Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 198. Pertolongan yang Tak Terduga


__ADS_3

Tepat ketika pria tua itu menjejak tanah dan bumi tempatnya berpijak hancur seketika, saat itu pula orang-orang yang berada di sekelilingnya terpelanting tak karuan. Kecuali Yin Yin dan Lu Jia Li.


Pakaian kakek ini serba putih. Baju atasnya hanya dari kain putih yang dilibat-libatkan ke tubuhnya, untuk celananya sendiri juga berwarna putih dan panjang.


Rambutnya putih panjang dan lurus, keriputan sudah nampak di sana-sini. Alis dan jenggotnya pun sudah putih dan memanjang sampai menjuntai ke bawah. Namun matanya sangat bening dan bersih seperti mata bayi.


Melihat kemunculan orang ini, sontak orang-orang Iblis Tiada Banding menjadi gentar, tak terkecuali Sie Yan dan Yan Cu.


"Ini...pendekar sejati? Tak mungkin. Kenapa dia di sini?" gumam Sie Yan yang seluruh badannya gemetaran hebat.


"Hahahaha....ingin menghabisi dua orang cantik ini? Langkahi dulu mayatku!" seru orang berpakaian putih-putih tersebut.


Yan Cu melompat turun menghampiri orang ini. Sie Yan terkejut sekali dan ingin menghentikan, namun kiranya sudah tak mungkin karena wanita itu sudah sampai di depan kakek aneh tersebut dan berkata hormat.


"Sungguh kehormatan bagi kami untuk bisa bertemu pendekar sejati yang langkanya tak jauh berbeda dengan sebongkah berlian di perut bumi dan sebutir permata di dasar samudra. Jika boleh tahu, ada apakah tuan terhormat ini bisa sampai di tempat saya yang kotor ini?"


"Hehe, memang pantas menjadi lacur nomer satu di sini. Tak hanya pandai urusan ranjang dan merayu orang, kiranya dewi Yan Cu juga pandai bersilat lidah! Hahaha...entah kebetulan atau memang harus seperti itu syarat utama untuk menjadi lacur papan atas?" kakek ini menyindir sembari tertawa lebar.


"Anda terlalu memuji. Saya hanyalah orang rendah yang mengabdikan diri demi menghibur orang lain untuk mengeluarkan ia dari lingkaran kesusahan hidup."


"Mengeluarkan dari kesusahan hidup? Lelucon dari dunia mana lagi itu? Mana ada orang yang menyelesaikan masalahnya setelah membuang uang demi mencicipi tubuhmu hanya satu malam?"


Yan Cu tak menjawab, hanya menunduk saja.


"Dan apakah kau ini benar-benar lacur di sini? Selain cari uang dan memuaskan diri sendiri, kau juga menjadi kaki tangan Iblis Tiada Banding. Ingin menyangkal dengan kata-kata mengabdikan diri untuk menghibur orang lain?"


Yan Cu mengangkat kepala dan menjawab, "Tidak tuan. Tapi yang membuat hati ini penasaran, kenapakah tuan terhormat yang sesungguhnya adalah pendekar terasing bisa sampai di sini?" Yan Cu mengalihkan topik.


"Oh, soal itu? Aku hanya kebetulan lewat saja."


"Kenapa anda sangat membela keluarga Zhang? Jika boleh tahu, ada hubungan apakah anda dengan dua orang ini? Mohon jangan mengganggu urusan di antara kami jika anda memang tak berkepentingan!" ucap Yan Cu dengan sopan namun juga tegas.

__ADS_1


Kakek itu memandang sejenak dua wanita yang diselamatkannya. Lalu dia menyeringai lebar sampai tampak gigi-giginya yang juga masih putih bagai mutiara. Ketika menjawab, jawabannya berhasil membuat Yin Yin, Lu Jia Li, Yan Cu dan Sie Yan terkejut bukan main.


"Aku ini bukan orang Zhang, bukan pula sekutu Zhang. Tapi aku punya sahabat baik yang merupakan orang penting di dalam keluarga Zhang, jadi apa masalahnya aku membantu keluarga sahabatku?"


Yan Cu dan Sie Yan sontak memucat. Mereka tahu benar seperti apa kekuatan pendekar sejati yang katanya hampir menyaingi dewa, dan hari ini adalah hari pertama mereka melihat itu semua secara langsung.


Sekarang kakek itu berkata demikian, hal ini berarti pendekar sejati ini berada di pihak Zhang.


Berpikir sampai sini, akhirnya Yan Cu mengambil tindakan nekat.


"Kalau begitu, tak ada pilihan lain!!" dia membentak dan mengeluarkan pisau kecilnya. Melesat cepat untuk menusuk wajah kakek itu yang masih senyum-senyum.


"Yan Cu, jangan!" seruan ini agaknya percuma saja karena Yan Cu sudah terlalu dekat dengan lawan.


Ketika tubuh wanita ini sudah benar-benar dekat, terlihat kelebatan tangan kakek itu yang cepat sekali dan sukar diikuti pandang mata. Disaat kakek tersebut kembali ke posisi awal, pemandangan yang terlihat benar-benar mengerikan.


"Ugh..." Yan Cu mengerang kesakitan.


Terlihat kondisi tubuh Yan Cu yang memprihatinkan. Kedua dadanya di sayat-sayat sedemikian rupa sampai seluruh tubuh atasnya merah semua. Kakek ini juga membelah bagian di bawah perut Yan Cu dengan sangat sadis.


Dia juga membelah bibir cantik Yan Cu dari pipi kanan sampai kiri. Membiarkan wanita itu kesakitan dan akhirnya mati perlahan-lahan.


"Aahhh!!" Lu Jia Li dengan gagu sedikit memekik dan memeluk Yin Yin dengan ketakutan. Sebagai wanita, dia tak berani membayangkan betapa sakit yang dirasakan oleh Yan Cu saat ini.


"Nah, dadamu sudah hancur, kemaluanmunpun tak utuh lagi, bibirmu sudah kubentuk seperti bibir ular yang lebar. Kau mau pamer kecantikan lagi di depan laki-laki? Hmph, jadilah lacur di neraka sana! Mungkin para setan dan orang-orang pendosa akan terhibur dengan kehadiran dirimu!" hardik kakek itu yang masih memegang pisau Yan Cu.


Kemudian, dia mengalihkan pandangannya kearah Yin Yin juga Lu Jia Li.


"Kalian akan melepaskan mereka?" tanyanya seraya menunjuk anak buah Yan Cu dan Sie Yan yang mulai lari kacau balau.


Lu Jia Li dan Yin Yin segera tersadar dari keterkejutannya. Maka mereka segera bangkit sambil berusaha sekuat mungkin agar tidak memandang tubuh Yan Cu yang tergeletak sekarat, dan mengejar mereka untuk melakukan "pembersihan".

__ADS_1


"Nah, sekarang giliranmu!" seru kakek itu memandang Sie Yan yang bergetar seluruh tubuhnya melihat keadaan kekasihnya.


Memang orang ini memiliki banyak sekali kekasih, salah satunya adalah Yan Cu yang menjadi dewi di distrik merah, gudangnya para pelacur.


Tak terlalu mengejutkan karena Sie Yan ini tipe orang penggila wanita yang tak pernah puas. Namun begitu melihat satu diantara puluhan kekasihnya terluka, hatinya marah juga.


"Kau....kau bajingaaann!!"


Sie Yan mencabut pedang dan melompat turun. Lalu tanpa aba-aba dia menyerang kakek itu membabi buta karena amarah sudah menguasai seluruh hati pikirannya.


Pendekar sejati ini hanya tertawa-tawa sambil menghindari semua itu. Membiarkan Sie Yan kelelahan sendiri karena aksi nekatnya.


Dan benar saja, setelah beberapa menit berselang bahkan Yin Yin dan Lu Jia Li sudah kembali ke tempat itu, Sie Yan mulai kelelahan dan gerakannya melemah, nafasnya tak karuan. Membuat banyak celah di sana-sini yang segera dimanfaatkan kakek tersebut.


"Kena kau!!"


"Buaghh–Bugh!"


Dua kali tendangan telak tepat mengenai lambung kanan dan tenggorokan Sie Yan. Pria itu terpelanting sejauh beberapa meter, lalu pendekar sejati ini menyambitkan pisau Yan Cu untuk memberi serangan terakhir.


"Tep!"


"Bruk!!"


"Jangan dibunuh! Biar kami yang urus sisanya!"


Yin Yin sudah menangkap sambitan itu dan Lu Jia Li sudah mengunci pergerakan Sie Yan. Membuat lelaki itu tak mampu bergerak sungguh pun memberontak sekuat tenaga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2