
Pagi hari itu, Zhang Qiaofeng, Lin Tian dan Kim Chao berangkat meninggalkan kota tersebut yang diketahui bernama Kota Perak yang letaknya tak jauh dari Kota Sungai Putih. Pagi-pagi sekali, gadis itu memerintahkan semua pasukannya untuk pulang bersama Minghao dan Lu Jia Li, juga sekaligus untuk mengantar rombongan keluarga Hu.
"Untung sekali tidak ada yang tewas." antara lain gadis tersebut berkata kepada Lin Tian.
"Memang ledakan dari senjata rahasia milik Golok Penghancur Gunung tidaklah lemah, tapi waktu itu pasukan kita masih sempat mengelak dan hanya luka-luka saja." jawab Lin Tian.
Setelah selesai berkemas dan berpamit kepada Wang Su serta keluarga, mereka segera meninggalkan Kota Perak. Di tengah jalan, tiga orang itu berpisah dari rombongan karena memang jurusan yang akan dituju tidak sama.
Malam hari itu, Wang Su berjanji akan mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk bisa mencari sepasang kitab warisan itu. Dia juga menyatakan bahwa bantuan keluarga Zhang tidak perlu dilakukan karena hanya akan membebani Zhang Qiaofeng. Tapi gadis yang keras kepala ini tetap membantah dan akan tetap membantu.
"Benarkah kau masih ingat tempatnya Lin Tian" celetuk Zhang Qiaofeng di tengah perjalanan.
"Masih sangat ingat Nona." jawab singkat Lin Tian.
"Maafkan saya Nona dan Tuan, karena sudah merepotkan." ucap Kim Chao.
"Tak apa kek, aku senang bisa membantu." balasnya sambil tersenyum.
Perjalanan mereka tidaklah terlalu mulus dan lancar, karena selain harus naik turun bukit, mereka juga harus menghadapi penyerangan para bandit yang nekat menghadang jalan mereka. Entah mereka itu tak tahu atau memang tak mau tahu akan keberadaan pendekar bertopeng itu.
Cukup lama mereka bertiga melakukan perjalanan, sampai setelah beberapa hari kemudian, tibalah mereka disebuah kaki gunung yang cukup tinggi. Mereka membuat api unggun di sana untuk menghangatkan dinginnya malam hari, karena memang Zhang Qiaofeng memutuskan untuk bermalam di sana.
"Masih jauhkah Lin Tian?"
"Tidak Nona, hanya tinggal melewati gunung ini dan kita sudah sampai. Mungkin besok siang atau senja kita akan tiba di kuburan itu."
Zhang Qiaofeng hanya mengangguk saja sebelum akhirnya termenung memandang api unggun yang bergerak-gerak tertiup angin. Lin Tian pun juga melakukan hal yang sama karena dia tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Kim Chao sendiri hanya duduk jauh dari mereka, bersandar di pohon besar dan sepertinya tak lama lagi akan tertidur pulas.
Makin lama, keadaan Lin Tian dan Zhang Qiaofeng makin canggung, akan tetapi keduanya tetap bungkam dan hanya mampu memandangi api unggun yang sesekali harus ditambah kayu bakar agar tidak mati.
"Lin Tian..." tiba-tiba gadis itu berkata. Membuat Lin Tian sedikit terkejut dan memandang kepadanya.
"Menurutmu...apa aku pantas untuk menjadi pemimpin keluarga Zhang?" tanya gadis tersebut tanpa mengalihkan perhatian.
Sontak Lin Tian kaget mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang sungguh tiba-tiba dan tidak masuk akal.
"Maaf, apa maksud anda Nona?"
Zhang Qiaofeng tersenyum pahit, namun tetap menjawab juga, "Kau tentu tahu, aku ini bukanlah seorang yang kuat, bahkan dengan kakak Lu saja aku masih kalah, apalagi untuk dibandingkan denganmu dan paman Minghao. Tapi, kakek memaksaku untuk menjadi pemimpin dan jujur saja, aku tidak tahu apa yang semestinya dilakukan seorang pemimpin."
__ADS_1
Lin Tian terbelalak di balik topengnya. Tak pernah disangkanya bahwa Nonanya itu akan menampakkan ekspresi sedih untuk kedua kalinya hari ini. Padahal selama ini dia tak pernah melihatnya seperti itu kecuali ketika kematian orang tuanya bertahun-tahun lalu.
"Tentu saja anda pantas untuk jadi pemimpin Nona. Lihatlah keluarga Zhang saat ini, selain dari Asosiasi Gagak Surgawi, kita juga berhasil merekrut banyak pendekar-pendekar hebat! Bukankah itu karena hasil kepemimpinan anda?" jawab Lin Tian.
"Kau pasti tahu Lin Tian, mereka bergabung dengan keluarga Zhang adalah karena adanya dirimu dan kakek yang berhasil melukis nama besar di balik peristiwa Runtuhnya Tongkat Budiman. Buktinya, sebelum aku bertemu denganmu, aku sama sekali tidak berdaya untuk membangun keluarga Zhang..." jawabnya dengan senyum makin pahit.
Hati Lin Tian serasa diremas mendengar ucapan gadis tersebut, terlihat jelas sebuah keputus asaan di balik mata lebarnya itu, mata yang setiap harinya selalu bersinar terang, kali ini seolah-olah seperti tertutup awan mendung yang pekat. Dia tak mau melihat Nonanya seperti ini!
"T-tapi Nona, bergabungnya Asosiasi Gagak Surgawi dan Minghao, itu karena adanya diri anda Nona!" Lin Tian masih mencoba menyakinkan dan menyemangati gadis tersebut.
"Benar...kau benar...tapi bergabungnya kakek Gong Fai, bibi Yin, persahabatan dengan keluarga kaisar, keluarga Hu dan Xiao, siapa yang berbuat hal itu?" gadis ini menoleh kepada Lin Tian dan tersenyum, entah senyum apa itu.
"Lin Tian, karena kakek memaksaku menjadi pemimpin, aku tak mampu melawan. Tapi sekarang aku adalah seorang pemimpin, kukira kau lebih pantas untuk--eh, L-Lin Tian?"
Sebelum ucapan gadis itu selesai, Lin Tian yang sudah mampu menebak kemana arah pembicaraan segera bangkit dan berlutut di dekatnya, sikapnya hormat sekali.
"Nona...mohon jangan katakan hal itu...jangan membuat kecewa kakek dan ayah anda."
"Lin Tian...mungkin keadaanku saat ini sudah membuat mereka kecewa. Aku lemah, tak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan orang lain, kau lihat sendiri kan saat aku tak mampu melawan ketika diculik oleh Sie Lun. Karena itulah, sebagai pemimpin aku akan menunjuk kau Lin Tian, pengawal pribadiku untuk naik ke kursi pemimpin dan menggantikan aku. Kiranya tak akan ada yang menolak dengan hal itu." gadis itu tersenyum dan berkata dengan halus sekali.
"Kau jauh lebih pantas dari aku Lin Tian. Semenjak kita bertemu lagi, aku sudah tahu akan hal ini." lanjutnya dan matanya mulai berlinang air mata.
Lin Tian terdiam, tak mampu menjawab perkataan gadis itu. Akan tetapi dia tak berani bangun dan tetap berlutut.
"Nona....jika aku sudah menjadi pemimpin, lalu bagaimana dengan anda?" tanya Lin Tian penuh getaran.
"Aku akan pergi dari keluarga Zhang, tak perlu lagi aku tinggal di sana. Tentu saja secara diam-diam, karena kakek pasti tak akan memperbolehkan aku pergi dengan mudah heheh." jawabnya dengan terkekeh untuk menutupi kesedihannya. Namun matanya tiba-tiba terbelalak ketika melihat Lin Tian sudah bersujud di hadapannya.
"Mohon...jangan Nona...jangan seperti itu...anda sangat pantas untuk menjadi pemimpin dan tidak seharusnya anda berkata seperti itu. Nona, aku hanyalah pengawal pribadi yang boleh dibilang sebagai tangan kanan, tapi anda adalah pemimpin, anda adalah kepala!! Bagaimana pun juga, tangan kanan tak akan pernah bisa untuk menjadi kepala, dan jika kepalanya tidak ada, maka tangan kanan pun tak akan ada gunanya!! Karena itulah Nona, mohon tarik kembali semua ucapan mengerikan itu...." sambil bersujud Lin Tian berkata.
Sungguh dia bukan seorang yang gila kekuasaan seperti itu. Di lain sisi, dia pun tak ingin berada jauh-jauh dari Nonanya. Jika benar ketika dia jadi pemimpin dan gadis itu akan pergi, maka dapat dipastikan, selamanya dia tak akan pernah bisa lagi untuk melihat sosok gadis yang paling ia kagumi itu.
"Lin Tian, kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah aku Nonamu dan ini adalah perintahku!!?" gadis itu berkata dengan suara sedikit tinggi. Namun jika seandainya Lin Tian tidak bersujud dan mampu melihat wajahnya, dia akan melihat betapa dua kelopak mata gadis itu sudah dipenuhi air mata tanda kesedihan dan keharuan hebat.
Dan ini merupakan pertanyaan terakhir, pertanyaan yang akan menentukan segalanya. Semua tergantung kepada jawaban Lin Tian. Setelah itu, dia akan memutuskan apakah Lin Tian akan ia angkat sebagai pemimpin atau tidak.
Lama tak terdengar jawaban dari pemuda itu, dan selama itu pula mereka tidak sadar bahwa Kim Chao terbangun dari tidurnya dan diam-diam memandang penuh perhatian. Namun tentu saja masih dalam keadaan pura-pura tidur.
"Nah...apa jawabanmu anak muda?" Kim Chao bertanya dalam hati.
"Aku....aku...." Lin Tian nampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Jawab!!! Sebagai seorang lelaki, apa-apaan dengan ucapan penuh keraguan seperti itu!!!" Zhang Qiaofeng membentak keras.
"Aku menolak perintah Nona!! Dengan keras aku menolak!! Dahulu saya pernah bersumpah bahwa aku akan terus melindungi Nona dan keluarga-keluarga Nona ketika anda sudah menjadi Nyonya. Jika aku menjadi pemimpin dan anda pergi dari keluarga Zhang, bagaimana cara saya untuk memenuhi sumpah saya sendiri?" Lin Tian menjawab dengan tegas.
Zhang Qiaofeng makin terbelalak mendengar jawaban itu, sungguh di luar dugaan. Dia memang sudah mengenal betul akan kesetiaan Lin Tian kepada keluarga Zhang, namun jika seandainya Lin Tian menjadi pemimpin, bukankah dengan itu dia bisa mewujudkan kesetiaannya?
"K-kenapa kau menjawab seperti itu? Kau ingin memberontak dengan menolak perintahku!?" Zhang Qiaofeng bertanya lagi, namun dengan nada yang sedikit melunak.
"Saya tak ingin memberontak dan akan terus setia terhadap keluarga Zhang!!"
"Jika kau menjadi pemimpin, kau tidak memberontak dan bisa mewujudkan kesetiaanmu untuk keluarga Zhang!!"
"Aku ingin terus bersama Nonaa!!" akhirnya Lin Tian berteriak. Namun sesaat kemudian, terlihat kedua pundak pemuda itu sedikit terguncang, agaknya ucapan ini spontan diucapkan dan benar-benar di luar kehendaknya sendiri.
Mata Zhang Qiaofeng dan Kim Chao terbelalak seolah-olah hampir keluar dari tempatnya. Jawaban macam apa itu? Jika seandainya ucapan itu ditujukan kepada orang lain, mungkin Lin Tian sudah dihukum penggal karena bersikap kurang ajar.
"Bukan main....!! Lelaki sejati....!!" batin Kim Chao yang diam-diam merasa kagum akan jawaban Lin Tian.
Merah sekali kedua pipi Zhang Qiaofeng, namun karena adanya api unggun yang sinarnya sudah cukup membuat merah wajahnya, sehingga kedua pipi yang merona itu tidak tampak terlalu mencolok.
"B-baiklah kalau begitu....a-a-aku tak akan pergi ketika kau jadi pemimpin. Aku, Zhang Qiaofeng, akan menjadi pengawalmu."
"Tidak!! Aku ingin anda menjadi Nonaku, bukan pengawalku!!" Lin Tian menjawab cepat dan sepertinya ucapan ini juga keluar dengan spontan. Membuat Lin Tian mengumpat di dalam hati akan kebodohannya sendiri.
Sedangkan Zhang Qiaofeng, seluruh wajah sampai ke lehernya sudah memerah semua. Semua perasaan bercampur aduk. Haru, senang, malu, semua bercampur menjadi satu, membuat dirinya gugup bukan main.
"N-n-nonamu....a-apa maksudmu!?" gadis itu bertanya dengan nada ketus yang dibuat-buat. Padahal di dalam hatinya, dia sangat senang Lin Tian berkata seperti itu dengan tegas dan mantap.
Lin Tian yang sadar akan kekeliruannya, segera menjawab. Namun hanya lirih saja karena dirinya pun sudah terlampau malu karena keceplosan tadi.
"Maafkan atas kelancangan saya Nona."
"Hmph!!" gadis itu mendengus dan membuang muka.
"N-nona...?"
"Apa!!?"
"Mohon jangan turun dari kursi pemimpin dan tetaplah menjadi Nona kami, Nona dari keluarga Zhang."
"Ck, kali ini kuturuti apa maumu!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG