Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 163. Kakek Aneh 2


__ADS_3

Bagaimanakah seorang sakti yang misterius seperti Hantu Seratus Lengan secara tiba-tiba bisa berada di sana dan membantu Xiao Lian? Hal ini terjadi beberapa jam sebelumnya, ketika hari masih terik.


Terlihat di sebuah danau yang berada tepat di bawah air terjun itu, seorang yang berjubah hitam sedang menundukkan muka dan membasuh mukanya. Di sebelahnya terdapat sebuah topeng tengkorak yang juga berwarna hitam.


"Hah...." ia mendesah lirih sesaat setelah membasuh mukanya. Wajahnya kelihatan berseri dan nampak segar.


Dia adalah Zhi Yang, sosok cantik di balik topeng tengkorak itu saat ini sedang beristirahat sebentar untuk mandi dan melepas penat. Setelah selesai membasuh mukanya, dia kemudian mengambil salah satu batu dan menyiramnya dengan air. Kemudian menggunakan batu itu untuk mengasah pisau-pisau senjatanya.


Entah kemana tujuannya tidak ada yang tahu, namun saat ini kebetulan dia sedang berada sangat dekat dengan kota raja.


Rambutnya yang hitam legam dan pendek sebahu itu nampak indah ketika ada angin lembut meniupnya perlahan. Membuat rambutnya berkibar dan menampakkan lebih jelas betapa cantik wajah yang saat ini sedang tersenyum-senyum itu.


"Hatimu sedang baik ya? Uh...manis sekali..."


Zhi Yang terlonjak kaget dan refleks mengenakan topengnya, meloncat ke kiri untuk menjauhi darimana suara itu terdengar. Diam-diam dia mengumpati diri sendiri yang telah lengah sehingga tidak menyadari kehadiran seorang kakek jembel di dekatnya.


"Siapa kau?" tanya Zhi Yang dingin sambil melintangkan dua pasang pisau di depan dada.


Kakek bercaping yang ekspresinya seperti orang gila itu terkekeh. Entah bagaimana tiba-tiba dia sudah duduk manis di batu besar dekat dengan tempat Zhi Yang mengasah pisau tadi.


Matanya yang lebar itu melotot dan mulutnya terkekeh-kekeh. Tongkat bambu di tangan kirinya dia ketuk-ketukkan kearah batu besar tempat dia duduk. Entah apa makasudnya.


"Hem...kebetulan sekali aku bisa bertemu dengan hantu di siang bolong..." kakek itu berkata.


"Apa maksudmu!!?"


"Heheh...Hantu Seratus Lengan, siapa tidak tahu akan dirimu? Seorang pendekar topeng tengkorak yang kemunculannya tak bisa ditebak. Dan sekarang aku bertemu di sini, bukankah kebetulan?"


Namun ucapan kakek itu dibalas dengan sambitan empat buah pisau oleh Zhi Yang. Gadis itu merasa curiga dengan kakek ini, maka dari itu dia ingin coba-coba sampai di mana kemampuannya. Mengingat akan kedatangannya yang tiba-tiba, dia menaksir jika kakek tersebut adalah orang sakti.


"Wah...galak benar! Hei nona cantik, aku kemari membawa berita penting!!" kakek itu berseru ketika entah dengan cara bagaimana tubuhnya sudah duduk di batu lain.


Zhi Yang terbelalak dan memandang penuh perhatian. Tahulah dia bahwa orang yang sedang dihadapinya ini bukanlah orang biasa dan tak boleh dibuat main-main. Maka segera dia menjura dan berkata hormat.


"Maafkan akan kelancangan saya. Berita apakah yang hendak disampaikan Tuan Pendekar?"


"Wah...wah...benar-benar orang muda yang tahu sopan santun. Baiklah dengar baik-baik. Malam nanti, tengah malam atau menjelang pagi, kau datangilah perkemahan keluarga Chen yang berada di Utara dari sini. Kau akan menemukan hal yang mengejutkan." kata kakek tersebut dengan masih terkekeh dan mengetuk-ngetuk tongkatnya.


Sedangkan Zhi Yang mengerutkan kening bingung. Untuk apa keluarga Chen mendirikan perkemahan? pikirnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, tapi mengapa keluarga Chen mendirikan perkemahan? Lagipula, dari sini ke kediaman keluarga Chen cukup jauh."


"Siapa yang menyuruhmu pergi ke kediaman Chen? Aku bilang pergilah ke perkemahannya!! Dari sini mungkin sekitar setengah hari atau lebih sedikit."


"Tapi Tuan--"


"Sudahlah, begitu saja. Aku mau pergi!" ucap singkat kakek ini sebelum dengan cara aneh yang membikin Zhi Yang melongo, tubuhnya pergi dari sana.


Pasalnya, tubuh kakek tersebut masih dalam keadaan duduk bersila mampu untuk melayang dan meloncat-loncat dari satu pohon ke pohon lain. Mengertilah Zhi Yang jika dia telah bertemu orang sakti yang jarang ditemui.


"Wah...siapa dia yang bisa berloncatan sambil duduk?" gumam Zhi Yang tanpa sadar.


Sedetik kemudian, dia segera pergi dari sana menuju Utara. Mengikuti perintah kakek tersebut. Dia tak tahu siapa kakek itu dan apa tujuannya menyuruh dia pergi ke Utara, namun entah kenapa, dia merasa di Utara sana memang ada sesuatu.


...****************...


"Tak kusangka benar-benar akan ada perkemahan di sini."


Dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata, Zhi Yang sampai di perkemahan keluarga Chen saat hari baru saja masuk waktu malam. Dan saat ini, hantu itu sedang bersembunyi di atas bukit kecil yang letaknya di belakang perkemahan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat semua wilayah perkemahan.


"Nah mari lihat, apa yang dimaksud hal mengejutkan oleh kakek aneh itu." Zhi Yang mendudukkan diri di atas rumput dan memandang ke bawah penuh perhatian. Matanya menelisik ke sana-sini meneliti setiap sudut perkemahan.


"Apa yang akan terjadi?" gumamnya kemudian sambil mulai menunggu dan menduga-duga.


Yang ia lihat sedari malam tadi hanyalah orang-orang yang berjalan ke sana-sini, melakukan ronda, mengobrol dengan teman, mendirikan api unggun di tengah perkemahan dan lain-lain hal yang menurutnya sama sekali tidak mengejutkan.


Dengan gusar dia bangkit dari tanah dan mulutnya mengomel, "Dasar kakek sinting!! Agaknya dia menipu aku!!"


Kakinya hendak melangkah pergi namun tiba-tiba ujung matanya menangkap sekelebatan bayangan beberapa orang yang memasuki area perkemahan. Setelah masuk perkemahan, mereka berjalan tenang.


Yang membikin hatinya tertarik adalah, orang-orang ini membawa seorang tawanan. Salah satu dari mereka menggendong tawanan itu di pundak, sedangkan sisanya menjaga di kanan kiri. Karena kepala tawanan itu berada di punggung si penggendong, maka Zhi Yang tidak mampu melihat wajahnya. Namun melihat dari bentuk pinggul dan pakaian, dia tahu jika tawanan itu perempuan.


"Inikah hal mengejutkan itu? Hem...dasar pria-pria bejat!!" setelah berkata demikian, tubuhnya segera meloncat turun dan menyelinap di balik pohon-pohon.


Dengan sedikit mengendap-endap dan menahan kakinya agar tidak berbunyi ketika melangkah, Zhi Yang mendekati kearah rombongan enam belas orang yang sedang menawan wanita tersebut.


Begitu tiba dekat, ternyata mereka memasuki sebuah tenda yang paling besar diantara semuanya. Zhi Yang dengan gerakan ringan cepat menyelinap dan bersembunyi di balik sebuah tiang kayu besar di samping tenda. Menguping pembicaraan orang-orang di dalam sana.


Dia suda melihat jelas wajah dari gadis tawanan itu, namun ternyata dia sama sekali tidak mengenalnya. Akan tetapi, seketika wajahnya memucat ketika mendengar sebuah suara besar dari dalam tenda tersebut.

__ADS_1


"Hem...Nona Xiao Lian ya? Masukkan dia ke ruang tahanan!!" demikianlah suara yang terdengar jelas di telinga Zhi Yang.


Kemudian orang-orang ini keluar dari tenda dan menuju area belakang perkemahan. Menuju ke sebuah tempat seperti kerangkeng harimau yang terbuat dari besi. Dengan kasar, mereka melemparkan tubuh Xiao Lian ke dalamnya.


"Aku harus melakukan sesuatu! Aku tak paham apa yang terjadi sampai Nona Xiao Lian menjadi tawanan, juga apa alasan keluarga Chen melakukan ini semua. Namun bagaimana pun juga, aku harus bertindak." demikian Zhi Yang berkata dalam hati.


Gadis ini lalu memilih untuk meloncat tinggi ke sebatang pohon besar. Mengintai dari atas sana sembari menunggu hingga menjelang pagi. Karena dalam masa itu, pasti akan banyak para penjaga yang mengantuk dan lengah, sehingga memudahkan dia melancarkan aksinya.


Ketika menjelang pagi, Zhi Yang lekas bergerak. Tubuhnya berubah menjadi bayangan hitam ketika turun dari pohon dan menghampiri tempat tahanan. Benar saja seperti dugaannya, empat orang penjaga tahanan sudah tidur pulas.


"Tidurlah lebih lama." kata Zhi Yang perlahan dan menotok lumpuh mereka. Membuat mereka pingsan.


Lalu secepat kilat dia bergegas menghampiri tahanan dan menghancurkan gembok pengunci. Masuk ke dalamnya untuk melihat bahwa Xiao Lian masih rebah miring tak mampu bergerak.


"Nona Xiao, aku datang menolong." kata Zhi Yang sambil melepas totokan.


Hampir saja gadis itu menjerit jika tangan Zhi Yang tak cepat-cepat mendekapnya. Kiranya Xiao Lian kaget sekali melihat wajah tengkorak yang tiba-tiba berada di depan wajahnya.


"Siapa kau? Ah...kau....Hantu Seratus Lengan!" kata Xiao Lian seperti tersadar dari mimpi.


"Tak usah banyak bicara. Ambil pedang ini dan ayo kita keluar." balas Zhi Yang yang menarik lengan Xiao Lian untuk berdiri.


Mereka berlari keluar, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar seruan.


"Hei tawanan lepas!!"


Seruan ini nyaring sekali bunyinya, sehingga mampu membangunkan mereka semua dan otomatis bergerak serentak menuju tempat itu.


"Lewat sini!!" Zhi Yang melesat ke kiri, kearah perkemahan yang terlihat sepi. Diikuti oleh Xiao Lian yang sedikit kerepotan mengimbangi kecepatan gerak Zhi Yang.


Namun mereka harus berhenti dan terpaksa berloncatan ke sana-sini ketika tiba-tiba ada puluhan batang anak panah yang menyambar.


"Sial!!" umpat Zhi Yang dan menangkis semua anak panah dengan pisaunya. Dia juga bergerak cepat ke sisi Xiao Lian untuk membantu gadis tersebut menyampok runtuh semua serangan.


Saat itulah, puluhan pasukan keluarga Chen sudah datang dan menyerbu. Tak ada pilihan bagi keduanya selain mempertahankan diri menggunakan senjata.


Zhi Yang tak berani jauh-jauh dari Xiao Lian, karena tahu walau pun gadis tersebut memiliki kepandaian hebat, namun masih kerepotan menghadapi pengeroyokan ini. Maka posisi Xiao Lian berada di belakang Zhi Yang yang mengamuk hebat di depan sana. Sedangkan Xiao Lian hanya membantu Zhi Yang dari belakang dengan serangan-serangan mendadak yang mampu merobohkan setiap orang yang hendak menyerang Zhi Yang dari belakang.


"Pertahankan diri Nona!! Aku akan membuka jalan untuk kita keluar!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2