
Di pemakaman keluarga Xiao, terdapat sebuah makam yang cukup besar. Makam itu dibangun di tempat yang sedikit tinggi dari makam lainnya. Tempat yang agak tinggi itu memang digunakan untuk makam keluarga pimpinan saja.
Di depan makam tersebut, nampak seorang pria paruh baya sedang duduk bersila dengan muka pahit, sembari tangannya memainkan sebatang rumput panjang. Di belakangnya, nampak dua orang gadis dan seorang pria tiga puluhan tahun.
Gadis itu cantik sekali, mungkin umurnya baru dua puluhan tahun. Wajahnya berbentuk daun sirih dan yang membuatnya memiliki daya tarik besar sekaligus nampak manis, adalah dua buah tahi lalat kecil yang berada di bawah kedua bola matanya.
Gadis yang satunya mungkin baru berumur sebelas tahun. Wajahnya yang mungil itu juga nampak cantik dan manis sama seperti wanita yang di sebelahnya. Namun kecantikannya agak pudar karena mata yang sembab dan bekas air mata dikedua pipi. Wanita di sebelahnya juga tak berbeda jauh keadaannya.
Sekali lihat saja mudah untuk dikenali, mereka tak lain tak bukan adalah Xiao Li, Xiao Lian, Xiao Niu, dan Hao Yu. Sedangkan makam itu adalah makam dari nyonya Xiao, Xiao Mei yang telah meninggal dibunuh orang.
Terjadi keanehan dalam diri Xiao Li. Pemimpin keluarga Xiao itu setelah kehilangan istrinya, sifatnya menjadi pendiam dan dingin. Juga makin lama tubuhnya makin kurus.
Beberapa bulan ini, entah sudah keberapa kali dia datang ke makam istrinya dan duduk melamun sambil memainkan sebatang rumput panjang atau ranting kecil. Pria paruh baya yang biasanya selalu nampak gagah dan berwibawa itu saat ini terlihat sangat depresi dan tertekan.
Saking kurusnya, tulang di kedua pipi sampai terlihat. Matanya menghitam dan tulang-tulang di tangan juga nampak jelas sekali. Keriputan di wajahnya seolah makin bertambah banyak setiap harinya. Benar-benar keadaan yang buruk.
Apalagi mengingat akan perdebatannya dengan Lin Tian ketika dahulu mereka hendak menyerbu keluarga Zhang. Begitu Lin Tian mengungkit-ungkit nama Xiao Fu, hatinya seperti hancur. Lalu tak lama setelah itu, istrinya pergi untuk selamanya. Sebuah pukulan batin yang bertubi-tubi.
"Ayah, pulanglah dan makan..." ucap lirih Xiao Lian dengan wajah khawatir.
Xiao Li hanya tersenyum dan menoleh sebentar, kemudian menjawab, "Aku tidak lapar..."
Mendengar jawaban itu, kedua kakak beradik itupun menjadi makin sedih. Hao Yu yang menjadi pengawal pribadi pun juga tak mampu untuk berbuat apa-apa.
Jika kematian Xiao Mei mengakubatkan Xiao Li depresi, itu jelas karena dia memang istrinya. Namun sejatinya depresi itu bukan hanya disebabkan oleh kematian istrinya, namun juga hal lain. Hal lain itu adalah tentang Xiao Fu!
Siapakah Xiao Fu itu? Jadi dahulu ketika awal mula Xiao Li dan Xiao Mei menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan sekali. Dialah Xiao Fu.
Anak itu disayang dan dimanja, karena memang kelak dia akan menjadi penerus keluarga Xiao. Xiao Li sendiri pun dengan tekun melatih ilmu silat kepada Xiao Fu dan anak itu berlatih dengan rajin sekali.
Hingga suatu ketika, saat Xiao Fu berumur lima belas tahun dan Xiao Lian baru berumur lima tahunan, dia berkata kepada ayah bundanya dalam suatu makan malam.
"Ayah, ibu, aku ingin meningkatkan pengalaman dengan berpetualang di dunia persilatan. Agar kelak dapat menjadi pemimpin yang pantas bagi keluarga ini!!" katanya penuh semangat.
__ADS_1
Sebuah ungakapan yang begitu tiba-tiba dan mengagetkan. Sontak Xiao Mei yang masih menyuapi Xiao Lian kecil menjadi terkejut bukan main dan balas bertanya, "Apa maksudmu? Kau masih amat muda dan belum banyak pengalaman! Apa kau akan mencari mati?"
Jika Xiao Mei berkata demikian, berbeda sekali dengan Xiao Li. Dia menjawab dengan mantap dan nada riang, namun jawaban itulah yang membuatnya menyesal sampai saat ini.
"Hahaha....bagus!! Memang seharusnya kau pergi berpetualang untuk mencari pengalaman! Besok bersiaplah!"
"Suamiku...!!" Xiao Mei membentak, kaget akan jawaban suaminya.
"Ssstttt....istriku sayang, percayalah padaku..." hanya itu yang diucapkan Xiao Li kepada istrinya.
Walaupun kala itu Xiao Mei terus menahan kepergian Xiao Fu, namun apalah daya, keputusan Xiao Li sudah mutlak ditambah Xiao Fu juga amat bersemangat. Sehingga Xiao Mei tak kuasa menghentikan kepergian anaknya yang pergi merantau sampai bertahun-tahun.
Akan tetapi setelah sepuluh tahun lamanya, tidak ada kabar sama sekali dari Xiao Fu dan pasangan suami istri itu mulai cemas. Berkali-kali Xiao Mei menyalahkan Xiao Li atas keteledorannya, namun tentu saja, marah-marah seperti itu tak biaa membuat anaknya pulang.
Waktu itu Xiao Niu sudah lahir dan berumur lima tahun, seorang gadis cilik yang ceria, yang mampu sedikit membuat pasangan suami istri itu menghilangkan kecemasannya.
Dan lima tahun kemudian, terjadilah peristiwa ketika tiga orang wanita ini dirampok di tengah hutan dan kebetulan Lin Tian sedang lewat. Selama itu pula, belum pernah ada satu pun kabar dari putra sulung keluarga Xiao itu.
Dan setelah dilakukan penyelidikan melalui bantuan Asosiasi Gagak Surgawi, dia mendapat kenyataan bahwa anaknya itu menjadi antek-anteknya Aliansi yang memiliki kedudukan tinggi. Seorang informan ulung yang sangat hebat.
Tapi hal yang membuat Xiao Li sekeluarga menjadi amat terpukul adalah, ketika mereka mendengar nama julukan anaknya. Informan Mata Keranjang!
Karena kejadian itulah, keluarga Xiao saat ini diliputi kesuraman, apalagi setelah kematian Nyonya Xiao, seolah-olah tak ada aura kehidupan di keluarga Xiao Li.
"Ayah....ibu sudah pergi...." kali ini Xiao Niu berkata, dia mulai mengangis lagi.
Xiao Li kembali tersenyum dan menoleh kepada anak bungsunya. "Aku tahu Niu'er, dan aku hanya ingin menemaninya agar dia tidak kesepian."
Sebuah jawaban yang teramat lucu karena keluar dari mulut seorang pemimpin keluarga besar seperti keluarga Xiao itu. Mana mungkin orang mati ditemani oleh orang hidup? Kalau pun Xiao Li akan duduk di sana sampai dunia kiamat sekali pun, Xiao Mei tidak akan bangkit kembali dan merasa senang akan tindakan Xiao Li. Jika Xiao Mei mampu bicara dari alam sana, mungkin saat ini dia sudah mengumpati suaminya itu karena telah lalai menjadi seorang pemimpin keluarga dan seorang ayah. Dan juga karena terlalu egois sehingga tidak mampu merelakan kepergiannya.
Bukankah orang yang sudah mati akan merasa tidak senang jika seorang yang disayanginya, yang masih hidup di dunia ini merasa bersedih atas kematiannya?
Tapi apa yang dilakukan Xiao Li sekarang? Jika ungkapan itu benar, maka tindakan Xiao Li ini benar-benar membikin tidak senang Xiao Mei.
__ADS_1
"Ayah sadarlah!! Ibu sudah meninggal dan tidak bisa kembali lagi!!" Xiao Lian membentak. Jujur dia sudah tidak tahan akan sikap ayahnya yang menelantarkan keluarga sehingga kursi pemimpin diserahkan kepada salah satu tetua kepercayaannya.
Dia merasa ayahnya itu adalah seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab.
"Hahaha....Lian'er, tanpa kau beritahu pun, ayahmu ini sudah tahu kalau ibumu tidak akan kembali lagi. Aku hanya ingin menemaninya agar dia tidak kesepian..." jawab pria itu sambil tertawa. Namun raut wajahnya sama sekali tidak nampak senang, bahkan tawa itu terdengar amat sedih menyanyat hati.
"Ayah!!!" bentakan Xiao Lian makin keras.
"Apa kau akan menelantarkan anakmu!? Akan membiarkan seluruh keluarga kehilangan pemimpin? Ayah, kau seorang pemimpin keluarga, tak seharusnya kau bersikap seperti ini!!!" dia marah bukan main sekaligus sedih. Sehingga walaupun wajahnya merah karena marah, air matanya juga mengucur deras.
Xiao Li geleng-geleng kepala, "Hah, anakku yang cantik manis ini galak benar, mirip sekali dengan ibunya."
Kemudian dia menoleh kepada Hao Yu, "Hao Yu, tolong antarkan dua Nonamu ini ke kamar."
Hao Yu tak menjawab dan hanya mengangguk saja. Memang setelah kehilangan istrinya, Xiao Li menjadi penyabar dan tak pernah marah. Namun semua orang tahu, pria itu bukannya menjadi sabar, tetapi sedang mengalami keputus asaan yang teramat hebat.
Diam-diam Hao Yu juga merasa kesal akan sikap Xiao Li. Jika dia bukanlah seorang yang setia, tentu saat ini Xiao Li sudah menyusul istrinya ke alam sana akibat tebasan goloknya.
Xiao Lian menangis makin deras, lalu menarik tangan adiknya dan segera diajaknya pergi dari sana dengan langkah dihentak-hentakkan.
Hao Yu tak lekas pergi. Sebelum benar-benar melangkah pergi, dia berkata kepada Xiao Li.
"Maaf Tuan akan kelancangan saya, tetapi mohon diingat, Nyonya sudah pergi dan tak akan pernah hidup kembali. Jika anda kemari untuk menemaninya, saya ragu apakah niat anda untuk menemani Nyonya ataukah agar anda ditemani Nyonya? Mohon maaf sebesar-sesarnya Tuan, jujur saja, jika tidak ingat akan sumpah saya, mungkin saat ini saya sudah pergi meninggalkan keluarga ini. Tuan Xiao Li yang saya kenal dan hormati, bukanlah seperti ini."
"Terima kasih atas saranmu..." jawab Xiao Li yang sebelumnya sedikit terkaget mendengar ucapan Hao Yu. Namun hanya sebentar saja dan tubuhnya kembali lesu tak bertenaga.
"Kalau begitu saya permisi..."
Sebuah perubahan yang teramat besar terjadi dalam diri Xiao Li. Seorang pria yang tegas berwibawa, berubah menjadi seorang pria tak berdaya yang tak berguna. Keputus asaan mungkin adalah sesuatu yang paling mengerikan di dunia ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1