Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 101. Kekacauan


__ADS_3

Lin Tian dengan santainya berjalan melewati rumah-rumah penduduk. Tujuannya adalah ke istana besar itu, dia harus bisa memasukinya.


Begitu sampai di depan tangga yang menghubungkan dengan pintu utama istana, dua orang anggota Aliansi segera mencegatnya dan bertanya.


"Katakan, siapa kau dan mau apa?"


Lin Tian tenang-tenang saja dan tersenyum. Kemudian menjawab, "Aku? Aku hanya anggota rendahan yang tidak berharga."


Orang itu nampak memicingkan mata sebelum kembali melontarkan pertanyaan, "Siapa namamu? Dan kenapa aku tidak pernah melihatmu selama ini?"


"Hahaha...wajar jika tuan-tuan sama sekali tidak mengenalku karena aku baru bergabung dengan Aliansi sekitar satu minggu lalu. Nama saya Yu San." ucap Lin Tian spontan dan nama itu entah kenapa tiba-tiba muncul di benakknya.


Kedua orang itu saling pandang sejenak. Lalu seorang yang sebelumnya hanya diam bertanya, "Mau apa kau datang kemari?"


"Ah...aku hanya ingin melaporkan hasil misi." jawab Lin Tian.


"Hm...aneh sekali, lalu kenapa ketika kau mengambil misi, kau tak datang kemari? Bukankah seharusnya saat pengambilan misi kau juga harus datang kemari meminta ijin?" kembali orang itu bertanya.


"Sialan...terlalu banyak basa-basi." batin Lin Tian yang sudah tidak sabar.


Maka pemuda ini cepat bergerak dan...


"Tuk-Tuk!"


Dengan dua kali totokan, dua orang itu roboh tak sadarkan diri. Kemudian secepat kilat Lin Tian menggotong mereka sebelum akhirnya mendudukkannya di atas kursi panjang.


"Dasar cerewet!" ucapnya perlahan kemudian melangkah pergi memasuki istana.


Begitu satu langkah memasuki istana itu, Lin Tian sudah disajikan dengan pemandangan yang amat luar biasa. Istana itu amat megahnya, lantainya sangat bersih dan pilar-pilar istana dilapisi dengan emas murni. Di atas sana tergantung banyak sekali batu berlian yang mengeluarkan cahaya terang.


Di tembok-tembok terdapat banyak lukisan dan sajak-sajak indah yang kesemuanya tersusun dengan sangat rapih.


Lin Tian harus menahan rasa kagumnya demi menyelesaikan tugas berbahaya ini. Maka dirinya cepat melangkah masuk tanpa mempedulikan semua tatapan bingung para pelayan dan pengawal di sana.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Aku baru lihat." ucap beberapa pelayan di sudut ruangan yang mampu didengar Lin Tian. Namun pemuda ini memilih acuh dan terus melangkah.


Sampai di ruangan tengah, dia melihat banyak pintu-pintu mewah. Ada tujuh buah pintu. Tiga di sisi kiri, tiga di sisi kanan, dan yang satu sekaligus yang paling mewah, berada di sisi depan.


"Hm...kemana aku harus masuk lebih dulu?" tanya pemuda itu seorang diri.


Dia melirik ke sana-sini. Di setiap pintu itu terdapat dua orang penjaga yang kelihatan kuat. Mereka semua sedang memandang tajam kearah Lin Tian.


Setelah berpikir sejenak, dia mencoba untuk memasuki pintu paling mewah itu lebih dulu. Tanpa basa-basi, pemuda ini mendekati pintu dan hendak meraih gagang pintu sebelum terdengar bentakan keras.


"Hei bocah!! Kau mau apa!!?"


Lin Tian memandang, kemudian menjawab, "Aku ingin bertemu pemimpin untuk melaporkan misiku."


Orang itu menatap tajam, lalu kembali membentak, "Kalau ingin melapor, tunggu sampai besok ketika pemimpin pulang! Sekarang ini di dalam hanya ada Tuan Elang Salju bersama tamu kehormatan!"


Lin Tian pura-pura memasang wajah terkejutnya. Kemudian dia berkata, suaranya agak nyaring karena sedang berperan seperti orang kaget, "Ah...ternyata begitu. Tapi siapakah tamu agung yang bisa mendapat kehormatan untuk bertemu Tuan Elang Salju?"


"Oh...hahah...Bagus! Bagus! Sepertinya kejayaan Aliansi sudah di depan mata. Keluarga Zhang itu biarpun kecil, akan tetapi jika dibiarkan bisa bahaya juga. Haha...kiranya aku yang muda ini sudah berlaku lancang, kalau begitu maafkan Tuan dan aku mohon pamit." jawab Lin Tian sembari membungkukkan badan.


"Ya...ya...pergilah dan berlatihlah bocah! Agar Nona Zhang yang katanya cantik bagaikan dewi itu bisa tertarik kepadamu kemudian...hehehe...kau tahu maksudku..." jawab orang itu yang disambut dengan gelak tawa semua penjaga pintu.


Lin Tian hanya tersenyum dan berjalan pergi dari sana.


Begitu tiba di luar, raut wajahnya berubah total. Jika sebelumnya tersenyum ramah sekali, kali ini wajahnya berubah dingin dengan mata tajam bagaikan iblis haus darah.


"Kalian akan membayar semua ini!" ucapnya dingin lalu berkelebat pergi dari sana.


...****************...


"Ah seperti itu ya....kiranya makin hari mereka makin kuat saja." kata Elang Salju kepada tamu kehormatannya.

__ADS_1


"Benar Tuan, mohon kebijakan Tuan. Ini benar-benar sangat berbahaya." balas pria paruh baya itu yang bukan lain adalah Ang Bei.


Elang Salju nampak berpikir. Dia mengelus-elus dagunya sambil mengerutkan kening. Setelah beberapa menit, akhirnya terdengar dia berkata, "Hem, lebih baik kita menunggu kepulangan pemimpin. Dialah yang paling pantas untuk mengambil keputusan."


"Benar Tuan, aku juga setuju. Karena keluarga Zhang ini sejatinya adalah musuh besar pemimpin dan muridnya."


"Haha...aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu Tuan Ang. Kalau begitu, terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini. Jujur saja, kau dan Xiao Fu sangatlah membantu Aliansi." kata Elang Salju sambil berdiri dan menjura.


Ang Bei pun segera berdiri dan menjura pula. Detik berikutnya, dia berkata penuh hormat, "Ah...tidak Tuan, bukan begitu. Aku ini hanyalah orang egois yang ingin meraih kursi pemimpin Asosiasi Gagak Surgawi. Tak perlulah kiranya Tuan, apalagi seluruh Aliansi, mengucapkan terima kasih kepada saya yang rendah ini."


Bersamaan dengan ini, terdengar teriakan riuh rendah di luar istana. Lalu tiba-tiba, salah satu penjaga pintu itu membuka pintu kasar dan berlutut.


"Tuan, markas kita kebakaran. Banyak rumah-rumah yang terbakar secara tiba-tiba!" seru orang itu memberi laporan.


Terkejutlah hati Ang Bei dan Elang Salju. Maka secepat kilat Elang Salju segera berseru memberi perintah, "Cepat padamkan api dengan alat seadanya. Kirim seratus orang untuk memeriksa sekitar. Ini pasti serangan!!"


Penjaga gerbang itu segera menyanggupi perintah Tuannya dan segera pergi. Kemudian Elang Salju bersama Ang Bei lekas pergi keluar melihat keadaan.


"Apa-apaan ini?" gumam Ang Bei tanpa sadar.


Di luar sana ternyata keadaan sudah terang sekali, bahkan terlalu terang. Karena di sana-sini berkobar si jago merah yang melahap banyak sekali rumah. Asap hitam membumbung tinggi menutup langit malam, membuat sang bulan tertutup rapat oleh asap tebal itu.


"Ayo kita cari ke sekitar. Sudah pasti ada orang di balik ini semua!" ucap Elang Salju lalu berlari cepat. Tanpa menajawab, Ang Bei segera mengikuti.


Sedangkan di tebing sebelah timur sana, Lin Tian sedang berdiri sembari memandang dingin keempat orang mayat yang baru saja dibunuhnya.


"Hmph, matilah dengan kebanggaanmu sendiri!" ucapnya dingin dan menyobek baju penyamarannya. Setelah itu dia membakar baju itu dan melemparkannya ke arah rumah di depannya.


Pemuda ini membalikkan tubuh, kali ini dia sudah berubah wujud menjadi seorang Pendekar Hantu Kabut lengkap dengan topengnya.


"Ang Bei...kali ini kau telah salah pilih langkah." katanya dengan dingin dan menyeramkan. Sedetik kemudian, tubuhnya meloncat kebawah dengan kecepatan di luar nalar manusia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2