Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 75. Berkumpul


__ADS_3

Begitu mereka tiba di ruang dalam yang cukup luas, betapa terkejut hati mereka melihat kenyataan bahwa di sana ternyata sudah berdiri belasan pendekar yang siap menyerbu lima orang itu.


"Cih....menyebalkan!! Hajar!!" Zhang Hongli berkata.


Kembali terjadi pertempuran di rumah itu. Walaupun lima belas orang musuhnya itu terdiri dari orang-orang kuat, akan tetapi lima orang ini juga tak kalah lihai. Sebentar saja jumlah musuh berkurang drastis dan lima orang ini mampu melanjutkan perjalanan.


Lima belas orang itu ada yang tewas ada pula yang terluka parah, bahkan ada yang masih bisa berdiri akan tetapi tidak mengejar karena sudah merasa ngeri duluan akan sepak terjang mereka.


Beberapa menit berlalu dan di setiap ruang yang mereka lewati selalu dihadang oleh pendekar-pendekar Aliansi itu, namun dengan sedikit usaha mereka berlima mampu lolos sampai ke halaman depan yang luasnya bukan main.


"Bagus!! Boleh juga kalian!!" kata Xiao Fu yang berdiri di tengah halaman. Ternyata dia dan Setan Kembar itu sudah menunggu kedatangan rombongan Zhang Hongli.


"Hm...sombong juga kau! Aku berani bilang bahwa kalian seharusnya memilih pergi dari tempat ini daripada harus menunggu kami!" Zhang Hongli berucap dingin.


"Oh...mengapa begitu?" Xiao Fu bertanya. mulutnya tersenyum sinis, terlihat sangat meremehkan.


"Kau akan menyesal bocah...!!" tukas Zhang Hongli yang sudah maju menerjang.


"Plak-plak"


Kedua telapak tangan Zhang Hongli yang digunakan untuk menyerang Xiao Fu berhasil tertahan oleh Setan Kembar itu.


"Hihihi...jangan buru-buru orang tua... Lawanmu adalah kami, biarlah dia ini bermain dengan anak-anak." ucap Sin Nia sambil tertawa cekikikan.


"Hmph!! Bagus, ingin kulihat sekuat apakah orang-orang yang mengangkat diri sebagai Pilar Neraka!! Haaa!!!" kakek itu memekik keras dan kedua tangannya mengeluarkan sambaran angin kencang. Dua wanita ini spontan meloncat mundur untuk mengelak.


Setelah itu, mereka kembali bertempur habis-habisan. Dua lawan satu, akan tetapi tidak terlihat sedikit pun bahwa kakek itu terdesak.


"Ayo kita bantu, paman!!" ucap Lin Tian kepada Minghao.


Tanpa menjawab, mereka lalu melesat membantu kakek Zhang Qiaofeng itu.


Terjadi pertarungan hebat antara tiga orang sakti tersebut. Zhang Hongli bertarung satu lawan satu dengan Sin Nia, sedangkan Lin Tian dan Minghao melawan Sin Cia. Tetapi walaupun dikeroyok seperti itu, Sin Cia masih tetaplah anggota Pilar Neraka yang amat kuat. Sehingga pertarungan antar ketiganya berjalan berimbang.


Berbeda dengan Zhang Hongli. Walaupun kakek itu bertempur satu lawan satu, namun agaknya dia masih bisa mengatasi bahkan mendesak Sin Nia.


Untuk Xiao Fu sendiri, dia sudah memanggil dua orang pengawal lain yang langsung menyerbu Zhang Qiaofeng sekaligus gadis cantik yang bersamanya.


"Hahaha...ayo buat aku bersemangat gadis manis!!" ucapnya di tengah-tengah pertarungan melawan dua gadis lihai itu.


"Trang-trang"


Goloknya mampu tertangkis dengan sepasang belati Zhang Qiaofeng. Gadis ini hendak melakukan serangan susulan namun serangannya gagal karena berhasil ditahan oleh salah satu pengawal itu.


"Sialan!!" umpat gadis itu yang sudah timbul sifat galaknya.


Sedangkan untuk gadis satunya, dia juga bertempur hebat melawan salah satu pengawal Xiao Fu lain. Ditengah-tengah gulungan senjata yang mebyambar-nyambar, terdengar pengawal itu berkata.


"Hehe....tak pernah kusangka seujung rambut pun bahwa aku akan bisa merasakan kelihaian Dewi Pedang Terbang. Haha...sungguh beruntungnya aku!!!"


"Jangan banyak omong!! Terima ini!" bentak gadis itu yang ternyata berjuluk Dewi Pedang Terbang.


"Swiiingg"


Pedangnya menyambar cepat hendak memotong telinga kiri lawan, tapi dengan mudah saja lawannya itu mengelak dan mengirim tendangan sebagai serangan balasan.


Dewi Pedang Terbang mengelak kekanan dan kembali menusukkan pedang mengarah mata. Tetapi sama seperti sebelumnya, pria ini bisa mengelak dengan miringkan kepala dan menangkis pedang itu.


"Wah-wah...sungguh ganas dan liar. Sangat sesuai dengan nama julukanmu Nona..." pria itu berucap untuk menggoda gadis yang dilawannya.


Tentu saja ucapan ini membikin panas hati Dewi itu. Maka dengan gerakan cepat sekali, pedangnya sudah menyambar-nyambar sampai membentuk gulungan sinar putih menyilaukan. Melihat serangan berbahaya, pengawal itu tak lagi main-main, cepat ia gerakkan pedangnya untuk menghadapi pedang lawan. Terjadilah pertempuran yang hebat sekali.


Dewi Pedang Terbang, sungguh bukan nama julukan kosong belaka. Dengan ilmunya yang bernama "Ilmu Pedang Rajawali", gadis ini mampu menggerakkan pedang dengan amat cepatnya sampai membuat pedang itu seolah-olah terbang di angkasa. Agaknya inilah yang membuat dirinya mendapat julukan sebagai "Pedang Terbang"


Pertandingan di halaman itu terjadi dengan amat menegangkan dan amat seru. Di tonton oleh beberapa orang pengawal rumah, mereka bertarung mati-matian di sana.


Xiao Fu sengaja melarang para pengawal penonton itu untuk ikut campur, karena maklum bahwa kepandaian lima orang lawannya ini sudah berada di atas rata-rata dan sukar dilawan oleh mereka yang masih berkemampuan rendah.


Sungguh pun dirinya bukan termasuk seorang ahli silat tinggi, namun pria penggila wanita ini ingin sekedar "bermain-main" dengan dua gadis itu, karena itulah dia memanggil dua orang pengawal untuk membantunya. Jika tidak, dapat dipastikan dalam segebrakan saja dia pasti sudah tewas termutilasi pedang dan belati lawan.


...****************...


Tiga puluh menit berlalu, dan pertempuran sudah mencapai puncak. Sin Nia sudah semakin terdesak oleh serangan-serangan Zhang Hongli.


Begitu pun dengan Sin Cia yang juga sudah mulai terdesak oleh terjangan maut Lin Tian dan Minghao. Hanya dua pengawal Xiao Fu sajalah yang agaknya mampu mendesak lawan.


Hal ini tidak mengherankan mengingat dua gadis itu baru saja keluar dari tahanan. Tantu saja tubuh mereka masih lelah dan tak mampu bertarung maksimal. Karena itulah, Lin Tian menyerang semakin ganas untuk bisa segera membantu Nona mudanya.


"Trang-trang-aaakkhh"


Pundak kiri Sin Cia kena serempet Pedang Dewi Salju setelah berhasil menangkis dua kali serangan suling Minghao. Spontan wanita ini meloncat mundur sambil memegangi pundaknya. Terdengar suara menggereng-nggereng dari mulutnya, tanda amarahnya memuncak.


"Dasar bocah-bocah nakal!! Terima ini!!" kembali Sin Cia menerjang dengan tusukan lima kuku jari berwarna hitam mengarah dua orang itu.


Dengan sigap, dua orang pemuda sakti ini memutar senjata masing-masing dan menangkis.

__ADS_1


"Trang-trang"


Dua lengan yang kecil ramping itu terpental balik. Lin Tian bergegas mengirim serangan menusuk kearah jantung. Jika berhasil, dapat dipastikan wanita itu akan mati, namun sayang usahanya itu gagal. Sin Cia dengan secepat kilat sudah menyelinap diantara mereka berdua dan tiba di belakang mereka.


Wanita ini kemudian menyerang punggung Minghao dengan cakar beracun itu. Inilah ilmu pamungkasnya yang bernama "Darah Pengikis Tulang", sebuah ilmu yang didapat dengan cara menghisap banyak sekali darah lelaki sehingga serangannya ini menimbulkan racun kuat luar biasa.


Akan tetapi, tangkisan Minghao jauh lebih luar biasa lagi. Begitu cakar itu mendekat, pria ini menggerakkan tubuh dan mengarahkan cakaran itu menuju punggungnya, lebih tepatnya mengarahkan ke yang-khim miliknya.


Akibatnya sungguh diluar dugaan, begitu cakar-cakar beracun itu mengenai dawai yang-khim, terdengar bunyi melengking dari alat musik itu yang langsung membuat tubuh Sin Cia merasa lemas.


"Sekarang Lin Tian!!!"


Walaupun hanya beberapa detik saja, namun sudah lebih dari cukup bagi Lin Tian untuk melesat cepat dan menusukkan Pedang Dewi Salju kejantungnya.


"Aaaarghhhh!!" terdengar pekik mengerikan bagai suara setan. Disusul robohnya tubuh ramping itu dalam keadaan tak bernyawa. Sin Cia, salah satu dari Si Cantik Setan Kembar yang tersohor, mati di tangan Pendekar Hantu Kabut dan darahnya diminum oleh Pedang Dewi Salju, sebuah pedang yang berasal dari kristal pegunungan keramat.


Mendengar teriakan ini, sontak semua orang yang ada di sana terkejut. Tak pernah terlinats sekali pun di dalam benak mereka bahwa satu dari Si Cantik Setan Kembar akan mati. Sin Nia yang melihat adiknya terkapar dengan mata melotot, menjadi histeris dan berteriak keras.


"Bangsat kaliaaaaaaannn!!! Mati! Mati! Mati!"


Serangannya kepada Zhang Hongli makin menghebat dan ganas. Akan tetapi kakek ini masih mampu mengatasi serangan itu dengan ilmu silat Ketenangan Batin yang sudah mencapai tingkat sempurna.


"Bagus, sebentar lagi kau akan menyusul adikmu!!" seru Zhang Hongli.


Setelah membunuh Sin Cia, Lin Tian langsung melesat cepat menuju Nona mudanya dan berniat membantu gadis itu. Sedangkan Minghao sudah meloncat menghampiri Sin Nia untuk mendesak iblis tersebut.


"Trang-trang"


Pedang pengawal yang menjadi lawan Zhang Qiaofeng membalik, membuat si pemilik pedang berseru tertahan saking terkejutnya.


"Apa?" serunya kaget.


Namun belum sempat hilang kekagetannya, lehernya sudah terbang karena tertebas Pedang Dewi Salju yang berhawa dingin.


"S-sialan!!" Xiao Fu mulai ketakutan dan pergi menghampiri Sin Nia meminta pertolongan.


"Sin Nia, pergi!! Kita pergi dari sini!!" teriaknya dari kejauhan.


Sin Nia yang sibuk menghadapi gempuran dua orang itu menjadi marah begitu mendengar ucapan pengecut ini. Namun, dia tak punya pilihan lain. Dia harus selamat kali ini agar kelak bisa membalaskan kematian adiknya.


Maka dengan seruan keras, dia menghentakkan kedua lengan kedepan dan menyambarlah hawa pukulan beracun yang sangat mematikan.


"Awas!!" teriak Zhang Hongli menarik kerah baju Minghao dan dilemparkannya ke belakang. Detik berikutnya, dia sudah menghalau hawa beracun itu dengan sambaran angin pukulan yang dahsyat.


"Jangan lari kau!!" bentak Minghao begitu melihat Sin Nia sudah mengempit tubuh Xiao Fu dan dibawanya lari.


Suara suling ini bertujuan supaya pendengaran Sin Nia menjadi kacau dan larinya melambat. Akan tetapi bukan Sin Nia yang kena imbasnya, malah Zhang Hongli lah yang kena pahitnya.


"Bocah goblok!! Hentikan tiupanmu dan kejar dengan sungguh-sungguh!! Telingaku sakit sialan!!"


Nyali Minghao ciut seketika dan dia hanya menurut.


...****************...


Di halaman rumah itu, setelah mereka kehilangan pemimpin, para pendekar Aliansi itu menjadi kocar-kacir. Dua pengawal yang tadinya menyerang gadis itu sudah tewas semua, menyisakan belasan orang yang sebelumnya berdiri menonton.


"Feng'er...itukah dia...yang benar saja?" tanya Dewi Pedang Terbang kepada Zhang Qiaofeng.


"Aku juga tidak tahu kakak, tapi entah kenapa hatiku sangat yakin bahwa itu adalah dia." balas Zhang Qiaofeng seraya memandang pertempuran Lin Tian dengan tegang dan ngeri.


Kali ini, Lin Tian sedang melakukan perlawanan lima belas lawan satu. Dia bertempur seorang diri melawan lima belas orang itu. Walau begitu, dirinya lah yang menjadi pihak lebih unggul. Pemuda ini menyerang dengan sangat luar biasa dan mengerikan, belasan senjata itu mampu ditangkisnya dan disusul dengan serangan balasan yang sangat mematikan.


"Lin Tian...itukah kau?" batin Zhang Qiaofeng ngeri melihat cara bertarung Lin Tian yang sangat ganas dan kejam.


Beberapa menit berlalu dan hanya menyisakan tiga orang. Mereka hanya mampu memandang Lin Tian dengan pandangan takut. Memang sedari awal belasan orang itu hanya mengeroyok secara nekat saja, karena mereka masih merasa enggan untuk merendahkan kehormatan dengan cara melarikan diri dari medan tempur. Akan tetapi, sungguh diluar dugaan bahwa ternyata pihak merekalah yang terbantai.


Lin Tian sudah mengangkat pedang hentak menghabisi mereka. Akan tetapi, belum juga pedang itu bergerak, mereka sudah mati dengan leher tertusuk pisau-pisau tipis milik Zhang Qiaofeng.


Namun kembali hal mengejutkan terjadi, Lin Tian tetap melanjutkan tebasan pedangnya dan memotong-motong tubuh mereka. Tentu saja hal ini membuat kedua gadis itu merasa ngeri, apalagi Zhang Qiaofeng.


Gadis ini tadinya sengaja membunuh tiga orang itu adalah supaya Lin Tian bisa menghentikan aksi kejamnya. Tapi ternyata kenyatan malah sebaliknya, pemuda itu sama sekali tidak berbelas kasihan dan terus menebas-nebas ketiga tubuh tak bernyawa itu.


"Cukup Lin Tiaaann!!!" bentak Zhang Qiaofeng.


Merasa namanya dipanggil, Lin Tian merasa terkejut sekaligus terharu. Sudah lama sekali dia tak mendengar suara itu. Walaupun merasa sedikit heran tentang Nona mudanya yang sudah tahu bahwa dia adalah Lin Tian.


Sontak dia menghentikan pedangnya dan membalikkan tubuh. Ternyata di hadapannya sudah berdiri seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Zhang Qiaofeng.


Gadis ini memandangnya tajam menyiratkan kemarahan. Ah...sudah lama aku merindukan ini. Batin Lin Tian.


Secara tak sadar, Lin Tian berlutut di depan orang yang paling dikaguminya itu. Dengan keadaan berlutut dia berkata lirih.


"Aku...sudah memenuhi janji...Nona."


Zhang Qiaofeng sedikit terkejut mendengar suara ini. Sungguh berbeda dari yang dulu, pikirnya.

__ADS_1


Dia juga terkejut begitu melihat betapa punggung pria di depannya itu bergetar seperti hendak menangis. Maka dia lalu berkata, terkandung sedikit isak tertahan dalam perkataannya.


"Buka...topengmu!" ucapnya singkat.


Lin Tian menurut dan membuka topeng yang selama ini telah menjadi ciri khas dari seorang Pendekar Hantu Kabut. Begitu wajah topeng itu terbuka, makin terharulah perasaan gadis ini.


"Ah...kau benar-benar Lin Tian....haha ternyata aku tidak salah dengar waktu itu." ucapnya yang tanpa sadar telah meneteskan air mata.


Detik berikutnya, gadis ini menunduk dan memeluk kepala Lin Tian. Memeluk dengan penuh kasih sayang seperti seorang kakak yang merindukan adiknya.


Lin Tian hanya diam saja. Tak mampu berkata apa-apa selain menahan isak tangis penuh kebahagiaan ini.


"Lin Tian...kenapa kau begitu kejam terhadap mereka? Apa kau punya dendam terhadap mereka...?" tanya Zhang Qiaofeng di tengah pelukannya. Suaranya amat halus dan sabar.


"N-nona, mereka hendak membunuh anda! Sudah sepatutnya-"


"Ssstt tenanglah...bukankah sekarang ini aku masih baik-baik saja? Kenapa kau bisa bersikap begitu kejam, sungguh sangat berbeda seperti Lin Tian yang kukenal..." Zhang Qiaofeng memotong ucapan Lin Tian.


"Tidak Nona, mereka pantas mati!! Bahkan jika seandainya aku bisa menghidupkan mereka, sudah pasti mereka akan kuhidupkan kembali dan akan kubunuh lagi sampai ribuan kali. Kematian seperti itu belumlah cukup bagi mereka!!" kata Lin Tian. Dalam ucapannya itu, walau diucapkan sambil menangis, akan tetapi terlihat jelas dari nadanya yang penuh dengan kebencian dan amarah.


"Tenanglah...tenang....aku baik-baik saja. Lupakan semua kebencianmu itu. Aku baik-baik saja Lin Tian...kau tenanglah..." kembali Zhang Qiaofeng berkata lembut sembari mengelus kepala Lin Tian.


Mendapat perlakuan ini, tangis Lin Tian makin kencang, air matanya keluar makin deras. Ternyata, setelah sekian lama dia menggembleng diri di puncak gunung, menanggung kesepian tak berujung, kemudian menghadapi banyak orang jahat dan semakin bertambah kuat setelah bertemu dengan Zhang Hongli. Ternyata....setelah itu semua, dirinya yang sudah menjadi Pendekar Hantu Kabut ini masihlah seperti seorang anak kecil jika dihadapkan dengan Nona mudanya. Hanya mampu menangis dalam dekapan hangat penuh kasih sayang gadis itu. Sama sekali tak ada yang berubah dibanding delapan tahun lalu.


"Hahaha...anak laki-laki tak boleh menangis..." ucap gadis itu sambil melepas pelukannya, mengusap air mata Lin Tian dan mencubit ujung hidungnya dengan gemas.


"Kau membuatku khawatir, bocah nakal." sambil tersenyum lembut dia berkata.


Lin Tian tak menjawab ucapan itu. Dengan pipi kemerahan dia masih terus menangis.


Dewi Pedang Terbang yang melihat itu juga tak mampu menahan air matanya yang meloncat turun. Dia merasa sangat terharu melihat pertemuan Nona dan pengawalnya itu setelah sekian lama berpisah.


Tak lama kemudian, terdengar suara umpatan dari jauh.


"Sialan, mereka lolos!! Bisa-bisanya aku kehilangan jejak mereka, sepertinya kakiku ini sudah menurun kekuatannya!" umpat seseorang yang bukan lain adalah Zhang Hongli. Minghao yang masih setia ikut di sebelahnya itu hanya mampu terdiam.


Begitu sampai di halaman, tiba-tiba Zhang Hongli terbelalak memandang kedepan.


"C-cucuku....Feng'er!!"


Teriaknya seraya berlari kearah Zhang Qiaofeng. Nona muda yang juga menyadari akan kedatangan kakek itu langsung berlari menyambut dengan pelukan hangat.


"Kakek!!!"


Mereka berpelukan erat untuk melepas rindu masing-masing. Minghao dan Dewi Pedang Terbang, hanya mampu saling pandang dan tersenyum. Diam-diam mereka juga merasa senang atas berkumpulnya sebuah keluarga yang sudah berpisah selama bertahun-tahun ini.


...****************...


Pagi hari, begitu matahari baru saja mengintip dunia dari arah Timur. Langit menjatuhkan butiran-butiran kecil berwarna putih bersih dan terasa dingin. Ya, musim salju telah tiba.


"Wah salju...!!" seru Zhang Qiaofeng girang.


Mereka masih berada di hutan dekat rumah Xiao Fu. Sengaja mereka tidak langsung melanjutkan perjalanan karena keadaan tubuh yang terasa amat lelah, terutama sekali Zhang Qiaofeng dan Dewi Pedang Terbang.


"Lin Tian." panggil Zhang Qiaofeng lembut.


Pemuda itu cepat menghampiri dan menjawab, "Ada apa Nona?"


Namun bukannya menjawab, Zhang Qiaofeng malah melepas syal hitam yang melingkar di lehernya dan memakaikannya kepada Lin Tian.


Tentu hal ini membuat bingung pemuda itu. Maka segera dirinya bertanya, "N-nona, ada apa ini?"


Zhang Qiaofeng tersenyum manis sebelum tertawa, "Hahaha....kau ingat? Dahulu aku pernah merawatmu seminggu penuh karena terkena demam tinggi gara-gara kedinginan akibat main salju. Sekarang aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, karena itulah kuberikan ini padamu, haha...!"


Merah muka Lin Tian karena malu, apalagi dia mendengar dibelakang sana Minghao dan Dewi Pedang itu ikut tertawa pula.


"Jangan mau dibodohi Lin Tian!!" tiba-tiba Zhang Hongli berseru.


"Eh...guru?"


Kemudian Zhang Hongli menghampiri cucunya dan menyentuh kepala gadis itu dengan lembut, lalu berkata.


"Hm...cucuku yang manis, katakan dengan jujur! Kau berikan syal itu untuk Lin Tian agar dia tidak lagi terkena demam atau...."


"Atau?" sambung Zhang Qiaofeng penasaran.


"Atau...syal itu adalah ucapan cinta untuk pengawal yang setia ini? Hahahaha.....!!!" lanjut Zhang Hongli diakhiri tawa menggelegar yang diikuti oleh Minghao dan Dewi Pedang Terbang itu.


"Kakek...!!" bentak Zhang Qiaofeng yang wajahnya sudah merah bagai udang rebus


Begitupun dengan Lin Tian, pemuda ini hanya diam dan menundukkan mukanya yang memerah. Tak mampu menjawab.


Demikianlah kisah petualangan Lin Tian yang menjadi seorang berjuluk Pendekar Hantu Kabut dan bisa kembali berkumpul bersama Nona mudanya. Namun semua ini belum berakhir, bahkan mungkin inilah awal mula dari cerita ini. Cerita seorang pendekar muda sakti yang kelak akan menggemparkan seluruh dunia persilatan. Pendekar Hantu Kabut Lin Tian, bersama Nona mudanya Zhang Qiaofeng, mereka akan membangun kembali keluarga Zhang menuju kejayaan!!


...Pendekar Hantu Kabut...

__ADS_1


...Season 1: Pertemuan Kembali...


...SELESAI...


__ADS_2