
"Paman, bisakah kau mengantarkanku dengan perahu ini sampai ke Selatan sana?"
"Oh...tentu, tentu. Tapi aku hanya bisa mengantar sampai ke pelabuhan desa hijau. Kalau dari sini, mungkin membutuhkan waktu tiga hari perjalanan. Apa kau tak masalah Tuan pendekar."
"Tak masalah, lagipula aku pun tidak sedamg buru-buru."
"Baiklah, ayo naik."
Tuan pendekar yang bukan lain adalah Lin Tian itu kemudian bergegas naik keatas perahu kecil berwarna merah tersebut. Dia saat ini hendak menuju ke Selatan guna mencari keberadaan desa Tanah Hujan sesuai informasi dari Yin Yin.
Pagi hari ini Lin Tian akan pergi meninggalkan Kota Sungai Putih. Tadi malam sebelum berpisah, Lin Tian berpesan kepada Hu Tao agar pemuda itu pergi ke Kota Batu menemui pemimpin keluarga Xiao untuk menceritakan semuanya.
Lin Tian juga berpesan agar keluarga Hu dan keenam keluarga lain hidup rukun seperti sedia kala. Dan kedepannya, Lin Tian berharap agar ketujuh penguasa selalu waspada untuk menghadapi Aliansi Golongan Hitam.
"Paman berapa lamakah perjalanan dari kota ini menuju desa Tanah Hujan?" tanya Lin Tian setelah kurang lebih satu jam perjalanan.
"Oh...anda ingin pergi ke sana Tuan?" jawab pria paruh baya itu sedikit terkejut.
"Ya, memangnya ada apa?"
"Tidak-tidak, aku hanya terkejut ketika anda berkata ingin pergi ke desa pelosok itu. Desa itu sangat jauh Tuan, mungkin dari sini harus membutuhkan waktu perjalanan selama tiga bulan agar sampai sana."
"Jauh sekali..." gumam Lin Tian yang terkejut mendengar kenyataan ini.
"Tapi Tuan, anda harus berhati-hati, karena anda harus pergi ke sana seorang diri. Tak ada jasa transportasi apapun untuk pergi ke desa pelosok itu." kata pria itu.
"Ya aku tahu. Tapi jika begitu, bagaimana desa itu mampu berhubungan dengan dunia luar?"
"Tentu saja tidak bisa Tuan, kalaupun bisa pasti sangat jarang. Mereka hidup dengan bercocok tanam dan menangkap ikan di pantai Selatan sana, sehingga perekonomian mereka masih tetap bisa berjalan stabil. Begitulah yang kudengar dari kabar burung." jelas pria tersebut.
"Lalu apakah tak ada desa atau kota lain di sekitar desa itu?" kembali Lin Tian melontarkan sebuah pertanyaan.
"Tidak ada Tuan. Aku pernah dengar dari seorang pendekar, jarak desa itu dengan desa terdekat saja membutuhkan waktu satu minggu perjalanan. Hal ini wajar karena sungguhpun desa itu masih berada di dalam kekuasaan kekaisaran Chu, akan tetapi letaknya jauh di ujung Selatan sehingga mungkin saja kaisar kurang memperhatikan. Tapi walau begitu, di desa itu kudengar sangat nyaman dan aman, bahkan bandit pun tidak ada yang berani mengusik mereka." jelas pria itu panjang lebar.
Cukup masuk akal, pikir Lin Tian. Dia tahu jika kekaisaran Chu sekaligus tujuh Keluarga Penguasa tinggal di wilayah dekat dengan Pegunungan Tembok Surga. Sedangkan untuk daerah terpelosok, masih banyak sekali wilayah hutan-hutan yang menjadi sarang binatang buas dan sarang penjahat.
__ADS_1
Memang di wilayah Selatan ini, wilayah yang ramai di kunjungi orang-orang adalah wilayah yang masih dekat dengan Pegunungan Tembok Surga. Begitupun dengan kota-kota wilayah ketujuh Keluarga Penguasa, mereka ini letaknya tidaklah terlalu jauh satu sama lain.
Sehingga mungkin saja di sekitar Desa Tanah Hujan itu memang kurang diperhatikan keadaannya yang membuat jarang sekali ada desa maupun kota.
Tapi ada satu hal yang membuat Lin Tian tertarik. Para bandit tidak berani menyerang Desa Tanah Hujan? Apakah mungkin ini adalah karena keberadaan Asosiasi Gagak Surgawi? Jika benar, tentu dia akan sangat senang dan perjalanan tiga bulan untuk pergi ke sana tidaklah sia-sia.
Berpikir sampai di sini, wajah Lin Tian menjadi berseri dan dia ingin cepat-cepat sampai ke tujuan.
...****************...
Tiga hari kemudian, mereka sampai di pelabuhan Desa Hijau seperti yang di katakan pria paruh baya itu.
Sebenarnya, sungai ini masih bagian dari Sungai Putih, dan pelabuhan itu tepat berada di persimpangan antara aliran sungai yang menuju ke laut diarah Timur dan yang menuju hutan besar kearah Barat.
Jadi tidak heran pula di pelabuhan ini juga terdapat banyak sekali nelayan yang menjual ikan atau hasil laut lainnya.
"Kita sudah sampai Tuan." katanya ramah.
Lin Tian kemudian turun dari atas perahu dan melihat keadaan sekeliling. Ramai sekali, batinnya.
"Paman, apa Desa Hijau selalu ramai seperti ini?"
"Hm...tidak juga Tuan, walaupun pelabuhan ini selalu ramai, tapi seingatku tidak pernah seramai ini." jelas pria itu.
"Di sini memang sangat sering terlihat para pedagang dan sastrawan ataupun penyair. Tapi untuk para pendekar itu...kupikir tidak pernah sampai sebayak ini." lanjutnya seraya memandangi para pendekar yang lalu lalang dengan kening berkerut.
Memang di sana terlihat banyak sekali pendekar. Baik pendekar pengembara seperti Lin Tian sendiri, ataupun pendekar yang berasal dari sebuah perguruan. Salah satunya adalah perguruan Elang Bayangan yang terlihat dari seragam mereka terdapat gambar elang hitam di punggung mereka.
"Kalau begitu, berapa biayanya paman?" Lin Tian bertanya.
"Lima keping perunggu Tuan."
"Ini terimalah." kata Lin Tian mengulurkan satu keping perak.
"Tuan ini terlalu banyak!" ucap pria itu terkejut.
__ADS_1
"Ambil saja paman, terima kasih sudah mengantarku." ucap Lin Tian lalu berlalu pergi. Di belakang sana, Lin Tian mendengar pria paruh baya tadi yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padanya.
Beberapa menit berlalu, ketika Lin Tian melewati gerombolan para pendekar yang sedang bercakap-cakap, secara tidak sengaja dia mendengar isi dari percakapan itu.
"Hah...mereka mengacau lagi ya." ucap seorang pria berumur tiga puluh tahun kepadanya temannya.
"Hal ini tidak mengherankan, karena akhir-akhir ini Aliansi Golongan Hitam semakin terkenal saja namanya, tak heran mereka berani berulah lagi." ucap salah seorang temannya yang berada di sebelah kanan.
"Dari dulu, bajak sungai itu sudah sering mengacau, jadi kita sebagai pendekar golongan putih sudah seharusnya mengatasi mereka." ucap pula seorang yang di sebelah kiri.
Bajak Sungai? Apa mungkin karena hal inilah Desa Hijau menjadi sangat ramai? batin Lin Tian bertanya-tanya.
Aku harus memastikannya sendiri!!
Pemuda ini lalu pergi ke dalam sebuah hutan kecil. Kemudian membuka bungkusan makanannya dan memakan beberapa daging kering yang sebelumnya telah ia beli di pelabuhan itu.
Dia berencana hendak menunggu sampai malam untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Lagipula jika memang benar, dia juga bisa membantu untuk menghadapi para bajak itu.
...****************...
Tetapi kenyataan membuat kening pemuda itu berkerut. Sudah dua hari lamanya dia tinggal di Desa Hijau ini akan tetapi bajak sungai yang dia tunggu-tunggu tidak juga lekas datang.
"Hah...apa aku harus kembali melanjutkan perjalananku?" gumam Lin Tian bimbang.
"Tidak!! Jika seandainya Nona tahu, dia pasti akan memukuliku!! Lagipula aku tak bisa berpura-pura tutup mata dan telinga atas kejadian ini!!" kata Lin Tian tegas untuk menyakinkan diri sendiri.
Hari sudah malam dan langit sedang mendung. Membuat suasana menjadi sangat dingin dan berkabut.
Lin Tian mendudukkan dirinya di salah satu pohon tinggi dan hendak beristirahat. Namun baru saja dia menutup mata, dari arah pelabuhan terdengar suara riuh rendah dan teriakan nyaring.
"Lihat!! Itu mereka!! Bajak sungai Naga Air datang, bersiaaaappp!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1