Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 77. Rumah Baru


__ADS_3

Tiga minggu berlalu dan mereka sudah tiba di tempat tujuan, Kota Raja kekaisaran Chu, Kota Emas. Memang sejatinya mereka hendak mengunjungi Kota Batu atau Kota Sungai Putih lebih dulu, akan tetapi mereka membutuhkan sebuah rumah sebelum dapat membuat markas baru mereka, maka karena itulah mereka mendatangi kota raja untuk mencari sebuah rumah.


Begitu mereka memasuki gerbang Kota Raja, mereka dicegat oleh beberapa orang penjaga yang meminta identitas diri mereka, hal yang sangat wajar.


"Kami dari keluarga Zhang!!" ucap lantang Zhang Hongli yang sudah berani secara berterang menyebut keluarganya.


"Keluarga Zhang? Maaf Tuan, akan tetapi saya tidak pernah dengar akan keluarga itu. Mohon Tuan-Tuan suka mengeluarkan identitas keluarga Zhang." balas pengawal yang walaupun berwajah tegas dan seram, akan tetapi berkata ramah.


"Memang wajar kalau kalian tak mengenal kami karena sesungguhnya kami bukan berasal dari Selatan. Tapi aku hanya punya ini, semoga bisa membuat kalian percaya bahwasannya kami sama sekali tidak hendak membohong." ucap Zhang Qiaofeng seraya menunjukkan lencana giok yang menjadi tanda pengenal keluarga Zhang. Di tengah giok itu terukis tulisan indah yang dibaca "Zhang".


Mereka nampak mengerutkan kening bingung, kemudian salah satu dari mereka memberi tanda kepada temannya. Secepat kilat, orang itu pergi ke pos dan keluar bersama seorang tua yang bersikap gagah. Orang ini rambut serta jenggotnya sudah banyak yang terlihat putih, mungkin umurnya tidak kurang dari lima puluh tahun.


Orang tua itu datang menghampiri dan memandang lencana itu lekat-lekat. Alisnya kerut merut tanda berpikir. Selang beberapa detik, orang ini menghela nafas panjang dan berkata.


"Maaf seribu maaf Nona, akan tetapi saya sama sekali tidak mengenal tanda pengenal anda. Lebih baik Nona dan Tuan sekalian ikut-"


"Ah...!!" tiba-tiba, dari arah pos penjagaan, berseru seorang penjaga yang terlihat kaget begitu memandang kearah rombongan Zhang Qiaofeng.


"Lancang!! Jangan potong ucapan Ketua!!" bentak salah seorang rekannya sambil menjitak kepala penjaga tersebut.


"Ah...maaf ketua, akan tetapi saya begitu terkejut karena dapat melihat mereka kembali." kata orang itu sambil mengusap-usap kepalanya.


"Hm? Maksudmu?"


"Ketua, apa anda tahu bahwa kakek ini dan pria bertopeng dibelakang itu adalah orang-orang di balik peristiwa Runtuhnya Tongkat Budiman?"


Mendengar ini, serempak para penjaga gerbang itu berseru kaget dan wajahnya pucat. Lalu salah satu penjaga yang bertubuh tinggi kurus berkata.


"Apa? Jangan asal bicara kau!!"


"Aku tak asal bicara!! Waktu itu aku berada di tempat kejadian dan menonton semuanya dari atas pohon! Aku juga masih ingat betul akan Tuan berdua ini, bersama Hantu Seratus Lengan, mereka mampu membikin gentar Perguruan Tongkat Bambu Kuning!!" jawab pria tersebut dengan nada tinggi.


Seketika pucatlah wajah orang yang dipanggil Ketua itu. Maka cepat pria tua ini menjura dalam sekali dan berkata, nadanya jauh lebih halus dari sebelumnya.


"Ah...siapa kira kami akan menerima sebuah kehormatan besar untuk dapat bertemu dengan Kakek Lengan Sakti dan Pendekar Hantu Kabut. Sungguh maafkan atas kelancangan dan kekurang ajaran kami sebelumnya. Kalau begitu, silahkan masuk Tuan dan Nona." katanya sembari menjulurkan lengan kanan dengan jari terbuka yang diarahkan ke dalam pintu gerbang, memberi tanda kepada rombongan keluarga Zhang itu untuk masuk.


Tindakan pemimpin mereka ini diikuti oleh ketujuh penjaga gerbang lain yang langsung membungkukkan badan memberi hormat.


Walau merasa heran setengah mati, akan tetapi Zhang Qiaofeng merasa girang bukan main karena dapat memasuki Kota Raja tanpa kesulitan. Dengan langkah lebar, gadis jelita ini memasuki pintu gerbang kota raja diikuti sembilan orang anggota keluarganya.


...****************...

__ADS_1


"Hm...Kakek Lengan Sakti? Nama yang cukup bagus!! Hahaha...siapapun yang memberiku nama ini, aku sangat berterima kasih!!" Zhang Hongli tertawa bergelak sambil mendongakkan kepala kearah langit.


"Benar-benar membuat saya kagum. Keluarga Zhang masih sama seperti dahulu, gagah dan pemberani!!" ucap pula Minghao dengan mata berbinar-binar.


"Ah...paman, kau terlalu memuji. Apanya yang hendak di banggakan dari keluarga kecil ini?" Zhang Qiaofeng berkata seraya tertawa kecil.


"Tentu saja Nona!! Apa anda lupa betapa dahulu ayah anda pernah menyelamatkan saya dari pengeroyokan pendekar Aliansi Golongan Hitam?? Saya ingat betul dahulu, ayah anda mendiang Zhang Anming, bertarung dengan gagah dan hebat sekali!! Sekarang kakek dan pengawal anda ternyata juga tak kalah luar biasa!! Bukankah ini membuktikan bahwa orang-orang keluarga Zhang terdiri dari para pendekar gagah!?" kembali Minghao menjawab. Kali ini bahkan terlihat lebih antusias dan semangat, jauh berbeda dengan biasanya yang selalu bersikap tenang.


"Karena itulah, tanpa ragu saya memutuskan untuk bergabung menjadi anggota Keluarga Zhang!! Selain untuk membalas budi kebaikan mendiang ayah anda, juga saya amat kagum menyaksikan sepak terjang pengawal serta kakek anda!!" lanjutnya.


Memang Minghao meminta ikut melakukan perjalanan bersama Zhang Hongli dan Lin Tian waktu itu bukan tanpa tujuan. Dia ingin melakukan perjalanan bersama mereka, karena pria ini ingin membalas budi Zhang Anming yang beberapa tahun lalu pernah menyelamatkannya.


Karena itulah, ketika dahulu dirinya mendengar akan kehancuran keluarga Zhang, dima-diam dia merasa marah sekali. Maka sejak hari itulah dia menggembleng diri dengan ilmu-ilmu silat tinggi hingga bisa mendapat julukan Sastrawan Sakti seperti sekarang.


"Ah haha...kau terlalu membesar-besarkan paman..." jawab Zhang Qiaofeng sambil tersenyum malu. Gadis ini sama sekali tidak menyangka sebelumnya, bahwa Pendekar Hantu Kabut yang tersohor itu ternyata adalah pengawal peribadinya sendiri. Setelah insiden di kediaman Xiao Fu itulah baru dia sadar akan kebenaran ini.


Tak lama setelah itu, terdengar Lu Tuoli berkata, " Ekhm...bukankah kita hendak mencari sebuah rumah? Kalau begitu kebetulan, aku punya seorang kenalan yang mempunyai bisnis jual beli rumah atau gedung. Maukah Nona mengikuti saran saya?"


"Wah...kebetulan sekali!! Cepat bawa kami kesana paman!!" Zhang Qiaofeng berseru girang.


Beberapa menit berlalu, mereka tiba di depan sebuah rumah megah yang memiliki halaman luas. Lu Tuoli menghampiri salah satu penjaga gerbang dan membisikkan sesuatu.


"Ahaha....kukira siapa yang datang, ternyata itu kau!! Haha....mari duduklah duduk..." kata seorang pria seumuran Lu Tuoli begitu rombongan sepuluh orang itu memasuki ruangan. Pria ini mungkin berumur paling banyak empat puluh lima tahun.


"Ada apa ini, datang begitu tiba-tiba? Maaf aku tak bisa menjamu kalian dengan layak." kembali pria ini berucap begitu mereka semua sudah mendudukkan diri di kursi masing-masing.


"Kami hendak membeli sebuah rumah, apakah kau bisa membantu?" tanya Lu Tuoli tanpa basa-basi langsung keinti.


"Hahaha....apa ini, bertemu dengan teman lama dan langsung berbicara soal bisnis?? Haha tapi tak apa, aku malah senang...nah, rumah apa yang kau inginkan?"


Mendengar pertanyaan ini, spontan Lu Tuoli menengok memandang Zhang Qiaofeng, seolah dia ingin agar Nona muda itu sendiri yang menjawab. Hal ini wajar karena orang yang memimpin keluarga Zhang saat ini adalah gadis muda itu. Sebenarnya gadis ini lebih suka agar kakeknya yang menjadi pemimpin, akan tetapi pria tua itu keras kepala dan tetap tidak mau. Waktu itu, dia membantah dengan berkata.


"Tak mau!! Aku sudah mengundurkan diri sebagai pemimpin keluarga Zhang dan kau adalah cucuku, satu-satunya keturunan anakku!! Sudah sepatutnyalah kau yang memimpin keluarga ini!!" demikianlah ucap kakek itu bersungut-sungut.


Mengerti akan maksud Lu Tuoli, Zhang Qiaofeng segera menjawab, "Yang seperti ini paman..."


Zhang Qiaofeng mulai menjelaskan sedetail mungkin. Mulai dari ukuran, bentuk, bahkan tempatnya sekalipun!! Memang untuk seorang pedagang biasa, tentu dia akan merasa jengkel karena permintaan gadis ini terlalu banyak, akan tetapi untuk pria paruh baya ini, semua permintaan gadis itu tak jadi masalah.


"Hm...permintaanmu sungguh banyak Nona. Akan tetapi tenang saja, agaknya aku masih punya satu rumah yang sesuai dengan selera anda, ingin lihat sekarang?"


"Tentu saja jika paman tidak keberatan!!" jawab Zhang Qiaofeng semangat.

__ADS_1


"Hahah....tentu saja aku tak keberatan, justru malah senang! Tunggu sebentar, aku akan berkemas dulu." jawab pria penjual rumah itu yang kemudian bangkit berdiri.


Tak lama kemudian, pria ini kembali dari ruang dalam dan segera mengajak meraka melihat tempat calon rumah baru itu.


Ternyata tempat ini terletak luamyan jauh jika ditempuh dengan cara jalan kaki. Rumah ini letaknya ada di luar sebelah Barat kota raja yang merupakan daerah perhutanan dan bukit-bukit. Keadaannya sunyi dan tenang.


Begitu sampai, sepuluh orang ini tak dapat menahan decakan kagum mereka. Betapa senang hati mereka mendapatkan sebuah kediaman baru yang demikian cantik dan nyaman.


Rumah itu terbuat daripada kayu yang sangat kokoh, berdiri di tengah hutan yang di sebelah Baratnya, kurang lebih sejauh seratus meter, terdapat air terjun yang sangat indah. Juga rumah ini sangat lah luas dengan terdiri dari beberapa bangunan. Di luar rumah itu, terdapat tembok yang terbuat dari batu tebal, melingkari seluruh wilayah rumah.


"Wah....hebat!! Ini bahkan melebihi permintaanku!! Agaknya rumah ini masih terlalu besar untuk kita yang berjumlah hanya sepuluh orang." ucap Zhang Qiaofeng begitu memandangi sekeliling rumah dari halaman depan yang luas.


"Ini besar sekali..." gumam Lin Tian.


"Hehe...bagaimana Nona, cocok sekali bukan?" tanya si penjual dengan bangga.


"Tentu...tentu...bahkan sangat cocok!! Berapa harganya paman?"


"Lima belas ribu koin emas Nona, karena saya kenal baik dengan Lu Tuoli ini, maka saya turunkan menjadi tiga belas ribu koin emas saja."


"Biar saya yang membayar Nona." cepat Lu Tuoli berkata begitu melihat Nona muda ini sudah merogoh-rogoh kantung yang berisi uangnya.


"Apa? Apa tidak masalah paman?" tanya gadis itu dengan raut wajah tidak enak.


"Jangan bersikap seperti itu Nona! Kita ini satu keluarga, sudah selayaknya untuk saling bantu. Bukankah begitu?"


Zhang Qiaofeng tersenyum, cantik sekali bagaikan setangkai bunga segar yang baru mekar kembangnya.


"Kalau begitu, terima kasih..." kata gadis ini perlahan sebelum membalikkan tubuh dan kembali memandang kagum bangunan rumah itu.


Gadis ini tak sadar, betapa di belakangnya, Minghao, Lin Tian dan Lu Jia Li memandangnya dengan muka memerah, kagum akan kecantikan bagai dewi surga itu.


"Sungguh gadis yang cantik jelita..."


"Inikah Nona mudaku? Nona muda yang galak dan cerewet itu? Apakah selama ini aku menjadi seorang pengawal bidadari?"


"Oh Feng'er, kau amat cantik dan anggun!! Membuatku iri saja. Apa ibumu itu dewi kahyangan yang tak sengaja jatuh cinta kepada ayahmu? Ah...Feng'er adikku, tak akan kubiarkan tangan kotor para lelaki bejat diluar sana menodai kulit halusmu!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2