
Suatu sore hari di sebuah desa yang cukup besar, nampak sepi sekali bagaikan desa mati. Desa ini masih menjadi bagian daripada wilayah kekaisaran Chu. Di dekat desa tersebut, terdapat sebuah bukit yang bernama Bukit Pedang.
Nama ini bukan tanpa alasan, karena di bukit itu selain tumbuh banyak sekali pohon, juga banyak sekali terlihat batu-batu tinggi nan tajam yang menjulang tinggi menunjuk kearah langit. Maka dari itulah, bukit ini dinamai orang dengan nama Bukit Pedang.
Desa itu sebenarnya bukanlah desa mati, karena tentu saja ada penghuninya. Namun karena teror yang menyebar akhir-akhir ini, membuat setiap kali senja datang, semua orang menutup pintu jendela rumah rapat-rapat dan berkumpul bersama keluarga dengan perasaan cemas luar biasa.
Teror itu adalah sebuah teror mengerikan yang terjadi di desa tersebut. Sebuah teror yang janggal sekali. Yaitu adanya penculik misterius yang melancarkan aksinya setiap kali matahari terbenam.
Dia ini bukan hanya sekedar penculik, namun seorang penculik yang menargetkan anak-anak saja, baik itu perempuan maupun laki-laki. Maka dari itulah, setiap warga yang dirumahnya terdapat seorang bayi, hati mereka selalu tidak bisa tenang setiap hari.
Tiba-tiba, terdengar suara keras yang ikut terbawa angin sehingga suara itu terdengar sampai ke seluruh penjuru desa. Suara ini adalah suara jerit wanita, yang tentu sudah dapat ditebak apa yang terjadi.
"Ayo cepat ke sana!!" kata pria paruh baya yang menjadi pimpinan rombongan peronda itu.
Maka berbondong-bondonglah mereka lari ke asal suara yang letaknya sedikit naik ke atas bukit. Begitu sampai, mereka mendengar suara gaduh dari dalam yang ditimbulkan akibat pecahnya perabotan dapur atau sejenisnya dan juga suara maki-makian yang tak pernah berhenti terdengar.
"Iblis!! Pergi kau, jangan ganggu desa ini!!"
Buru-buru belasan orang itu menerobos pintu masuk. Dan apa yang mereka lihat selanjutnya menyebabkan bulu kuduk meremang.
Terlihat di sana terdapat seorang nenek-nenek yang berambut riap-riapan. Matanya merah darah, dan kukunya panjang-panjang berwarna hitam. Dia ini sedang menjilati seorang anak laki-laki yang agaknya baru berumur tujuh tahun. Saking takutnya, anak ini sudah dalam keadaan pingsan.
Sedangkan untuk ibunya, dia masih berusaha melempar ini dan itu yang mampu diraihnya. Namun nenek itu tetap bergeming, seolah-olah semua benda yang menghantam tubuhnya itu sama sekali tidak terasa.
"Setaaann!!" teriak pria paruh baya itu penuh amarah dan menerjang ke depan diikuti para anak buahnya.
"Cess-Ceess-Wuutt!!"
Sedetik kemudian, belasan orang itu segera terpelanting kesana kemari dengan tubuh tak bernyawa. Pasalnya, begitu mereka sudah dekat dengan si nenek, orang itu segera menyampok senjata-senjata dengan kuku tangan kiri dan rambutnya yang bisa berputar secara aneh. Sontak hal ini membikin roboh mereka semua dalam keadaan penasaran.
"Khekekeh...anak baik....anak baik..." gumam nenek itu sambil terus menjilatinya.
Sedangkan si wanita tadi sudah pingsan karena tidak kuat menahan pukulan batin yang teramat hebat ini.
__ADS_1
Nenek ini segera memondong tubuh si bocah, kemudian sekali kakinya bergerak, dia sudah lenyap dari sana.
...****************...
"Hm...menurut peta yang diberikan Nona, seharusnya ini tempatnya."
Terdapat lima puluhan orang pendekar yang memasuki tempat itu dengan menunggang kuda. Mereka ini adalah rombongan keluarga Zhang yang dipimpin langsung oleh Lin Tian atas perintah Zhang Qiaofeng.
Karena teror yang makin hari makin menggelisahkan warga, maka kepala desa memutuskan untuk mengundang orang-orang dunia persilatan untuk membantu. Karena itulah keluarga Zhang bersedia mengulurkan tangan untuk membantu desa malang ini.
"Sepertinya tidak ada apa-apa di sini." ucap salah satu pasukan.
"Benar sekali, kenapa teror yang kita dengar itu seperti amat mengerikannya. Sedangkan sekarang? Lihat, mereka beraktifitas seperti biasa." jawab pula temannya.
"Hei kalian, coba lihat baik-baik." sela Lin Tian.
"Wajah mereka seperti mayat hidup." imbuhnya.
"Semua warga desa seperti mayat berjalan, melihat wajah dan matanya itu, jelas bahwa mereka sama sekali tidak baik-baik saja. Dan untuk orang-orang itu, tentu mereka orang luar. Dan orang yang ada di sana, melihat dari pakaian dan cara berjalan, tentu mereka ini para pendekar yang ingin menumpas teror itu sama seperti kita." kata Lin Tian sambil menunjuk ke kiri, dilanjutkan dengan menunjuk ke kanan.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju salah satu rumah makan sederhana. Lin Tian menghentikan kudanya di depan rumah makan itu diikuti oleh seluruh pasukan. Kemudian, tanpa banyak cakap lagi mereka memasuki kedai tersebut.
Lin Tian menyuruh mereka untuk memesan makanan. Karena tempat ini terlalu sempit, maka sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk makan di luar beralaskan rumput dan tanah. Sedangkan Lin Tian, dia sudah menghampiri si pemilik kedai.
"Paman, bisakah kau jelaskan secara terperinci tentang teror di desa ini?"
"Hah...sebenarnya ini berawal dari tiga bulan lalu..." jawab kakek itu dan mulailah dia bercerita.
Tiga bulan lalu, para warga melihat ada puluhan orang yang mendaki bukti pedang. Mereka tidak tahu siapa adanya mereka, namun karena tidak mengganggu, para warga memilih untuk membiarkannya.
Beberapa minggu setelah itu, teror pun terjadi. Dimulai saat senja, selalu terjadi penculikan-penculikan anak yang sangat misterius. Kemudian setelah beberapa hari, ada satu orang pemuda yang berhasil memergoki si pencuri yang ternyata adalah seorang nenek-nenek.
"Setelah itu, pemuda itu lekas kabur dan mengabarkan berita ini kepada kepala desa. Sudah berkali-kali kami coba membinasakan iblis itu, namun malah warga kami sendirilah yang binasa. Merasa tak ada pilihan lain, maka kepala desa mengirim berita teror ini kepada semua orang dengan harapan akan ada bala bantuan dari pendekar yang sudi menolong." pria ini mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
"Apakah sebelumnya sudah ada pendekar yang berusaha menumpas nenek itu Tuan?"
"Tentu ada. Dia itu berpakaian hitam-hitam dan bertopeng. Seperti...seperti....ah seperti dia!!" jawab pria itu yang diakhir kalimatnya, menunjuk seseorang ke arah pintu kedai.
"Ah...ternyata memang dia orangnya!!!" serunya lagi dengan muka kaget.
Begitu pula dengan Lin Tian. Dia juga sedikit kaget bahwa seorang yang mencoba melawan nenek itu ternyata adalah kawannya sendiri.
"Zhi Yang? Jadi kau yang mencoba melawan nenek itu?"
"Benar, dan aku kembali lagi ke sini untuk balas dendam!" balas Zhi Yang si pendekar Hantu Seratus Lengan itu.
"Huh, balas dendam? Memangnya kenapa?"
"Waktu itu aku kalah dan hampir mati sialan!!" bentaknya kesal.
"Eh...begitu ya..."
"Begitu apanya!? Kau mengejekku ya!?" bentakan ini makin keras dan agaknya dia makin marah.
"Tenang, tenang. Lebih baik kita ikut berkumpul bersama para pendekar yang hendak menyerbu ke Bukit Pedang. Ku dengar para penebar teror ini bermarkas di sana. Tapi sebelum itu, marilah duduk dan makan agar nanti tidak kelaparan saat sedang dalam pertempuran." jawab Lin Tian sambil menampilkan ekspresi pahit di wajahnya. Juga dia segera menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Zhi Yang untuk duduk.
"Hmph, awas saja nanti. Aku akan memecahkan kepala tua bangka itu!!" Zhi Yang bersungut-sungut dan duduk di kursi dengan kasar.
"Hehe....tenang, kau pasti bisa karena aku akan membantumu."
"Diam kau bocah!!" kembali dia membentak.
"Eh....galak sekali!!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
BERSAMBUNG
__ADS_1