
Lin Tian mencoba untuk menggerak-gerakkan jarinya, namun yang dia rasakan hanyalah nyeri luar biasa. Kemudian dia mulai membuka mata perlahana-lahan.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah sebuah atap genteng sederhana yang terbuat dari tumpukan rumput-rumput kering. Ketika tangannya meraba-raba, ternyata saat ini dia berada di lantai tanah yang hanya beralaskan karpet tipis.
Pemuda ini mencoba bangkit untuk mendudukkan dirinya, namun yang ia dapat adalah rasa sakit di dada dan pening kepala. Terpaksa Lin Tian merebahkan kembali tubuhnya tanpa mampu berbuat apa-apa.
"Aku masih hidup?"
"Sungguh seperti mimpi saja..."
Dia juga menyadari bahwa mata kanannya dibalut kain lembut. Mengertilah ia bahwa luka yang dihasilkan oleh serangan terakgir Zhang Heng masih membekas.
Lin Tian terus berbaring dalam keadaan lemah itu hingga kurang lebih selama satu jam lamanya. Sampai di suatu saat, nampak sosok bayangan di balik tirai ruangan. Dalam sekali lihat, Lin Tian tahu jika bayangan itu adalah bayangan dari orang tua, terlihat jelas dari kurusnya kedua tangan orang itu.
Sosok bayangan itu nampak bergerak-gerak, dari tempat Lin Tian saat ini, dia mampu mendengar suara-suara seperti seseorang yang sedang menumbuk obat. Menyadari hal ini dia menduga-duga bahwa orang itulah yang telah menolongnya.
Sambil bersiul-siul, sosok bayangan itu dengan asyik terus menumbuk obat-obatan. Hingga beberapa saat kemudian, dia menghentikan pekerjaannya dan membuka tirai tempat dimana Lin Tian berada.
"Oh, kau sudah bangun? Syukurlah..."
Kakek itu mendekati Lin Tian dan duduk di sampingnya. Lalu menyerahkan cairan obat yang berada dalam wadah batok kelapa.
"Minumlah ini agar kau cepat pulih."
Dengan susah payah, Lin Tian mengangkat kepala dan mulai minum obat itu perlahan-lahan. Sangat menyiksa memang karena obat itu rasanya luar biasa pahit dan Lin Tian tidak kuat untuk minum cepat-cepat. Maka terpaksa dia minum obat pahit itu dengan menyeruput perlahan.
"Kakek, apakah kau yang menolongku?" tanya Lin Tian setelah menghabiskan minumannya.
"Hm, menurutmu?"
"Menurutku memang engkaulah orangnya yang menjadi penolongku. Karena untuk apa kau merawatku jika tidak bermaksud menolong?"
__ADS_1
Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sesekali dia juga mengusap-usap jenggot panjangnya.
"Benar, memang dugaanmu benar. Akulah yang menolongmu ketika kau tersangkut di batang pohon pinggir sungai. Untung aku datang tepat waktu, jika tidak mungkin kau sudah mati." jawabnya.
"Oh, iya. Ini pedangmu, aku menggunakannya untuk memotong beberapa kayu bakar yang berguna untuk memenuhi tungkuku. Hehe, untuk menghangatkan tubuh waktu malam. Pedangmu cukup bagus, tajam sekali." kembali kakek itu berkata seraya menyodorkan Pedang Dewi Salju.
Mendengar semua penuturan kakek aneh itu, hati Lin Tian merasa sakit. Pedang yang selama ini menjadi senjata andalannya ternyata malah digunakan untuk memotong kayu bakar. Benar-benar bernasib malang.
"A-ah...terima kasih...." kata Lin Tian yang merasa sungkan untuk menyampaikan ketidak puasan hatinya karena pedang itu telah digunakan untuk memotong kayu bakar.
"Hoh...menarik." ucap kakek itu dalam hati. Timbul perasaan sukanya kepada Lin Tian.
Awalnya, dia mengira bahwa Lin Tian akan marah karena telah tahu bahwa pedangnya ia gunakan untuk memotong kayu bakar. Dia berpikir jika pemuda itu masih terlalu muda dan berdarah panas sehingga sulit untuk mengendalikan emosi. Tapi reaksi Lin Tian sungguh jauh di luar dugaannya.
"Anak muda, setelah ini kau ingin pergi kemana?" lanjut kakek itu bertanya.
Mendengar pertanyaa ini, seketika Lin Tian menjadi murung. Dia sebetulnya juga bingung hendak pergi kemana setelah ini. Awalnya dia berpikir untuk kembali saja ke kediaman Zhang, tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Entah apa itu.
"Oh kau ingin tahu? Maka jawab dulu pertanyaanku!"
Lin Tian sedikit kaget dan kembali murung, "Aku tidak tahu. Tidak tahu kemana harus pergi setelah ini."
Sambil mengelus jenggotnya, kakek itu menjawab, "Hm, bukankah kau ini adalah pendekar berjuluk Pendekar Hantu Kabut? Pengawal pribadi nona Zhang itu? Kenapa tidak kembali ke kediamanmu saja?"
Sontak hal ini berhasil mengejutkan Lin Tian. Ternyata dia telah mengetahui identitasnya, dan seketika Lin Tian menganggap hal ini sebagai bahaya. Maka dengan nada dingin dia menjawab.
"Kenapa kau bisa tahu?"
Kakek aneh yang maklum dengan kecurigaan Lin Tian buru-buru menyahut, "Haha, kau pikir aku tak tahu tentang pertarunganmu dengan topeng putih di atas tebing? Setelah kalian jatuh dan topeng kalian sama-sama hancur, kalian masih melanjutkan pertarungan di sungai kan?"
"Hah, siapa sebenarnya dirimu!?" Lin Tian makin waspada.
__ADS_1
Kakek itu mengangkat jari telunjuk kanannya, mengarahkannya ke arah api lilin yang berada di sudut ruangan. Detik berikutnya, api lilin yang sebelumnya bergerak-gerak itu seketika menjadi diam. Lalu perlahan-lahan mulai membesar.
"Aku juga bisa sedikit-sedikit tentang ilmu persilatan."
Walau pun yang dikatakan seperti itu, namun Lin Tian tahu bahwa kakek ini sebenarnya adalah orang sakti, bahkan bisa jadi lebih sakti dari Zhang Hongli.
Permainan tenaga dalam yang baru saja ditunjukkan kakek itu tidaklah sederhana dan Lin Tian sama sekali tidak tahu bagaimana caranya. Yang dia ketahui pasti adalah, orang ini memang orang sakti.
Maka secepat kilat dia merangkapkan tangan ke depan dada. Walau pun masih dalam keadaan berbaring, dia mencoba untuk menunduk ke samping memberi hormat.
"Maafkan mata saya yang buta karena tidak menyadari kemampuan senior."
"Hahaha...kemampuan seperti ini saja tak pantas untukmu menyebutku senior. Panggil saja aku kakek Chong San, jika kau mau, jadilah muridku barang satu dua bulan. Maka kau akan mudah untuk melakukan hal barusan."
"Murid memberi hormat kepada guru..."
"Hahaha bagus-bagus. Tapi bagaimana dengan keluarga Zhang?"
"Jika saya tinggal hanya beberapa bulan, keluarga Zhang akan baik-baik saja."
"Baiklah, istirahatlah sampai satu minggu dan lukamu akan pulih. Setelah itu kita akan mulai berlatih."
Maka begitulah, sejak seminggu kemudian, Lin Tian mulai menjalani kehidupan baru sebagai murid kakek Chong San. Pelajaran pertama yang diterima Lin Tian adalah mencari dan memotong kayu. Namun bukan sembarang memotong dan mencari.
"Kau harus ingat ini dan aku yakin kau orang jujur. Gunakan pedangmu untuk memotong kayu-kayu itu. Tapi dengan syarat, kayu pertama kau belah, kayu kedua kau potong, kayu ketiga kau tusuk lalu belah, kayu keempat kau tusuk lalu potong. Begitu seterusnya sampai kau mendapatkan seratus batang kayu. Harus selesai sebelum tengah hari!!" perintah Chong San kepada muridnya. Lin Tian tanpa banyak cakap lagi, segera melesat pergi dan melaksanakan perintah gurunya.
Dalam hati diam-diam dia berpikir, apakah saat ini dia sedang dipermainkan gurunya? Namun semua itu ia tepis jauh-jauh demi memfokuskan diri pada misi ini. Disamping itu, dia juga ingin menjadi lebih kuat lagi sampai mampu mengalahkan Zhang Heng dengan telak. Kalau perlu membikin keok Sian Yang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1