
Wanita itu terbaring lemas dengan mata melotot dan darah menyembut dari mulut. Kulitnya yang pucat dan dadanya yang tak bergerak naik turun itu membuktikan bahwa orang ini sudah tak lagi bernafas.
Tangan kirinya putus sebatas bergelangan tangan, lehernya menyemburkan darah banyak sekali dan jika dilihat, kepalanya miring dalam sudut yang tidak normal. Memang lehernya itu hampir putus.
A Yin, satu dari lima pendekar sejati Iblis Tiada Banding, tewas di tangan Si Gadis Hantu.
Zhang Qiaofeng rebah dengan nafas tak karuan seperti seekor ikan yang dilempar ke darat. Di leher kirinya, nampak luka gores memanjang yang mengucurkan darah.
Pisaunya di tangan kiri itu sudah patah sampai ke gagangnya, namun karena hal inilah nyawanya masih sudi untuk melekat pada raganya.
"Hah....untung saja....hampir saja aku mati...." gumamnya berulang-ulang seolah tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Tepat ketika pecut A Yin hampir menyentuh lehernya, Zhang Qiaofeng menggerakkan tangan kiri dan miringkan kepala. Menggunakan belatinya, dia berhasil menahan laju pecut itu agar tidak mengenai lehernya.
Belati pun patah, namun pecut A Yin mampu dibelokkan olehnya dan hanya menyerempet sedikit leher serta pundak. Namun sambitan kuat dari belati kanannya tadi benar-benar mampu memutuskan urat di leher A Yin.
Zhang Qiaofeng mendengar langkah kaki yang mendekat, dia melirik untuk menemukan Chong San dan Wang Ling Xue yang berjalan menghampirinya.
"Guru...senior....Lin Tian...tolong bantu Lin Tian...." ucapnya lirih dengan nada penuh kekhawatiran.
Chong San dan Wang Ling Xue saling pandang sejenak kemudian tersenyum. "Gadis manis, kenapakah kau mengkhawatirkan dia? Kulihat engkau tadi hampir bertengkar dengannya." Wang Ling Xue berkata.
"Tolong...tak ada waktu lagi..." ujar gadis itu kemudian.
"Oho...pertengkaran kekasih?" dengan senyum menyebalkan, Chong San berkata.
"Guru...jangan bercanda di saat seperti ini....dia...." belum juga ucapannya selesai, Zhang Qiaofeng sudah pingsan terlebih dahulu. Luka di pergelangan tangan, leher dan pundak benar-benar menguras darahnya dan membuatnya lemah. Akibatnya, tenaganya habis terkuras hanya untuk beberapa kata saja.
Chong San mengangkat tubuh Zhang Qiaofeng, kemudian Wang Ling Xue pergi menghampiri Kang Lim dan mengangkatnya pula.
Dalam gendongannya, Chong San berbisik, "Jangan remehkan kekasihmu itu bocah tolol! Ini pertarungan harga diri, jika aku ikut campur, bisa jadi dia akan membunuhku!"
"Dia pasti menang!" lanjutnya seraya mengelus kepala Zhang Qiaofeng.
...****************...
Entah sudah berjalan berapa lama pertarungan sengit antara dua musuh lama itu. Mereka bertarung dengan niat awal untuk memenangkan golongan masing-masing. Namun makin lama pertarungan berjalan, makin nampak jelaslah bahwa mereka bergerak dan menyerang berdasarkan api dendam.
Pekikan-pekikan yang mengiringi dentingan beradunya pedang mereka selalu menghiasi jalannya pertarungan. Cahaya kilat menyilaukan mata membuat semua orang harus menutup indera penglihat mereka tatkala hawa panas dan dingin beradu.
__ADS_1
Setelah ratusan jurus berlalu, dan melihat di sekitarnya sudah tak terlihat kawan-kawannya, dan hanya ada mayat bergelimpangan. Maka Zhang Heng dan Lin Tian menjadi makin ganas.
Mereka mengerahkan ilmu sampai ke tingkat maksimal, bahkan memaksa barisan pasukan itu untuk mundur beberapa langkah lagi.
"Swing!"
Lin Tian cukup terkejut dengan serangan Zhang Heng yang tak terduga ini. Gulungan sinar hitam terlihat menyambar begitu pria itu melemparkan pedangnya.
Lin Tian merunduk untuk menghindar dan cepat menubruk ke depan. Namun telinganya yang tajam berhasil merasakan desing senjata itu yang ada di belakangnya, terpaksa dia harus membuang diri ke samping guna menghindari pedang Zhang Heng yang meluncur kembali ke arah pemiliknya.
"Bangsat, apa-apaan jurus tadi?"
Zhang Heng menerjang maju. Melihat lawannya menggunakan jurus aneh seperti itu, Lin Tian tak mau kalah.
Ia menggunakan teknik yang diajarkan oleh Zhang Hongli. Sebuah teknik yang sudah lama sekali tidak ia pakai. Yaitu teknik yang memungkinkan si pengguna mainkan dua ilmu silat sekaligus.
Maka saat Zhang Heng bergerak dekat, kakinya melakukan elakan-elakan berdasarkan kitab Ketenangan Batin. Lalu pedangnya menusuk-nusuk sesuai dengan ilmu pedang Pelukis Langit atau Bunga Teratai. Lin Tian melakukan gerakan yang sedkit aneh, namun setiap detiknya Zhang Heng tak mampu menduga kemana gerak serangan berikutnya.
"Keparat!" pekik Zhang Heng menusukkan pedangnya.
Lin Tian menangkis dengan cara mengayunkan pedang dari bawah ke atas. Sehingga pedang Zhang Heng terangkat tinggi-tinggi di atas kepala.
Namun ia ubah gerakan itu menjadi jurus terakhir ilmu pedang Bunga Teratai. Yaitu sebuah tusukan kilat yang sekaligus mengirim gelombang angin dahsyat.
"Aaahhh!"
"Swuusssh!"
Zhang Heng terpental jauh. Tapi beruntungnya dia sempat menangkis menggunakan pedangnya, sehingga luka dalam yang ia derita tak terlalu parah.
"Uhuk..." keduanya sama-sama memuntahkan seteguk darah segar.
Agaknya terjadi kesalahan dalam kombinasi jurus Lin Tian tadi, sehingga membuat otot dan tubuhnya tak siap yang berakibat dirinya sendiri menderita luka.
"Ugh...sudah lama tak menggunakan teknik ini, aku jadi sedikit kaku." keluhnya dalam hati.
Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk mengeluh lebih lama karena Zhang Heng sudah melompat maju lagi. Terpaksa dia harus menangani ini dengan tusukan pedang guna mematahkan tebasan Zhang Heng.
Entah berapa lama pertarungan itu terjadi dan semua orang masih setia menunggu. Bahkan sampai sang dewi malam terbit pun, keduanya masih bertarung mati-matian.
__ADS_1
"Sampai kapan mereka akan terus bertanding? Apakah tak punya rasa lelah?" Minghao berkomnetar.
Zhang Qiaofeng yang sudah bangun hanya mampu memandang dengan khawatir. Saking lemasnya, bahkan untuk duduk pun dia harus bersandar pada pundak Yin Mei yang setia melingkarkan tangan pada pinggangnya supaya nonanya itu tidak jatuh.
Jam demi jam berlalu dan hampir tengah malam, pertarungan itu belum juga menemui akhir. Makin lama semua orang makin tegang. Tak ada yang merasakan kantuk di sini sungguh pun hari sudah malam.
Gerakan dua orang itu mulai melambat saking lelahnya. Tapi agaknya tak ada satu pun dari mereka yang sudi untuk menyerah sebelum mati.
Topeng Zhang Heng sudah hancur, digantikan wajah yang babak belur di sana-sini, hal yang tak jauh berbeda terjadi pada diri Lin Tian.
"Hyyaaaahh!" Lin Tian memekik dan menusukkan pedang.
Zhang Heng menghindar dan balas menusuk, namun keduanya terpental karena pedang mereka yang beradu.
Tak ada lagi yang namanya hawa sakti atau tenaga dalam. Keduanya saat ini murni menggunakan kekuatan fisik saja.
"Guru....bantu...." Zhang Qiaofeng memohon. Namun Chong San hanya bungkam.
Kedua musuh bebuyutan itu saling pandang dengan nafas memburu. Mata mereka tajam mengirimkan api amarah yang tak pernah padam.
"Mari kita akhiri ini...." ucap Zhang Heng.
"Baiklah, serangan terakhir!"
Keduanya bersiap, memegang pedang masing-masing dengan erat. Keduanya mempersiapkan kuda-kuda dan memandang satu sama lain lekat-lekat.
"Hyaaaahh!"
Dengan pekik yang mengguntur, keduanya maju bersama dan menusukkan pedang itu di saat bersamaan.
"Jleb!"
"Jlen!"
Saat itulah mata Zhang Qiaofeng melebar dan seolah seluruh kekuatannya kembali untuk berteriak nyaring.
"Lin Tiaaann!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG