Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 200. Apakah Itu Dirimu?


__ADS_3

Yin Yin sudah dipastikan pulih sepenuhnya dari luka tusuk itu ketika satu hari sebelum penyerangan ke distrik merah. Hari ini Zhang Qiaofeng meminta semua tetua dan Hantu Merah berkumpul di aula pertemuan untuk membicarakan strategi penyerangan.


Tentu saja, karena Zhang Qiaofeng sendiri ikut dalam pertempuran, sehingga Hantu Merah harus selalu berada di dekatnya dan tak boleh jauh-jauh.


Penyergapan ini akan dilakukan siang hari karena distrik merah akan semakin ramai saat malam tiba. Penyerangan pun dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan menyamar seperti yang dilakukan Lu Jia Li dan Yin Yin kala itu.


Zhang Qiaofeng mengatakan, untuk para tetua dan Hantu Merah masih harus mengenakan topeng saat menyamar. Hal ini dikarenakan akan sangat berbahaya jika musuh melihat wajah di balik topeng itu.


Demikianlah hasil diskusi pada hari itu yang mencapai keputusan akhir bahwa dua ratus orang pasukan elit keluarga Zhang akan menyerbu ke sana dengan dipimpin langsung oleh Zhang Qiaofeng. Gadis itu sengaja tak ingin terlalu banyak membawa pasukan karena tidak ingin menarik banyak perhatian.


Setelah selesai pertemuan, di lorong panjang yang menghubungkan ruang pertemuan dengan taman, Zhang Qiaofeng nampak berjalan dengan tangan kiri memijat kepala.


"Hah...hanya melewati satu pertemuan saja aku sudah sepusing ini. Kukira dahulu aku tidak selemah ini...."


Gadis itu terus berjalan ke arah taman. Memang dia berniat menuju ke sana untuk menenangkan diri barang sejenak.


Ketika sampai, Zhang Qiaofeng lekas duduk di kursi kayu panjang yang berada di pinggir taman dekat air mancur. Gadis itu mendudukkan tubuhnya dengan kasar seolah ingin cepat-cepat melepas penat.


"Sejak bibi Yin mengatakan bahwa kakek Kang Lim mempunyai sahabat orang Zhang, aku selalu terpikirkan soal itu. Siapa kira-kira sahabat kakek Lim yang bisa membuat seorang pendekar sejati sepertinya membela kami?"


Akhirnya setelah dipikirkan dengan keras, Zhang Qiaofeng sama sekali tidak menemukan alasan yang jelas dengan hal itu. Dia menghela nafas berat dan memandang air mancur di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Gadis ini mengeluarkan buku kecil sebesar telapak tangan yang cukup tebal dari balik jubahnya. Buku ini adalah catatan hidupnya yang mulai ia tulis semenjak kepergian Lin Tian. Selama mengurung diri di kamar, sangat sedikit hal-hal yang dilakukan Zhang Qiaofeng. Diantara sedikit kegiatan itu, menulis buku inilah yang menjadi kegiatan utamanya.


Zhang Qiaofeng mulai menuliskan kisahnya. Mulai dari pindahnya dia dan keluarga ke Utara, menyelidiki jejak Iblis Tiada Banding sampai menemukan distrik merah yang menjadi tempat persembunyian mata-mata kelompok itu.


Selama mengurung diri, gadis ini baru menuliskan kisahnya dari masa kecil sampai kematian Lin Tian, dia sama sekali belum sempat menuliskan tentang perpindahannya dari Selatan ke Utara. Maka kali inilah dia menuliskan itu semua.


Tak lupa pula dia menuliskan tentang kisah pertemuan Yin Yin dan Lu Jia Li dengan seorang kakek pendekar sejati bernama Kang Lim. Di bagian terakhir, dia menuliskan berbagai macam pertanyaan mengenai sahabat Kang Lim itu.

__ADS_1


Di bagian paling akhir dari kumpulan pertanyaan, ada satu pertanyaan yang ditulis seindah dan serapih mungkin oleh gadis itu. Pertanyaan itu berbunyi...


"Apakah itu dirimu...?"


...****************...


Hari penentuan sudah tiba, pagi hari dua ratus pasukan itu sudah berkumpul di depan gerbang kediaman Zhang. Pakaian mereka bermacam-macam.


Ada yang berpakaian sastrawan, ada pula bangsawan, pendeta, pedagang, bahkan pengemis pun ada.


Yang tidak melakukan penyamaran hanyalah enam orang, yaitu Zhang Qiaofeng sendiri dan Hantu Merah.


Mereka sama sekali tidak menggunakan kuda, karena selain karena kota itu tidak terlalu jauh, Zhang Qiaofeng juga tidak ingin terlalu mencolok.


"Kita berangkat."


Sungguh berbeda dari pemimpin-pemimpin lain yang disaat mengumpulkan pasukan untuk menyerang suatu wilayah, dia akan berpidato panjang lebar terlebih dahulu sebelum memerintahkan untuk berangkat ke tempat tujuan.


Dua ratusan ini berbondong-bondong pergi kekota tempat distrik merah berada, yaitu kota Tanah Giok yang berjarak kurang lebih sehari perjalanan dengan jalan kaki dan setengah hari perjalanan menunggang kuda.


Sedangkan distrik merah sendiri berada di ujung Selatan kota Tanah Giok yang memang sudah terkenal sebagai sarang lacur. Distrik merah sendiri bukan hanya terkenal di kota Tanah Giok saja, melainkan tidak ada orang di Utara ini yang tidak tahu akan sarang lacur di Tanah Giok itu.


Tanpa terasa satu hari perjalanan terlewat dan rombongan ini sampai di hutan dekat kota Tanah Giok. Zhang Qiaofeng memberhentikan mereka dan mengutus beberapa orang untuk menyelidik ke sana.


Selang beberapa jam kemudian, mereka kembali dan membawa laporan.


"Kota ini terdiri dari tiga gerbang nona. Dari Utara, Barat dan Timur. Sedangkan di selatan sana tertutup oleh pegunungan tinggi." ucap salah satu penyelidik.


Zhang Qiaofeng memandang dan memang benar di bagian Selatan kota itu terdapat pegunungan tinggi yang menutupi seluruh bagian kota wilayah Selatan.

__ADS_1


"Ada informasi apalagi?"


"Distrik merah itu wilayah legal yang diijinkan oleh walikota. Sehingga–"


"Aku sudah tahu itu, katakan informasi lain. Dimana pemimpin dari distrik merah?" potong Zhang Qiaofeng cepat-cepat.


Tiga orang penyelidik itu saling pandang sejenak sebelum salah satu dari mereka menjawab, "Maaf nona, sebenarnya kami pergi lama adalah untuk mencari keberadaan orang itu. Namun tidak membuahkan hasil dan kami tidak tahu dimana atau siapa orang tersebut."


Zhang Qiaofeng menoleh kepada Yin Yin setelah mendengar ini, "Apa mungkin orang itu adalah Sie Yan yang sudah tewas? Atau Yan Cu yang sudah tewas pula? Bagaimana menurutmu?"


"Saya juga tidak tahu nona, tapi sepertinya bukan mereka. Karena distrik merah adalah milik Iblis Tiada Banding, maka tentu pemimpinnya adalah Sian Yang."


"Aku tahu, tapi yang kutanyakan adalah, siapa orang yang dipercaya Sian Yang untuk menjaga tempat itu?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan ini, semuanya hanya bungkam karena memang tak tahu siapa adanya pemimpin distrik merah itu.


"Sudahlah, nanti juga kita akan tahu. Semuanya, berpencar dan masuk melalui tiga gerbang. Sedangkan untuk aku dan Hantu Merah akan masuk dari Selatan."


"Apa, bagaimana bisa begitu?" seru Zhang Hongli yang sedikit tak terima.


"Kakek, kami semua adalah murid-muridmu, apakah kau tak mempercayai kami?" tanya Zhang Qiaofeng. Pandangannya tajam menusuk.


Zhang Hongli diam tak mampu menjawab, akhirnya terdengar perkataannya lirih, "Baiklah..."


"Kalau begitu, berpencar!!"


Sedetik kemudian, orang-orang itu melesat ke sana-sini untuk melaksanakan perintah nona mereka. Kecuali Hantu Merah yang masih setia berdiri di belakang gadis tersebut.


"Ayo berangkat, kita akan masuk dari Selatan dan mengamati distrik itu diam-diam."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2