Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 144. Song Qian dan Fen Lian


__ADS_3

Keesokan harinya, tiga orang itu melanjutkan perjalanan. Seperti apa yang dikatakan Lin Tian, mereka hanya perlu melewati satu bukit lagi sebelum akhirnya sampai di tujuan.


Akan tetapi perjalanan kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka hanya bicara jika diperlukan saja, tidak seperti hari-hari lalu yang penuh dengan canda tawa. Tentu saja hal ini disebabkan oleh percakapan Lin Tian dan Zhang Qiaofeng malam itu.


Entah kenapa setelah percakapan malam itu, keadaan di antara mereka menjadi canggung. Kim Chao yang diam-diam juga mengetahui hal ini, hanya kadang tersenyum-senyum geli saja. Sedangkan dua orang itu, hanya bicara sepatah dua patah sebelum akhirnya saling diam lagi.


"Kita hampir sampai." tiba-tiba Lin Tian berkata.


Mereka berjalan turun dari bukit dan menyebrangi sebuah sungai yang cukup besar dan lebar. Namun bagi tiga orang ini, sungai seperti itu bukanlah hambatan berarti. Segera saja mereka melompat-lompat dari satu batu ke batu lain untuk menyeberang.


Saat sampai di seberang, Lin Tian mempercepat langkahnya, bahkan kali ini dia menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk berlari, mau tak mau, Zhang Qiaofeng dan Kim Chao ikut berlari pula.


Beberapa menit kemudian dan tepat pada siang hari, mereka tiba ditujuan. Tempat dimana Lin Tian dahulu bertarung melawan Sin Nia dan berhasil membunuhnya.


"Dimana tempatnya?" Kim Chao bertanya.


"Ikut aku."


Lin Tian memimpin jalan dan memasuki semak belukar. Terus maju ke depan hingga tibalah mereka di bawah sebuah pohon besar.


"Seingatku, aku menguburkannya di sini. Lihat." kata Lin Tian sambil menunjuk sebuah batu yang dahulu dia gunakan untuk batu nisan Sin Nia.


Zhang Qiaofeng mengerutkan kening, begitu pula Kim Chao.


"Lin Tian, kenapa berantakan seperti ini?" tanya gadis itu mewakili pertanyaan Kim Chao pula.


Memang sejak awal dia datang kemari, Lin Tian sudah merasakan keanehan. Seingatnya, dahulu dia menguburkan jasad Sin Nia dalam keadaan baik dan rapi. Bahkan mungkin terlalu baik untuk seukuran iblis seperti Sin Nia.


Namun yang dia lihat saat ini jauh berbeda daripada dahulu. Tanah kuburan Sin Nia melesak ke dalam, batu nisan itu sudah miring posisinya, padahal dahulu dia menancapkannya dalam sekali. Melihat ini saja sudah tidak enak firasatnya.


Ditambah di batang-batang pohon sekitar tempat mereka berdiri, terlihat jelas di sana banyak sekali bekas goresan-goresan senjata tajam. Tak jarang pula nampak bercak-bercak darah yang sudah mengering.


"Hm...pertempuranmu agaknya sengit sekali ya. Wajar saja, dia anggota Pilar Neraka." kata Zhang Qiaofeng seraya memandang sekitar, merasa bahwa bekas-bekas itu dihasilkan oleh pertempuran Lin Tian dan Sin Nia. Namun pemuda itu sama sekali tak menjawab.


Setelah beberapa saat lamanya hanya diam, terdengar Lin Tian buka suara, "Ini bukan hasil pertarunganku Nona. Dan pertarunganku dengan Sin Nia bukanlah di sini, melainkan di tempat itu." katanya sambil menunjuk ke tanah di balik semak-semak.


Zhang Qiaofeng dan Kim Chao terkejut, lantas kakek itu bertanya, "Eh, lalu siapa yang melakukan semua ini?"


"Entahlah, bisa jadi, mereka adalah orang-orang yang saling berebut kitab curian Sin Nia."


"Wah gawat, ayo kita gali kuburannya!!" Kim Chao terdengar panik.

__ADS_1


Segera saja mereka menggali kuburan yang sudah melesak ke dalam itu. Mengais-ngais dengan tangan karena tak punya cangkul atau alat gali lainnya. Setelah beberapa lama, hal mengejutkan pun terjadi. Terdengar pekik terkejut dari Kim Chao.


"Wahh, apa-apaan ini??"


Terlihat di dalam kuburan itu, bukan satu orang namun dua orang. Bukan hanya tengkorak Sin Nia saja yang berbaring di sana, akan tetapi juga terdapat satu tubuh tengkorak lagi yang menindih tengkorak Sin Nia. Tengkorak itu berpakaian hampir sama dengan Kim Chao.


"Kakek, bajunya seperti pengemis sama sepertimu." ucap Zhang Qiaofeng.


Kim Chao menghela nafas pelan, "Hah...sungguh malang...aku agaknya mengenal dia. Dari tongkat bambunya itu, agaknya dia ini salah satu anggota tingkat tiga perkumpulan Bunga Teratai."


Terlihat raut wajah Kim Chao nampak sedih, kerutan di wajahnya seolah bertambah banyak.


"Lebih baik kita kuburkan rekanmu itu." kata Lin Tian.


Kim Chao lalu menangkat tengkorak anggota Bunga Teratai itu dan membuat kuburan baru di sebelah kuburan Sin Nia. Sedangkan Lin Tian dibantu oleh Zhang Qiaofeng, mereka mencari-cari sebuah kitab di dalam baju Sin Nia.


Setelah selesai membuat kuburan baru dan berdoa sejenak, Kim Chao menghampiri mereka.


"Kitab itu tidak ada kek." kata Zhang Qiaofeng memberi penjelasan. Membuat wajah Kim Chao makin tak enak dipandang.


"Hah...menyusahkan sekali...."


...****************...


Di kedalaman hutan belantara itu, yang dipenuhi dengan pohon-pohon raksasa dan kanut tebal, nampak banyak sekali orang dengan pakaian hitam-hitam. Jumlah mereka boleh jadi ratusan orang. Dan di hadapan mereka semua ada seorang kakek yang bersikap gagah sekali.


Dia bukan lain adalah Golok Penghancur Gunung, datuk kaum hitam itu kini bertempat tinggal di dalam hutan tersebut untuk pelariannya. Dia bersembunyi di sana bukan karena patuh terhadap perintah Ling Haocun, namun dia berencana untuk menggembleng diri sendiri agar nantinya mampu untuk menghadapi Iblis Tiada Banding.


Dia mengasingkan diri di tempat ini juga dengan tujuan untuk melatih murid-muridnya yang juga termasuk anggota Aliansi Golongan Hitam.


Kakek itu lalu mengangkat tiga buah kitab tinggi-tinggi di hadapan mereka semua sambil berkata lantang, "Lihat, kitab pusaka Bunga Teratai dan sepasang kitab pusaka keluarga Wang sudah berada di tangan kita!!"


Sedetik kemudian, terdengar suara sorak sorai dari murid-muridnya. Memang tujuan mereka dalam pengasingan ini untuk merampas tiga buah kitab tersebut.


Mereka mendapat informasi itu dari Xiao Fu, karena memang pria dempal itu selain merupakan murid Golok Penghancur Gunung, dia juga anggota Aliansi yang bertugas menggali informasi dari berbagai sumber.


Walaupun setelah terbunuhnya Ang Bei sumber informasi mereka terbatas, tapi sejatinya informan-informan milik Xiao Fu adalah orang-orang pandai. Rata-rata memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi sekali, sehingga mampu untuk menyelinap dan kabur tanpa diketahui.


Ketika kakek itu mengangkat tangannya, seketika semua suara itu menghilang dan mereka semua diam memperhatikan.


"Sesuai rencana awal, setelah aku menguasai tiga buah kitab ini, akan aku ajarkan kepada kalian semua. Kemudian, kita akan mencari orang yang berjuluk Iblis Tiada Banding itu!"

__ADS_1


Kembali terdengar sorak sorai yang menggema, agaknya mereka juga sangat bersemangat untuk membinasakan Iblis Tiada Banding itu. Tentu saja bukan hal aneh, karena sebagai anggota Aliansi, mereka merasa bahwa merekalah iblis terkuat.


Selang beberapa saat, kakek itu mengalihkan pandangannya kepada Xiao Fu yang duduk di salah satu akar pohon besar. Di kanan kiri lelaki tersebut, nampak dua orang wanita yang cantik manis dan denok. Dua wanita itu selalu bergelayut manja di lengan Xiao Fu, sedangkan pria tersebut dengan asyiknya meraba sana-sini, menghiraukan keadaan yang sedang ramai sekali.


Dua orang perempuan itu memakai baju merah dan hijau, rambutnya hitam legam, namun yang berbaju hijau agak kemerahan. Kulitnya putih susu, bola mata mereka memiliki warna yang senada, yaitu biru langit. Kulitnya nampak halus sekali, seperti wanita-wanita bangsawan kaya raya yang tak pernah keluar rumah.


Yang paling menarik perhatian adalah bibir dan mata mereka. Bibir yang kecil mungil itu berwarna hitam, sedangkan mata mereka dihiasi oleh celak yang berwarna hitam pula. Namun walaupun begitu, kecantikan mereka malah semakin bertambah.


Jika seseorang berpikir dua orang wanita itu adalah wanita bangsawan, jawabaannya adalah salah besar! Karena sesungguhnya dua orang wanita yang cantik manis itu adalah pendekar tingkat tinggi milik Xiao Fu yang digunakan selain untuk mata-mata, juga untuk pemuas nafsunya setiap malam.


Si baju merah yang berambut hitam legam digelung keatas itu bernama Song Qian, umurnya mungkin baru menginjak dua puluhan tahun. Sedangkan yang baju hijau bersurai kemerahan itu bernama Fen Lian, rambut panjangnya itu dikepang dan dibiarkan tergantung ke bawah, umurnya sedikit lebih muda dari si baju merah, mungkin delapan belas atau sembilan belas tahunan.


Melihat gurunya memandang kearahnya, Xiao Fu menghentikan belaiannya dan berkata. "Ada apa guru?"


"Selidiki keluarga Zhang dan awasi terus Pendekar Hantu Kabut! Jujur saja...kemarin jika pertarungan terus berlanjut, aku akan kalah." kata Golok Penghancur Gunung dengan raut wajah tidak enak.


Xiao Fu yang daritadi senyum-senyum karena merasa nyaman oleh perlakuan dua wanita itu, seketika raut wajahnya berubah serius.


"Keluarga Zhang? Keluarga baru itu?"


"Ya."


Alis Xiao Fu bertaut. Dia pernah sekali bertemu dengan Pendekar Hantu Kabut, memang dia kuat, namun menurut perkiraannya, pendekar itu tentu tidak akan mampu membunuh gurunya. Maka dengan ragu-ragu dia memastikan.


"Benarkah dia hampir membunuh anda guru?"


"Aku tidak bohong, aku berani bersumpah!!" jawabnya tegas.


"Baiklah guru, akan kukirim mereka untuk menyelidik." katanya seraya memandang Song Qian dan Fen Lian.


"Song Qian, Fen Lian, taati perintah guru!"


Seketika, wajah dua orang wanita cantik itu berseri. Serempak mereka bangkit dari rangkulan Xiao Fu dan berkata sambil menundukkan badan.


"Ah...suatu kehormatan bagi kami. Kalau begitu, kami akan berangkat sekarang." kata Song Qian yang lebih tua.


Xiao Fu hanya memgangguk dan sedetik kemudian, dua orang wanita itu berkelebat lenyap dari sana.


Karena dua orang wanita yang paling disayangnya pergi, Xiao Fu lantas memanggil wanita lain untuk menemaninya. Memang pria itu sama persis dengan julukannya, sangat cerdik untuk mencari informasi, namun juga mata keranjang. Tak heranlah jika julukannya menjadi Informan Mata Keranjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2