Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 132. Kesombongan


__ADS_3

Aneh sekali rasanya bahwa tiga orang pendekar sakti itu begitu sampai di kaki lereng gunung, sama sekali tidak ada satu pun orang yang berhasil mengejar. Bahkan Naga Emas sendiri pun tidak tampak batang hidungnya.


Akan tetapi karena tergesa-gesa dan tegang, tiga orang ini tidak menyadari keganjilan ini dan terus melanjutkan perjalanan. Mengejar rombongan keluarga Hu yang lebih dulu meninggalkan lereng.


Benar-benarkah jika pasukan manusia gunung itu tak sanggup mengejar mereka? Mungkin iya, dan jawabannya memang iya. Karena orang-orang gunung itu sama sekali tidak memiliki kepandaian silat, hanya bergerak dengan keberanian dan pengalaman bertarung melawan hewan buas di hutan saja. Namun hal itu berhasil membuat tubuh mereka kuat sekali dan gerakannya pun jauh lebih lincah dari kebanyakan orang.


Akan tetapi apalah arti dari kegesitan mereka jika dibandingkan dengan tiga tokoh itu? Tentu di mata mereka kecepatan gerak orang-orang gunung itu tak lebih cepat dari seekor ulat bulu yang sedang kepanasan. Gerakannya cepat, akan tetapi tetap lambat jika dipandang dengan sudut pandang manusia. Sama seperti orang gunung itu, walaupun lebih cepat dari kebanyakan orang, namun masih terlampau lambat di mata orang-orang sakti dunia persilatan.


Namun perlu diingat bahwa di sana terdapat manusia yang sama sekali tak bisa dianggap remeh, tentu saja orang itu adalah Naga Emas.


Benarkah jika datuk hitam yang namanya sangat ditakuti oleh orang-orang dunia persilatan ini tidak mampu mengejar? Apakah ilmu meringankan tubuhnya kalah cepat dari tiga orang itu? Atau karena dia sudah tak berhasrat untuk mengejar lagi? Jawabannya tidak!! Iblis itu sebenarnya sama sekali tidak ingin melepaskan tiga mangsanya, namun ada suatu hal yang memaksa dia untuk membiarkan tiga orang itu hidup lebih lama.


Hal ini terjadi sesaat setelah Minghao melarikan diri begitu ia telah berhasil mengirim serangan badai angin tajam itu.


"Bajingaaann!! Kejar mereka!! jangan biarkan lolos!!" Naga Emas yang sudah marah sekali itu kemudian melesat cepat kearah dimana Minghao pergi. Meninggalkan pasukannya yang kerepotan mengejar dia.


Baru menempuh sekitar seratus meteran dari tempat awal, tiba-tiba dia merasa ada sebuah sambaran angin tajam yang menuju telinga kanannya.


Begitu dia menoleh, ternyata di sana terdapat kelebatan bayangan putih keperakan yang mengeluarkan suara bedesing. Maka cepat dia menangkis.


"Trangg-Auuh!!" Naga Emas sedikit terkejut. Karena tangan kanan yang digunakan untuk menangkis itu terasa nyeri. Padahal selama pertarungannya melawan Lin Tian, tangannya itu sungguhpun terasa sakit, namun tidak senyeri saat ini.


Sedetik kemudian, di hadapannya telah berdiri seorang pria yang berkulit putih halus, seperti kulit perempuan. Rambut panjangnya dibiarkan teruarai begitu saja, memakai jubah hitam polos yang berlengang longgar, membuat jubahnya berkibar-kibar bagaikan bendera saja.


Di wajah halusnya, lebih tepatnya di mata sebelah kiri, terdapat sebuah tato hitam berbentuk tiga garis memanjang sampai ke dagu. Entah apa artinya motif itu.


Di tangan kanannya, memegang sebuah rantai panjang yang ujungnya runcing sekali. Agaknya benda itulah yang tadi hampir menyerempet telinga Naga Emas.


"Siapa kau!?" tanya Naga Emas dingin.


Orang itu tak lekas menjawab, hanya memandangi tubuh Naga Emas dari atas sampai bawah. Kemudian pandangannya terkunci pada sebuah tato api di jidat raksasa itu.


Orang itu kemudian tersenyum ketika menjawab, "Hem...Naga Emas ya, seperti namamu yang sudah amat terkenal itu, kau bukanlah orang lemah. Kau tahu, jika itu bukan kau, rantaiku ini mungkin sudah berhasil menembus tangan targetku tadi."

__ADS_1


Naga Emas memandang tajam penuh perhatian. Mengingat-ingat siapakah adanya orang ini, namun setelah beberapa saat, ternyata dia benar-benar belum pernah bertemu dengan orang ini. Maka kembali dia bertanya.


"Siapa kau? Kenapa kau menyerangku? Sudah bosan hidup?"


Orang itu tertawa bergelak sambil mendongakkan wajahnya menghadap langit, tangan kirinya memegangi perutnya. Sepertinya ucapan Naga Emas tadi benar-benar sesuatu yang ia anggap lucu.


Naga Emas mengerutkan keningnya, dia benar-benar merasa diejek dan direndahkan saat ini. Ketika dia ingin membentak, tiba-tiba orang itu berkata.


"Huahahah....kau tak perlu tahu siapa adanya diriku, tapi kata-katamu itu...hahaha....jika aku sudah bosan hidup, lebih baik aku lompat ke jurang atau menenggelamkan diri ke laut daripada harus bertemu denganmu, karena aku ragu apakah kau yang berjuluk Naga itu mampu melahapku...hahaha!!"


Sungguh kalimat yang mengejek dan merendahkan sekali! Naga Emas menjadi makin marah. Lalu ketika pasukannya sudah tiba di sana, dalam sekali komando dia berseru agar mereka menyerbu orang aneh tersebut.


"Hahaha...." orang ini masih tertawa-tawa begitu puluhan orang manusia gunung sudah mengepung dan menyerangnya.


Akan tetapi masih dengan tawa keras dan tanpa menggerakkan kaki, orang ini memutar-mutar rantainya dan hasilnya sungguh hebat. Puluhan orang manusia gunung itu dalam beberapa detik saja sudah roboh tewas semua!!


"Jika kau saja tak mampu melahapku, apalagi mereka?" katanya sambil memandang wajah keterkejutan Naga Emas.


"Siapa kau!!??" Naga Emas membentak, kali ini dia telah menyiapkan kuda-kuda.


"Aku kemari ingin memberimu penawaran bagus....hehe kau tidak tergabung dengan Aliansi Golongan Hitam bukan?"


"Tidak! Memang kenapa?" jawab Naga Emas.


"Haha bagus kalau begitu, maka kau cocok sekali untuk bergabung dengan kami..." jawab orang tersebut sambil tersenyum senang.


Naga Emas mencoba memahami situasi. Bergabung dengan mereka? Apa maksudnya?


"Bergabung bagaimana maksudmu?"


"Pemimpin kami sangat membutuhkan bantuan tenagamu, dan jika kau bergabung dengan kami, dia berjanji akan mengangkatmu sebagai murid. Maka jangan heran jika saat itu kau akan menjadi jago terkuat di seluruh dunia persilatan."


Setelah menghela nafas sekali, orang itu melanjutkan, "Tujuan kami sama dengan keinginanmu itu..."

__ADS_1


Naga Emas terbelalak, sepertinya dia sudah mulai tertarik ke dalam bujukan orang tersebut.


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Meruntuhkan kaisar, dan mengganti pemerintahan yang baru."


Naga Emas terkejut bukan main, tak pernah disangkanya bahwa orang ini akan tahu keinginannya. Hal ini membuatnya sangat senang dan sifat tamaknya pun timbul.


Tak mengherankan jika Naga Emas besikap seperti itu, karena sebenarnya dia ini adalah seseorang keturunan murni dari manusia gunung. Hanya karena ketidak sengajaan, dia ditemukan oleh guru Pendekar Pedang Arwah, dan menjadi muridnya. Karena dia lebih tua, maka Pendekar Pedang Arwah memanggilnya kakak senior, sungguhpun sebenarnya dia duluan yang menjadi murid gurunya.


Setelah bertahun-tahun berlatih ilmu, dia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, ke suku manusia gunung tempat dahulu ia dilahirkan. Dia pulang dengan membawa banyak sekali imu, salah satunya adalah ilmu silat itu sendiri yang diwarisi dari gurunya. Juga dia saat itu sudah mampu menguasai bahasa manusia daratan rendah, membuat semua orang manusida gunung kagum dan mendewakannya.


Maka tak lama setelah itu, diangkatlah ia sebagai pemimpin seluruh suku manusia gunung. Namun karena gurunya itu berasal dari golongan hitam, sehingga tak aneh jika sifat tamak dan kejam dari gurunya menurun kepada Naga Emas.


Ketika menjadi pemimpin manusia gunung, dia menjadi haus kekuasaan dan menginginkan lebih daripada menjadi pemimpin orang-orang gunung. Wanita-wanita cantik yang selalu menemaninya siang malam itu tak membuatnya puas lagi. Dia ingin lebih, lebih daripada itu semua, menginginkan wanita daratan rendah yang menurut pandangannya jauh lebih cantik dan berkulit putih ketimbang seluruh selirnya.


Maka saat itu pula, karena dia sudah pernah hidup di daratan rendah dan berguru dengan orang pandai, bergaul dengan orang-orang yang ada di sana, sehingga tanpa sadar dia menjadi sedikit lebih cerdas dibanding manusia gunung lainnya. Maka dia memutuskan untuk menyerbu ke daratan rendah, ingin memberontak dan mengambil kursi kaisar!


Hal ini juga didorong oleh rasa tinggi hatinya. Karena selama ini dia sudah banyak malang melintang di dunia persilatan sebagai Naga Emas, maka julukan itu membuatnya lupa diri dan menganggap diri sendiri terlampau tinggi.


Karena itulah, beberapa tahun ini manusia gunung menjadi ancaman besar bagi kekaisaran Chu. Padahal dalam sejarah, belum pernah terjadi sebuah peristiwa tentang penyerbuan manusia gunung. Tak pernah terdengar berita itu sampai ketika Naga Emas diangkat sebagai pemimpin manusia gunung.


Akan tetapi, perlu diingat bahwasannya Naga Emas ini juga berdarah asli manusia gunung, manusia-manusia primitif yang sama sekali tidak tahu dunia luar. Manusia-manusia yang seperti katak dalam tempurung, yang berpikiran pendek dan tidak pernah melakukan pertimbangan akan segala perbuatannya. Maka, begitu orang aneh itu mengatakan bahwa kelompok mereka hendak menggulingkan kaisar, Naga Emas tertawa dan dengan semangat menjawab.


"Hahahaha...bagus sekali!! Dengan begitu impianku akan terkabul! Baiklah, aku bergabung dengan kalian!"


Orang itu menyeringai, namun hanya sebentar sehingga tidak disadari oleh Naga Emas.


"Kalau begitu, mari ikuti aku." orang itu berbalik dan pergi diikuti oleh Naga Emas.


Sungguh perbuatan yang bodoh dan terlalu konyol. Hanya karena kesamaan tujuan saja, Naga Emas mengira dia akan benar-benar menjadi kaisar karena bantuan dari orang aneh itu. Dia sama sekali tidak mengira dan mempertimbangkan, bagaimana jika dia hanya dijadikan bidak-bidak permainan saja oleh pemimpin kelompok orang aneh itu? Hanya menjadi orang-orang yang bisa dibuang kapan saja?


Inilah kebodohan terbesar Naga Emas. Karena terlalu sombong dan percaya akan kekuatan sendiri, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2