
"Cih...apa-apaan orang itu?" kata Minghao dengan penuh kekesalan.
Tak biasanya sastrawan ini bersikap seperti sekarang. Hal ini menandakan bahwa orang itu memang sedang benar-benar kesal.
"Sudahlah paman...lebih baik kita pergi mengunjungi kediaman Xiao. Mungkin kita bisa mencari informasi lebih lanjut di sana."
"Bagaimana caranya?"
"Ikuti aku!"
Setelah itu, bergegaslah dua orang ini menuju ke Selatan Kota Batu, sebuah daerah dari kota tersebut yang dipenuhi dengan hutan lebat. Setelah dua puluh menit berlalu, mereka tiba di sana dan Lin Tian segera berkata.
"Kau lihat paman, hanya ada sepuluh penjaga gerbang di Selatan ini. Jika kita mampu membuat mereka tak berdaya, tentu dengan mudah saja kita dapat masuk dengan bebas." katanya sembari menunjuk ke sebuah gerbang kota yang terlihat sepi, hanya terlihat sepuluh orang penjaga itu.
Minghao mengagguk paham, lalu berkata, "Apa rencanamu?"
"Mudah saja, buat mereka tidur dengan permainan musikmu paman."
Tanpa menunggu lama lagi, sastrawan ini cepat duduk bersila dan memangku yang-khim nya. "Lindungi telingamu!!" demikianlah dia berkata singkat sebelum memetik setiap dawai yang-khim berukir indah itu.
Lin Tian cepat mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi telinga. Dan begitu jari-jari tangan yang nampak kuat itu mulai memetik yang-khim, diam-diam pemuda ini kagum bukan main.
Suara yang-khim itu terdengar sangat merdu, membuat mabok siapa saja yang mendengarnya. Jika Lin Tian tak melindungi gendang telinganya dengan tenaga dalam, agaknya dia pun juga akan terbuai akan permainan musik itu seperti halnya sepuluh orang penjaga gerbang tersebut.
"Ah...apa ini, kenapa tiba-tiba aku jadi mengantuk?" ucap salah seorang dari mereka yang memegang tombak.
"Aku juga, entah kenapa..." temannya menjawab, namun belum juga selesai ucapan itu, orang ini sudah jatuh tertidur.
Tak berselang lama, berturut-turut kesembilan orang lainnya juga mendadak roboh dan tertidur pulas. Luar biasa sekali memang tenaga dalam milik Minghao itu, seorang pendekar yang mampu menyerang dengan suara saja sudah sangat sukar untuk dicari, dan sekarang pria ini mampu memainkan yang-khim itu dari jarak beberapa ratus meter dan mampu membikin tidur mereka semua tanpa melukai sedikitpun!! Sangat luar biasa.
"Baiklah, ayo berangkat." ucapnya sambil memanggul alat musik yang-khim itu.
Tanpa berkata-kata, mereka sudah meloncat dan berlari cepat menuju gerbang. Karena hari masih siang, gerbang itu tidak terturup dan hanya terbuka sedikit, akan tetapi ini sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk masuk ke dalam.
Begitu memasuki gerbang, yang terlihat pertama kali hanyalah jalan besar dengan bagian kanan-kiri masih hutan lebat, di kejauhan sana juga terlihat hamparan sawah yang sangat luas. Agaknya wilayah Selatan Kota Batu ini memang digunakan sebagai wilayah perkebunan dan pertanian.
Mereka terus masuk kedalam menuju tengah kota, gerakan mereka amat cepat sehingga yang terlihat di jalan tengah sawah itu hanya kelebatan hitam dan putih. Tentu saja para petani yang melihat dari kejauhan merasa bergidik dan bergegas pergi dari sana.
Setelah setengah jam mereka terus berlari, tibalah mereka di bagian pusat Kota Batu. Daerah yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah dan mewah. Begitu sampai di pusat kota, kedua orang ini menghentikan larinya dan berjalan biasa agar tidak menimbulkan keributan.
"Bukankah kita bisa lewat sana?" tanya Minghao tiba-tiba seraya menunjuk kearah genteng bangunan.
Yang pria ini maksud adalah, mereka ini sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, seharusnya mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan cara melompat-lompat melalui rumah-rumah penduduk agar perjalanan lebih cepat dibanding berjalan kaki seperti sekarang.
__ADS_1
"Memang benar, tapi aku hanya ingin sedikit bersantai dengan melihat pemandangan kota ini." jawabnya santai.
Mendengar jawaban ini, Minghao hanya menghela nafas. Maklum bahwa dia tak mungkin bisa membantah ucapannya karena kedudukan Lin Tian yang sebagai pengawal pribadi pemimpin keluarga Zhang cukup tinggi. Juga diam-diam dia setuju akan ucapan pendekar itu, maka dia lebih memilih diam.
"Duk"
Lin Tian membolatkan mata terkejut begitu secara tiba-tiba ada seseorang yang menabrak pundaknya. Namun yang membuatnya terkejut adalah, tabrakan itu mengandung tenaga dalam yang sangat kuat. Jika seandainya dia bukan seorang ahli silat, tentu tulang pundaknya sudah patah.
"Tunggu!" Lin Tian berucap dingin dengan tangan kanan yang sudah mencengkram pundak orang tersebut. Cengkraman ini pun juga disertai dengan tenaga dalam, lebih tepatnya tenaga dingin yang seharusnya mampu membekukan tulang pundak orang tersebut.
Akan tetapi kembali pemuda ini dibuat terkejut ketika melihat betapa pundak itu tidak bereaksi sama sekali, bahkan bergetar pun tidak. Diam-diam, dia menjadi waspada akan orang ini.
Orang ini lalu membalikkan tubuh dan tersenyum. Dari wajahnya, orang ini mungkin berumur tiga puluh lima tahunan, dengan jenggot dan kumis tipis, dia tersenyum ramah kepada Lin Tian.
"Ada apa Tuan?" tanya orang tersebut.
Lin Tian yang tidak terlalu suka basa-basi, langsung mendekatinya dan berkata perlahan. Namun dari setiap kalimatnya, dia mengerahkan tenaga dalam sehingga ucapannya itu mengandung getaran dan daya intimidasi yang kuat.
"Jangan pura-pura, siapa kau?"
Orang ini masih tersenyum ramah. Sedangkan Minghao yang juga sadar akan kejadian barusan, diam-diam sudah menyiapkan suling senjatanya di balik lengan jubah baju sastrawan itu.
"Apa maksudmu Tuan?"
Kembali hanya senyum ramah itu yang menjadi jawaban. Akan tetapi, senyumnya kali ini mengandung perasaan seram dan kejam. Bahkan Lin Tian pun semakin heran dengan aura intimidasi dari senyuman itu.
"Ah...maafkan aku Tuan, aku benar-benar tidak sengaja. Kalau begitu aku pergi dulu, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan. Sampai jumpa Tuan, semoga kita masih bisa berjumpa kembali kelak." ucap orang itu seraya menepuk-nepuk pundak Lin Tian sebelum membalikkan tubuh dan pergi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Lin Tian masih berdiri mematung tanpa mampu membalas sedikitpun. Hal ini sangat mengherankan hati Minghao, maka cepat sastrawan ini menghampiri dan menyentuh pundak Lin Tian untuk menyadarkan pemuda itu.
"Lin Tian kau ke-" ucapannya belum berhenti ketika secara tiba-tiba raut mukanya berubah dan menjadi pucat pasi.
Minghao merasa betapa tangan yang ia gunakan untuk menyentuh pundak Lin Tian itu panas dan gatal-gatal. Tahulah ia bahwa rekannya itu telah terserang racun.
"Bruk.."
Belum sempat dia sadar dari keterkejutannya, Lin Tian sudah roboh tengkurap dengan nafas terngah-engah.
"Lin Tian!!!" teriak Minghao panik dan langsung memapah tubuh Lin Tian untuk dibawa ke tabib terdekat.
...****************...
"Huuffff...." keluar asap hitam ketika Lin Tian menghela nafas panjang.
__ADS_1
Saat ini dia sedang berada di rumah seorang tabib yang cukup terkenal di Kota Batu ini. Sekarang dia sedang duduk bersila untuk membersihkan sisa racun itu dengan cara menghimpun tenaga dalam dari alam sekitar.
Minghao duduk di samping dipan tempat Lin Tian meditasi dengan wajah cemas. Sang tabib juga berada di sana dengan raut wajah yang sama khawatirnya dengan Minghao.
"Bagaimana Lin Tian?" tanya Minghao begitu pemuda itu membuka mata.
Lin Tian hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan wajah yang sulit diartikan dia berkata, suranya nampak tidak senang dan menahan kesal, "Bagaimana aku bisa lengah. Hampir saja aku mati dengan cara seremeh itu."
"Untung Tuan ini adalah seorang pendekar kuat. Jika tidak, tentu mungkin sekali saat ini nyawa Tuan sudah tidak tertolong." tabib tersebut berkata dengan ekspresi lega.
"Sebenarnya racun apa itu? Begitu tangannya menyentuh pundakku, aku merasa ada sebuah hawa panas yang langsung menggerogoti tubuh dalamku. Sungguh racun yang sangat mengerikan." Lin Tian berkata sembari menggelengkan kepala.
"Ini berbahaya Lin Tian. Kelak dia akan menjadi ancaman di masa depan."
"Aku tahu. Begitu kita pulang, aku akan segera melapor kepada Nona muda akan orang aneh itu. Kebetulan aku masih ingat betul dengan wajahnya, dia tak boleh dibiarkan begitu saja."
Kemudian, Lin Tian mencoba bangkit berdiri. Namun begitu tubuhnya sudah setengah berdiri, tiba-tiba dia merasa pundaknya terasa panas bagaikan ditempel dengan lelehan timah panas. Maka secara spontan dia berteriak dan kembali jatuh.
"Lin Tian jangan memaksakan diri!" ucap Minghao yang langsung membantu Lin Tian bangkit dibantu tabib itu.
Kembali Lin Tian mendudukkan diri di atas kasur dan mengerahkan tenaga dalamnya. Kali ini ia menyebarkan hawa dingin keseluruh tubuh sampai membuat setiap hembusan nafas pemuda itu mengeluarkan kabut.
"Benar-benar racun yang berbahya." gumam Minghao.
"Tuan, tinggallah di sini selama beberapa hari. Agaknya Tuan ini belum sembuh benar." kata tabib itu yang masih khawatir akan keadaan Lin Tian.
"Apa tidak merepotkan paman?"
"Tak apa Tuan. Justru sudah menjadi tugasku untuk menolong setiap orang sakit sampai benar-benar sembuh."
"Begitu ya...kalau begitu biarkan aku pergi ke penginapan untuk menginap." Minghao berkata seraya bangkit berdiri.
"Tak perlu Tuan. Tinggallah di sini untuk menemani teman anda agar jika sewaktu-waktu ada masalah, anda bisa segera membantu."
Mendebgar ini, Minghao tak dapat menahan senyumnya dan berkata, "Terima kasih."
Tabib itu membalas dengan senyuman sebelum pergi dari sana. Kemudian Minghao kembali mendudukkan dirinya dengan kening berkerut.
"Sebenarnya siapa orang itu? Mampu merobohkan Lin Tian hanya dengan beberapa kali tepukan tangan? Sungguh mengerikan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1