Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 90. Malam Kelam


__ADS_3

"Aaaakkkhhh....Kakaaaak!!!


Pada suatu malam di kediaman keluarga Zhang, tiba-tiba terdengar jerit melengking seorang wanita dari kamar Lu Jia Li. Wanita yang menjerit itu tak lain adalah Zhang Qiaofeng.


Seketika, semua pendekar yang ada di sana cepat melompat dari tempat tidur dan berlari cepat menuju sumber suara. Tak terkecuali Lin Tian dan Zhang Hongli.


Dua orang guru murid ini sudah seperti setan saja yang bisa menghilang dan muncul di suatu tempat jauh. Beberapa detik setelah gema suara itu lenyap, dua orang ini sudah sampai ditujuan. Bahkan Lin Tian sudah pula mengenakan topeng putih dan Pedang Dewi Salju, tanda bahwa pemuda ini tak main-main dan siap sedia jika harus menghadapi pertarungan.


"Ada apa Nona!!?" seru Lin Tian begitu sudah tiba di depan pintu kamar Lu Jia Li yang terbuka lebar.


Di sana terlihat Zhang Qiaofeng yang jatuh terduduk dengan mata melotot dan berlinang air mata. Wajahnya pucat dan bibirnya gemetaran hebat.


Zhang Hongli yang melihat kejanggalan, cepat bergerak menuju ranjang. Dan yang dilihatnya sungguh di luar nalar sekaligus mengerikan.


"Apa ini...?" gumam kakek ini seraya memandangi tubuh Lu Jia Li.


Lin Tian sudah ikut mendekat dan spontan mengeluarkan pekik tertahan begitu melihat pemandangan dihadapannya. Pemuda ini benar-benar merasa terkejut dan sedikit ngeri.


Terlihat di pembaringan itu, Lu Jia Li terlentang dengan badan kaku dan seluruh tubuhnya pucat pasi. Matanya melotot lebar dan mulutnya menganga sampai mengeluarkan air liur berbusa.


Urat-urat di lehernya berwarna hitam kehijauan dan menonjol tegang di seluruh leher gadis tersebut. Rambutnya berantakan sekali dan nampak disana-sini terdapat uban yang tak sedikit jumlahnya.


"Apa-apaan ini? Mengapa Nona Lu bisa sampai seperti ini?" seru Lin Tian.


Bertepatan dengan itu, kamar Lu Jia Li sudah didatangi banyak orang. Baik itu para pengawal maupun pendekar keluarga. Mereka nampak terkejut dan heran begitu mendengar teriakan barusan.


"Minggir! Minggir!!" terdengar bentakan-bentakan nyaring dari belakang kerumunan. Ternyata dia ini adalah Lu Tuoli, ayah kandung Lu Jia Li.


"Ada ap- Li'er!!!!!" teriak Lu Tuoli histeris begitu memandang tubuh putrinya.


"Ada apa ini? mengapa putriku jadi seperti ini?" tanya pria tua itu entah kepada siapa dengan mata memerah menahan tangis.


"Tenanglah, anakmu ini terkena racun yang jahat luar biasa. Namun tak apa, aku akan mencoba mengusir pengaruh racun itu." ucap Zhang Hongli menenangkan sambil menepuk pundak Lu Tuoli.


Pria tua itu memandang kearah Zhang Hongli, entah apa arti dari pandangan itu, namun terlihat jelas bahwa ayah satu anak ini merasa sangat khawatir.


"Tenang saja, serahkan padaku." kembali Zhang Hongli berkata menenangkan.


Lu Tuoli mengangguk dan menyingkir memberi ruang kepada Zhang Hongli. Kemudian tetua pertama keluarga Zhang itu lekas memegang pergelangan gadis itu untuk mengecek denyut nadi.


Setelah beberapa detik, raut wajah Zhang Hongli berubah. Keningnya berkerut dan pandang matanya tajam bagai seekor burung elang.


"Hem...sungguh buruk, racun yang amat jahat dan ganas!" gumamnya seorang diri.


Lalu disaat semua orang terkejut akan pernyataan itu, Zhang Hongli sudah menempelkan telapak tangan kiri di leher dan tangan kanan di pusar gadis itu. Ia memejamkan mata dan perlahan-lahan, keluar tenaga dalam dari kedua lengan itu yang mengandung tenaga Yang.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, perlahan tapi pasti, warna hitam di leher itu menghilang. Namun dengan perlahan pula, tangan kanan Zhang Hongli yang memegang kearah pusar berubah menjadi hitam.


"Eughh!" erang Zhang Hongli dengan kening berkerut dan bercucuran keringat.


Mereka semua nampak melongo melihat pemandangan itu. Bagi mereka yang seorang ahli silat, tahulah bahwa kakek itu sedang memindahkan racun dari gadis itu ke tubuhnya sendiri. Sungguh cara penyelamatan yang amat berbahaya! Namun agaknya hanya itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan saat ini.


"Siapkan wadah!!" perintah Zhang Hongli dengan nada kesakitan. Perlahan-lahan, warna hitam yang sebelumnya di tangan kanan itu berpindah ke dada lalu terus naik sampai ke leher.


Mendengar perintah ini, Lu Wen, putra ketiga keluarga Lu itu cepat berlari untuk mengambil sebuah wadah yang terbuat dari logam.


"Berikan padaku!" kembali Zhang Hongli berucap sambil merebut wadah logam itu. Suaranya terdengar lebih berat dan serak.


Lalu tiba-tiba...


"Uehkkk...uhhuuekk....uhuk..uhuk!"


Zhang Hongli memuntahkan cairan yang sangat kental berwarna hitam kehijau-hijauan. Itulah racun yang sebelumnya menggerogoti tubuh dari putri Lu Tuoli itu.


Zhang Qiaofeng yang melihat peristiwa itu makin merasa ngeri dan tanpa sadar dia telah mencengkram tangan kanan Lin Tian kuat-kuat.


"Ini sakit Nonaaaa....!!" jerit Lin Tian dalam hati yang merasa betapa tangan yang dicengkram Zhang Qiaofeng itu terasa hampir remuk tulangnya.


"Uhuk!!" tiba-tiba Lu Jia Li terbatuk darah dan pingsan seketika. Nafasnya sudah kembali teratur, sungguh berbeda dengan tadi yang nafasnya nampak putus-putus.


Zhang Hongli yang masih ngos-ngosan itu memejamkan mata mencoba untuk menenangkan diri sendiri. Lalu berkatalah kakek ini setelah menghela nafas panjang, "Semua sudah baik-baik saja. Kembalilah kalian ke kamar masing-masing. Kecuali para petinggi keluarga, ikut aku!!"


Zhang Hongli membawa mereka semua ke ruang pertemuan. Di sana duduk Zhang Hongli, Zhang Qiaofeng, Lin Tian, Minghao, Lu bersaudara, dan Ang Bei, sahabat baik Lu Tuoli.


Mereka duduk di tempat masing-masing sembari menantikan apa yang hendak dikatakan oleh tetua pertama itu.


"Ini aneh...sangat aneh..." ucap Zhang Hongli yang sedari tadi hanya diam.


"Racun ini amat ganas dan kejam, tentu pembuatnya adalah seorang pendekar pandai. Tapi...bagaimana bisa kita kecolongan?"


"Di setiap sisi rumah terjaga dengan kuat oleh pasukan Gagak Surgawi yang lihai, di dalam ada aku, Lin Tian, dan Minghao bahkan tetua Gong Fai bersama murid-muridnya. Mengapa kita bisa lengah seperti ini? Kenapa para pasukan Gagak Surgawi tak membunyikan tanda bahaya jika ada orang asing menyusup?" ucapnya bertanya-tanya.


"Hanya ada satu kemungkinan tetua." ucap Lu Tuoli.


"Apa itu?"


"Ada...pengkhianat di sini!"


Seketika keadaan menjadi hening dan tegang. Lin Tian dan Minghao diam-diam sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Seseorang yang mampu melukai Nona Lu Jia Li tanpa ketahuan oleh siapapun, tentu seorang pandai! Dan jika memang benar ada pengkhianat, tentu orang itu adalah salah satu dari seseorang yang ada di ruang ini! Karena orang-orang inilah yang tergolong sebagai pendekar terkuat keluarga. Begitulah pikir mereka.


Setelah beberapa menit kecanggungan itu tak kunjung hilang, Zhang Hongli lekas bersuara untuk mencairkan suasana, "Ah...sebaiknya kita jangan saling tuduh seperti ini, kita belumlah tahu siapa pelaku dibalik ini semua. Jika Lu Jia Li sudah sadar, kita akan tanyakan langsung padanya."

__ADS_1


Mereka mengangguk setuju akan pernyataan itu. Sungguh keputusan yang sangat bijak!


"Baiklah, sekarang kembali dan istirahatlah!" ucapnya singkat sebelum bangkit berdiri diikuti oleh yang lain.


Keesokan harinya, Lu Jia Li belum menununjukkan tanda-tanda akan sadar dari pingsannya. Di hari berikutnya juga masih sama, mata itu masih terpejam rapat. Hingga dihari lusa kemudian, putri pemimpin Asosiasi Gagak Surgawi itu akhirnya tersadar dari alam mimpinya.


"Kakak Lu....!!" teriak Zhang Qiaofeng sambil berlari kearah gadis itu dan memeluknya erat.


"Kau membuatku khawatir..." ucapnya di dalam pelukan erat itu sambil menangis.


Di sana sudah hadir pula Zhang Hongli, Lin Tian, Minghao dan Lu bersaudara. Setelah diberi tahu oleh para pelayan bahwa gadis itu sudah bangun, delapan orang itu bergegas menghampiri kamar ini.


"Bagaimana keadaanmu Nona?" tanya Lin Tian.


Tak ada jawaban. Hanya tatapan kosong dari kedua mata gadis Lu itu saja yang menjadi jawaban.


"Nona?" kali ini Minghao bertanya.


Kembali tak ada sepatah katapun terdengar dari bibir indah itu. Sampai Zhang Qiaofeng melepas pelukannya dan mengguncang kedua pundaknya.


"Kakak...kakak...jawab pertanyaan Lin Tian!!"


Masih sama. Hanya tatapan kosong saja yang nampak di wajah jelita Lu Jia Li.


Setelah beberapa detik hening tak ada suara akibat semua orang diliputi perasaan bingung, tiba-tiba Lu Jia Li menitikkan air mata. Dadanya naik turun terisak-isak.


"Kakak....kakak...kau kenapa!??" seru Zhang Qiaofeng makin cemas.


"Aaa...aaa....aaa"


Akhirnya gadis itu menyahut. Namun hanya itulah kata-kata yang keluar, yang diucapkan dengan gagu dan tidak jelas.


"Nona Lu, jangan-jangan karena racun itu, kau..." ucap Lin Tian yang terkejut menerima kenyataan ini.


"Dia bisu. Racun itu membuat pita suaranya hampir putus." tukas Zhang Hongli tiba-tiba.


Mendengar ini, sontak Zhang Qiaofeng dan Lu Tuoli menangis kencang melihat betapa gadis cantik itu sudah tak mampu bicara lagi.


Sedangkan Lu Jia Li juga terkejut mendengar kenyataan ini. Maka tangisannya makin deras dan gadis itu memeluk Zhang Qiaofeng erat, menangis dalam diam di pelukan Nona Zhang itu.


"Ini pasti ulah pengkhianat!! Walaupun kami semua waktu itu sudah tidur, namun penjagaan di luar sangat ketat sehingga tak memungkinkan untuk orang luar masuk ke sini tanpa ketahuan. Agaknya ucapan tetua Lu benar adanya, bahwa di sini memang ada pengkhianat!!" batin Minghao yang sudah panas hatinya.


Sedangkan Lin Tian, dia hanya diam menampakkan ekspresi yang sulit diartikan. Namun tangannya mengepal erat sampai mengeluarkan darah akibat tertusuk kukunya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2