Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 42. Pengangkatan Pemimpin Baru


__ADS_3

Setelah kedua pendekar bertopeng itu lenyap, para pendekar dan petugas keamanan yang ada di sana langsung bersorak-sorai merayakan kemengan.


"Kita menaaaang...!!!"


"Hidup Pemimpin Hu Tao!!"


Teriak mereka membelah kesunyian malam. Sedangkan untuk Hu Tao sendiri, dia akhirnya mampu bernafas lega setelah sebelumnya terlibat pertarungan yang demikian hebat dan melelahkan.


Untuk Lin Tian, melihat kedua orang itu sudah pergi, pemuda ini lekas duduk bersila untuk bermeditasi memulihkan tenaganya. Dia juga berusaha menghentikan pendarahan pada lukanya dengan cara mengalirkan tenaga dalam pada luka-luka itu.


Dadanya masih terlihat naik turun dan nafasnya juga belum teratur. Agaknya pemuda ini telah menderita luka luar dan luka dalam yang tidak ringan.


"Alirkan tenagaku ini ke seluruh tubuhmu."


Lin Tian terkejut ketika secara tiba-tiba mendengar suara seseorang tepat di belakangnya. Akan tetapi dirinya langsung sadar jika suara itu berasal dari biksu tua tadi.


Tak lama setelah ucapan itu berhenti, Lin Tian merasa kedua pundaknya disentuh oleh biksu itu dan hawa hangat sekaligus nyaman memasuki tubuhnya. Pemuda ini cepat mengalirkan tenaga pinjaman itu ke seluruh tubuh sesuai nasihat pria tua tersebut.


Hanya dalam beberapa detik saja, semua luka di tubuh Lin Tian baik luka luar maupun dalam, kini sudah jauh lebih baik. Melihat hal ini, Lin Tian diam-diam merasa kagum atas pertolongan kakek biksu itu.


Setelah merasa kondisinya sudah baik, Lin Tian kemudian berdiri dan langsung membungkukkan badan untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada biksu di depannya.


"Terima kasih senior." katanya singkat.


"Tidak apa. Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai manusia yang harus saling tolong menolong antar sesama." jawab kakek itu sambil memasang senyum ramah.


Ketika Lin Tian memandang, makin kagumlah hatinya melihat keadaan biksu ini. Dari luar, dia memang hanya terlihat seperti seorang lelaki tua renta, akan tetapi setelah menghadapi perterungan sengit melawan topeng merah yang dia sebut sebagai salah satu Pilar Neraka, biksu ini sama sekali tidak terlihat terluka atau kelelahan.


"Sehebat apakah Empat Dewa Mata Angin itu?" tanya Lin Tian kepada diri sendiri.


"Saya ucapkan terima kasih kepada senior yang masih sudi datang kemari memberi bantuan untuk menghajar para pengkhianat itu." ucap Hu Tao yang sudah sampai di sana.


Kakek tua itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Untuk para penyerang yang masih hidup, Hu Tao memutuskan untuk menjatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ada beberapa orang yang masih memberontak, akan tetapi mereka ini langsung dubunuh oleh tetua pertama.


Pria tua itu agaknya benar-benar menaruh kebencian besar terhadap para pengkhianat tersebut.

__ADS_1


"Bagus, ayo melawanlah agar aku punya alasan kuat untuk memecahkan kepala kalian!!"


...****************...


Di dalam sebuah hutan lebat, terlihat dua orang pendekar berjubah serba hitam. Satu orang memakai topeng merah dan satu orang memakai topeng putih.


"Bangsaatt...!! Boomm" sebuah pohon yang lumayan tinggi tumbang seketika akibat menerima kemarahan topeng merah.


"Kenapa si gundul itu ada di sana!?? Sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak menunjukkan diri, kenapa sekarang malah muncul di saat yang tidak tepat!??" teriaknya penuh kemarahan.


Si topeng putih yang melihat dari samping hanya mampu terdiam tak bisa berkata-kata. Dia tahu jika gurunya sudah marah seperti itu, tak akan ada yang bisa menghentikannya.


Akan tetapi saat ini ada alasan lain yang membuatnya diam seperti itu. Si topeng putih ini hatinya terasa panas mengingat dia tidak bisa mengalahkan Hu Tao bersama pendekar misterius itu. Padahal selama ini hanya ada segelintir orang saja yang mampu menandinginya.


"Apa-apaan mereka itu, masih bocah saja sudah memiliki kemampuan selihai itu, apalagi ketika nanti sudah dewasa. Lalu siapa sebenarnya pendekar bertopeng itu, mengapa dia bisa sedemikian lihai?" batin topeng putih bertanya-tanya.


Setelah itu si topeng putih membuka topengnya. Terlihat di disana sebuah wajah tampan berkulit putih halus dengan hiasan tahi lalat kecil di sebelah kiri matanya. Pria ini menghela nafas panjang begitu topengnya terlepas dari wajah.


"Zhang Heng, untuk sementara kita akan kembali ke markas!!" perintah topeng merah kepada muridnya.


"Baik guru." jawabnya penuh kepatuhan.


"Untuk selanjutnya, kita tak boleh sampai gagal lagi!! Golongan hitam harus bisa menguasai dunia! Dan langkah awal untuk tujuan itu adalah dengan cara menguasai ketujuh keluarga penguasa!! Ayo kita pulang." setelah itu dirinya berkelebat pergi dari sana.


Zhang Heng juga tak tinggal diam, melihat gurunya sudah melompat jauh, dia pun segera melesat cepat untuk menyusul.


...****************...


Pagi hari itu di jalanan Kota Sungai Putih terlihat banyak sekali para penduduk kota yang berbondong-bondong pergi ke kediaman keluarga Hu.


"Hei ada apa ini? Kenapa mereka begitu antusias pergi ke kediaman pemimpin?" tanya salah seorang warga yang terlihat baru bangun tidur kepada warga lain.


"Kabar baik!! Dengan kepergian Hu Kai sialan itu,Tuan muda Hu Tao memanfaatkan situasi ini dan menjadi pemimpin keluarga Hu yang baru!!" teriak orang itu dengan penuh semangat.


"Wah yang benar??? Bagus!!!" ucap orang pertama yang langsung hilang rasa kantuknya dan bergegas pergi pula ke kediaman keluarga Hu.


Di halaman depan kediaman itu, terlihat barisan para petugas keamanan yang berdiri berjejer dengan sikap gagah dan rapi. Mereka ini memang sejatinya adalah para petugas yang masih berada di bawah pimpinan keluarga Hu. Sehingga Hu Tao memerintahkan mereka untuk menjaga keamanan selama upacara berlangsung.

__ADS_1


Di depan gerbang gedung megah itu, sudah berkumpul banyak sekali penduduk kota yang berebut posisi paling depan untuk bisa melihat pemimpin baru mereka.


Memang Hu Tao adalah anak kandung dari Hu Kai yang terkenal sebagai seorang pemimpin penindas rakyat. Akan tetapi, nama Hu Tao di mata penduduk jauh berbeda dengan ayahnya.


Hu Tao terkenal dengan sikap lemah lembutnya. Sehingga membuat para penduduk diam-diam mengharapkan pemuda itu yang menjadi pemimpin menggantikan ayahnya.


Sekarang, impian itu terkabulakan. Siapa yang tidak akan merasa senang?


Setelah beberapa menit berlalu, Hu Tao keluar dari kediamannya dan naik ke atas sebuah panggung kecil yang sengaja di buat untuk acara hari ini.


Begitu pemuda itu keluar, terdengar sorak sorai penduduk kota seraya memberi tepuk tangan meriah. Yang paling terdengar jelas adalah teriakan suara perempuan. Hal ini wajar karena wajah Hu Tao yang putih pucat itu malah menambah kadar ketampanannya, hal ini tentu saja membuat para kaum wanita tergila-gila padanya.


"Baiklah, untuk para penduduk Kota Sungai Putih." terdengar ucapan Hu Tao yang berwibawa serta menggema karena pengerahan tenaga dalam. Seketika, suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi senyap.


"Hari ini aku, Hu Tao, akan menggantikan posisi ayah sebagai pemimpin keluarga Hu juga sekaligus pemimpin Kota Sungai Putih ini. Aku juga ingin meminta maaf atas segala kekejaman dan penindasan yang dilakukan oleh ayahku dahulu. Aku berjanji, mulai hari ini, akan kubawa kota tercinta kita ini menjadi lebih maju dan lebih baik lagi!!"


Tepat ketika Hu Tao menghentikan ucapannya, kembali terdengar suara riuh rendah dari para penduduk.


"Hidup pemimpin Hu Tao."


"Hidup keluarga Hu...!!"


Kemudian, beberapa saat lamanya Hu Tao memberi sedikit pidato untuk membangkitkan kembali semangat dan rasa kesetiaan para penduduk yang dahulu sempat hancur karena masa pemerintahan Hu Kai.


Dia meminta kepada para penduduk Kota Sungai Putih ini untuk kembali mematuhi keluarga Hu sebagaimana mestinya.


"...kalau begitu terima kasih atas perhatian semuanya dan aku mohon pamit." kata Hu Tao mengakhiri pidatonya.


Ketika pemuda itu membalikkan tubuh dan pergi dari sana, langkahnya diiringi dengan tepukan tangan warga kota. Hu Tao merasa amat senang karena ternyata mereka masih memiliki kepercayaan terhadap keluarga Hu.


Akan tetapi hanya sebentar saja rasa senang itu, tak lama kemudian keningnya berkerut dan pandang matanya berubah sangat serius.


"Ini belum berakhir! Ini baru permulaan." gumam pemuda itu pada diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2