Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 148. Adu Silat


__ADS_3

"T-tunggu sebentar!!" tukas Zhang Qiaofeng ketika Cin Kok sudah bangkit berdiri dan hendak keluar ruangan.


"Ada apa nona?"


"Bagaimana kami bisa percaya? Darimana anda bisa mengetahui semua cerita itu dengan detail? Sampai-sampai anda mengetahui percakapan antara Cin Cheng dan saudara seperguruannya ketika dia ditanya mengapa menjadi pengemis?" gadis itu bertanya penuh rasa penasaran.


Sedangkan Cin Kok yang ditanya bertubi-tubi itu, hanya tersenyum lembut sambil memandang kearah gadis tersebut. Memang dirinya maklum akan keraguan hati Nona Zhang itu, karena mau bagaimana pun juga, penjelasannya terlalu detail seolah-olah dia sendiri yang mengalami serangkaian peristiwa tersebut.


"Nona tidak percaya? Kalau begitu akan saya jelaskan. Jadi saya mengetahui semua sejarah ini dari mendiang ibu saya yang masih berdarah keturunan dari leluhur Cin Cheng. Ibu saya pula yang menurunkan ilmu pedang Bunga Teratai Putih kepada saya. Jika nona belum percaya benar, boleh anda mengecek kebenarannya sendiri dengan membaca setumpuk kitab sejarah yang menjelaskan semua itu."


"Haha...tapi aku ragu apakah anda mampu menyelesaikan semua kitab itu dalam satu hari. Karena jujur, kitab-kitab itu tidak ada bedanya seperti sebuah cerita dongeng saja." lanjut Cin Kok sambil tertawa.


Zhang Qiaofeng terperangah. Bagaimana pun juga, jauh di dalam lubuk hatinya dia memang masih belum percaya benar. Maka dia memutuskan untuk melihat-lihat buku sejarah itu.


"Baiklah, aku akan melihatnya. Mohon antarkan aku ke sana." katanya seraya bangkit berdiri dari kursi.


"Tunggu nona!" seru Lin Tian yang membuat gadis tersebut memandangnya penuh heran.


"Aku percaya padanya, Tuan Cin Kok sama sekali tidak bohong." kata pemuda tersebut.


Makin heranlah tatapan Zhang Qiaofeng kepadanya. Setelah itu dia bertanya untuk memastikan, "Kau percaya padanya? Bagaimana cara kau mempercayainya? Lin Tian, aku bukan sepenuhnya tidak percaya kepada Tuan Cin Kok ini, tetapi aku hanya ingin memastikan saja bahwa semua cerita itu benar-benar adanya."


"Nona, jika kita melihat buku-buku itu, saya kira hal itu merupakan suatu tindakan yang sedikit tidak sopan kepada tuan rumah. Memang Tuan Cin Kok sudah mengijinkan, akan tetapi sungguh saya merasa tidak enak kepada Tuan Cin Kok karena harus repot-repot mengantarkan kita ke ruangan tersebut hanya untuk membuktikan kebenaran ucapannya." jawab Lin Tian.


"Lagipula, semua ini tidaklah teramat aneh nona, bahkan setelah saya mendengar semua cerita Tuan Cin Kok, saya merasa bahwa kejanggalan di hati saya seketika lenyap." lanjut pemuda tersebut yang semakin membuat Zhang Qiaofeng terheran-heran.


"Apa keganjilan itu?"


Lin Tian menyeruput tehnya sebelum menjawab, "Nona tentu ingat bukan, tentang kitab pusaka keluarga kita, kitab Ketenangan Batin?"


Zhang Qiaofeng mengangguk.

__ADS_1


"Seperti yang dijelaskan kakek anda, tidak ada seorang pun yang mampu menguasai kitab rumit itu selain guru beliau dan kakek anda sendiri. Hal ini sungguh mengherankan, mengapa kitab yang sangat tidak jelas itu dijadikan sebagai kitab pusaka?"


Sekali ini Zhang Qiaofeng nampak terkejut dengan ungkapan Lin Tian. Bahkan ekspresinya itu menunjukkan bahwa dirinya baru tersadar akan kebenaran tersebut.


"Nah sekarang sudah jelas, dengan adanya empat saudara seperguruan itu, maka tak aneh bila kitab luar biasa seperti kitab Ketenangan Batin dijadikan sebagai kitab pusaka. Kiranya kitab itu memang harta warisan dari leluhur Zhang Ci."


"Ahh...!! Benar juga!!" seru Zhang Qiaofeng.


"Maafkan kelancangan saya yang telah meragukan ucapan anda Tuan." gadis itu kemudian menjura sebagai permohonan maaf kepada Cin Kok. Sedangkan kakek itu hanya memgangguk dan tersenyum sabar.


"Tapi Lin Tian, kau kan juga bisa--"


"Nona Zhang, sungguh saya tidak sabar untuk melihat kelihaian Tuan Cin Kok. Dan sekaligus untuk membuktikan kebenaran ucapannya, mengapa anda tidak menunjukkan jurus-jurus dari ilmu pedang Bunga Teratai Putih? Bukankah ilmu anda itu berfokus pada kecepatan gerak? Mungkin saja saya dan nona bisa mengenali ilmu itu sungguh pun kami belum pernah melihatnya. Karena saya yakin bahwasannya ilmu-ilmu yang di dapat oleh keempat leluhur keluarga adalah ilmu yang sangat tinggi dan sukar dicari bandingannya." jelas Lin Tian memotong perkataan gadis tersebut entah karena alasan apa. Membuat Zhang Qiaofeng mengeryit heran karena tak menyangka Lin Tian berani memotong ucapannya. Yah walaupun dia sama sekali tidak tersinggung sih, hanya merasa heran.


Cin Kok dan Kim Chao juga melihat keanehan tersebut. Karena menurut mereka sungguh tidak sopan jika seorang pengawal berani memotong ucapan nonanya. Namun karena gadis itu tidak mempermasalahkan, maka mereka memilih diam.


Kemudian Cin Kok menjawab, "Mari, mari, kita akan berlatih di ruang silat."


...****************...


Namun mereka tak mempermasalahkannya dan Zhang Qiaofeng memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari segala kekurangan dari ilmunya sendiri. Karena jarang-jarang bisa bertemu seorang sakti seperti Cin Kok ini.


"Mohon bimbingannya tuan!!" Zhang Qiaofeng memberi hormat.


"Majulah nona, seperti kesepakatan awal, saya hanya akan mempergunakan ilmu pedang Bunga Teratai Putih." balas Cin Kok.


"Kalau begitu, saya akan menyerang!!" seru gadis tersebut seraya mencabut kedua belatinya. Sedetik kemudian, tubuhnya sudah berkelebat menerjang Cin Kok yang masih berdiri santai itu.


Karena keahlian utama dari Zhang Qiaofeng adalah ilmu meringankan tubuh, maka tak heran jika sekali dirinya melesat, tubuhnya hanya terlihat seperti bayang-bayang saja. Amat cepat!


Namun Cin Kok yang merupakan tokoh kosen dan tak berlebihan jika menyandingkan namanya sejajar dengan Empat Dewa Mata Angin, mampu melihat gerakan itu dan dengan tenang dia mengangkat tongkat bututnya untuk menangkis.

__ADS_1


"Tring-Tring!!" dua kali berturut-turut sepasang belati Zhang Qiaofeng membentur tongkat butunya. Namun bukannya patah, justru belati di tangan Zhang Qiaofeng yang bergetar.


Dengan rasa penasaran, gadis itu kembali menyerang. Berloncatan ke sana-ke mari dengan amat cepatnya. Menyerang dari keempat sisi, kadang dari depan, kadang dari samping atau belakang. Namun semua itu dapat ditangkis atau dihindari dengan mudah oleh Cin Kok.


Di pinggiran sana, Lin Tian terperangah memandang setiap gerakan silat yang dimainkan Cin Kok. Memang kakek itu saat ini sedang memainkan ilmu pedang Bunga Teratai Putih dengan tongkatnya. Dan setiap gerakan itu selain tenang laksana air mengalir, juga amat mantap dan kuat. Selain indah gerakannya, ilmu pedang itu juga amat "berisi"


"Trang-Trang-Triingg!!"


Mencapai jurus keempat puluh, agaknya Zhang Qiaofeng sudah tak kuasa lagi menahan serangan Cin Kok sehingga dalam pukulan terkahir, sepasang belatinya membalik dan terpental.


"Wah hebat sekali....!!" seru Zhang Qiaofeng penuh kegum dan mengambil sepasang belatinya yang terlempar lumayan jauh.


"Anda terlalu memuji nona." balas Cin Kok merendah.


"Jika boleh memberi saran, seluruh gerakan anda memang cepat dan sukar ditebak, namun serangan-serangan anda....jujur saja masih sangat mentah. Anda terlalu fokus dengan ilmu meringankan tubuh dan agaknya anda lupa bahwa kekuatan dari ayunan belati anda sama sekali tidak begitu mematikan. Walaupun sebenarnya dengan diimbangi ilmu meringankan tubuh anda, serangan sepasang belati itu bisa menjadi sangat berbahaya. Namun melawan pendekar yang sudah banyak pengalaman, tentu tidak akan berarti apa-apa." Cin Kok menjelaskan.


Diam-diam Lin Tian dan Kim Chao setuju dengan perkataan tersebut. Memang jika diperhatikan, gerakan Zhang Qiaofeng sangat cepat dan sulit ditebak kemana arah geraknya. Akan tetapi untuk para pendekar tingkat tinggi, dia bukan hanya bertarung mengandalkan mata, tetapi seluruh panca indera digunakan. Maka dengan pendengaran dan merasakan setiap desir angin yang bergerak-gerak setiap kali tubuh itu melesat, membuat serangan gadis itu mudah untuk dihadapi.


"Dan satu lagi nona, menurut saya ilmu meringankan tubuh anda sudah sangat baik, akan tetapi juga kasar. Karena setiap kali tubuh anda bergerak, saya masih bisa merasakan sambaran angin dari gerakan tubuh anda." lanjut kakek itu yang dijawab kekehan pelan oleh Zhang Qiaofeng.


"Kalau begitu, saya ingin minta tolong tuan!!" tiba-tiba Zhang Qiaofeng berseru.


"Hm, apa itu?"


"Ijinkan saya dan pengawal saya tinggal di sini selama beberapa hari. Dan mohon agar tuan membimbing saya dalam ilmu silat yang masih banyak celah ini!"


Zhang Qiaofeng tidak ragu untuk mengatakan permintaan tersebut. Karena jujur saja selama ini dia masih merasa kurang dalam ilmu silatnya dan masih belum matang benar setiap gerakannya. Memang dia telah menerima gemblengan dari Lu Tuoli, namun agaknya ilmu turunan dari Lu Tuoli sedikit tidak cocok dengan keahlian Zhang Qiaofeng. Karena sejatinya ilmu Pedang Rajawali itu dikhususukan untuk senjata pedang, walaupun bisa digunakan dengan belati, namun kekuatannya sedikit berkurang.


Mendengar permintaan yang tiba-tiba ini, Cin Kok terkejut juga. Namun hanya sekejap saja sebelum dia tertawa dan menjawab.


"Tentu, tentu, saya merasa senang sekali bisa membantu nona."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2