
Karena bingung hendak mencari kemana lagi, akhirnya Kim Chao mengajak Zhang Qiaofeng dan Lin Tian untuk datang berkunjung ke markas perkumpulan Bunga Teratai. Lin Tian sebenarnya sudah menolak ajakan itu, namun Kim Chao tetap berkeras dan mau tak mau mereka berdua harus mengikut saja.
Kakek itu bilang jika markas perkumpulannya berada tak jauh dari tempat mereka saat ini. Mungkin hanya membutuhkan waktu satu hari perjalanan untuk mencapai markas tersebut. Karena melihat bahwa markas itu berada di arah yang sama dengan arah pulang ke kediaman Zhang, maka akhirnya Zhang Qiaofeng dan Lin Tian pun setuju saja untuk berkunjung sejenak ke markas Perkumpulan Bunga Teratai.
Setelah satu hari perjalanan, ternyata kakek itu memang tidak membohong. Mereka tiba di sebuah tempat di tengah hutan yang lebat sekali. Di tengah-tengah hutan tersebut, pohon-pohon tinggi yang ada di sana ditebang sedemikian rupa hingga membuat tanah lapang yang luas sekali, dan di tanah lapang itulah markas Perkumpulan Bunga Teratai berdiri.
Markas itu berbentuk seperti pemukiman, banyak rumah-rumah sederhana yang dibangun diberbagai tempat. Ada yang besar dan yang kecil, namun semua itu terlihat sederhana karena setiap dinding rumah berbahan dasar kayu biasa.
Di sebelah Timur, nampak sebuah telaga yang cukup besar dan terdapat pula beberapa orang yang sedang berlatih di pinggiran telaga. Ada pun yang berenang di telaga itu dengan gerakan cepat, sepertinya mereka sedang melatih ketahanan tubuh.
Di sebelah Barat, ada tanah lapang lagi yang cukup besar. Sekali lihat saja Lin Tian dan Zhang Qiaofeng sudah tahu bahwa di sana adalah tempat untuk berlatih silat.
Akan tetapi, yang paling mencolok adalah bangunan yang berdiri di tengah tanah lapang itu. Sebuah bangunan yang berbahan dasar kayu pula sama seperti yang lain, namun bedanya, bangunan itu sangat besar dan megah. Juga di setiap dinding atau tiang penyangga bangunan, nampak ukiran-ukiran indah yang menambah daya tarik bangunan tersebut.
Lin Tian dan Zhang Qiaofeng sampai melongo melihat bangunan megah itu. Tak pernah terlintas sekali pun di hati mereka bahwa markas utams perkumpulan pengemis itu demikian megahnya. Juga mereka sedikit heran, mengapa pengemis-pengemis ini mampu untuk membuat pemukiman yang tidak bisa dibilang kecil?
"Kami memang perkumpulan pengemis, namun tak jarang orang-orang menyebut kami sebagai perkumpulan silat. Rumah-rumah yang dibangun di sini itu menggunakan biaya yang diperoleh dari masyarakat ketika kami mampu menyelesaikan suatu urusan yang dimintanya. Seperti halnya mengawal sebuah rombongan atau mengajarkan ilmu silat atau tugas pengantar barang dan lain-lain." kata Kim Chao yang seolah bisa mengerti kata hati dua orang muda dan mudi itu.
Terjawab sudah semua keraguan di hati Zhang Qiaofeng dan Lin Tian. Jujur saja sebelumnya mereka sempat mengira bahwa Perkumpulan Bunga Teratai ini adalah perkumpulan pengemis yang tidak baik. Karena mampu membuat pemukiman apalagi bangunan besar itu, siapa yang tidak curiga jika mengetahui itu semua dibangun oleh para pengemis yang terlihat miskin.
Ketika memasuki kawasan markas Perkumpulan Bunga Teratai, orang-orang yang sebelumnya sedang beraktifitas tiba-tiba menghentikan sejenak kegiatan mereka. Lalu memberi hormat kepada Kim Chao yang dibalas dengan senyuman tipis oleh kakek itu. Agaknya Kim Chao bukanlah seseorang dengan kedudukan biasa di perkumpulan ini.
__ADS_1
Namun mereka lebih heran dan kagum saat memandang dua orang yang dibawa Kim Chao. Mereka yang pria tentu saja merasa amat kagum dan tertarik dengan kecantikan bagai bidadari milik Zhang Qiaofeng. Mata lebar dan bibir mungil yang selalu tersungging senyum itu benar-benar membuat jantung mereka berdebar tak karuan.
Di sisi lain, mereka amat kagum dan takjub melihat seorang pria bertopeng yang berjalan tenang di samping gadis tersebut. Seorang pria bertopeng yang berjubah putih. Tentu saja sebagai orang-orang persilatan, mereka tahu siapa adanya orang tersebut.
"Pendekar Hantu Kabut....dia datang...ada urusan apa dia kemari..." demikian Lin Tian mendengar seseorang yang berbisik kepada temannya. Namun dia hanya acuh dan tetap mengikuti langkah Kim Chao yang membawanya mengarah bangunan paling besar itu.
"Di sana adalah bangunan tempat dimana pemimpin perkumpulan berada, sekaligus sebagai tempat rapat atau perundingan lainnya. Juga di sana pulalah tempat para tamu dari luar akan disambut." ucap Kim Chao begitu tiba di depan bangunan tersebut.
"Mari masuk..." sambungnya sebelum melangkah mendekati pintu besar itu dan mendoronganya. Dari tempat Lin Tian dan Zhang Qiaofeng berdiri saat ini, tercium aroma wangi yang menenangkan tatkala pintu besar itu dibuka.
Mereka berdua tanpa banyak tanya segera mengikuti Kim Chao untuk memasuki bangunan tersebut. Ketika tiba di dalam, mereka terperangah melihat lingkungan dalam bangunan tersebut.
Memang bangunan ini besar sekali bagaikan istana, namun tak terlihat sedikit pun barang mewah di sana. Hanya terlihat lukisan-lukisan yang berharga murah dan guci-guci yang nampak tidak terlalu mahal. Kursi yang dijadikan tempat singgasanapun hanya kursi kayu biasa dengan ukiran-ukiran indah. Bagi perkumpulan pengemis, tentu semua ini sudah sangat mewah.
Orang itu tak langsung menjawab, melainkan memandang Lin Tian dan Zhang Qiaofeng penuh perhatian. "Oh...siapakah dua orang ini." akhirnya dia berkata dengan lembut.
"Tentu kau sudah tahu senior, dia ini adalah Nona pemimpin keluarga Zhang, Zhang Qiaofeng. Sedangkan dia adalah Pendekar Hantu Kabut Lin Tian, pengawal pribadi Nona Zhang." kata Kim Chao memperkenalkan keduanya.
Kakek tua itu mengangguk-angguk sambil mengelus jenggot panjangnya. Dari balik kumis lebatnya, nampak bibir yang keriput itu tersenyum. "Ah, kiranya anda berdua yang datang dan telah membantu junior saya? Sungguh kami dari Perkumpulan Bunga Teratai merasa terhormat dan mengucapkan terima kasih atas bantuan anda berdua.
"Tidak apa Tuan, kami hanya melakukan kewajiban sebagai manusia yang saling tolong menolong." balas Zhang Qiaofeng sambil menjura dan diikuti Lin Tian.
__ADS_1
"Lagipula, Aliansi Golongan Hitam adalah musuh kami, sedangkan musuh mereka sudah tentu adalah orang-orang kaum putih seperti kita. Jujur saja, aku ingin semua musuh mereka menjadi kawan kami." lanjut Zhang Qiaofeng.
Gadis itu secara tidak langsung mengatakan bahwa, keluarga Zhang hendak mengajukan kerja sama kepada Perkumpulan Bunga Teratai untuk melawan Aliansi Golongan Hitam bersama-sama. Hal ini sudah diketahui oleh kakek tua itu yang memang sudah berpengalaman.
"Apanya yang kawan? Kita semua yang berasal dari kaum putih adalah saudara, hahaha!!!" jawab kakek itu sambil tertawa lebar. Walau pun tertawa, namun ketawa itu tidak terdengar berisik, malah sebaliknya, terdengar amat tenang dan berwibawa.
"Oh iya, tidak sopan sekali diriku ini." dia lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuruni anak tangga. Setelah tepat berada di depan dua orang muda mudi itu, segera dia menjura untuk memperkenalkan diri. "Perkenalkan tuan dan nona, nama saya Cin Kok, pemimpin Perkumpulan Bunga Teratai."
Lin Tian dan Zhang Qiaofeng lekas menjura pula untuk membalas penghormatan orang, "Ah...tak perlu kiranya Tuan Cin untuk merendah di hadapan kami." kata Zhang Qiaofeng.
"Marilah mari...kita bicara di dalam, kalian pasti penasaran dengan kitab curian itu bukan? Nah mari ikut aku dan akan kuceritakan." ajak Cin Kok sambil mengajak mereka masuk ke dalam sebuah pintu yang menembus ruangan samping.
"Junior, tolong perintahkan salah satu pelayan untuk membuatkan kami minum."
"Baik senior."
Diam-diam, Lin Tian dan Zhang Qiaofeng memang penasaran sekali akan kitab tersebut. Sebuah kitab yang hanya berasal dari perkumpulan pengemis, namun bisa membuat seorang sakti seperti Sin Nia menjadi tertarik dan mencurinya.
Setelah saling pandang beberapa saat, mereka segera mengikuti Cin Kok untuk masuk ke ruangan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG