Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 36. Awal dari Perubahan


__ADS_3

Tak lama setelah itu terdengar suara lengkah kaki yang datang tergesa-gesa ke kamar itu. Ternyata mereka adalah para pelayan gedung itu.


"Ibu!" teriak seorang pelayan yang tadi tertidur di kursi kasir lantai bawah.


"Nyonya!"


Kemudian tujuh orang gadis cantik datang membuka pintu ruang itu dengan tergesa-gesa. Ketika pintu terbuka, sontak wajah tujuh gadis itu memucat ketika melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya.


Terlihat di ruang itu, banyak sekali genangan darah yang menghiasi setiap sudut kamar. Bahkan cairan merah itu ada yang terlihat menyiprat di dinding kamar.


Melihat di atas kasur itu, Yin Yin hanya duduk ketakutan sambil menangis. Sontak ketujuh gadis itu langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya.


"Ibu....ada apa ini?" tanya gadis pelayan itu kepada Yin Yin yang ternyata adalah ibunya.


Akan tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir merah wanita itu. Hanya terdengar isak tangisnya yang menyayat hati.


Melihat hal ini, tahulah ketujuh orang itu bahwa Nyonya mereka baru saja telah mengalami kejadian yang luar biasa. Sehingga mereka tidak lagi berkata apa-apa dan hanya bisa menenangkan wanita kepala tiga itu.


...****************...


Di sebuah hutan kecil, lebih tepatnya hutan di sudut kota. Terlihat di sana asap hitam mengepul tinggi dari tengah rimbunya pohon tersebut. Akan tetapi karena hari sudah gelap, ditambah malam sudah sangat larut, tidak ada satupun orang yang menyadari hal itu.


Orang yang menimbulkan asap ini ternyata adalah Lin Tian. Dan apa yang sedang ia bakar itu? Itu adalah keenam mayat lelaki bejat tadi.


Setelah membantai mereka semua, pemuda ini lalu membawa mayat mereka ke hutan ini untuk dibakar agar tidak menimbulkan jejak apapun.


Sekarang Lin Tian bukan seperti dirinya yang biasanya. Lin Tian yang biasanya selalu sabar dan perhitungan itu saat ini dia seperti menjelma menjadi sesosok iblis. Lin Tian yang biasanya, tak mungkin dia akan langsung turun tangan dan membantai mereka, pemuda itu pasti akan melumpuhkan dan menginterogasi mereka terlebih dahulu.


Sekarang dia sedikit menyesal karena tidak mendapat informasi apa-apa dari keenam orang itu. Padahal mungkin saja keenam orang itu tahu akan seluk beluk kota ini yang sudah berubah bagaikan sarang penjahat.


Dia juga menyesal telah bertindak sekejam itu tanpa pikir panjang terlebih dahulu


"Hah....apa-apaan aku ini?" tanya Lin Tian seorang diri.


Pemuda inipun juga tidak sadar mengapa dirinya menjadi sangat emosional ketika melihat wanita itu hendak diperkosa.


Memang kemarahannya akan selalu timbul jika seandainya dia melihat kasus seperti itu. Akan tetapi biasanya dia tidak akan sampai sebrutal ini.


Dahulu ketika keluarga Zhang belum hancur, Zhang Qiaofeng pasti selalu ada untuknya jika dia hendak lepas kendali ketika mendengar berita pemerkosaan dari warga sekitar. Gadis itu selalu menenangkannya dengan sabar dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Akan tetapi sekarang, dia sendirian dan Zhang Qiaofeng sedang tidak bersamanya. Itu artinya, Lin Tian saat ini bisa diibaratkan seperti seekor singa yang lepas kandang!!


"Dahulu ada Nona muda yang selalu menahanku untuk turun tangan akan masalah ini. Tetapi sekarang...ketika dia tidak ada bersamaku....hah....ternyata aku semengerikan ini." ucap Lin Tian seraya memandang kedua telapak tangannya.


"Sekejam inikah diriku? Atau karena terlalu tertekan akibat tidak bisa segera bertemu dengan Nona muda dan membuatku menjadi seperti sekarang? Hah...sepertinya aku sudah gila." kembali dia berkata sambil menggelengkan kepala.


Setelah beberapa menit dan mayat itu sudah benar-benar menjadi abu, Lin Tian kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke penginapannya.


Saat melewati gedung tiga lantai itu, dia tidak melihat adanya keanehan di sana. Bangunan itu masih terlihat sama seperti sebelumnya, tenang dan sepi.


Pemuda itu tidak memperdulikannya dan tetap berjalan santai untuk kembali ke tempat tujuan awal.


Lin Tian tidak tahu, jika dari atas sana terlihat beberapa orang yang sedang melihatnya di balik jendela kamar.


Orang itu bukan lain adalah Yin Yin bersama putri dan para pelayannya.


"Itulah orangnya, yang datang dan membantai mereka semua." kata Yin Yin dengan suara serak. Matanya masih terlihat merah setelah sekian lama menangis akibat melihat kejadian yang baru saja ia alami.


"Orang itu...aku ingat dengannya!" seru salah seorang gadis.


"Ya aku juga, kemarin bukankah dia yang datang ke sini dan mengacaukan kedai?" timpal gadis lainnya.


Mereka semua serentak menganggukkan kepala dan menjawab serempak, "Baik Nyonya!"


...****************...


Empat hari kemudian, akhirnya hari yang dinanti-nantikan telah tiba.


Pagi itu terlihat Hu Kai dengan ditemani Si Cantik Setan Kembar pergi meninggalkan Kota Sungai putih bersama tiga puluh orang pengawal keluarga Hu.


Lin Tian mengikuti pergerakan mereka dari atas genteng rumah-rumah penduduk. Karena di sana terdapat dua orang Pilar Neraka, Lin Tian tidak ingin bertindak gegabah dan memilih mengawasi mereka dari kejauhan.


Pemuda itu sama sekali tidak tahu apa tujuan kepergian pemimpin keluarga Hu itu. Akan tetapi dia tidak peduli! Yang jelas, tujuannya saat ini adalah untuk membantu Hu Tao mengambil posisi pemimpin keluarga.


Setelah seperempat jam berlalu, rombongan itu akhirnya sampai di gerbang kota.


Setelah memastikan rombongan itu benar-benar sudah keluar dari Kota Sungai putih, Lin Tian segera melesat menuju kuil perguruan Tapak Sakti sesuai yang sudah dijanjikan malam itu.


Ketika tiba di sana, ternyata mereka semua sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangannya.

__ADS_1


"Akhirnya kau datang juga." kata Hu Tao menyapa saudaranya itu.


"Maaf membuat kalian menunggu."


"Tak apa. Baiklah, semua sudah berkumpul, kita akan mulai menyusun rencanya!!" Hu Tao berucap tegas dan berwibawa.


Mereka kemudian duduk bergerombol membentuk lingkaran besar di halaman depan penjara itu untuk memikirkan strategi penyerangan yang rencananya akan dilaksanakan tengah malam nanti.


Hu Tao duduk di tengah-tengah gerombolan. Dia dengan antusias mendengarkan pendapat-pendapat dari para tetua dan pendekar yang ada di sana.


Memang cocok sekali pemuda itu untuk menjadi pemimpin. Dia sama sekali tidak tergesa-gesa dalam membuat keputusan dan lebih memilih untuk meminta pendapat kepada para bawahannya terlebih dahulu.


Hal ini tentu saja membuat semua orang yang ada di sana termasuk Lin Tian merasa kagum. Benar-benar seorang pemimpin yang sangat bijaksana, demikianlah pikir mereka.


Hingga berjam-jam lamanya mereka duduk bergerombol untuk memikirkan rencana itu. Dan ketika malam tiba, barulah mereka berhasil menyusun rencana yang paling cocok untuk situasi saat ini.


Hu Tao bangkit berdiri dan berkata, "Baiklah, kita akan gunakan rencana itu. Kalau begitu, tengah malam nanti kita akan menyerbu mereka. Untuk sekarang persiapkan mental kalian, mungkin akan ada beberapa orang dari pihak kita yang tidak akan pernah lagi melihat matahari besok."


"Apa kalian siap, jika seandainya malam ini akan menjadi malam terakhir kalian bisa bernafas?" Hu Tao bertanya sungguh-sungguh.


"Kami siap!!"


"Untuk Tuan muda dan keluarga Hu, kami siap mati kapanpun dan di manapun!!"


"Jika kematian kami bisa mengembalikan keluarga Hu seperti dulu, kami rela untuk mati ratusan kali!!"


Teriak mereka saling sahut-menyahut dengan semangat membara.


Lin Tian diam-diam memuji mereka dalam hati. Dia tidak menyangka jika rasa setia mereka terhadap keluarga akan sebesar itu. Tapi memang begitulah seharusnya, seorang pendekar tak boleh takut akan kematian selama dia berada di jalan yang benar.


Melihat semua ini, mengingatkan Lin Tian akan Zhang Qiaofeng dan keluarga Zhang. Makin dipikirkan, makin besar rasa rindunya kepada Nona muda cerewet itu.


Pemuda itu tersenyum kecil di balik topengnya. Dia berjanji kepada diri sendiri mulai hari ini sampai seterusnya, rasa setianya terhadap keluarga Zhang tak akan kurang daripada semua orang ini.


"Haha...sungguh pendekar-pendekar sejati. Aku yang sebagai pengawal pribadi merasa iri kepada kalian yang masih punya kesempatan untuk mati membela keluarga. Sedangkan aku...melindungi satu orang saja tidak becus!" gumam Lin Tian dalan hati kecilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2