Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 112. Lolos Lagi!


__ADS_3

"Heii....Empat Dewa Mata Angin!! Apa kalian pikir dengan datang mengeroyok seperti ini, kalian sudah bisa mengalahkanku?" tanya Sian Yang dengan angkuhnya.


Sikapnya ini tentu membuat geram empat orang tua sakti itu. Maka terdengar Shi Xue si Dewa Angin Utara segera membentak. "Heh sombong sekali kau!! Kau pikir dengan diri sendiri saja, mampu mengalahkan kami!?"


Sian Yang memandangnya, masih dengan senyum lebar dan mata berkilat tajam. Setelah itu terdengar dia berkata, "Boleh dicoba."


"Kau...terima ini!!" geram Shi Xue yang langsung melesat maju mengirimkan pukulan maut dari jurus "Pukulan Pembalik Gunung".


Tangan Shi Xue diselimuti aura hijau tua yang sangat pekat, itulah inti dari jurus "Pukulan Pembalik Gunung" tingkat tinggi. Dengan gerakan cepat sekali, dia mengarahkan kepalan tangannya ke dada Sian Yang.


San Yang tak ingin memandang remeh, maka lekas ia silangkan kedua lengan di depan dada untuk menangkis, kalau perlu untuk balas menyerang pula.


"Buughhh!! Aaiiihh!!"


Kepalan tangan hijau itu telak mengenai lengan Sian Yang yang digunakan sebagai perisai, namun dapat dibayangkan betapa terkejut hati Shi Xue begitu melihat orang yang dipukulnya itu sama sekali tidak bergerak. Seolah-olah pukulannya sama sekali tidak berbobot.


"Bagaimana mungkin!?" seru Dewa Angin Timur keheranan.


"Heheh...kalau begitu, terima ini!!!" teriak Sian Yang sembari melesatkan tangan kanan memukul pusar.


Shi Xue yang mengenal bahaya segera melompat jauh ke belakang dan kembali ke tempat semula.


"Hahaha.....lihat? Hanya dalam satu jurus saja kau sudah melompat mundur. Bagaimana kalau kita bertarung ratusan jurus? Agaknya hal itu bisa dilakukan asal kalian menyerbu bersama. Mari-mari....datanglah padaku!" Sian Yang mengejek sambil merentangkan kedua tangan.


Dewa Angin Barat yang sudah geram itu, memberi kode dengan lirikan mata kepada tiga juniornya. Sedetik kemudian, empat orang sakti ini segera menerjang maju mengeroyok Sian Yang.


"Hahahah.....nah begini baru seimbang!!" seru Sian Yang di tengah-tengah pertempuran.


Zhang Qiaofeng yang memandang semua itu merasa ngeri hatinya. Bagaimana mungkin hanya seorang diri saja mampu menandingi kedahsyatan serangan dari Empat Dewa Mata Angin yang demikian sakti?

__ADS_1


Berpikir demikian, makin besarlah rasa khawatir di hatinya terhadap Lin Tian. Bagaimana jika pukulan yang diterimanya itu jauh lebih berbahaya dari kelihatannya? Demikian pikir gadis itu.


Saat Zhang Qiaofeng masih sibuk memandangi wajah Lin Tian yang sedang berada dipangkuannya, ia dikejutkan dengan keluhan lirih Lin Tian, menandakan bahwa dia sudah bangun.


"Lin Tian?" panggil gadis itu sambil mengelus rambut Lin Tian. Berharap bahwa tindakannya ini membuat si pemuda semakin sadar dari pingsannya.


"Keuhh..." pemuda itu meringis kesakitan dan membuka matanya perlahan. Pertama kali yang dia lihat adalah sepasang mata bening milik Zhang Qiaofeng yang sedang memandangnya penuh cemas dan khawatir.


Melihat pengawalnya itu sudah siuman, berserilah wajah Zhang Qiaofeng.


"Lin Tian...akhirnya kau bangun!!"


Pemuda itu hendak bangkit duduk namun tubuhnya segera ditekan oleh gadis itu yang memaksanya kembali rebah di pangkuan Zhang Qiaofeng.


"Berbaringlah dulu di sini dan jangan banyak bergerak. Lukamu cukup parah, apalagi luka di kepalamu." gadis itu memperingatkan.


Sebenarnya Lin Tian sendiri merasa jengah dan malu untuk terus berbaring di sepasang paha lembut itu. Namun apa daya, tubuhnya pun terasa sakit sekali dan jika dia memaksa bangun, bisa jadi hal itu malah memeperparah lukanya. Maka dengan pasrah, pemuda ini tetap berbaring dan melihat pertarungan orang sakti itu, mencoba menghindar dari pandang mata sepasang netra indah Zhang Qiaofeng yang masih terus memandangnya penuh rasa gelisah.


Menginjak jurus ke dua ratus, pertarungan mencapai puncaknya. Shi Yong dan Shi Xue menghantamkan kedua tangan sekeras baja itu ke tulang rusuk Sian Yang. Sedangkan Dewa Angin Barat mengibaskan topi capingnya sehingga berhembus angin ribut yang dahsyat sekali.


Dewa Angin Timur juga tak tinggal diam, pria tua ini memukulkan kecapinya mengarah kepala Sian Yang.


Terjadilah peristiwa yang luar biasa sekali. Begitu serangkaian serangan itu mendekat, dengan ajaib sekali tubuh Sian Yang menghilang!! Sehingga setiap serangan itu saling menghantam teman sendiri. Namun karena mereka terdiri dari orang-orang sakti, dengan cekatan sekali mereka bisa saling hindar dan menyelamatkan diri.


"Kemana dia pergi?" Shi Xue terkejut seraya memandang sekitar.


Sedetik kemudian, terdengar suara mengguntur dari sebelah atas sana, lebih tepatnya di atas genteng gedung pengadilan yang terbakar.


"Hm...sepertinya permainan kita cukup sampai di sini. Sampai jumpa dilain waktu." ucap suara itu disusul dengan berkelebatnya bayangan seseorang dari atas gedung pengadilan. Pergi entah kemana.

__ADS_1


Melihat hal ini, Zhang Qiaofeng menghela nafas lega. Kemudian menunduk untuk melihat keadaan Lin Tian.


Gadis itu tersenyum, ternyata pengawal setianya itu sudah tertidur pulas di atas pangkuannya. Agaknya pemuda itu sudah teramat lelah ditambah luka-luka membuatnya lemas, sehingga tanpa mampu dicegah lagi, dia tertidur lelap.


"Dasar bocah ceroboh..." gumam Zhang Qiaofeng seraya membelai lembut rambut Lin Tian.


"Apa kita akan mengejar, senior?" tanya Dewa Angin Timur kepada kakek bercaping itu.


"Biarkan, ada sesuatu yang lebih penting untung kita urus saat ini." jawab Dewa Angin Barat seraya memandang semua orang. Kemudian sepasang mata tajamnya berhenti kearah muridnya.


Segera saja pria tua ini melesat cepat dan tahu-tahu sudah tiba di samping Hu Tao. Sedetik kemudian, kedua tangannya sudah bergerak cepat menotak beberapa jalan darah di tubuhnya, membuat darah dari kedua pundak pemuda itu berhenti mengalir.


Kemudian pria itu mengangkat tubuh Hu Tao dan berkata kepada kaisar, "Yang Mulia, mohon kebaikan hati anda untuk memberi tenpat bagi yang terluka."


"Tentu saja Senior, mari-mari..." jawab Chu Quon ramah.


Lalu kaisar membalikkan tubuh dan memerintahkan kepada para prajurit, "Padamkan api, dan antarkan yang terluka ke tempat yang layak di istana!!"


Para prajurit itu segera melaksanakan perintah, sebagian besar memadamkan api dan sebagian lagi membantu yang terluka.


Zhang Qiaofeng tidak mempedulikan itu semua, perhatiannya lebih tertuju kepada wajah tenang Lin Tian yang tertidur pulas. Hingga perhatiannya teralihkan ketika Shi Yong menghampiri mereka.


"Nona, anak ini harus segera mendapat perawatan. Biarkan aku membantu menggendongnya."


"Ah...terima kasih Senior, silahkan." jawab Zhang Qiaofeng seraya menurunkan kepala Lin Tian dari pangkuannya.


Shi Yong segera menggendongnya dan berjalan mengikuti kaisar. Zhang Qiaodeng juga berjalan di belakangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2