
Keributan di luar gedung utama perkumpulan Hati Iblis makin ribut seiring berjalannya waktu. Selama ini, agaknya Xu Cin Keng benar-benar tak ragu untuk membunuh lawannya. Buktinya sudah banyak anggota Hati Iblis yang malang-melintang dalam keadaan tewas.
Seperti sudah kehilangan kendali dan dikuasai amarah yang meluap-luap, Xu Cin Keng lupa bahwasannya dia telah melakukan perjanjian damai dengan Hati Iblis untuk suatu saat menggempur Iblis Tiada Banding.
Hal seperti ini tentu membikin marah Kiam Bong. Kakek tua itu segera melesat keluar begitu anak buahnya memberi laporan dan segera matanya terbelalak menyaksikan pemandangan ini.
Banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan baik dari pihaknya maupun pihak Xu Cin Keng. Apalagi saat Kiam Bong melihat bahwa Xu Cin Keng yang paling ganas membunuhi anggotanya, dia makin berang dan melompat maju.
"Berhenti!!!"
Pekiknya sembari kedua tangan mengirim tembakan hawa sakti yang dingin sekali. Karena kedatangannya yang tiba-tiba, Xu Cin Keng tak sempat menangkis dan dengan terpaksa harus membuang tubuhnya ke belakang.
"Boommm!!!"
Tanah tempat Xu Cin Keng berpijak tadi hancur seketika.
"Bagus, setelah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga! Heh Kiam Bong, apa maksudmu melukai muridku!? Apakah Hati Iblis sudah mengibarkan bendera perang kepada kami?"
Melihat betapa anak buahnya banyak yang mati, dengan kemarahan Kiam Bong balas membentak, "Xu Cin Keng, andai saja kau tak datang dan bersikap arogan begini, kiranya aku lah yang mendatangi tempatmu dan memohon maaf. Tapi agaknya hal itu sudah tak mungkin karena kau telah memberi kejutan yang begitu mengejutkan!! Kau tak tahu duduk permasalahannya, mengapa tiba-tiba bikin ribut hah!?"
"Siapa bilang tak tahu? Muridku Fu Hong terkena pukulan Nafas Salju! Hanya muridmu lah yang mampu mendaratkan pukulan Nafas Salju sekuat itu. Kau hendak menyangkal?"
"Tentu saja itu benar! Tapi muridmu lah yang memgacau! Muridku mendapat surat panggilan dari Lin Tian, dan muridmu pastilah mengekor di belakang."
"Asal bicara saja kau! Mana surat itu!? Muridku juga mendapatkannya dan muridmu lah yang membokong muridku!!"
Bantah-bantahan itu terus berlanjut dan hampir masuk ke tingkat berikutnya yaitu adu tinju. Namun ketika keduanya sudah memasang kuda-kuda dan siap saling terjang, mendadak orang-orang berseru dan bersorak saat mengetahui dua buah perahu panjang mendatangi tempat itu.
__ADS_1
"Itu ketua!" bisik salah seorang kepada teman-temannya.
Memang dua buah perahu panjang berwarna hitam itu adalah perahu Zhang Heng yang dinaiki bersama empat pendekar sejati lainnya. Mendengar akan keributan di dua perkumpulan, sekaligus belum kembalinya Lin Tian, Zhang Heng memutuskan untuk datang ke sini.
Ketika perahu sudah sampai darat, berturut-turut lima orang itu berlompatan dan segera berjalan ke tengah pulau. Karena pohon-pohon di sini cukup tinggi namun daunnya yang tak begitu lebat, sehingga dari tengah pulau sudah dapat melihat kearah pantai.
Ketika lima orang yang bersikap tak begitu bersahabat dengan mata mencorong tajam itu, tahulah mereka semua bahwa keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Lin Tian belum kembali....terakhir dia pergi ingin menemui Fu Hong dan Sung Hwa."
Mendadak orang-orang dari Pedang Hitam berseru kaget dan hal ini membuat rombongan Zhang Heng kaget pula. Xu Cin Keng berpikir jika Lin Tian sudah pulang dan meninggalkan segala kekacauan ini, ternyata kenyataannya bukan begitu.
"Kenapa kalian terkejut? Apakah murid-murid kalian tak memberi kabar?" tanya Zhang Heng bingung.
Dengan bingung pula Xu Cin Keng menjawab, "Maaf ketua, tapi Fu Hong ditemukan terluka parah di pulau itu, dan luka itu adalah akibat dari pukulan Nafas Salju. Sedangkan kukira Lin Tian sudah pulang lebih dulu."
"Maafkan saya ketua, tapi Lin Tian sudah pulang dan dalam keadaan terluka parah pula. Dia terkena pukulan Nafas Salju sama dengan Fu Hong. Saat ini karena merasa bersalah maka murid saya berusaha keras untuk menolongnya." berkatalah dengan hormat sambil menundukkan badan.
Tentu saja hal ini membuat kerutan diantara dua alis Zhang Heng makin dalam, tanda bahwa kebingungannya semakin meningkat, "Lin Tian pulang? Mana dia?"
"Heh jangan berbohong kau tikus tua!! Urusan kita belum selesai! Mana muridmu? Akan kupecahkan sendiri kepalanya!" ternyata Xu Cin Keng belum menerima hal itu dengan dada lapang dan terus mendesak Kiam Bong.
"Xu Cin Keng!!" bentak Zhang Heng dengan pandangan tajam. Diikuti oleh keempat pendekar sejati yang juga mengirim tatapan membunuh.
"Jangan menyela keputusan ketua!" A Yin berkata dengan menekankan setiap kalimatnya.
Nyali Xu Cin Keng yang arogan itu segera menciut karena maklum akan kepandaian A Yin yang memang jauh di atasnya. Maka dia hanya mampu terdiam sambil menundukkan muka.
__ADS_1
Kiam Bong segera membungkuk hormat dan mengatakan bahwa Lin Tian sedang dirawat disalah satu ruangan dalam. Setelah mendengar permintaan Zhang Heng yang ingin melihat langsung, maka Kiam Bong mengantar mereka. Meninggalkan mayat-mayat itu seolah hanya barang tak berharga yang memang patut di buang.
Begitu sampai pada ruangan Lin Tian yang sedang dibaringkan dan ditunggui Sung Hwa, Zhang Heng lekas menghampiri pemuda itu untuk mengamati keadaannya.
"Bagaimana kondisinya?"
"Seharusnya baik-baik saja ketua, dia hanya butuh istirahat saja." jawab Sung Hwa setelah menjura memberi penghormatan akan kedatangan Zhang Heng beserta rombongannya.
"Aku akan membawanya pulang." tegas Zhang Heng kemudian.
Sontak hal ini membuat Sung Hwa membelalakkan mata dan serta merta menjatuhkan diri berlutut sampai jidatnya membentur lantai keras sekali. Gurunya berseru karena kaget sekaligus heran.
"Sung Hwa!?" seru Kiam Bong spontan.
"Mohon maaf sebesar-besarnya ketua, tapi mohon biarkan Lin Tian tinggal di sini barang satu atau dua hari. Ini semua kesalahan saya yang terlalu ceroboh dan terbawa emosi sampai membuat Lin Tian seperti ini. Mohon ijinkan saya untuk bertanggung jawab."
Zhang Heng memandang penuh perhatian lalu memandang Lin Tian yang masih berbaring "tak sadarkan diri" itu. Sebenarnya dia tak terlalu peduli Lin Tian mau berada dimana karena itu tak membuat dia rugi. Tapi jika Lin Tian ada di dekatnya, dia bisa meminta pemuda itu untuk melakukan banyak hal.
Tapi di sisi lain, dia ingin membuat kepercayaan Hati Iblis kepada Iblis Tiada Banding meningkat. Maka akhirnya, dia memutuskan untuk mengabulkan permintaan Sung Hwa.
"Aku tak tahu dan tak peduli apa urusanmu dengan Fu Hong sampai terjadi hal semacam ini. Kata Xu Cin Keng, Fu Hong terluka oleh pukulan Nafas Salju. Tapi, yah...itu urusan kalian, aku tak berhak ikut campur. Baiklah, akan kubiarkan Lin Tian berada di sini dan besok jika sudah sadar segera beritahu dia untuk segera pulang." ujarnya kemudian memandang Lin Tian sebentar lagi sebelum pergi dari ruangan itu.
Masih dengan bersujud hormat, tak berani mengangkat muka, Sung Hwa menjawab lirih. "Terima kasih atas kebaikan anda...ketua...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1