Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 246. Siasat


__ADS_3

Beruntung dari bentrokan dua bidadari itu, tidak menimbulkan korban jiwa. Orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya mengalami luka-luka saja, sungguh pun tak jarang yang mengalami luka parah.


Betrokan itu berhenti ketika Kiam Bong dan Xu Cin Keng datang ke lokasi dan meninju anak-anak murid mereka. Mereka datang dengan wajah merah dan mata melotot marah. Saat itulah bentrokan berhenti dan kedua pemimpin saling memaafkan dan menganggap kejadian ini sekesai.


Zhang Heng, selaku ketua tak mau ambil peduli karena menganggap bahwa itu adalah urusan masing-masing perkumpulan. Zhang Heng yang terlalu angkuh tak merasa berhak ikut campur.


Cukup memuaskan walaupun hasilnya tidak maksimal. Tujuan awal Lin Tian adalah untuk mengadu dua perkumpulan, bukan hanya dua bidadarinya saja. Tapi dengan dua bidadari itu yang salih memusuhi, maka makin mudah dia melanjutkan rencananya. Bahkan saat ini keadaan Fu Hong dan Sung Hwa makin tegang.


Hari itu, Lin Tian mendengar kabar bahwa kekaisaran Song sedang ribut. Hal itu adalah karena Kauw Jin, anak menteri itu mengacau di markas Zhang karena calon istrinya lenyap. Mendengar kabar ini, diam-diam dia tersenyum senang. Tapi di lain sisi, kekhawatiran menyelimuti hatinya karena berpikir nonanya tak selamat di lautan.


"Tidak mungkin, nona pasti selamat!" ucapnya menyakinkan diri sendiri dengan gelengan kepala kuat-kuat.


Dia mengetuk pintu tiga kali dan terdengar sahutan dari dalam sana yang menyuruhnya untuk masuk. Segera dia menuruti perintah itu untuk menemukan pemimpinnya, Zhang Heng.


"Lin Tian, duduk." ucapnya singkat dan Lin Tian mengambil tenpat duduk di sebelah A Tong.


Kabar mengenai A Tong yang bertemu dengan Hantu Merah dan diganggu oleh kakek aneh berjuluk Pengelana Tanpa Bayangan sudah sampai ke telingan Zhang Heng sejak lama. Tentu saja Zhang Heng menjadi marah sekali karena rahasia Iblis Tiada Banding telah terkuak.


Dan kali ini, mengesampingkan hal itu, Zhang Heng membahas akan keributan dua bidadari yang saling fitnah. Soal penyusup yang dibunuh Lin Tian, yang menurut penuturan Lin Tian memakai seragam Pedang Hitam. Dan pembunuh pelayan Sung Hwa yang mengenakan jubah panjang.


Semua itu dibicarakan pada diskusi kali ini yang nampak sangat serius juga penting. Ketika Zhang Heng meminta pendapat Lin Tian, dengan tegas Lin Tian menjawab.


"Ketua, aku pikir mungkin kita telah diadu domba oleh seseorang. Orang yang kubuang ke jurang itu mungkin bukan anggota Pedang Hitam, sedangkan yang membunuh pelayan Sung Hwa bukanlah dari Pedang Hitam pula."


"Maksudmu?"


"Entahlah, setelah aku menyelidiki kedua perkumpulan itu, tak ada yang aneh. Tapi...ah, aku merasa saat ini kita sedang dipermainkan."

__ADS_1


Lin Tian lantas menunjuk kursi yang diduduki oleh Zhang Heng. Tentu saja hal ini membingungkan mereka semua.


"Ada apa?" tanya Zhang Heng kemudian.


"Kau sendiri sudah hafal dengan sifat ingin menguasai dari gurumu. Dan kau bilang bahwa gurumu dan kau ingin berbagi wilayah antara Selatan dan Utara. Kau jadi kaisar Utara sedangkan gurumu di Selatan. Benar begitu?"


"Benar, memang apa yang salah?"


"Apa kau pikir gurumu benar-benar ingin turun dari kursi pemimpin? Bukankah dia pikir, seolah-olah kali ini dia merasa menyerah akan mimpinya itu, agar kita semua lengah. Dan dari belakang layar, dia memanfaatkan kita untuk saling tikai di antara orang sendiri?"


Tak ada alasan bagi Lin Tian untuk terkejut saat orang tertua dari lima bersaudara itu bangkit dan memandangnya tajam. A Jiu menudingkan jari telunjuknya seranya mulutnya mengumpat sinis.


"Bocah kemarin sore, kau tahu apa soal organisasi ini? Mengapa kau menuduh yang tidak-tidak akan dirinya?"


Memandangnya dengan tajam dan sorot mata dingin, Lin Tian sama sekali tak tampak takut dengan gertakan itu. Justru sebaliknya, dia malah seperti terlihat menantang, "Pikir saja dengan akal, selama ini orang itu tak akan terima mundur sebelum mencapai cita-citanya. Bahkan dia sampai rela mempelajari ilmu racun dan sihir saat lima Raja Dunia Silat runtuh. Bukankah kalian sendiri yang cerita?"


Tidak ada satu pun alasan tepat yang bisa melawan argumen Lin Tian. Dilogika pun sudah dapat dimengerti bahwa Sian Yang yang berwatak tamak, tak akan dengan mudah meletakkan kursi pemimpin. Bahkan saat ini cita-citanya sebagai kaisar saja belum terwujud.


"Bagaimana ketua, kau paham maksudku bukan?"


Zhang Heng memandang Lin Tian dengan tajam, tak jarang dia merasa sedikit terancam akan kehadiran bocah itu. Tapi karena racun dari nenek siluman, dia mengeraskan hatinya bahwa kecerdikan Lin Tian selama ini bukan bersumber dari ingatannya yang tak hilang, melainkan memang bakat alami.


"Maksudmu, semua keributan dua perkumpulan itu adalah ulah guru?"


"Kemungkinan besar. Saat ini, Iblis Tiada Banding memiliki enam pendekar sejati, siapa yang berani mati untuk mengadu domba kita selain orang sendiri? Bahkan aku yakin sepenuhnya, baik pihak kekaisaran maupun pejuang, akan berpikir jutaan kali untuk melakukan tindakan ini."


Zhang Heng menunduk, menatap mejanya seolah mencari jawaban di sana. Otaknya ia peras untuk mengambil langkah terbaik pada masalah ini. Jika memang semua ucapan Lin Tian benar, maka hal itu akan sangat berbahaya bila Sian Yang masih tetap hidup.

__ADS_1


Karena saking serius dan tegangnya diskusi itu, sampai-sampai hanya Lin Tian seorang yang menyadari ada seseorang yang sedang menguping di balik pintu. Melihat dari aliran nafasnya yang tenang, Lin Tian dapat menduga orang itu adalah pendekar, tapi tak terlalu kuat seperti kebanyakan pendekar Iblis Tiada Banding.


Tiba-tiba Lin Tian bangkit dan beranjak dari sana seraya berkata singkat, "Mungkin hanya itulah pendapatku. Aku pergi dulu."


Tak ada yang menghentikan aksi Lin Tian ini, mereka semua terlalu larut dalam pikiran masing-masing.


Saat Lin Tian membuka pintu, dari arah kirinya, berjalan seorang pelayan yang kepalanya hampir gundul. Dia sedang berjalan membelakanginya seolah baru saja lewat di sana. Anehnya, firasat Lin Tian tidak mengatakan bahwa orang itu berbahaya atau ancaman, justru sebaliknya.


"Mungkin dia pelayan yang diambil paksa dari desa sekitar pantai." akhirnya dia menyimpulkan dan pergi dari ruangan tersebut.


...****************...


Lin Tian tadi mengatakan bahwa Sian Yang tidak mungkin benar-benar tulus menyerahkan kursi pemimpin Iblis Tiada Banding. Memang benar, tak bisa dikatakan salah. Tapi dikatakan benar pun belum sepenuhnya tepat sasaran.


Sebenarnya, Sian Yang masih ingin melanjutkan cita-citanya sebagai kaisar itu. Hanya saja dia memang sudah tak ingin repot melakukannya, karena itulah semua tugas tersebut diserahkan kepada muridnya. Maka sejak hari dimana dia turun dari kursi pemimpin, Sian Yang, Chan Fan, Naga Emas dan nenek siluman sudah tak mau mencampuri urusan organisasi.


"Apakah ini tindakan yang tepat guru?" tanya Naga Emas di ruangan Sian Yang.


Hanya helaan nafas panjang saja sebelum menjawab, "Tenang saja, dengan muridku yang lebih kuat, apa sukarnya menguasai seluruh daratan. Maka kita hanya membonceng saja."


Andaikan mereka tahu, bahwa saat ini di Iblis Tiada Banding, ada pergolakan besar yang timbul akibat adanya Lin Tian. Ucapan Sian Yang akan jadi omong kosong belaka, karena dia nantinya akan celaka oleh muridnya sendiri, Zhang Heng.


Dan semua itu, Lin Tian lah pelakunya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2