
"Cari kearah Timur dan Barat. Tiga puluh orang sisanya cari ke Selatan, cepat!!" perintah seorang petinggi Aliansi mengatur seratus orang tersebut.
Tanpa menunggu lama lagi, seratus orang itu segera berkelebat ke sana-sini menuju tempat masing-masing. Petinggi itu pergi ke arah Utara.
Sedangkan di dinding cadas sebelah Timur sana, nampak bayangan putih berkelebat cepat sekali. Menuruni dinding cadas itu dengan amat cepat.
Bayangan yang bukan lain adalah Lin Tian itu melesat kearah kerumunan orang yang sedang menyelidik di Timur itu. Dia berhenti di atas salah satu genteng rumah dan mengintai dari sana.
"Hm...hanya puluhan orang. Ini bukan apa-apa!" gumamnya perlahan sebelum melesat cepat kearah kerumunan itu.
"Crat-Crat!"
Sekali pedangnya berkelebat, dua kepala terbang meninggalkan badan. Hal ini tentu membuat kaget mereka semua, sehingga gegerlah keadaan di sana.
"Wah agaknya dia pengacaunya!!" seru seorang dari mereka melihat Lin Tian.
"Apa...dia itu, Pendekar Hantu Kabut!! Kita harus mengeroyok bersama!" seru yang lain begitu menyadari siapa yang disebut pengacau itu.
Lin Tian segera melompat maju dan menggerakkan pedangnya. Menyambar ke sana-sini, menangkis dan menyerang. Tak lupa pula tangan kiri dan kedua kakinya juga ikut menyerang dengan hebatnya.
"Mati kau!! Jadilah hantu yang sesungguhnya!!" teriak seorang dari mereka sembari menusukkan pedang kearah punggung Lin Tian. Teriakan ini disusul dengan gempuran tiga pedang lain yang masing-masing mengarah leher, pundak, dan dada.
Lin Tian mendengus, sebelum secepat kilat membalikkan tubuh dan menangkis. Gerakannya ini dilanjut dangan putaran tubuh sekali lagi untuk menangkis tiga pedang yang mengarah leher, pundak dan dadanya.
"Trang-Trang-Trang-Trang!!"
Empat kali berturut-turur terdengar suara nyaring beradunya senjata. Kemudian pemuda bertopeng itu melanjutkan serangan dengan dua kali tebasan yang setiap tebasannya merobohkan dua orang.
"Crat-Crat!!" Darah menyembur kemana-mana dan matilah empat orang itu.
Baru beberapa detik kemudian, dari atas sudah meluncur seorang bersenjatakan golok yang hendak membelah tubuh Lin Tian. Pemuda ini cepat menusukkan pedangnya ke atas, inilah jurus Pedang Penopang Langit yang amat berbahaya.
"Crookk!!" tak dapat dihindari lagi, ulu hati orang itu berhasil tertembus oleh pedang Lin Tian dan begitu orang itu turun ke bumi, tubuhnya sudah tak lagi bernyawa.
__ADS_1
"Aaahhh!!" teriak para pendekar yang masih tersisa dengan penuh perasaan ngeri. Namun agaknya Lin Tian tidak sudi memberi nafas. Maka dengan sekali gebrakan saja, sepuluh orang itu mati seketika.
Darah segar menetes-netes dari Pedang Dewi Salju itu. Namun di baju Lin Tian yang berwarna putih, tak nampak sedikitpun darah yang menodainya. Hal ini tak mengherankan karena selama dalam pertarungan, Lin Tian melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam, sehingga setiap kali darah menyiprat kearahnya, secara otomatis darah itu akan berbelok arah.
"Tempat berikutnya!"
...****************...
Malam itu benar-benar berubah bagaikan neraka bagi Aliansi Golongan Hitam. Di sana-sini terdengar teriakan-teriakan kesakitan yang disusul dengan terbakarnya rumah penduduk.
Memang hebat sekali sepak terjang Lin Tian ini. Begitu dia selesai membantai di Timur, pemuda ini segera berpindah ke Barat, kemudian dilanjutkan ke Utara dan Selatan. Begitu terus sampai di suatu saat, dia berhasil tertangkap oleh Elang Salju dan Ang Bei.
"Kena kau!!" bentak Elang Salju sembari mengirimkan pukulan jarak jauh yang berhawa dingin sekali.
Lin Tian yang bermata tajam dan memang sudah waspada, segera menghadapi pukulan itu dengan pukulan pula. Bahkan lebih kuat karena pemuda ini menggunakan inti tenaga Yin yang dinginnya sangat ekstrim.
"Deesss!!" dua tenaga raksasa bertemu di udara dan kedua orang itu terpental ke belakang.
Namun karena saat ini mereka sedang berada di daerah markas Aliansi, ada kemungkinan jika Lin Tian akan dikeroyok ribuan orang. Maka Lin Tian yang cerdik segera lari menjauhi dua tebing kembar itu agar dirinya lebih leluasa.
Namun beru sedetik kemudian, terdengar suara menggema yang menyeramkan sekali.
"Hahaha...hahahahah!!! Tak kusangka bahwa Elang Salju, salah satu anggota Pilar Neraka, akan begini pengecut untuk melakukan pengeroyokan terhadap satu orang. Hahaha!! Kau mengaku sebagai datuk hitam, akan tetapi mana buktinya!?? Satu lawan satu saja kau tak berani!!"
Merah muka Elang Salju mendengar ejekan yang sangat menusuk itu. Maka dia segera menahan pasukannya dan berkelebat pergi kearah datangnya suara.
"Tuan biarkan aku ikut!" seru Ang Bei.
"Diam!! Kau di sini saja!! Apa kau pikir aku akan kalah dengan tikus itu!?" bentak Elang Salju penuh amarah. Sedetik kemudian, dia sudah lenyap dari sana.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Elang Salju itu benar adanya. Ang Bei memang merasa khawatir kalau-kalau orang itu akan roboh di tangan si pengacau yang dia tahu adalah Pendekar Hantu Kabut. Tentu dia tahu jika Pendekar Hantu Kabut adalah Lin Tian yang kesaktiannya di luar nalar itu.
Apalagi mengingat bahwa Elang Salju adalah anggota Pilar Neraka yang paling lemah. Hal ini menambah kuat kenyakinan di hati Ang Bei jika pria itu tentu akan kerepotan melawan Lin Tian.
__ADS_1
Tapi akhirnya, dengan rasa serba salah, Ang Bei memilih untuk menunggu di markas sambil membantu memadamkan kebakaran.
...****************...
"Trang!!" dua batang pedang bertemu dan terciptalah bunga api yang segera memercik di udara.
Dua orang itu sama-sama terpental mundur sejauh satu tombak, sebelum akhirnya saling berhadapan dengan pandangan tajam dan nafsu membunuh.
"Pendekar Hantu Kabut yang gagah perkasa!! Ada masalah apa kau dengan kami sampai harus mengacaukan markas Aliansi Golongan Hitam!?" tanya Elang Salju dengan bentakan.
"Elang Salju, kau lebih paham akan dirimu sendiri dan kelompok yang kau bela. Maka dari itulah, agaknya kau sudah tahu apa alasanku melakukan tindakan ini." balas Lin Tian dingin.
"Banyak sudah orang yang menderita rugi akibat kalian. Banyak sekali orang yang menumpahkan darah dan air mata dengan sia-sia karena tindakan kalian. Begitu juga denganku. Aku juga salah satu dari jutaan orang yang telah kalian sengsarakan!" lanjutnya.
"Apa yang telah kami lakukan padamu? Jujur saja, kami ingin sekali menarikmu ke sisi kami, Pendekar Hantu Kabut." balas Elang Salju dengan cerdik karena memanfaatkan kesempatan ini untuk merekrut Lin Tian.
"Sayang sekali Elang Salju, aku menolak keras ajakanmu itu. Bagiku, kalian tak lebih dari sekedar babi tak berguna. Karena itulah, aku tak akan menaruh kasihan kepada kalian semua, juga tak akan pernah mendengar perkataan kalian, tak pernah pula berniat untuk melihat kalian lebih lama lagi di dunia ini." jawab pemuda tersebut.
"Kau ingin menghancurkan kami?"
"Benar sekali. Kelak pedangku inilah yang akan meminum darah kalian sampai tandas."
Keadaan menjadi tegang. Setelah Lin Tian mengakhiri perkataannya, hanya keheningan yang ada di antara mereka. Namun jika diperhatikan, tubuh Elang Salju itu bergetar hebat, bergetar menahan marah.
"Kau....!! Hati-hati kalau bicara!!" bentaknya kemudian.
"Untuk apa kita bicara? Bukankah kita kemari untuk menentukan siapa yang lebih pantas hidup lebih lama?" balas Lin Tian tenang.
"Bagus!! Kau yang mulai duluan!! Terima ini!!!" teriak Elang Salju yang sudah menerjang maju didahului dengan sinar pedangnya.
Lin Tian melesat untuk menyambut serangan. Sebentar saja, hutan yang sunyi gelap itu menjadi ramai karena dentingan dua senjata itu, dan sesekali menjadi terang akibat berkerdapannya sinar pedang mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG