Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 253. Surat Untuk Fu Hong


__ADS_3

"Bosan....."


Angin pagi hampir siang itu terasa bertiup lambat-lambat. Membuat pohon-pohon tinggi berbatang ramping di hutan itu meliuk-liuk begitu angin menerpanya. Tapi karena cuaca sedang terik, maka keadaan menjadi hangat cenderung ke panas. Angin itu sama sekali tak dapat membantu.


Nampak seorang gadis yang entah kurang kerjaan atau memang karena hal lain sehingga dia rebah terlentang di tengah padang rumput terbuka itu. Rumput alang-alang yang tingginya masih sekitar betis orang dewasa itu tak dihiraukannya. Sama sekali tak takut kulitnya gatal-gatal atau lecet.


Fu Hong, itulah nama dari gadis satu ini. Gadis yang memiliki surai putih bersinar bagaikan salju terpapar cahaya matahari itu kini sedang berbaringan di tengah padang rumput luas. Andai saja ada pria yang melihat keadaan ini, tentu dia sudah tak akan mampu menahan hasratnya karena agaknya Fu Hong itu ketika merebahkan tubuhnya, dia tak peduli akan baju yang dikenakan, sehingga banyak bagian yang terbuka di sana-sini.


Matanya yang cantik itu memandang ke hamparan langit biru yang seolah tak berujung. Tapi walaupun begitu, hidung mungilnya itu menghembuskan nafas kasar-kasar serta bibir kecil manisnya selalu mengerucut. Sepuluh jemarinya tak jarang mencabuti rumput di sekitar yang kemudian dia lempar ke udara untuk kemudian menimpa tubuhnya sendiri.


Semua ketenangan ini sirna saat seorang pria pelayan datang memberikan laporan. Pria itu menelan ludah susah payah menahan degup jantungnya ketika melihat nonanya ini sungguh dalam keadaan "menakjubkan".


"Nona...ada seseorang ingin menemui anda..." ucap pelayan itu membungkuk hormat seraya memejamkan mata. Tak kuat memandang nonanya yang terlalu elok untuk mata setengah tuanya


"Siapa...?" jawab Fu Hong malas seperti orang mengigau.


"Dia pelayan dari markas utama. Dialah yang tadi mengirim perbekalan makanan kemari."


"Oh...dia mau apa bertemu denganku?"


"Ingin menyerahkan surat nona."


"Kenapa tidak kau terima dan serahkan saja padaku surat itu....?"


"Dia cukup keras kepala untuk menyerahkan surat itu kepada saya nona." masih dengan menunduk, sama sekali tak mau mengangkat muka pelayan itu terus menjawab.


"Memangnya surat dari siapa sih? Kalau itu surat cinta dari pelayan itu sendiri, bakar saja langsung di depan mukanya."


"Itu....dia bilang surat dari tuan Lin Tian nona."


"Swusshh–Bughh!"


"Aduh...."


Tiba-tiba, pelayan ini melihat nonanya lenyap dari tempat semula. Kemudian entah bagaimana wanita itu sudah datang ke depan matanya dan memukul dagunya sampai membuatnya jungkir balik.


"Kenapa kau tak bilang daritadi!!? Bahkan hanya suratnya pun, aku tak boleh terlampat barang satu detik untuk membacanya!! Tak ingatkah kalau dia suamiku!!?"


Setelah memaki pelayannya yang sama sekali tak punya dosa, Fu Hong segera mengerahkan ilmu lari cepat untuk menghampiri si pembawa pesan itu. Ketika sang pelayan mengangkat muka memandang, kiranya di tengah padang rumput itu hanya menyisakan dia seorang.

__ADS_1


Lalu pelayan ini bangkit duduk dan termenung, matanya memandang jauh entah apa itu. Tak lama berselang, dia menyatukan dua telapak tangan dan menundukkan kepala sambil memejamkan mata. Pose seseorang yang sedang berdoa.


"Aku....ingin jadi seperti Lin Tian. Mohon kabulkanlah...."


...****************...


Xin Kiu berdiri bersedekap dada dan mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke tanah. Seseorang yang tadi berkata hendak melaporkan kedatangannya kepada Fu Hong belum juga kembali. Sedangkan para penjaga gerbang sama sekali tak mengijinkan dia masuk lebih jauh.


"Hei....mana nona kalian? Kalian pikir aku bohong?" teriaknya kepada tiga penjaga yang menjadi serba salah itu.


"Tunggulah di sana sebentar lagi." jawab penjaga gerbang.


Tiba-tiba, sesaat setelah ucapan ini terdengar, dari arah dalam bergema sebuah suara wanita yang merdu dan halus tapi dikenal mereka semua.


"Tak perlu menunggu lagi, nona kalian sudah datang."


Dan sedetik kemudian, Xin Kiu mampu merasakan tiupan angin yang berasal dari dalam gerbang. Ketika dia berkedip, tiba-tiba di situ sudah berdiri seorang wanita cantik berambut putih sedang memandangnya penuh perhatian.


"Engkaukah yang hendak menemuiku?"


"Benar nona!" jawab Xin Kiu tegas tanpa rasa takut.


Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti ini, karena sebelumnya Lin Tian sudah berpesan bahwa dia tak perlu takut menghadapi Fu Hong. Karena yang dibawanya adalah surat dari dia sendiri. Dia juga menyakinkan bahwa Fu Hong akan berubah menjadi anjing penurut begitu mendengar namanya.


"Bret..."


"Heh?"


"Nona?"


Tiba-tiba, tangan yang putih mulus cantik milik Fu Hong bergerak cepat sekali. Xin Kiu hendak menghindar karena berpikir itu adalah sebuah serangan. Tapi sedetik kemudian dia melongo begitu pun dengan para penjaga gerbang yang memandang iri.


Saat ini, tangan kanan Fu Hong sudah mengelus pipi kiri Xin Kiu sedangkan tangan kanannya meremas tangan kanan pria itu. Mata wanita itu berbinar serta suaranya halus sekali ketika berkata.


"Kau hendak menyerahkan surat Lin Tian? Kalau begitu, bolehkan aku yang menjadi alamat surat itu segera membacanya? Hei pelayan baik, kenapa wajahmu merah sekali? Hihi...ayolah, aku sudah tak sabar membacanya."


Mendengar suara itu, entah kenapa setiap kalimatnya seperti datang dari langit yang berhasil menggoncangkan isi dada dan pikiran Xin Kiu. Jika tak ingat sekarang dia sedang bertugas, juga seandainya lupa bahwa Fu Hong ini seorang iblis bertopeng manusia, dia ragu jika dalam keadaan seperti ini tangannya masih cukup sopan untuk tidak mengangkut Fu Hong ke tempat sepi.


Maka buru-buru dia menjauhkan diri dan mengambil surat Lin Tian dari balik saku dengan kecepatan kilat. Tak ingin siluman rase ini bergerak lebih jauh, cepat-cepat Xin Kiu lemparkan surat itu yang telak mengenai wajah Fu Hong.

__ADS_1


"Maaf kelancangan saya...semua urusan sudah selesai. Saya mohon diri!" berkatalah demikian dalam tempo dan momentum cepat sekali. Sedetik kemudian, Xin Kiu balik kanan untuk lari terbirit-birit seperti dikejar setan. Padahal dibelakangnya ada seorang wanita rambut putih yang melambai-lambaikan tangannya mengiringi kepergiannya.


"Terima kasih atas jasamu pelayan baik...~" Fu Hong berucap seperti bersenandung saja.


Kemudian gadis itu memandang surat di tangannya dengan jantung "dag-dig-dug". Pipinya lambat laun mulai memerah dan tangannya gemetaran, nafasnya memburu dengan pandang matanya makin lebar.


"Baiklah...ayo lihat..." dia menguatkan tekad sebelum dengan tangan gemetaran membuka sampul surat dan membacanya.


"Heh....?" tubuhnya tersentak setelah beberapa detik membaca surat.


Tentu saja hal ini membingungkan hati para penjaga yang melihat itu. Diam-diam mereka bergumam dalam hati, "Ada apa dengannya?"


"Heh...heh...?" kembali Fu Hong terkejut sampai kedua pundaknya gemetaran.


"Ada apa nona?" seorang penjaga yang tak tahan akhirnya bertanya.


Andaikan mereka tahu, saat ini wajah Fu Hong sudah merah sekali. Setiap kali dia membaca surat itu, wajahnya kian memerah dan tubuhnya makin gemetaran. Darahnya berdesir cepat sekali serta jantungnya berdegup makin tak karuan. Tubuhnya menjadi panas sekali!


"Aaaahhhh.....!! Akhirnya si pemalu itu.....!!"


Tiba-tiba Fu hong melengking nyaring disertai lompatan beberapa kali. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil melompat-lompat dan berputar-putar.


"Wah celaka. Gila agaknya." hanya ucapan dalam hati saja, para penjaga ini berkomentar.


Tanpa mempedulikan apapun lagi, seperti orang kesetanan, Fu Hong berlari masuk dan segera menuju kamarnya. Selama perjalanannya menuju kamar yang ditempuh dengan lari-lari diselingi lompatan pendek itu, selalu terdengar teriakannya yang sungguh nyaring.


"Aku harus tampil sempurna besok malam!!"


Fu Hong tak sadar, jika surat Lin Tian itu ia tinggal begitu saja dan kini sedang dibaca oleh tiga orang penjaga dengan muka merah.


"Ekhm...b-bagaimana...tempat itu ada di dekati sini, mau lihat langsung? Ini momen langka."


Tiba-tiba temannya menjitak kepala orang ini sembari mulutnya mencela, "Berapa nyawamu sampai berani bersikap sekurang ajar itu kepada nona. Andai saja kau tahu...di sini!" orang itu menunjuk dadanya sendiri.


"Di hatiku, aku bahkan tidak ingin menonton nona melakukan hal semacam itu!! Aku sangat menghormati nona!! Tapi jika saja kalian tahu dan kalau tak percaya tanyakan sendiri pada para dewa, setiap malam aku dengan tulus dari hati ini selalu berdoa agar kelak suatu hari nanti sepasang tangan lembut dan jemari halus nona bisa menyentuh dan merengkuhku di bawah bulan purnama di malam panjang. Saat itu tiba–Aduh...aduh!!"


Entah bagaimana, tiba-tiba orang ini kena pukul teman-temannya yang merasa mendongkol sekali. Umpatan-umpatan sarkas selalu terlontar di antara mereka yang sedang memukuli orang ini tanpa ampun. Salah satu dari sejuta umpatan itu adalah.


"Hei nyawa sembilan, jika kau tahu bahwa mimpimu itu bahkan tak akan pernah menjadi kenyataan dalam mimpi, dan kau ingin membuat mimpi semu itu menjadi kenyataan yang nyata? Nah, hari ini kami akan membuang delapan nyawamu yang lain. Berani kau macam-macam dengan nona!? Sahabat-sahabatmu ini akan memberi pencerahan untuk meluruskan jalan pikiranmu!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2