Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 273. Rindu? Benci?


__ADS_3

"Sedikit lagi kita mencapai pantai, tinggal menuruni bukit ini saja! Berpencar, kepung dari segala penjuru!"


Teriakan mengguntur dari sang jenderal ini ditanggapi dengan tetabuhan tambur yang memekakkan telinga. Keluarga Jiang dan Tan segera berjalan menuju Utara. Sedangkan keluarga Liu dan perkumpulan Putri Elang berjalan menuju Selatan.


Formasi yang rapi dan terorganisir ini bukan tidak terlihat oleh pasukan Iblis Tiada Banding yang juga sibuk menyiapkan berbagai macam jebakan di bawah sana. Diam-diam mereka bersyukur karena dua orang pengacau itu tidak lagi berulah selama kurang lebih dua jam terakhir.


Zhang Heng mendatangi barisan pasukannya, memandang sekeliling dengan kening berkerut tanda tidak suka.


"Berapa banyak orang yang tewas di tangan mereka?"


"Tidak tahu pasti tuan, tapi saya yakin mungkin ratusan."


"Kalian berempat, mereka berdua, kenapa bisa kalah?"


A Jiu yang ditanya seperti itu hanya mampu bungkam tak bisa menjawab.


Zhang Heng mengacuhkannya dan melihat anggota-anggotanya yang memasang jebakan berupa langsoran kayu atau jaring-jaring penangkap.


Perasaannya tidak enak karena macam-macam jebakan yang sedang dipasang ini, ia yakin tak akan mampu mengurangi kekuatan musuh dalam jumlah besar.


"Bangsat!"


Satu pohon roboh terguling akibat menerima kemarahannya.


Di sisi lain, Zhang Qiaofeng, si pemimpin muda dari keluarga Zhang itu sedang campur aduk tak karuan perasaannya. Pikirannya hanya terfokus pada seorang yang selama ini selalu menjadi obsesinya. Lin Tian.


Matanya melirik sana-sini berharap dia bisa menemukan siluetnya. Namun sedari tadi yang ia lihat hanyalah pohon-pohon tinggi belaka.


"Dia pasti baik-baik saja." kakeknya berusaha menenangkan. Entah sudah keberapa kalinya orang tua itu berkata demikian, tapi tak kunjung hilang rasa cemas di hati Zhang Qiaofeng.


Tiba-tiba, pasukan berhenti ketika di hadapan mereka, kurang lebih sejauh beberapa tombak berdiri dua sosok manusia. Sikap keduanya sangat mengancam dan mengintimidasi, membuat prajurit-prajurit berwaspada begitu pula para jenderal.


"Siapa kalian!!?"


Dua orang tua muda ini hanya bungkam dan maju perlahan. Situasi makin tegang ketika para prajurit mencabut senjata masing-masing.


Kaisar sendiri tahu akan hal ini, dia maju ke barisan paling depan dengan kudanya, menatap dua orang itu bergantian sebelum menegur dengan suara berwibawa.

__ADS_1


"Siapa kalian?"


Akan tetapi, bukannya mendapat jawaban dari dua orang yang ditanya, kaisar justru terkejut sekali saat ada salah seorang dari pasukannya yang meloncar dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan mereka semua.


Yang membuat bingung lagi adalah, dua sosok itu justru bersikap amat hormat terhadap orang itu. Lin Tian langsung berlutut dan Kang Lim sudah menjura dalam tanda penghormatan.


"Panjang umur untuk nona Zhang, kami berdua sudah menunggu." sapa Kang Lim tersenyum ramah.


Zhang Qiaofeng acuh, tatapannya terfokus pada pemuda yang berlutut tak berani mengangkat muka itu. Mata di balik topeng putihnya tajam bagai burung elang yang menemukan mangsa, entah kenapa, dalam situasi seperti ini ketakutan Lin Tian baru bisa timbul.


Dia tak pernah takut menghadapi musuh berpedang, dia tak pernah takut menghadapi kurungan ratusan orang, tapi entah kenapa dia merasa takut sekali dengan sosok yang sedang berdiri di hadapannya ini.


Setelah beberapa saat hening, akhirnya Lin Tian sanggup untuk bicara setelah mengumpulkan segenap keberanian.


"Nona....maafkan–eh?"


"Buughh!"


Kang Lim melotot saking terkejutnya, kaisar tersedak ludahnya sendiri dan prajurit-prajurit melongo heran.


Setelah melihat pemuda itu berlutut di depan nona Zhang, mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda itu yang berjuluk Pendekar Hantu Kabut, yang katanya adalah pengawal pribadi nona Zhang sungguh pun belum ada yang mampu membuktikannya.


Lin Tian bukan tidak tahu akan tendangan itu, dia hanya tak mau menghindar atau menangkis karena hal itu hanya akan menambah runyam suasana.


"Uhuk..." seteguk darah segar berhasil dimuntahkan Lin Tian.


"Jangan...panggil...aku...nona!" ucap Zhang Qiaofeng penuh penekanan.


Suatu hal yang membuat Lin Tian tak mampu bernafas selama beberapa detik. Wajahnya memucat dan tampak jelas bibirnya gemetaran. Ketika dia memandang, kiranya gadis itu sudah berdiri di hadapannya dan mengemplang kepalanya dengan Pedang Dewi Salju.


"Buaaghh!"


Berkali-kali hal itu dilakukan Zhang Qiaofeng, tak ada yang berani mencegah, bahkan kakeknya sendiri. Mereka semua tak mau ikut campur dalam urusan rumit itu.


Setelah berpuluh-puluh pukulan, Zhang Qiaofeng melemparkan pedang itu di hadapan Lin Tian dan mencabut belatinya sendiri.


"Benarkah kau yang menahan pasukan Iblis Tiada Banding di pantai?" tanyanya dingin disertai sebilah pisau yang ia tempelkan pada leher Lin Tian.

__ADS_1


"Bukan hanya saya, tapi bersama kakek Kang Lim juga nona–Ughh!"


"Siapa yang mengijinkanmu memanggilku nona?" ujarnya setelah mendaratkan satu tinjuan ke perut Lin Tian.


Lin Tian tak sanggup melawan, hanya diam sambil menundukkan wajah. Tak sanggup untuk bertemu pandang denngan mata gadis itu yang mencorong bagaikan mata setan.


"Maaf...." hanya ini yang mampu dikatakan Lin Tian pada akhirnya.


Sedikit helaan nafas lega ketika melihat gadis itu bangkit dan berjalan menuju rombongan kembali, wajah Lin Tian sedikit berseri ketika mendengar gadis itu berkata.


"Yang Mulia, dua orang ini merupakan bantuan besar. Alangkah baiknya jika seandainya anda menyertakan mereka berdua ikut."


"Siapa dua orang ini?" kaisar belum percaya benar.


"Dia bernama Kang Lim, seseorang yang membantu dalam insiden pemusnahan distrik merah. Sedangkan orang itu Lin Tian, berjuluk Pendekar Hantu Kabut." balas Zhang Qiaofeng sopan.


Kaisar mengerutkan kening, namun matanya sedikit terbelalak ketika memandangi Lin Tian. Satu hal yang membuatnya heran adalah, ternyata Lin Tian dan Pendekar Hantu Kabut adalah orang yang sama. Dan yang membuatnya bingung lagi adalah, kenapa tadi dia tidak melawan atau setidaknya menghindar?


"Baiklah, tapi keluarga Zhang yang bertanggung jawab penuh atas dua orang ini." kaisar memutuskan.


"Terima kasih Yang Mulia!"


Lin Tian bangkit dibantu oleh Kang Lim, wajahnya sedikit berseri sungguh pun ada kesedihan karena nonanya itu tidak lagi menganggapnya pengawal pribadi seperti dulu.


"Yah...ini memang salahku sih...." batin Lin Tian pasrah.


"Jangan senang dulu bocah." seruan Zhang Qiaofeng ini berhasil mengejutkan Lin Tian yang baru saja bangkit.


Zhang Qiaofeng memutar tubuhnya, menodong kearahnya dengan ujung belati yang tajam berkilauan.


"Setelah perang ini, urusanmu denganku masih belum selesai!" ujarnya ketus.


Lin Tian hanya menunduk dan mengangguk perlahan. Mengambil pedangnya dan menaiki kuda yang sudah disediakan. Hari itu, dia berangkat menuju pantai, berangkat untuk berperang bersama nonanya. Namun hatinya cukup sakit karena dalam perjalanan, dia tidak ditempatkan disamping nonanya seperti biasa, dia dan Kang Lim justru ditempatkan di bagian tengah pasukan Zhang.


"Haha...gadismu ngambek!" ledek Kang Lim sembari menggoda kudanya dengan cara menusuk-nusuk sebatang rumput ke hidungnya. Membuat hewan malang itu bersin beberapa kali.


"Diam!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2