek ini lekas turun, kemudian dalam sekali lompatan saja dirinya sudah tiba di hadapan Lin Tian dan Hu Tao.
"Hebat muridku! Kau tak mengecewakan gurumu!" orang itu berkata seraya memandang Hu Tao.
"Terima kasih guru!"
"Dan kau...melihat dari pakaian dan topengmu, bukankah kau ini orang yang berjuluk Pendekar Hantu Kabut itu?" tanya Dewa Angin Timur yang kini sudah mengalihkan pandangannya kearah Lin Tian.
"Benar Tuan, nama saya Lin Tian." jawab pemuda itu yang sudah menundukkan badan.
Dewa Angin Timur hanya mengangguk saja, kemudian dia beralih menatap kearah Minghao yang juga sudah menjura memberi hormat.
"Ah...kiranya Sastrawan Sakti juga ada di sini, sungguh kebetulan sekali!"
Minghao tak menjawab, hanya menundukkan badan lebih dalam sebagai jawaban.
"Hm...orang-orang muda pandai sedang berkumpul. Baguslah, aku ingin memberi kabar penting."
"Apa itu guru?" tanya Hu Tao penasaran.
"Dengar kalian semua, Iblis Tongkat Merah terakhir terlihat berada di desa-desa terpencil sebelah barat Kota Raja. Di sana, dia mengacaukan desa bersama anak buahnya dan merampok segalanya, baik emas atau pun para perempuan. Karena itulah, kami Empat Dewa Mata Angin hendak menyelidik langsung ke sana dan aku minta tolong kepada kalian untuk mengawasi daerah sekitaran sini. Khawatir kalau-kalau iblis lain muncul." jelasnya panjang lebar.
"Baik guru!!"
"Baik Tuan!"
Dewa Angin Timur mengangguk sebelum berkata, "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." detik berikutnya, tubuhnya sudah lenyap bagai tersapu angin.
"Hu Tao, bagaimana dia bisa menjadi gurumu?" tanya Lin Tian penasaran begitu orang tersebut sudah pergi.
"Hehe...panjang ceritanya."
Kemudian Hu Tao menjelaskan semuanya. Tentang pertemuannya kepada empat orang itu dan langsung diangkat menjadi murid.
"Hm...sungguh beruntung sekali engkau."
"Walaupun begitu, namun aku masih belum bisa mengalahkanmu Lin Tian!" jawab Hu Tao sedikit kesal.
"Kau hanya kalah sedikit dariku."
Hu Tao tak menjawab.
Tiba-tiba, terdengar suara Minghao menghentikan obrolan mereka.
__ADS_1
"Lin Tian, kita harus segera pulang. Aku khawatir akan keadaan Nona!" ucapnya tegas.
Lin Tian mengangguk dan berkata, "Benar. Kalau begitu, aku pamit Hu Tao!"
"Hati-hatilah!" jawab singkat pemimpin muda itu sebelum saudara dan sastrawan itu pergi.
"Lin Tian...semakin lama kepandaianmu semakin mengerikan! Siapa sebenarnya gurumu dan apa yang membuatnu bisa meningkat sepesat ini dalam waktu singkat?" batin Hu Tao bertanya-tanya sembari memandang kearah perginya Lin Tian.
...****************...
Setelah pulang dari kediaman Hu Tao, mereka segera menuju tempat Yin Yin untuk mengajak mereka segera pulang ke keluarga Zhang.
"Nyonya Yin, bagaimana dengan tokomu?" tanya Lin Tian begitu melihat Yin Yin menutup toko dan berkemas-kemas.
"Tak apa Tuan, aku akan menjual gedung ini dan membukanya lagi di tempat keluarga Zhang berada. Apakah tidak boleh?" balas Yin Yin sambil menolehkan kepala memandang Lin Tian.
"Kalau soal itu, lebih baik kau tanyakan langsung kepada Nona."
Yin Yin tak menjawab, hanya tersenyum sebagai jawaban.
Setelah satu jam terlewat, mereka sudah siap dengan segala perbekalan dan persiapan lainnya. Maka tanpa menunggu lama lagi, rombongan Lin Tian yang berjumlah delapan belas orang itu segera pergi menggunakan kuda tunggangan masing-masing.
Sebelum itu, Yin Yin menjual gedung tiga lantai itu lebih dulu kepada salah seorang kerabat kaya raya. Gedung itu langsung dibayar saat itu juga dan bergegaslah mereka meninggalkan Kota Sungai Putih menuju ke Kota Raja.
Karena mereka menggunakan transportasi kuda, tentu perjalanan menjadi lebih lama ketimbang ketika Lin Tian dan Minghao berangkat. Maka setelah satu setengah bulan, barulah mereka tiba di wilayah Kota Raja.
Begitu sampai di kediaman Zhang, mereka dikejutkan dengan keadaan di sana yang amat ramai. Terutama sekali Lin Tian dan Minghao, mereka terkejut sekali melihat betapa wilayah kediaman itu menjadi jauh lebih ramai dari sebelum mereka pergi.
"Kau...anggota Asosiasi?" tanya Minghao.
"Benar Tuan. Kami diperintah oleh pemimpin Lu supaya datang kemari dan menjadi pasukan keluarga Zhang!" jawab orang bercaping itu.
"Berapa jumlah kalian yang dikirim kemari?"
"Sekitar dua ratusan orang Tuan."
Sontak jawaban ini membuat Lin Tian dan Minghao sedikit terkejut. Dua ratus orang itu bukanlah jumlah yang sedikit!
Setelah itu mereka segera masuk dan segera menuju bangunan terbesar kediaman itu. Rumah kediaman Nona Zhang sekaligus aula utama keluarga.
"Hormat Nona Zhang!!" seru Lin Tian dan Minghao serempak.
"Selamat datang kembali, bagaimana dengan tugasnya." jawab Zhang Hongli dari kursi kebesarannya. Di kanannya duduk Zhang Hongli dan di kirinya duduk pula Lu Jia Li serta Lu Tuoli.
"Berjalan lancar Nona. Tuan Xiao dan Tuan Hu menerima tawaran dengan tangan terbuka. Juga kami berhasil mengajak mereka ini datang kemari untuk memberi bantuan kepada keluarga Zhang." ucap Minghao.
"Siapa mereka?" tanya Zhang Qiaofeng.
__ADS_1
"Kakek ini adalah Tuan Gong Fai, pemilik toko Pandai Besi Selatan yang amat terkenal. Dan Nyonya ini adalah Nyonya Yin Yin, yang kelak akan menjadi pengawal pribadi Nona." kali ini Lin Tian berkata.
Zhang Qiaofeng mengangguk sebelum berkata, "Bagus! Kami ucapkan selamat datang kepada kalian, semoga kalian betah di sini. Sebelum itu, bisakah aku mempercayai kalian sebagai orang-orang yang setia jiwa dan raga?"
Serentak Gong Fai serta muridnya dan Yin Yin sekaligus anak-anaknya berlutut hormat kepada Zhang Qiaofeng. Lalu terdengar Gong Fai berkata.
"Kami dari Pandai Besi Selatan bersumpah setia kepada keluarga Zhang. Kami akan melindungi keluarga ini dengan taruhan nyawa!"
"Saya Yin Yin mewakili seluruh anak-anakku, mengucapkan sumpah setia kepada keluarga Zhang. Akan menuruti segala perintah Nona dan melindungi keluarga ini dengan taruhan nyawa!"
Mendengar sumpah kedua orang ini, Zhang Qiaofeng mengangguk puas.
"Maaf Nona Zhang." tiba-tiba Yin Yin berkata.
"Ada apa?"
"Maaf Nona, bolehkah saya membuka restoran dan rumah penginapan di bawah nama keluarga Zhang? Saya ingin melanjutkan bisnis saya yang dahulu berdiri di Kota Sungai Putih." jelas Yin Yin.
Zhang Qiaofeng menjadi berseri sambil berkata, "Bagus sekali, tentu saja boleh. Sekalian restoranmu itu bisa menjadi ladang informasi bagi kita, juga menjadi tempat pertemuan rahasia bagi keluarga Zhang."
"Terima kasih Nona." balas Yin Yin sambil tersenyum.
"Baiklah Minghao, kau boleh istirahat. Dan untuk kakek Gong Fai dan bibi Yin Yin, kalian pergi ke kamar masing-masing dengan diantarkan pelayan kami. Silahkan." ucap gadis itu seraya memanggil salah satu pelayan.
"Lalu saya Nona?" kata Lin Tian tiba-tiba.
Bukannya menjawab, Zhang Qiaofeng malah melirik kearah kakeknya. Zhang Hongli pun segera berdiri dan berkata.
"Kau berlatih denganku. Kita harus lekas menyempurnakan ilmu silatmu, terkushusnya ilmu Ketenangan Batin." tanpa menunggu jawaban, kakek ini keluar ruangan.
Lin Tian pun hanya diam dan mengikut saja. Niat sebelumnya yang ingin menceritakan soal keracunan itu ia urungkan.
...****************...
Begitu sampai di halaman depan tempat latihan, Zhang Hongli segera bertanya.
"Lin Tian, tahukah kau bahwa sebenarnya selama ini kau itu hanya menguasai setengah dari ilmu silat Ketenangan Batin?"
Lin Tian nampak terkejut. Selama ini, dia berpikir bahwa dirinya sudah menguasai ilmu itu setidaknya tiga per empat bagian. Namun sekarang gurunya mengatakan bahwa dia hanya menguasai setengah saja? Tentu hal ini mengagetkan hatinya.
"Apa maksud anda guru?" akhirnya Lin Tian bertanya.
"Itulah yang ingin kuajarkan padamu kali ini. Sebuah ilmu silat Ketenangan Batin yang tingkatnya lebih tinggi lagi. Yang mana jika kau berhasil menguasai sepenuhnya, aku berani jamin akan sedikit orang yang mampu merobohkanmu." jelas kakek itu sungguh-sungguh.
Seketika, Lin Tian menjadi bersemangat. Mengingat akan kejadian tepukan beracun itu, menyadarkan dirinya bahwa sejatinya dia itu masih seorang lemah. Karena itulah begitu mendengar Zhang Hongli berkata barusan, tanpa sadar pemuda ini menjadi girang bukan main.
"Mohon bimbingannya guru!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG