
Song Qian dan Fen Lian sedang berjalan-jalan di tengah hutan lebat itu. Pagi hari itu, suasana hati mereka sedang sangat-sangat baik. Hal ini membuat cahaya mentari jauh lebih indah dan keadaan alam lainnya serasa jauh lebih berwarna juga menarik sekali.
Embun-embun pagi yang menetes di ujung daun segar itu nampak bagaikan mutiara berkilauan tatkala cahaya sang surya menimpa butiran air bening tersebut. Bau tanah dan rumput yang basah sungguh sangat menenangkan perasaan hati. Kupu-kupu beraneka warna terlihat berterbangan ke sana-sini, entah kemana tujuan mereka namun satu hal yang pasti, hewan-hewan kecil itu amat menarik hingga tanpa sadar Song Qian mengulurkan telunjuknya untuk dijadikan tempat hinggap salah satu kupu-kupu.
"Ih...cantiknya..." seru wanita ini kagum ketika memandang corak yang amat indah dari sepasang sayap kupu-kupu itu.
"Nyaman sekali ya...seperti baru saja terbebas dari neraka..." sahut wanita yang lebih muda, siapa lagi kalau bukan Fen Lian. Wanita ini menghirup napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Menikmati semilir angin pagi bercampur halimun tebal yang amat menyejukkan, juga diam-diam mengagumi kemerduan nyanyian burung sekitar yang amat tak beraturan, namun membawa keindahan tersendiri.
"Kau benar...ini kesempatan kita." kata Song Qian dengan mata tegas penuh kebulatan tekad.
"Dalam tugas ini, kita harus bisa bergabung dengan keluarga Zhang!!" lanjutnya sambil berseru penuh semangat.
Apa yang terjadi dengan dua manusia cantik itu? Apakah mereka hendak bersikap khianat kepada Golok Penghancur Gunung? Jawabannya iya!!
Dahulu, hampir satu tahun silam. Mereka berdua hidup di sebuah dusun kecil yang terletak di dekat pantai Timur. Hidup sederhana menjadi penjual di pasar ikan yang kesehariannya harus mencacah-cacah daging ikan untuk kemudian dibuang tulangnya, setelah itu baru mereka jual ke pasar.
Kebetulan, mereka ini adalah sepasang sahabat dari kanak-kanak dahulu, sehingga terdapat ikatan yang amat erat di antara keduanya, bahkan diam-diam mereka telah mengakui satu sama lain sebagai seorang saudara.
Kasih sayang mereka berdua membuat dua orang wanita itu menjadi kompak dan amat setia. Jika keluarga satu mengalami kesulitan, yang satunya akan menjadi orang pertama untuk menolong. Jika salah satu ada yang sakit, pasti salah seorang lagi menjadi orang pertama yang menjenguk dan memberi obat.
Suka duka mereka lewati bersama sampai tumbuh dewasa dan menjadi kembang desa. Namun suatu hari, invasi Aliansi Golongan Hitam berhasil menghancurkan desa itu. rumah-rumah penduduk dibakar, gadis-gadis atau ibu-ibu muda ditawan sebelum akhirnya diperkosa lalu dibunuh.
Hanya menyisakan mereka berdua yang masih dibiarkan hidup setelah tiga hari tiga malam dijadikan boneka pemuas nafsu oleh orang-orang bejat itu. Keadaan mereka amat memprihatinkan, tubuh mereka kurus kering dan hampir mati.
Melihat kecantikan dan keelokan mereka, Xiao Fu yang memang mata keranjang menjadi nafsu sekali dan merasa sayang jika mereka harus dibunuh. Maka atas kehendaknya, dia menyuruh orang-orangnya untuk memberi makan cukup dan merawatnya.
Kemudian dua orang ini diberi pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi. Awalnya Xiao Fu sendiri yang mengajari mereka, namun karena ilmu Xiao Fu tidak seberapa tinggi dan hanya berada di tingkat lumayan saja, maka Golok Penghancur Gunung yang turun tangan sendiri. Dia menggembleng dua orang cantik ini dengan ilmu-ilmu silat tinggi, akan tetapi sebagai gantinya, dua orang ini harus melayaninya dengan penuh kemesraan.
Benarkah dua orang ini menjadi wanita cabul setelah kehilangan kesuciannya? Tentu tidak sama sekali!! Mereka bersikap amat genit di hadapan Xiao Fu maupun kakek tua itu adalah karena hal itu merupakan rencana mereka.
Mereka menggunakan siasat untuk pura-pura patuh agar nantinya mendapat ilmu silat tinggi, di samping itu, agar kelak mereka mendapat kesempatan untuk kabur menyelamatkan diri.
Hingga tibalah di suatu masa ketika muncul seorang pendekar sakti yang berjuluk Pendekar Hantu Kabut. Hati mereka amat tertarik sekali dan ingin mencari pendekar itu untuk kemudian meminta bantuannya.
Namun hati mereka makin tertarik ketika mendengar bahwa pendekar itu merupakan anggota keluarga Zhang. Lebih-lebih lagi keluarga Zhang merupakan musuh besar Aliansi. Maka makin giranglah mereka.
Diam-diam, mereka telah menyusun rencana matang agar nantinya ketika mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Pendekar Hantu Kabut itu, mereka akan memberikan semua informasi terkait Aliansi Golongan Hitam. Dengan bayaran mereka akan diterima sebagai keluarga Zhang. Karena setelah diselidiki, ternyata keluarga Zhang juga amat membenci Aliansi Golongan Hitam.
Maka saat inilah waktu yang paling tepat untuk menjalankan rencana itu. Setelah mendapat kepercaaan penuh dari Xiao Fu maupun Golok Penghancur Gunung, mereka tak khawatir jika ada yang membayangi mereka. Sehingga dengan hati tenang, mereka bisa menjalankan rencana untuk menggabungkan diri dengan keluarga Zhang.
"Song Qian, kita harus bergegas." Fen Lian mengingatkan.
Song Qian mengangguk dan kembali mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda sejenak karena menikmati keindahan alam tadi. Kali ini, mereka melakukan perjalanan dengan lari cepat.
__ADS_1
Mereka terus menuju kearah Selatan, kearah Kota Raja, tempat dimana kediaman Zhang berdiri. Namun setelah beberapa jam dan matahari sudah mulai meninggi, tiba-tiba dua orang yang sudah pengalaman dan berilmu tinggi ini menangkap suara-suara tidak wajar.
Suara itu berasal dari semak belukar dan daun-daun pohon di sekitar yang secara aneh bergerak tidak wajar. Menimbulkan suara gemersak yang walaupun sangat halus, namun sudah cukup bagi dua orang ini untuk dapat mendengarnya. Tahulah dua orang itu bahwa saat ini sedang dibayangi oleh orang.
Maka seperti dikomando, dua orang ini menghentikan larinya dan saling beradu punggung. Lalu terdengar seruan nyaring dari Song Qian yang menggema ke seluruh penjuru hutan.
"Tak peduli setan atau siluman, siapapun kalian keluarlah jika ada urusan dengan kami!!"
Sedetik kemudian, terlihat kelebatan banyak orang yang segera mengurung dua orang perempuan cantik itu. Ternyata jumlah mereka ada selusin orang.
"Oh...manis, kenapa kau galak amat?" tanya salah seorang pria.
"Kalian mau apa!?? Kami adalah dua orang anak murid Golok Penghancur Gunung, kalian siapa dan mau apa mengurung kami seperti ini!??" bentak Song Qian yang merasakan niat jahat mereka semua.
Bukannya menjawab, salah satu dari mereka malah melompat maju dan mencengkeram kearah yang sangat tidak sopan. Mencengkeram mengarah dada milik Fen Lian, membuat si pemilik marah bukan main dan segera mengirimkan serangan.
"Wutt-Wuuttt!!" dua kali tangannya berkelebat dan nampak sinar-sinar hijau berkelebatan menyambar tubuh orang tersebut. Namun sungguh di luar dugaan, dengan hebat sekali orang itu mampu berkelit dan terhindar daripada maut.
"Woah, jarum beracun!! Amat berbahaya!!" seru pria itu dengan lagak seolah-olah dia sedang terkejut hebat.
"Dasar setan!! Beraninya kalian mengganggu kami!! Apakah belum cukup soal pengakuan identitas kami tadi!?"
Bentakan ini keluar dari mulut Fen Lian yang sudah merasa marah sekali. Darahnya seolah-olah mendidih mengingat kelakuan kurang ajar barusan.
"Sombong, kau siapa!??" bentak Song Qian.
"Aku? Calon suamimu, mungkin?" jawab pria tersebut yang disambut dengan gelak tawa teman-temannya.
"Keparat!!" muka Song Qian sudah berwarna senada dengan bajunya. Dia merasa jengah dan marah. Maka sekali berkelebat, tubuhnya sudah menubruk lelaki itu.
Melihat Song Qian menyerang, Fen Lian juga tak tinggal diam. Segera saja dia melompat dan menerjang seorang pria lainnya.
"Matilaaahhhh!!" seru mereka berdua dan mengamuk hebat. Sepasang belati di tangan keduanya menciptakan gulungan sinar putih yang berkilat-kilat menyilaukan.
"Syuut-Syutt!!" dua buah sinar golok membacok dengan amat luar biasa untuk menyambut terjangan Fen Lian. Namun dengan keahliannya dalam ilmu meringankan tubuh, dengan mudah saja perempuan ini memutar tubuh dan meloncat ke samping.
Detik berikutnya, sewaktu tubuhnya masih bergulingan, dari arah belakang dia merasakan sensasi angin tajam yang mengarah titik vitalnya. Dengan gesit Fen Lian melompat bangun dan menangkis serangan dengan gerakan memutar.
"Trang!!"
bunga api berpijar ketika sepasang belati itu berhasil menangkis golok lawan. Tindakan ini disusul dengan tubrukan dua orang lainnya yang terlihat sangat bernafsu sekali untuk menggerayangi tubuh padat Fen Lian.
Maka dengan amarah makin memuncak, dia menggerakkan sepasang belatinya untuk menyambar dua orang tersebut.
__ADS_1
"Trang-Trang!!" belatinya membalik terkena tangkisan lawan.
"Kena kau!!" seru mereka dan kembali menubruk. Namun saat itu terlihat bayangan merah yang segera berdiri di hadapan Fen Lian untuk kemudian bergerak cepat mematahkan setiap serangan lawan.
Dua orang itu terpental karena menahan laju sepasang belati milik Song Qian. Sedetik berikutnya, Fen Lian yang sebelumnya berada di punggung Song Qian segera melesat ke depan untuk mengirim serangan kematian.
"Hayaaa!!" wanita itu terkejut ketika secara tiba-tiba, datang tujuh orang sekaligus yang segera mengeroyoknya. Refleks dia meloncat mundur kembali dan sebentar saja dua orang itu sudah terkepung rapat.
Dua orang itu mengamuk dengan amat hebat dan luar biasa, saking cepatnya, dua orang ini hanya nampak sebagai bayangan merah dan Hijau. Akan tetapi kiranya selusin orang itu memiliki kepandaian hebat juga, terbukti setelah tiga puluh menit berselang, dua orang jagoan Xiao Fu yang terkenal paling lihai ini sudah terdesak dan terhimpit.
Gerakan mereka menjadi amat terbatas, selain itu mereka juga harus menjaga gerak tangan agar serangan belati itu tidak salah sasaran dan mengenai kawan sendiri.
"Aahhh!!"
"Fen Lian!!"
Song Qian meloncat menghampiri, namun tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas ketika salah seorang pengeroyok berhasil menotok lumpuh tubuhnya.
"Keparat, lepas!!" Song Qian memaki dan melotot tajam.
"Hahahaha....!!" selusin orang itu tertawa-tawa puas. Agaknya merasa amat senang karena telah berhasil menundukkan dua orang wanita galak itu.
"Ayo mulai!!" teriak pimpinan dari selusin orang itu dan sedetik kemudian, mereka sudah menanggalkan pakaian masing-masing.
Wajah dua orang itu memucat, dalam keadaan tertotok lumpuh ini, mereka bisa apa? Hanya mampu memandang dengan mata ngeri karena trauma masa lalu bangkit kembali.
Memang selama ini mereka diharuskan untuk melayani Xiao Fu maupun Golok Penghancur Gunung siang malam, namun kali ini lain lagi. Mereka saat ini hendak diperkosa dan setelah itu, tak ada jaminan apakah nyawa masih dapat bersemanyam di raga ini.
"Ti-tidak...jangan..." Fen Lian merintih ketakutan. Sungguh hal semacam ini jauh lebih menakutkan ketimbang kematian sekalipun.
"Hehe....kenapa takut? Bukankah setiap hari kalian selalu bersenang-senang dengan kakek itu?" yang dimaksud "kakek" ini adalah Golok Penghancur Gunung.
"Aku pertama!! Aku pilih dia!!" seru seorang dari mereka dan menunjuk Song Qian yang berekspresi sama dengan Fen Lian.
"Aku dia!!" kembali terdengar seruan dari seseorang yang menunjuk Fen Lian.
"Hahahaha!!!" sambil tertawa-tawa, mereka maju menghampiri Song Qian dan Fen Lian yang makin ketakutan.
"Tidak...pergi!! Pergi!!!" jerit Song Qian yang tak terasa lagi, dua titik air mata telah jatuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1