Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 153. Dua Orang Sahabat


__ADS_3

Dikatakan untuk siang, masih terlalu pagi. Tapi jika ingin dikatakan pagi, matahari sudah terlanjur naik tinggi. Pada waktu itulah Xiao Lian dan Hao Yu pergi meninggalkan desa tempatnya menginap semalaman.


Desa itu amat ramai kala mereka datang. Nampak banyak sekali pendekar-pendekar yang berkeliaran di sana-sini. Begitu Xiao Lian berinisiatif untuk bertanya kepada salah satu pemilik kedai makan, orang itu menjawab.


"Beberapa hari lalu, mungkin sekitar seminggu, anak buah walikota bentrok dengan keluarga Zhang. Ternyata, anak buah itu telah mengkhianati walikota dan berniat menculik istri beserta seluruh harta bendanya."


Penjelasan ini membuat Xiao Lian dan Hao Yu terkejut setengah mati. Kiranya sebelumnya keluarga Zhang datang kemari dan terlibat keributan dengan pihak pimpinan kota.


"Tapi untung saja ada pengawal Nona Zhang itu. Katanya, dia lah yang menghentikan penculikan dan dia juga yang mampu mengusir pergi si Golok Penghancur Gunung beserta seluruh anak muridnya. Kalian pasti lihat bukan, di dekat gerbang rumah-rumah penduduk banyak yang terbakar. Nah, itu adalah akibat bentrokan keluarga Zhang bersama pasukan walikota dengan pihak Golok Penghancur Gunung."


"Karena walikota merasa khawatir akan terulangnya hal tersebut, maka dia meminta bantuan banyak pendekar ini." lanjut pemilik kedai yang sekaligus mengakhiri penjelasannya.


Begitu dua orang ini sudah agak jauh dari gerbang kota, terdengar Xiao Lian berkata untuk membuka obrolan.


"Aliansi makin mengganas ya...benar-benar pengacau."


"benar Nona, jika seperti ini terus, dunia persilatan kaum putih bisa bahaya. Belum lagi soal Iblis Tiada Banding yang berhasil membunuh Dewa Kegelapan. Hah...tak lama pasti akan datang badai besar." timpal Hao Yu.


Tiba-tiba, Xiao Lian memandang tajam kearah Hao Yu. Pipinya merengut tanda kekesalan hatinya. Hal ini tentu saja membuat Hao Yu sedikit kikuk.


"M-maaf Nona, aku belum terbiasa dengan panggilan seperti itu...." jawab gugup Hao Yu.


"Sudah berapa kali aku bilang, kita bukan pengawal dan majikan, kita adalah dua orang sahabat. karena kau lebih tua, panggil aku dengan namaku!!"


"E-eh...Nona...mana bisa..."


"Nama!! Dengan nama!!!" Xiao Lian melotot dan bersungut-sungut.


"B-baiklah...Xiao...Xiao Lian." akhirnya Hao Yu mengalah. Dan jujur saja panggilan itu membuatnya canggung sekali.


"Nah, begitu baru enak..." jawab Xiao Lian senang.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Terus berjalan kearah Selatan untuk menuju pantai yang katanya menjadi tempat pertapaan seorang sakti berjuluk Dewa Kipas.


Perjalanan yang sukar tak jarang mereka lewati. Menyeberang sungai, naik turun bukit, keluar masuk hutan, atau mungkin sekali harus menuruni sebuah tebing terjal. Akan tetapi mereka terus melakukan perjalanan dan tak pernah berhenti.


"Aku harus dapat memetik satu dua ilmu dari Dewa Kipas....untuk mengejar ketertinggalan ini, untuk menyadarkan ayah, untuk Niu'er, untuk keluarga Xiao, untuk semuanya!! Aku harus menjadi lebih kuat." Xiao Lian menguatkan tekatnya, semangatnya terus berkobar.


...****************...


Pada waktu senja dikeesokan harinya, mereka berhenti si padang rumput luas. Di sana, selain lebih aman karena mampu melihat musuh dari kejauhan, juga pada malam hari mereka akan dapat melihat pemandangan dewi malam ditemani ribuan bintang dengan amat jelas.


Hao Yu mulai menyalakan api unggun, sedangkan Xiao Lian mengeluarkan roti-roti kering yang menjadi bekal mereka. Tak lupa dia juga mengeluarkan air segar yang disimpan dalam sebuah kendi.


"Api sudah siap." kata Hao Yu.


Xiao Lian mengangguk dan mengambil dua ranting kering yang kemudian dia tusukkan ke roti kering itu. Lalu dia dekatkan roti kering yang sudah tertusuk ranting itu ke dekat api untuk dipanaskannya.

__ADS_1


Selang beberapa menit, roti bakar yang amat sederhana pun jadi. Hao Yu dan Xiao Lian lekas menyambar salah satu roti dan memakannya dengan lahap.


"Hm...enak sekali, roti susu ini memang luar biasa." kata Xiao Lian.


"Jangan berlebihan seperti itu, ini hanya roti biasa yang sudah sedikit berjamur." berbeda dengan Xiao Lian yang kelihatan berseri, Hao Yu memandang roti itu dengan kening berkerut. Sedikit tak senang sebenarnya begitu dia melihat ada bekas jamur di rotinya, namun jika harus tak makan, dia akan lebih tidak senang lagi.


"Walaupun berjamur, tapi aku sudah membakar roti ini sampai kering. Seharusnya jamur itu sudah cukup menghilang." sahut gadis tersebut.


Mereka kembali melanjutkan makannya tanpa ada percakapan lagi. Setelah selesai, barulah mereka sadar jika ada suatu keanehan.


"Kau merasakannya?" Hao Yu berbisik.


"Ya, aku lengah daritadi." jawab Xiao Lian.


"Waspada, mereka hanya mengintai, tidak menyerang." balas Hao Yu sembari memandang kearah hutan yang masih berjarak kurang lebih lima puluh meter dari tempat mereka duduk.


Apa yang membuat mereka sadar akan keberadaan orang-orang itu? Hal ini terjadi karena mata mereka selama beberapa detik melihat kilauan cahaya di dalam hutan itu. Sebagai seorang pendekar, tahulah mereka jika cahaya berkilauan itu berasal dari senjata tajam milik seseorang yang memantulkan cahaya matahari senja.


"Kita pergi dari sini." kata Hao Yu yang mulai bangkit berdiri.


Dengan gerakan yang dibuat senatural mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan pengintai, Hao Yu mendekati api dan memadamkannya. Sedangkan Xiao Lian mulai mengemasi barang-barang mereka. Jika seperti ini, mereka benar-benar terlihat sebagai sepasang suami istri.


"Baiklah Hao Yu, ayo pergi." kata Xiao Lian sambil menggandeng lengan kanan Hao Yu, membuat si pemilik lengan gugup. Namun melihat pandangan mata tajam Xiao Lian, dia diam saja.


"Berakting menjadi suami istri agar tidak menimbulkan prasangka yang tidak-tidak dari mereka. Boleh jadi mereka sudah tahu akan identitasku, tutupi wajahku dengan tubuhmu!!" demikian gadis itu berbisik.


Mereka ingin agar setelah pergi meninggalkan tempat itu, para pengintai mulai menyerang. Namun setelah memasuki hutan, mereka belum juga keluar. Padahal tujuan mereka ingin memancing pertempuran di padang rumput itu agar mereka bisa leluasa.


"Bahaya...mereka bergerak!" tiba-tiba Hao Yu berbisik dengan muka tegang. Xiao Lian bisa merasakan hal itu juga.


Detik berikutnya, nampak bayangan berkelebat di balik tubuh Hao Yu dan segera sinar keperakan menyambar kearah tubuhnya.


"Trang!!" Hao Yu yang sudah berwaspada dan menduga hal ini segera mencabut golok untuk menangkis.


Tak berselang lama, berturut-turut nampak sebelas bayangan lain yang langsung menyerbu mereka. Maka Hao Yu dan Xiao Lian segera mainkan senjata untuk menangkis setiap serangan lawan.


"Trang-Trang-Trang!!" gadis itu mainkan pedangnya dengan hebat sekali. Bagaikan menari, dia meliuk-liuk untuk mengirim serangan maut ke selusin orang tersebut. Namun dengan mudah saja mereka mampu menangkisnya.


Sedangkan Hao Yu, pria berlengan satu ini juga mainkan golok dengan amat lihainya. Gulungan sinar goloknya itu selalu berputar-putar di sekeliling tubuh, melindungi setiap hujan senjata yang datang.


Hingga beberapa menit, pengepungan selusin orang itu sama sekali tidak melonggar dan membuat Hao Yu serta Xiao Lian terperangkap di tengah-tengah. Mereka berdiri saling beradu punggung untuk menjaga satu sama lain.


"Siapa kalian!!" bentak Hao Yu.


"Tak kusangka kalau Xiao Lian, nona keluarga Xiao akan melakukan hubungan gelap dengan pebgawalnya sendiri..." ucap seorang pengepung itu yang berhasil membikin pucat wajah Hao Yu dan Xiao Lian.


"Untung kami datang, jika tidak, entah apa yang akan kalian lakukan di hutan ini." ucap orang lainnya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Sial, mereka sudah tahu identitas kami!" umpat Hao Yu dalam hati.


"Kalian mau apa!!" kali ini Xiao Lian angkat suara.


"Menangkapmu nona, untung bahwa pemimpin tidak menyuruh membunuh engkau. Sehingga kami bisa sedikit, eh....bermain-main?" jawab salah seorang pria dengan tatapan kurang ajar.


"Namun untuk pengawalmu itu, agaknya tak masalah jika dimatikan. Walaupun sebenarnya juga tak perlu juga sih." lanjut pria tersebut.


"Xiao Lian, bagaimana ini?" bisik Hao Yu kepada gadis itu. Agaknya dia sudah terbiasa dengan panggilan baru tersebut.


"Buka jalan untuk kabur. Tak ada pilihan lain." jawab gadis tersebut.


Tiba-tiba, terdengar seruan keras dari salah satu pengepung. Sedetik kemudian, mereka semua segera menyerang kembali.


"Ayo lari!!" seru gadis tersebut.


Mereka berdua mengamuk sekuat tanaga, memutar senjata untuk melindungi diri, merupakan sinar-sinar putih berkilauan yang selalu bergerak ke sekeliling tubuh dua orang itu. Pertahanan ini sungguh kuat, karena selain untuk melindungi diri sendiri, juga untuk melindungi satu sama lain.


Diam-diam repot juga para pengeroyok itu untuk menembus pertahanan dua orang Xiao ini. Saking kesalnya karena tak mampu menembus pertahanan itu sedari tadi, salah satu dari mereka memaki.


"Bangsat!! Cepat menyerah jika ingin hidup!!"


Namu hal inilah salahnya. Karena dia berteriak keras seperti itu, otomatis ada secuil celah yang tidak diperhatikannya. Namun itu sudah cukup bagi Hao Yu untuk menyadari hal itu.


"Hiaaatt!!" Hao Yu memekik keras dan menebaskan goloknya.


Orang itu terkejut, menangkus golok Hao Yu dengan goloknya sendiri. Namun karena tadi sedikit lemah, dia terhuyung-huyung ke belakang.


"Ayo!!" Hao Yu berseru sembari menarik pergelangan tangan Xiao Lian. Mereka berhasil lolos dari kepungan itu berkat jatuhnya salah satu pengeroyok.


"Kejar!!" perintah pemimpin pengeroyokan.


Terjadilah kucing-kucingan di dalam hutan itu. Hao Yu yang cerdik sengaja berlari berbelok-belok dan menyelinap di balik rimbunnya pohon dan semak. Membuat selusin orang itu sedikit kebingungan.


"Wah jurang!!" Hao Yu terbelalak memandang ke depan.


"Lompat!"


"Hah?"


"Kubilang lompat!! Ayo!!" kali ini Xiao Lian yang menarik Hao Yu untuk terjun ke jurang tersebut.


"Kau gila!!" terdengar teriakan nyaring ketika dua tubuh manusia itu meluncur ke bawah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2