Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 178. Berlatih Ilmu Pedang


__ADS_3

"Srat-Krak!"


Satu balok kayu terbelah menjadi dua. Lin Tian lalu mengambilnya dan mengikatkan kayu itu pada kayu lainnya untuk kemudian dia gendong di punggung.


Sudah satu minggu lamanya sejak Lin Tian menjadi murid Chong San dan berlatih menebas balok-balok kayu di hutan. Akan tetapi hal yang paling mengherankan hati Lin Tian adalah, selama ini kakek itu hanya menyuruhnya untuk memotong-motong kayu bakar. Atau sesekali mengambil air di sungai untuk memenuhi tong kosong di rumah.


Dia kadang-kadang berpikir, mengapa seorang pendekar sepertinya digembleng dengan latihan-latihan yang sama seperti orang pertama kali belajar silat? Hanya saja cara memotong balok-balok kayu itu yang sedikit berbeda karena harus menggunakan teknik khusus, tapi apa bedanya? Hanya memotong kayu saja!


"Aku harus menanyakannya nanti. Harus!"


Lin Tian yang sudah kelewat penasaran itu akhirnya membulatkan tekad untuk menanyakan hal ini kepada gurunya. Jika memang gurunya itu mengira dia masih seorang pemula, maka dia harus menunjukkan beberapa kepandaian.


Tak sampai seperempat jam, Lin Tian sampai di rumah Chong San yang berada di atas bukit kecil itu. Ketika dia sampai sana, ternyata gurunya sedang duduk di atas dahan pohon tinggi sambil bernyanyi-nyanyi.


"Kakek, aku sudah kembali!"


Lin Tian kemudian berjalan ke belakang rumah dan meletakkan kayu-kayu hasil jerih payahnya ke tumpukan kayu lain. Sedetik kemudian, dia kembali ke tempat kakek itu berada.


"Kakek, bisakah kau turun? Ada yang ingin aku tanyakan!!" seru Lin Tian sambil mendongak.


Tanpa menoleh Chong San menjawab, "Tidak bisakah kau tanya tanpa harus aku turun? Tempatku sudah terlanjur nyaman..."


Lin Tian menghela nafas berat. Memang aneh benar watak orang ini. Biasanya nampak berwibawa, tapi tak jarang pula seperti seorang pelawak yang suka berkelakar. Tapi yang bikin Lin Tian sedikit merinding adalah, kadang-kadang gurunya itu menjadi seperti gila.


Namun bagaimana pun keadaan gurunya, orang tua itu tetap memperlakukan Lin Tian dengan baik.


"Kenapa kau selalu menyuruhku untuk memotong kayu bakar selama seminggu ini? Waktu aku pertama kali belajar silat, aku juga pernah melakukan hal seperti ini, bahkan lebih berat."


"Ho...kau ingin tahu?" kakek itu mulai menatap Lin Tian sambil menyeringai.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin tahu, bukankah aku muridmu? Wajar kan jika seorang murid ingin mengetahui maksud gurunya?" Lin Tian membalas dengan sedikit perasaan heran.


Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Lin Tian, melainkan malah senyum-senyum sambil menatap ke sana-sini. Sampai beberapa saat kemudian terdengar dia berkata.


"Percaya atau tidak, tapi kau tidak akan menyesal dengan hasil dari latihan yang aku berikan. Dengan tingkat kepandaianmu sekarang, dalam seminggu saja seharusnya kau sudah bisa melihat hasilnya."


"Huh...?"


Lin Tian bingung dengan pernyataan barusan. Hanya memotong kayu setiap hari saja dia sudah bisa melihat hasilnya? Mana mungkin? Dia akan lebih percaya dengan ucapan itu jika saja setiap hari dia berlatih duel bersama gurunya.


"Sepertinya kau tak percaya. Kalau begitu jaga seranganku!!"


Kakek itu sudah melesat cepat dari atas pohon kearah Lin Tian. Lin Tian yang melihat itu menjadi terkejut juga kagum, karena dia sama sekali tidak melihat persiapan kakek ini dan tahu-tahu sudah melesat cepat.


Pria tua itu melancarkan serangan dengan cara menusukkan kelima jari tangannya mengarah ubun-ubun Lin Tian. Walau pun cepat sekali gerakannya, namun di mata Lin Tian itu bukanlah apa-apa. Maka secepat kilat dia melangkah mundur satu langkah.


"Syut-Bruk!!"


Lin Tian melihat kesempatan ini. Lekas dia maju dan menyerang Chong San dengan tangan kanan membentuk gerakan membacok.


"Hehe tak buruk..." kata Chong San dan menangkap tangan Lin Tian dengan sempurna. Kemudian dia menebaskan tangan kanannya yang sedang bebas kearah pinggang Lin Tian.


"Buk!!"


Secepat kilat Lin Tian memapaki tangan kanan Chong San dengan tebasan tangan kiri pula. Dapat dirasakan oleh Lin Tian betapa keras dan kokoh tangan Chong San itu.


"Ini baru permulaan!!" Chong San berseru dan menarik kedua tangan. Sedetik kemudian, dia melakukan serangan kaki.


Karena Chong San lebih senior daripada Lin Tian, sehingga setiap serangannya membuat ia kerepotan. Padahal kakek itu hanya main-main saja.

__ADS_1


Sampai dua puluh jurus berlalu, dada Lin Tian berhasil kena hantam telapak tangan kiri Chong San yang membuatnya terhuyung tiga langkah.


"Hahaha...lihat bukan? Kau sudah jadi lebih kuat!! Jika kau belum sadar, semua gerakanmu tadi adalah gerakan-gerakan yang kau gunakan untuk memotong batang pohon!" kakek itu tertawa keras.


Lin Tian menatap tangannya sendiri dengan tidak percaya. Tanpa diberitahu pun dia juga sudah sadar dengan semua itu.


Memang benar apa yang diucapkan Chong San barusan. Semua gerakan Lin Tian tadi adalah gerakan-gerakan ketika dia memotong batang pohon. Tapi dia tak pernah menyangka sebelumnya bahwa gerakan itu adalah ilmu silat.


"Kakek, apa yang kau lakukan padaku?"


"Haha, aku tak melakukan apa-apa kecuali mengajarimu teknik pedang. Caramu memotong pohon itu adalah gerakan-gerakan dari ilmu pedang yang akan kuajarkan. Asal kau tahu, jika aku langsung mengajarimu ke ilmu pedang itu, untuk seukuranmu mungkin kau akan susah mengingat dalam waktu satu dua minggu. Tapi lihatlah saat ini, kau sudah menguasai dasarnya melalui kegiatan yang tak terlalu berarti seperti memotong kayu-kayu itu. Memang aneh sebenarnya, tapi kebanyakan manusia akan lebih ingat dengan kebiasaannya dibanding dengan kepentingannya. Kau mengingat gerakan itu bukan dari mengingat-ingat, melainkan dari kebiasaan yang kau bentuk selama seminggu ini."


Lin Tian termangu-mangu mendengar penjelasan itu. Memang dia tak pernah mengingat-ingat gerakan itu setiap kali memotong pohon, tapi dia bergerak secara spontan dan terbiasa. Dan selama ini dia tak menyadari hal ini.


"Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya untuk mempelajari ilmu pedang itu?" akhirnya Lin Tian bertanya.


"Itu urusan mudah, kau lihat gerakanku ini!"


Kakek itu tiba-tiba sudah memegang tongkat bututnya yang entah diambil dari mana sebelumnya. Kemudian dia mulai bersilat dengan gerakan-gerkaan ilmu pedang. Tongkat bututnya itu ia gunakan sebagai pedang.


Lin Tian memandang semuanya dengan mata terbelalak. Dia kaget begitu melihat semua gerakan pedang kakek itu ternyata sama persis dengan gerakan yang dia lakukan ketika memotong pohon. Hanya bedanya gerakan gurunya lebih luwes dan indah, serta ada beberapa penambahan gerakan di ilmu pedang itu. Namun Lin Tian sadar, gerakan dasarnya adalah gerakan ketika dia memotong batang pohon.


"Bagaimana, kau sudah melihatnya kan?" tanya kakek itu sesaat setelah menyelesaikan gerakannya.


Tanpa banyak cakap lagi, Lin Tian mengambil Pedang Dewi Saljunya dan mulai bersilat pedang seperti gerakan gurunya. Memang gerakannya masih kaku dan kadang ada yang salah, namun sudah cukup bagus bagi seseorang yang hanya melihat contohnya sekali.


"Bagus...bagus...." Chong San terus mengeluarkan kalimat pujian ketika melihat gerakan Lin Tian.


"Latihlah itu setiap hari, menurut perkiraanku, mungkin dalam beberapa minggu atau satu bulan, kau sudah menguasainya."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2