
Lin Tian berloncatan di atas rumah penduduk. Memutari seluruh sudut desa, namun sampai malam larut, dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.
"Apa lebih baik untuk melanjutkan pencarian besok?" tanyanya dalam hati.
Ketika sedang sibuk berpikir, tiba-tiba telinganya mendengar jeritan seorang wanita dari arah Barat desa. Bergegaslah pemuda ini kearah sana.
Begitu sampai, ternyata suara itu berasal dari sebuah rumah tua sederhana yang hampir roboh. Pemuda ini lekas masuk dan apa yang dilihatnya membuat nafasnya berhenti sesaat.
"Kejam sekali..." gumamnya sembari memandangi dua orang mayat lelaki dan perempuan yang sudah mandi darah itu.
Tak lama kemudian, dari arah Selatan terdengar pula suara yang sama. Sama seperti sebelumnya, pemuda ini cepat pergi ke sana.
"Apa-apaan ini!?" seru Lin Tian setengah berteriak begitu mendapat kenyataan bahwa telah terjadi hal yang sama disebelah Selatan ini.
Kemudian kembali terdengar teriakan itu dari arah Utara dan Timur. Begitu Lin Tian sampai di kedua tempat itu, hasilnya masih sama, yang ditemukan hanyalah mayat-mayat manusia tak bernyawa.
Lin Tian menggertakkan giginya menahan amarah. Kemudian dia berteriak keras, di depan rumah yang menjadi korban di sebelah Timur.
"Siapapun kau keluarlah!! Jangan bertindak pengecut seperti ini!! Aku tahu jika kau itu sudah sadar akan kedatanganku di desa ini!!" bentak Lin Tian nyaring sekali. Bahkan sampai membangunkan seluruh penduduk desa yang memang sebelumnya sudah bangun akibat empat kali teriakan berturut-turut itu.
Sedetik kemudian, Lin Tian merasa betapa dari atas kepalanya menyambar serangkum angin tajam yang mengancam dirinya. Maka cepat dia miringkan tubuh mengelak.
"Swuushh!!" kiranya itu adalah sebatang pedang yang digerakkan oleh seseorang berpakaian serba hitam. Cepat pemuda ini mencengkram pergelangan tangan orang itu dan membantingnya keras sekali.
"Bruukk!!" terndengar suara berdebuk begitu tubuh itu menghantam tanah. Namun bagaikan tak merasa sakit, orang itu sudah kembali menyerang Lin Tian dengan menusuk kearah mata.
"Haaa!!" Lin Tian membentak dan melompat kebelakang. Detik berikutnya, dia sudah kembali bangkit dan berdiri hadap-hadapan dengan orang tersebut.
"Siapa kau...!!?" tanya Lin Tian dingin.
"Seharusnya aku yang tanya, mengapa kau ada di desa ini, Pendekar Hantu Kabut?" tanya orang itu tak kalah dingin dan menyeramkan.
Lin Tian terkejut karena orang itu sudah mengetahui identitasnya. Namun hanya sebentar saja sebelum kembali berkata, "Hmph, urusanku kemari apa hubungannya denganmu? Intinya, mengapa kau membunuhi orang yang tak berdosa!?"
"Urusanku apa pedulimu!!" balas orang tersebut disusul bentakan nyaring dan tubuhnya sudah menerjang Lin Tian.
"Trang!!" pedang bertemu pedang dan keduanya sama-sana terdorong satu langkah.
__ADS_1
"Bagus, boleh juga kau!!!" seru Lin Tian karena menemukan lawan seimbang. Kemudian pemuda ini lekas melompat maju mengirim serangan.
"Trang-trang-cring!"
Beberapa kali pedang bertemu di udara yang menyebabkan timbulnya cahaya silau berkeredapan dari bunga api yang memercik dahsyat setiap kali pedang itu bertemu.
Pada jurus ke tiga puluh, Lin Tian yang tidak ingin menarik perhatian warga, berinisiatif untuk menggiringnya menuju hutan. Maka dengan sekali tendangan keras untuk mementalkan tubuh lawan, pemuda ini cepat berlari cepat menuju hutan sebelah desa.
"Jangan kau lari!!" teriak orang tersebut sambil mengejar.
Begitu sampai di hutan, mereka kembali berhadap-hadapan dengan tatapan tajam mengintimidasi.
"Apa kau juga termasuk anggota Aliansi Golongan Hitam?" tanya Lin Tian.
Mata orang itu nampak membulat, kemudian segera menjawab tegas, "Memang benar. Lalu kau mau apa!?"
Mendengar pengakuan orang tersebut, marahlah Lin Tian. Dendam-dendamnya dengan Aliansi kini memuncak yang secara tidak sadar telah mengakibatkan nafsu membunuhnya bangkit.
"Kau...!!" bentak Lin Tian sambil melompat maju.
Orang ini menyambut. Akan tetapi alangkah terkejutnya dia begitu tangan yang digunakan menangkis, terasa menggigil kedinginan bagaikan beku total.
"Matilah!!"
"Trang-breeettt!!"
Pedang itu berhasil tertangkis dan hanya menyerempet pundak kanan lawan. Lin Tian makin marah dan hendak mengirim serangan susulan, sebelum tiba-tiba orang itu membanting sebuah bola seukuran telapak tangan yang mengeluarkan asap dan membutakan mata Lin Tian.
"Aiihh!!" Lin Tian memekik sembari melompat jauh kebelakang.
Akan tetapi begitu dirinya memandang, kiranya orang tersebut sudah melarikan diri jauh sekali.
Lin Tian yang cerdik segera mengikuti. Dia berpikir bahwa orang itu tentu akan kembali ke markas Aliansi, dan jika memang benar begitu, maka dia tidak perlu lagi susah payah mencari letak markas tersebut.
Lin Tian mengikuti orang tersebut dari kejauhan. Selama membayangi jejaknya, orang itu tak henti-hentinya menoleh kebelakang. Agaknya untuk memastikan bahwa Lin Tian tidak mengejar.
Sampai dua jam lamanya dan orang itu sama sekali belum berhenti.
__ADS_1
"Cih, kemana sih dia akan pergi!?" gumam Lin Tian kesal.
Beberapa menit berselang, orang itu membawa Lin Tian ke sebuah dua bukit yang saling berhadap-hadapan. Di tengah kedua bukit tersebut, terlihat pemandangan yang sungguh luar biasa.
Di sana terlihat banyak sekali rumah penduduk, cahayanya terang benderang. Bahkan di atas dinding-dinding cadas kedua tebing tersebut, terdapat banyak sekali rumah-rumah.
Kemudian di sebelah paling belakang dari pemukiman, lebih tepatnya di sebelah Utara. Bediri dengan megah sebuah bangunan istana yang besar sekali. Bahkan beberapa bagian bangunan ada yang berdiri di dinding cadas tebing.
Bangunan itu berwarna coklat gelap, begitu pula dengan bangunan di sekelilingnya. Atapnya berwarna hitam legam dengan dilengkapi sebatang obor terang di setiap sudut genteng.
Namun di puncak genteng itu, terdapat sesuatu yang membuat Lin Tian tercengang sekaligus senang karena perjuangannya sama sekali tisak sia-sia.
Di sana, berkibar dengan megah dan agungnya, bendera Aliansi Golongan Hitam yang bergambar wajah tengkorak, di kanan dan kiri tengkorak itu terdapat serangkaian huruf yang ketika dibaca berbunyi "Aliansi Golongan Hitam".
Maka tahulah Lin Tian jika ini adalah markas dari Aliansi tersebut, sungguhpun pemuda itu baru pertama kali ini melihat wujud dari bendera mereka.
"Akhirnya, aku punya informasi berharga untuk keluarga Zhang." gumam Lin Tian.
Orang yang sedang dibayanginya tadi berjalan terus kearah pemukiman besar. Kemudian terus menuju Utara sampai akhirnya tiba di depan istana itu.
Setelah sedikit berbisik-bisik kepada para penjaga, orang ini dapat masuk dengan mudah.
Nah, inilah yang membingungkan hati Lin Tian. Bagaimanakah cara untuknya agar dia bisa masuk ke dalam sana? Padahal di setiap sudut bahkan di dalam istana terdapat banyak sekali anggota aliansi.
Jika dia nekat menerobos, tentu ketika keluar nanti yang akan susah karena dia akan dikurung oleh ribuan orang Aliansi yang tinggal di pemukiman maupun bukit.
"Agaknya hanya inilah satu-satunya cara." gumam Lin Tian yang bersembunyi di balik pohon besar.
Dia sedang memandang kearah seorang anggota Aliansi yang sedang mabuk-mabukan dan berjalan di depan pohon tempat dia bersembunyi. Kaki orang itu sudah terseret-seret tak beraturan, sambil sesekali bergumam tidak jelas.
Lin Tian hanya menyeringai sebelum meloncat keluar dan dengan secepat kilat, dia sudah menotok dua jalan darah mematikan di leher dan dada. Maka tanpa dapat mengeluarkan suara, orang ini mati seketika.
Lin Tian menyeret orang ini ke balik semak belukar. Tak lama kemudian, dari dalam sana muncul seorang pria tampan dengan pakaian serba hitam-hitam.
"Waktunya beraksi." ucap orang tersebut yang bukan lain adalah Lin Tian sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG