
Keesokan harinya, keluarga Zhang beserta empat keluarga penguasa lain segera berangkat menuju ibukota yang terletak tak jauh dari sana. Saat matahari berada setinggi tombak, mereka sampai di ibukota dan sudah disambut banyak sekali pasukan yang mengantar mereka menuju istana.
Zhang Qiaofeng, Hantu Merah serta Minghao tidak melepas topengnya. Enam orang ini menunggangi kuda putih yang sangat gagah sekali. Sedangkan untuk anggota lain menunggang kuda dengan warna yang beragam.
Sampai di pintu istana, kembali ada beberapa anggota pengawal yang menyambut kedatangan mereka. Diantarlah rombongan ini menuju ruang sidang yang berada di sebelah kanan istana.
"Silahkan nona dan tuan, duduk di kursi yang sudah disediakan. Dan untuk para pengawal sekalian, mohon berdiri di atas sana seraya menonton, hanya diperbolehkan satu orang saja yang menemani pemimpin keluarga." ucap si pengantar mereka sambil membungkuk sopan.
Mereka lalu duduk di tempat masing-masing, Zhang Qiaofeng memilih Song Qian sebagai pengawalnya yang berdiri tegap di samping tempat duduknya. Sedangkan para pengawal yang lain segera berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai dua. Dari lantai dua ini, mereka memandang penuh perhatian.
Ternyata yang datang lebih dulu sudah ada tiga orang. Orang pertama adalah seorang pria tua dengan pemuda tampan yang berdiri di sebelahnya. Mereka berdua ini adalah menteri kekaisaran bersama anaknya.
Orang kedua adalah wanita empat puluhan tahun yang masih cantik manis. Dia duduk seorang diri di kursi sebelah kanan tempat kaisar duduk. Sedangkan orang ketiga juga duduk sendirian, pria tinggi besar dengan mata lebar. Rambut dan kumis jenggotnya berwarna merah terang. Dia ini adalah orang terkuat dari kalangan pejuang, tentu saja jika mengesampingkan kekuatan keluarga Zhang dan keluarga penguasa lain.
Tak lama setelah itu kaisar datang dan segera duduk di kursinya. Dia memandang satu-satu para tamu undangannya denagn penuh perhatian. Kemudian tatapannya tertuju kepada nona Zhang yang masih menggunakan topengnya.
"Nona Zhang, maaf lancang, tapi bisakah anda melepas topeng itu. Agar kita lebih enak saat bicara."
"Maaf, ini kesalahan saya yang kurang hormat." Zhang Qiaofeng menundukkan kepala dan melepas topengnya.
Seperti biasa, semua orang terkesima dengan paras bagai dewi milik Zhang Qiaofeng. Wajah cantik jelita yang bermata tajam dan melambangkan kekerasan hati itu, mampu membuat semua orang terbius dan terpaku memandangnya.
"Tring."
Terdengar petikan yang-khim dari sebelah atas dan seketika telinga semua orang terasa sakit sekali. Bahkan kaisar sendiri sampai menutup telinganya. Saking menusuknya suara itu.
"Maaf, tanganku terpeleset." ucap suara di atas sana yang bukan lain adalah Minghao. Tak ada yang berani berkomentar karena sadar akan kekuatan sastrawan itu. Mereka hanya memandang dengan tatapan tajam saja.
Namun berbeda dari anak menteri itu, seorang pemuda yang berdiri tegak di samping menteri itu masih terus memandang kearah Zhang Qiaofeng penuh ketertarikan. Entah apa maksudnya.
__ADS_1
Sedangkan di atas sana, Minghao bukan tidak sadar akan tatapan itu. Dia memandang dengan tajam dan jika tidak ingat saat ini masih dalam perundingan penting, dia pasti sudah melompat dan mencongkel matanya itu.
"Andai Lin Tian ada di sini, aku ragu kau masih berani menatapnya seperti itu." batinnya dengan perasaan geram dan tangan terkepal erat.
Kaisar berdeham untuk menetralkan suasana dan mulai membuka rapat ini.
"Aku memanggil kalian semua untuk membicarakan hal penting. Apakah kita harus menekan Iblis Tiada Banding ataukah memperkuat keamanan? Mata-mata mereka sudah tersebar entah sejauh mana, terbukti dari distrik merah yang kemasukan banyak sekali mata-mata kelompok itu."
"Kita bertahan saja, untuk menyerang adalah tindakan yang terlalu berbahaya dan ceroboh." usul menteri itu.
"Bukankah lebih baik kita menyerang saja?" wanita empat puluhan tahun yang menjadi pimpinan perguruan Putri Elang itu memberi usul.
Selain para pendekar bebas dan lima keluarga penguasa, pasukan pejuang yang cukup banyak memberi konstribusi adalah perguruan Putri Elang yang seluruh anak muridnya beegabung dengan pasukan pejuang. Karena itulah tokoh-tokoh dari Putri Elang ini amat dihormati di kalangan pejuang.
"Bisa anda jelaskan mengapa anda menyarankan untuk menyerang?" menteri itu bertanya serius.
"Andaikan kita tak menyerang dan terus bertahan, hal itu lebih mudah bagi mereka untuk terus menyelidiki kita. Dan apakah anda dapat memastikan bahwa mata-mata Iblis Tiada Banding hanyalah penghuni distrik merah yang sudah dilenyapkan keluarga Zhang?"
Perundingan terus berlangsung dengan serius dan khidmat. Zhang Qiaofeng lebih banyak diam daripada bicara. Dia hanya menjawab sesekali jika ditanya saja.
Dia pun sadar akan tatapan anak menteri yang selalu menatapnya tajam penuh ketertarikan itu, namun dia hanya menanggapi dengan dingin dan pura-pura tidak tahu.
Rapat berlangsung cukup lama, lebih dari satu jam mereka duduk di sana dan masih saja ada yang berdebat. Yang paling pasif dari rapat ini adalah nona Zhang. Dia hanya diam dan menjawab saat ditanya, tak ingin memberikan pendapat.
Setelah satu setengah jam, barulah orang-orang ini keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju kediaman masing-masing. Hasil akhir rapat adalah bertahan, kekaisaran Song akan terus bertahan dan memperkuat keadaan sekaligus meneliti markas Iblis Tiada Banding.
Zhang Qiaofeng, Minghao dan lainnya berjalan tenang menuju kediamannya yang berada di markas para pejuang. Saat mereka semua sudah naik kuda, ada seorang pemuda bersama tujuh pengawal yang datang. Melihat ini Minghao mendengus.
"Ah, nona Zhang kenapa harus buru-buru? Bagaimana kalau kita mempererat persaudaraan dengan minum teh?" ajak pemuda tersebut yang tak lain adalah anak menteri.
__ADS_1
Zhang Qiaofeng tak menanggapi, melirik pun tidak. Dia lantas menggerakkan tangan untuk memimpin pasukannya kembali ke kediaman, mengabaikan anak menteri yang nampak kecewa.
"Hei, gadis cilik tak tahu aturan!! Apa kau kenal siapa yang baru saja bicara denganmu!?" bentak salah satu pengawal anak menteri dengan arogan.
Semua pasukan Zhang menggertakan gigi, tak terkecuali Hantu Merah dan Minghao. Mereka lalu berhenti dan menolehkan kepala secara serentak. Yang paling mengerikan adalah nona Zhang itu, tolehan kepalanya perlahan saja namun suaranya sungguh menggetar penuh penekanan.
"Dia anak menteri, dan kau anjingnya. Benar?" demikian ucap Zhang Qiaofeng yang dari balik topengnya, terlihat kilatan-kilatan dari sepasang mata bening itu.
"Mau apa lagi?" kembali dia bertanya yang membuat si pengawal anak menteri gemetaran.
Melihat ini pemuda anak menteri itu segera mengambil alih, dia melompat ke depan dan menjura kearah Zhang Qiaofeng.
"Ah....nona Zhang sangat sensitif, maafkan candaan pengawalku ini yang terlalu serius. Jika nona Zhang tak mau minum teh bersamaku, kiranya bolehlah untuk mengijinkanku menemani nona mengantar pulang?" dengan senyum ramah dan kata-kata yang teratur, anak menteri itu berkata.
"Oh iya, nama saya Kauw Jin. Panggil saja kakak Jin jika anda mau." lanjutnya memperkenalkan diri.
Zhang Qiaofeng mengacuhkannya, lalu memberi tanda kepada Fen Lian. Perempuan ini mengangguk dan melompat tinggi dari punggung kudanya, menyambar turun bagai burung garuda menemukan mangsa.
"Hidung belang! Pergi!!" bentaknya dingin seraya mengirim hawa pukulan jarak jauh dari atas.
"Dess!"
Fen Lian terkejut sekali, ternyata Kauw Jin dapat menangkis pukulan itu dengan telapak tangannya. Dia lalu terhunyung ke belakang dengan wajah sedikit pucat.
Ketika Fen Lian mendarat dan rombongan Zhang kembali melanjutkan perjalanan, dia berkata penuh penekanan. "Jangan sekali-kali mengganggu nona Zhang!"
Setelah ucapan singkat ini, dia sudah melompat dan seperti terbang saja. Ketika mendarat sudah duduk manis di punggung kudanya seolah tak terjadi apa-apa.
Kauw Jin terkekeh dan menyeringai, "Hehe, Zhang Qiaofeng...menarik...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG