Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 99. Kejanggalan


__ADS_3

Sehari setelah pasukan Zhang pulang ke kediaman. Zhang Qiaofeng menemui Minghao dan bertanya.


"Paman, kemana Tuan Ang Bei? Dari kemarin dia sama sekali tidak terlihat."


"Ah...dia sedang pergi Nona." jawab sastrawan itu.


"Apa? Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Zhang Qiaofeng.


"Maaf Nona, tetapi saya berpikir jika kemarin Anda masih sangat lelah, karena itulah saya memilih untuk melapor hari ini. Tetapi kiranya Nona sendirilah yang bertanya lebih dulu."


"Nona, jika ada tugas untuk Tuan Ang Bei, Anda bisa serahkan pada saya." lanjut Mingahao.


"Tidak, tidak perlu." jawab gadis itu dan pergi dari sana.


Mereka tidak tahu bahwa percakapan singkat itu didengar semua dengan jelas oleh Lin Tian. Pemuda ini sebelumnya sedang berjalan seorang diri di belakang bangunan itu, dan begitu dia melihat Nonanya dan bercakap-cakap dengan Minghao, karena penasaran Lin Tian melompat ke atas genteng dan menguping dari sana.


Setelah mendengar percakapan itu, alis Lin Tian berkerut dalam.


"Hm...kenapa akhir-akhir ini perasaanku sering kali tidak enak." batin pemuda ini.


Akhirnya, dia turun dari genteng dan bertanya kepada Minghao, "Paman, maaf jika aku lancang karena secara tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Namun aku penasaran sekali, kemanakah perginya tetua Ang Bei dan kapan perginya?"


Minghao nampak terkejut, namun akhirnya menjawab juga, "Dia pergi setelah empat hari kau dan Nona pergi ke pertempuran. Aku tidak tahu kemana perginya, namun kalau aku tidak salah lihat, dia pergi kearah Barat."


"Memangnya ada apa?" lanjut Minghao dengan pertanyaan.


Alih-alih menjawab, Lin Tian malah membalikkan tubuh sambil berkata, "Terima kasih paman." Setelah itu melenggang pergi.


Minghao memandang bingung, namun dia hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan kegiatannya menulis sajak.


Sedangkan Lin Tian sendiri, dia segera menuju ke kamarnya. Memakai pakaian pendekarnya, tak lupa dengan topeng dan Pedang Dewi Salju.


Kemudian pemuda ini menulis secarik surat yang kemudian diletakkannya di atas meja. Sedetik kemudian, dia berkelebat lenyap dari sana.


Perasaannya tidak enak, sangat tidak enak malah. Entah kenapa, dia merasa ada yang tidak beres dengan kepergian Ang Bei. Karena itulah dia memutuskan untuk pergi sendiri tanpa pamit dengan Nonanya. Karena jika dia meminta ijin lebih dulu, sudah pasti Nona itu tidak akan mengijinkan, atau setidaknya memaksa agar dirinya dibawa sekalian.


Kemanakah Lin Tian pergi? Tentu kearah Barat sesuai petunjuk Minghao. Dia merasa curiga karena pertama, rumor mengatakan jika di sana adalah markas besar dari Aliansi Golongan Hitam. Kedua, Ang Bei bukanlah anggota pendiri dari Asosiasi Gagak Surgawi, bukan pula bagian langsung dari keluarga Zhang, juga bukan berasal dari daerah Utara, juga bukan pula memiliki hubungan dengan keluarga Zhang sebelum Lu Tuoli menggabungkan diri.


Singkatnya, pria itu benar-benar orang luar. Karena itulah Lin Tian menjadi curiga.


"Aku harus cepat!" gumamnya begitu melihat matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat.

__ADS_1


Malam hari tiba dan untung bagi pemuda ini bahwa sekarang dia sudah berada di sebuah desa. Segera pendekar muda ini mencari rumah makan sebelum mencari penginapan.


Lin Tian masuk disebuah warung makan sederhana. Begitu memasuki rumah makan itu, segera indra penciumannya mencium bau sedap dari berbagai masakan dan arak wangi.


Ternyata di sana cukup ramai. Agaknya tempat ini sudah menjadi favorit bagi orang-orang desa maupun para pengelana seperti dirinya.


Setelah memesan makanan, pemuda ini segera duduk di kursi paling pojok sebelah kanan. Di sebelahnya terdapat tirai tipis sebagai pemisah antara ruangan itu dan dapur.


Dia duduk termenung, sambil mengamati sekitar. Tiba-tiba, matanya melotot ketika secara tidak sengaja dirinya melihat sesosok pria yang duduk di sebelah kiri pintu masuk.


Pria ini memakai pakaian berwarna biru yang dimana-mana terdapat hiasan bulu-bulu tebal berwarna putih. Pakaiannya itu seperti orang-orang di pegunungan yang suhunya relatif dingin.


Melihat gaya berpakaian ini, teringatlah ia akan seseorang. Seorang yang pernah diceritakan gurunya sebagai salah satu anggota Pilar Neraka.


"Hati-hatilah dengan orang yang berpakaian seperti itu Lin Tian. Bisa jadi dia adalah salah satu dari anggota Pilar Neraka yang berjuluk Elang Salju." demikianlah gurunya memperingatkan dia.


Makanan sudah datang namun hanya dia diamkan. Pemuda ini agaknya lebih tertarik akan diri pria tersebut.


"Melihat dari cara duduk dan makannya, tentu dia adalah seorang ahli silat. Tapi benar-benarkah dia ini adalah Elang Salju itu? Jika memang iya, aku harus membasminya!!" batin Lin Tian membulatkan tekad.


Pemuda ini kemudian memakan makanannya dengan perlahan. Membuka sedikit topeng di bagian mulut dan memasukan satu-persatu makanan.


Setelah selesai dan membayar, dia kembali memperhatikan pria tersebut. Ternyata pria itu juga sudah selesai dengan makannya dan setelah membayar kepada pelayan, pria ini keluar dari rumah makan.


"Hah? Dimana dia?" gumamnya sambil melihat-lihat sekitar.


Aneh sekali, begitu pria misterius tersebut keluar dari rumah makan dan berbelok kiri. Seketika...dia menghilang!


"Mungkin sekali jika dialah orangnya!" batin Lin Tian yang pandangannya sudah berubah tajam bagai mata elang melihat mangsa.


"Aku harus menemukannya! Desa ini dalam bahaya!!" gumamnya dan sama seperti pria misterius itu. Setelah berjalan menuju gang kecil, Pendekar Hantu Kabut ini lenyap!!


...****************...


"Lin Tian~ ayo makan~" teriak Zhang Qoaofeng di depan kediaman Lin Tian.


Tak ada jawaban. Gadis ini kembali berteriak.


"Lin Tian...!!"


Masih sama, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.

__ADS_1


"Hmph!!" gadis ini menggembungkan pipinya, terlihat makin menggemaskan.


Akhirnya dia menghampiri pintu dan mengetuk-ngetuk pintu kediaman Lin Tian. Makin lama ketukan pintu itu terdengar makin keras dan cepat. Begitu pula suara gadis itu yang maikin nyaring dan mendesak.


"Lin Tian!! Ayo makan malam!!" Namun nihil, tak ada jawaban sama sekali.


Karena sudah kesal, Zhang Qiaofeng segera menendang pintu itu dan membentak. "Bocah bandel!! Jika kau mau kusuapi tinggal bilang saja!! Tak perlu sampai merajuk dan membikin aku jengkel!!"


Akan tetapi sedetik kemudian, Zhang Qiaofeng melongo heran. Tempat itu kosong, sama sekali tidak ada penghuninya.


Maka gadis ini melangkahkan kaki memasuki rumah. Ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi semuanya kosong. Hanya tinggal kamar.


Begitu Zhang Qiaofeng hendak membuka pintu itu, seketika wajahnya menjadi merah sekali.


"Ya ampun...apa aku sudah menjadi gadis kurang ajar yang akan memasuki kamar laki-laki tanpa ijin?" demikian batinnya.


Tapi karena sudah penasaran sekali, Zhang Qiaofeng mengeraskan hati dan membuka pintu tersebut. Betapa terkejut hatinya begitu menyadari bahwasannya kamar itu tidak terkunci.


"Lin Tian?" kembali dia memanggil namun tidak ada jawaban sama sekali.


Tiba-tiba secara tidak sengaja, bola matanya tertuju kepada selembar kertas yang diletakkan di atas meja kecil sudut kamar. Spontan gadis ini berjalan menghampiri dan membukanya.


Untuk Nona Zhang Qiaofeng


Maaf yang sebesar-besarnya Nona, karena saya pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada anda. Namun ini sangat mendesak dan sangat menggelisahkan hati saya. Kepergian Ang Bei terlalu janggal, karena itulah saya berinisiatif untuk melakukan penyelidikan.


Nona Zhang, junjungan serta majikan yang paling saya kagumi, maaf beribu maaf karena saya telah pergi tanpa pamit. Karena saya yakin benar anda tentu tidak akan mengijinkan saya pergi seorang diri. Harap Nona sudi menanti sejenak agar kiranya ketika saya pulang nanti, saya bisa memberi penjelasan yang lebih rinci karena perbuatan kurang ajar saya ini dan juga memberi penjelasan akan penyelidikan saya.


Sekali lagi, mohon maafkan pengawal rendah ini.


Lin Tian


Zhang Qiaofeng membaca dengan seksama setiap huruf yang ditulis pengawalnya itu. Lalu seketika dia membanting dan menginjak-injak surat itu, sambil mulutnya terus mengomel dan mengumpat.


"Dasar kurang ajar!! Kurang ajar sekali!! Berani-beraninya pergi dari sini tanpa pamit. Awas saja kau ketika pulang nanti!!" umpatnya sambil terus menginjak-injak surat tersebut.


Namun ternyata, semua tindakannya ini adalah palsu belaka. Gadis ini sadar jika di dalam hatinya, dia sangat khawatir kepada Lin Tian. Namun karena harga dirinya, dia menginjak-injak surat itu untuk menutupi semua perasaan yang sesungguhnya.


Tapi akhirnya dia tidak mampu menahan perasan itu dan tanpa sadar, gadis ini bergumam lirih.


"Dasar bocah bodoh dan sembrono! Pulanglah cepat, aku akan menunggumu di sini..."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2