
Siang hari itu, rombongan keluarga Xiao dan keluarga Hu telah tiba di kediaman keluarga Zhang. Mereka terdiri dari lima puluhan orang.
Begitu tiba di halaman luas itu, Zhang Hongli beserta Lu Tuoli dan ketiga adiknya, datang menyambut. Lalu mempersilahkan mereka masuk untuk menerima jamuan keluarga Zhang.
Pelayan-pelayan yang cantik-cantik itu sibuk dengan berbagai pekerjaan memasak dan membersihkan tempat makan seperti piring, gelas, meja dan kursi. Mereka ini tak lain adalah orang-orang yang waktu itu menjadi korban keganasan Aliansi yang menyerbu Desa Daun Semanggi.
Chu Quon, kaisar kekaisaran Chu yang melihat betapa tiga orang penyelamat para gadis itu berada dikotanya, maka dia sengaja mengirimkan mereka untuk membantu keluarga Zhang.
Tentu saja para wanita itu merasa sangat senang dan bersyukur sekali karena bisa mengabdikan diri sepenuhnya untuk keluarga penyelamatnya itu.
Pimpinan rombongan keluarga Hu dipimpin oleh tetua pertama, orang terkuat kedua di keluarga Hu setelah Hu Tao sendiri.
Di sela-sela jamuan, dia berkata setelah sejenak memberi hormat kepada Nona Zhang Qiaofeng.
"Maaf Nona Zhang jika saya lancang. Akan tetapi kami ingin sekali menguji kepandaian guru anak-anak ini kelak, agar kiranya kami dapat melepas mereka dengan sukarela dan hati lapang, lalu kemudian pergi dengan harapan supaya anak-anak ini akan menjadi pendekar kuat dimasa depan." demikianlah antara lain tetua pertama keluarga Hu berucap.
"Saya juga setuju sekali dengan pernyataan Tetua. Selain untuk menguji, hal ini juga bisa menjadi bahan latihan kami untuk saling mengenal kekuatan sahabat sendiri." sahut pemimpin rombongan Xiao.
Zhang Qiaofeng mengangguk-angguk, kemudian melirik kearah Zhang Hongli dan menjawab, "Hem...sungguh masuk akal sekali. Perkenalkan, dia inilah yang akan menjadi guru anak murid kalian, yaitu tetua pertama keluarga Zhang, Zhang Hongli."
"Bagaimana kakek, apa kakek setuju dan suka menerima keinginan mereka?" lanjutnya bertanya kepada Zhang Hongli.
Setelah menenggak secawan arak, Zhang Hongli segera berkata, "Tentu saja aku sangat setuju sekali. Selain untuk bisa saling mengenal antar keluarga, juga aku bisa menunjukkan kepada anak-anak bahwasannya aku ini bukanlah seorang guru renta yang rapuh tulang punggungnya hahaha!!"
"Marilah...marilah, kita coba sekarang." Zhang Hongli berkata seraya menuangkan arak pada dua buah cawan. Arak itu ia tuangkan sampai penuh sekali, bahkan sampai membentuk seperti "kubah" di atas cawan. Yang lebih hebat lagi, arak itu sama sekali tidak tumpah barang setetes pun! Hal ini sudah cukup membuktikan kepandaian Zhang Hongli itu.
Kemudian dengan gerakan cepat sekali, tangannya menyambar dan dua buah cawan itu terbang kearah tetua Xiao dan tetua Hu. Cawan itu melesat demikian cepatnya, bahkan angin sambaran yang ditimbulkannya saja hampir tak terasa.
Dua orang tua ini terkejut. Namun serangan seperti itu sama sekali tak ada artinya bagi orang lihai macam mereka. Maka dengan santai saja, dua orang ini menggerakkan tangan dengan pengerahan tenaga dalam dan tertangkaplah dua buah cawan kecil itu dalam keadaan yang masih utuh, tanpa tumpah sama sekali.
__ADS_1
Namun selanjutnya membuat mereka kembali terkejut dan terheran-heran dalam kekaguman. Pasalnya, begitu cawan ini tertangkap, arak yang berada di dalam sudah berubah suhunya!
Yang dipengang oleh tetua pertama keluarga Hu menjadi dingin sedangkan yang dipegang tetua Xiao menjadi panas hampir mendidih. Jelas sudah buktinya bahwa tenaga dalam kakek Zhang itu lebih tinggi melampaui mereka.
Melihat wajah sumringah dua orang itu, Zhang Hongli segera berkata, "Hahaha....agaknya untuk ujian pertama aku sudah lulus!"
Tetua Xiao dan Hu segera menetralkan suhu arak dan menenggaknya. Lalu terdengar tetua Hu berkata, "Sungguh hebat di luar dugaan. Namun alangkah akan puas hati kami jika seandainya anda suka memperlihatkan satu dua jurus silat kepada kami.
"Haha...boleh-boleh saja. Baiklah, mari pergi ke lapangan!!" jawab Zhang Hongli yang tubuhnya sudah berkelebat keluar disusul dengan dua tetua tersebut.
Begitu Zhang Hongli menginjak tanah tempat dimana biasanya dijadikan sebagai tempat latihan, dua orang itu sudah sampai pula dan berdiri tak jauh di depannya. Makin kagumlah hati Zhang Hongli melihat kepandaian dua orang tersebut.
"Tuan-tuan hendak menguji bukan, kalau begitu majulah!!" kata Zhang Hongli dengan sikap kuda-kuda sempurna.
Dua orang ini saling pandang. Setelah melihat kelihaian orang ini melalui cawan arak tadi, tahulah mereka bahwasannya tetua pertama keluarga Zhang ini tak boleh dipandang remeh. Maka dengan anggukan kepala, mereka setuju untuk bekerja sama agar mampu merobohkan kakek ini.
"Bersiaplah!!" seru tetua pertama keluarga Hu yang sudah mengirim pukulan jarak jauh kearah pusar.
Hawa pukulan jarak jauh itu ia terima dengan perutnya yang sudah terlapisi tenaga dalam kuat, dan serangan menuju pelipis itu ia tangkis dengan sentilan jari tangan kanan yang langsung menotok lumpuh pergelangan orang tersebut.
"Aihh!!!" kedua orang itu berseru heran.
Detik berikutnya, Zhang Hongli ganti menyerang. Dengan gerak tangan kilat, lengan kanan tetua Xiao sudah kena cengkram Zhang Hongli dan dalam sekali hentak saja tubuh tua itu melayang menuju tetua pertama keluarga Hu yang makin terkejut sekali.
Dengan refleks tetua pertama Hu itu menghindar. Namun begitu dirinya menoleh dan memandang, kiranya hanyalah tanah kosong saja yang terhampar luas di depan matanya, tak ada tanda-tanda sedikitpun dari tetua pertama keluarga Zhang itu.
Selagi rasa terkejut belum juga meninggalkan badan, dari belakang tengkuknya dia merasakan betapa ada angin panas meluncur cepat. Cepat dia meloncat dan bersalto di udara. Begitu kepalanya masih berada di bagian bawah, dia mengirim pukulan jarak jauh yang berhawa panas pula kepada Zhang Hongli yang sudah berada di belakangnya itu.
"Haaa!!" Zhang Hongli membentak dan kembali tubuhnya berkelebat lenyap.
__ADS_1
Sedetik kemudian, tetua Hu yang sedang melayang di udara itu kembali dikejutkan oleh serangan tumit kaki yang mengarah kewajahnya. Gerakannya cepat sekali sehingga tak ada waktu lagi untuk mengelak.
Maka tanpa dapat dicegah lagi, tumit kaki Zhang Hongli dengan telak mengenai hidung tetua pertama Hu sampai membuat dua lubang itu mengeluarkan darah segar. Tubuhnya terlempar jatuh kebawah.
"Hebat, sungguh hebat!!" demikian seru para penonton yang bukan lain adalah para calon murid Zhang Hongli.
Zhang Qiaofeng yang juga melihat hal tersebut hanya mampu tersenyum.
"Sudah cukup Tuan-tuan, kalian kalah!!" ucap singkat Zhang Hongli yang ingin menyudahi ujian ini.
"Bagus-bagus, tak sia-sia pemimpin kami setuju bekerja sama dengan keluarga Zhang. Ternyata keluarga ini memiliki seorang yang demikian hebat!! Belum lagi dengan adanya Pendekar Hantu Kabut dan Sastrawan Sakti, aku yakin dimasa depan kelak, keluarga ini akan menjadi sebuah keluarga kuat yang tiada bandingannya!Hahaha....auhkk...uhhuukk!" seru tetua pertama keluarga Hu bergelak. Namun karena terlalu lebar membuka mulut, dia malah tersedak dengan darah hidungnya sendiri.
"Benar sekali apa kata Tuan Hu. Kiranya Tuan besar sudah mengambil keputusan paling bijak. Karena sudah kalah, aku dengan senang hati menyerahkan para anak murid kepada keluarga Zhang ini!!" tetua Xiao berkata.
"Terima kasih Tuan-tuan, terima kasih..." jawab Zhang Hongli sambil menjura kearah dua orang tersebut bergantian.
Sedangkan di atas sana, lebih tepatnya di lantai dua salah satu bangunan kediaman keluarga Zhang ini, berdiri seorang pria tampan dengan rambut panjang sepunggung sedang memangku dagu di tepi jendela kamar. Pria ini tersenyum-senyum ketika memandang kebawah tempat ujian itu diadakan.
"Hah...dasar seorang yang luar biasa..." gumamnya perlahan.
Kemudian dia berbalik dan berjalan menuju meja kecil di pojokan kamar. Memandang lekat-lekat sebuah topeng pucat berbentuk wajah manusia itu. Tatapannya kosong dengan wajah tampan yang berubah datar.
Tanpa sadar, dia mengepalkan tangannya erat-erat. Hatinya tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan perasaan marah.
"Orang itu...sungguh berbahaya, dengan senyum ramah namun mengandung racun mematikan!! Sungguh berbahaya sekali! Dan jika dia menghendaki, tentu waktu itu aku sudah roboh tewas." antara lain orang ini bergumam dalam kesunyian.
"Aku harus lebih kuat lagi!! Pendekar Hantu Kabut, harus lebih kuat daripada ini! Jika sampai orang itu bentrok dengan keluarga Zhang, apalagi jika dia sampai bertemu...bertemu....bertemu dengan Nona, tentu aku tak mampu menjamin keselamatannya!! Aku harus segera mematangkan ilmu silat Ketenangan Batin ku dan menyempurnakan dua ilmu silat ciptaanku!!" kembali dia bergumam dengan pandang mata berubah tajam penuh dengan kobaran api dendam.
"Zhang Heng...Ling Haocun...Sin Nia si pelacur setan, dan juga Xiao Fu!! Aku sama sekali belum melupakan kalian keparat!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG