
"Nona sungguh luar biasa! Bagaimana bisa anda memiliki rencana seperti itu?" Minghao bertanya dengan mata berbinar-binar. Merasa bangga sekali melihat nonanya secerdas itu.
"Entah, tiba-tiba saja aku terpikirkan hal itu." jawab singkat Zhang Qiaofeng memandang keluar jendela.
"Sudah dua hari sejak pertemuan itu, kupikir besok aku akan menemui kaisar." lanjut gadis tersebut.
"Perlu kutemani nona?"
"Tak perlu, aku akan pergi sendiri."
"Tapi...."
"Percayalah padaku!"
Keesokan harinya, seperti yang diucapkannya kemarin, Zhang Qiaofeng sudah bersiap untuk menemui kaisar. Dengan pakaian putihnya yang bergambar sulaman naga di punggung, Zhang Qiaofeng nampak gagah sekali.
"Aku pergi dulu, semoga kaisar mampu menerima apa yang telah kurencanakan selama ini." ucap gadis tersebut di depan para tetua dan Hantu Merah.
"Nona, ijinkan saya ikut dengan anda." Lu Jia Li berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan raut wajah khawatir sekali. Tak bisa dipungkiri, diantara Hantu Merah, orang inilah yang paling dekat dan menyayanginya.
"Tak perlu, ini adalah wilayah ibukota, aku pikir akan aman-aman saja."
"Bagaimana jika kami antar sampai ke gerbang ibukota?" usul Yin Yin.
"Tak perlu bibi, aku sendiri yang bilang untuk melakukan pertemuan rahasia, aku harus bisa memegang perkataanku untuk mendapat kepercayaan kaisar."
Tak ada yang berani membantah atau membujuk lagi karena selain keras kepala, gadis itu jika dipaksa akan marah-marah. Maka setelah memakai topeng retaknya, gadis ini segera melesat jauh menuju kearah ibukota.
Zhang Qiaofeng tak bisa santai-santai, dia segera mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk keluar dari wilayah markas para pejuang dan berlari menuju hutan. Bahkan para pejuang pun tak tahu akan kepergiannya, keluarganya sendiri pun tak tahu. Para tetua dan Hantu Merah hanya bilang bahwa gadis itu sedang melakukan latihan meditasi di kamarnya. Benar-benar rahasia.
Perjalanan dari markas para pejuang menuju ibukota kurang lebih hampir sehari, namun dengan kecepatan Zhang Qiaofeng, kurang dari setengah hari saja dia sudah berhasil tiba di gerbang ibukota.
"Kalian pikir aku tak tahu....? Hem, akan kulihat bagaimana aksi kalian saat aku pulang." gumam Zhang Qiaofeng melirik ke sana-sini melihat beberapa bayangan berkelebat. Lantas dia menyeringai.
__ADS_1
"Hehe, kalian takut kebenaran terungkap?" bisiknya dalam hati.
Dia sudah sampai di dekat gerbang kota dan sekali kakinya menghentak tanah, tubuhnya terbang tinggi bagai burung garuda. Dalam tiga kali totokan kaki ke tembok kota, gadis ini sudah mencapai puncak tembok ibukota dan melompat masuk.
Dengan diam-diam dan cepat sekali, tubuhnya berkelebatan untuk menyelinap masuk ke wilayah istana kaisar. Lalu dia pergi ke bagian belakang istana yang terdapat sebuah pondok kecil tempat dimana biasanya kaisar duduk menenangkan diri.
Tanpa permisi, Zhang Qiaofeng lekas duduk di sana dan membuka topengnya. Duduk dengan kaki kanan ditumpangkan ke kaki kiri, mulutnya itu sesekali bersiul.
"Aku ingin bertemu kaisar." ucapnya tiba-tiba.
Setelah itu, dari semak-semak atau pohon-pohon terdengar suara gemeresak dan ujung mata Zhang Qiaofeng menangkap berkelabatnya bayangan beberapa orang yang cepat sekali. Diam-diam dia merasa kagum.
"Kehadiranku sudah diketahui. Yah...kalau dipikir-pkir, akulah yang paling mencurigakan."
Tak lama berselang, kaisar terlihat berjalan dari kejauhan, seorang diri saja.
"Hm, kemana para pengawalnya tadi, apakah mengintai dari jauh? Menarik...."
"Selamat datang nona Zhang, walaupun cara anda datang sedikit tak wajar, tapi biarlah saya maklumkan...." kaisar memberi hormat.
Kaisar lalu duduk di depan Zhang Qiaofeng dan memandangnya tajam.
"Nona, apakah yang hendak anda usulkan untuk strategi kita?" tanpa basa-basi kaisar langsung menuju inti permasalahan.
Melihat kaisar tak sungkan-sungkan, Zhang Qiaofeng lekas bicara, "Saya ingin anda mengirimkan seorang mata-mata menuju pulau Tulang Naga yang menjadi markas musuh kita."
"Apa!?" kaisar kaget sekali sampai tubuhnya terlonjak.
"Apa maksud nona?"
"Tenanglah Yang Mulia, saya ingin agar anda mengirim satu orang yang paling anda percayai. Bukan yang terkuat, bukan yang terlihai, dan bukan yang paling patuh, namun yang paling anda percaya. Seseorang yang selama ini bekerja di bawah anda dengan kewajaran ingin mengabdi kepada negara, bukan karena penjilat."
"Apa maksudnya? Bukankah itu akan membunuhnya?"
__ADS_1
"Tentu tidak tuan, karena jika mata-mata itu seorang yang kuat, jelas sekali Iblis Tiada Banding yang lihai akan sadar. Dan jika dia penjilat, maka dia akan berkhianat karena saya yakin sifat penjilat akan memikirkan diri sendiri. Dan jika dia dikirim ke sana, saya pikir dia akan bersekongkol dengan lawan karena ingin menaikkan pangkat jabatan setelah kekaisaran Song dikalahkan."
"Dan yang paling tepat adalah, orang yang menurut anda tidak mencolok begitu?"
"Benar."
Kaisar itu hendak membantah, namun Zhang Qiaofeng cepat memotong, "Itu usulan dari saya, entah siapa yang akan dikirimkan oleh Yang Mulia itu terserah kepada anda. Masalah berikutnya adalah, saya mohon dengan snagat untuk mengirim mata-mata itu secara rahasia, tak ada seorang pun yang boleh tahu selain anda dan orang-orang kepercayaan anda."
Kembali kaisar terkejut dan refleks bertanya, "Kenapa begitu?"
"Saya percaya di sini ada mata-mata Iblis Tiada Banding, entah siapa itu. Jadi jika ada orang lain yang tahu anda mengirim mata-mata, bisa jadi pihak musuh sudah mengetahui dan malah memanfaatkan mata-mata kita untuk mengetahui segala informasi kekaisaran Song."
"Ucapan anda cukup masuk akal, tapi bagaimana saya bisa langsung percaya jika di sini ada mata-mata?"
Zhang Qiaofeng menoleh ke kanan dan kiri saat mendengar pertanyaan ini, kemudian dia melakukan tindakan yang bisa membuat kepalanya hilang. Dia menarik kerah kaisar dan mendekatkan mulutnya ke telinga kaisar.
"Jika anda tak percaya, maka lihat sendiri. Saat aku pulang, aku akan dibunuh karena dianggap sebagai ancaman..."
Setelah berbisik demikian, tanpa permisi dan salam perpisahan, Zhang Qiaofeng memakai topengnya kemudian lenyap dari sana, seolah tak pernah ada sosok Zhang Qiaofeng sebelumnya.
Kaisar sendiri melongo dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kejadian barusan terlalu cepat dan sulit dipahami. Namun beberapa saat kemudian dia tersadar dan lekas bertepuk tangan dua kali.
"Syut-syut."
Tujuh orang pengawal dengan caping lebar dan wajah tertutup kain panjang, sudah tiba dan berdiri tegak di dekat kaisar.
"Kami siap menerima perintah, Yang Mulia."
"Bayangai terus nona Zhang. Kau, tetap di sini." kaisar memerintah lalu menunjuk salah satu orang.
"Siap, Yang Mulia." sedetik kemudian orang-orang ini berkelebat dan segera pergi menyusul Zhang Qiaofeng.
"Zhang Qiaofeng, siapa sebenarnya dirimu? Jika tebakanmu benar, saat pulang kau akan dibunuh, maka....ah, kenapa kau bisa tahu sejelas itu akan rencana mereka....?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG