
"Oh, keluarga Zhang? Ah...mari duduk...mari duduk..."
Kang Lim mengangguk-angguk dan menggiring Lin Tian ke salah satu pohon yang sudah tertebas. Dia menyuruh Lin Tian duduk di sana sedangkan kakek itu sendiri duduk di salah satu batang pohon yang tumbang.
"Kau tahu keluarga Zhang?" tanya Lin Tian heran. Walaupun dia tahu keluarga Zhang baru saja melakukan perjalanan ke Utara, namun dia tidak berpikir akan seterkenal itu.
"Tentu saja, siapa yang tak kenal mereka. Mereka adalah satu dari lima keluarga penguasa daerah Selatan. Keluarga kuat yang dikirim dari Selatan sana untuk membantu kaisar Song menghadapi gempuran Iblis Tiada Banding, tikus-tikus ini." tangan kirinya menunjuk kumpulan mayat itu acuh tak acuh.
"Lin Tian, kau dari keluarga Zhang kan? Kenapa bisa sampai sini?" tanyanya kemudian setelah penjelasan panjang lebar itu.
Lin Tian tidak cukup terkejut jika seandainya nonanya memilih menerima tawaran kaisar Chu Quon untuk menjadi keluarga penguasa. Namun yang membingungkan adalah, kenapa keluarga penguasa tinggal lima? Bukankah jika ada keluarga Zhang harusnya masih tujuh?
"Keluarga Chu, Tan, Jiang, Liu, Zhang, Xiao, Chen seharusnya sudah bubar, dan Hu." Lin Tian bergumam sambil kedua tangannya menghitung-hitung jumlah keluarga penguasa yang ada.
"Kenapa hanya tinggal lima? Mana dua keluarga lain?"
"Lin Tian?"
Panggilan ini berhasil menyadarkan Lin Tian dari lamunannya dan sontak menoleh memandang Kang Lim yang melihatnya dengan tatapan bingung.
"Ehem, aku memang dari keluarga Zhang, tapi aku baru saja datang kemari."
"Woah, bisa seperti itu! Kekuatanmu sangat mengerikan, kau pasti bukan orang biasa di dalam keluarga. Benar kan?" tanya Kang Lim dengan mata berbinar.
"Aku pengawal pribadi nona Zhang."
Mata Kang Lim makin lebar dan tanpa sadar mulutnya berseru. Saking terkejutnya, dia sampai terlonjak ke atas dan berdiri tegang.
"Pantas, memang pantas. Tak heran jika kau menjadi pengawal pribadi Si Gadis Hantu."
Lin Tian merasa cukup heran dengan ini. Si Gadis Hantu? Seingatnya hanya dirinyalah yang memakai nama julukan "Hantu" di keluarga Zhang.
"Ah, biarlah. Nanti juga tahu sendiri."
"Yah...begitulah....tapi tolong jangan bilang siapapun jika kau menjadi temanku. Terkhususnya kepada keluarga Zhang." akhirnya berkatalah demikian.
"Eh, memangnya kenapa?"
"Kau pendekar Utara, kujelaskan pun tak akan paham. Sebenarnya mudah saja membuatmu paham, tapi aku hanya tak ingin mengatakannya." balas Lin Tian dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai sekian lama. Lebih tepatnya Kang Lim yang sering bertanya dan Lin Tian yang menjawab seadanya. Mereka sama sekali tidak mempedulikan mayat-mayat itu, seolah-olah mereka tidak terpengaruh dengan bau tak sedap dari mereka-mereka ini.
Hampir tengah hari, perbincangan terus berlangsung dengan asyiknya. Namun kali ini Lin Tian ingin menanyakan satu hal, hal yang membuatnya penasaran dan cukup penting untuk mengarungi wilayah Utara ini.
"Kakek, kau bilang setengah wilayah Utara ini sudah dikuasai oleh Iblis Tiada Banding kan? Kau tahu dimana wilayah yang sudah dikuasai itu?" tanya Lin Tian serius.
Melihat raut wajah Lin Tian, Kang Lim tak bisa main-main lagi dan menjawab sungguh-sungguh. "Mereka sudah menguasai wilayah Timur kekaisaran Song sampai hampir ke tengah wilayah. Penyebaran mereka cukup cepat, entah bagaimana namun hampir sebagaian besar pendekar-pendekar golongan hitam sudi bergabung bersama mereka."
"Bagaimana dengan pendekar sejati golongan hitam? Adakah mereka ini yang bergabung dengan mereka?"
Pertanyaan ini berhasil membuat Kang Lim bungkam seketika. Pandangannya tertunduk ke bawah seperti orang sedih, dan hal ini membuat Lin Tian bingung sekali. Saat dia ingin bertanya lebih lanjut, Kang Lim lebih dulu menjawab.
"Ya...ada. Aku tak tahu berapa jumlah pastinya namun aku tahu satu orang."
__ADS_1
"Siapa dia?"
Ekspresi Kang Lim menjadi sulit diartikan. Entah apa artinya itu Lin Tian juga tak mengetahuinya pasti, akan tetapi ekspresi itu seperti espresi seseorang yang sedang kecewa.
"Dia....saudara seperguruanku sendiri."
Lin Tian terkejut sekali. Sampai-sampai membuatnya menahan nafas sejenak. Namun cepat dia menenangkan hatinya dan bertanya lebih lanjut.
"Maaf sebelumnya, tapi kenapa dirimu yang memusuhi mereka, sedangkan adik seperguruanmu malah membantu mereka?"
"Aku tidak tahu. Entah sudah berapa tahun kami tak bertemu dan sekali bertemu, aku melihat dia berdiri di pihak Iblis Tiada Banding."
Setelah itu terdengar helaan nafas berat dari bibir tuanya. Lin Tian tak ingin bertanya lebih lanjut karena khawatir akan menyinggung perasaan kakek sepuh tersebut.
"Kemana kau setelah ini?" tanya Kang Lim tiba-tiba yang entah bagaimana sudah bisa tersenyum lebar.
Lin Tian mengelus-ngelus dagunya untuk berpikir. Selang beberapa saat dia menjawab. "Mungkin akan mencari nonaku."
"Keluarga Zhang maksudmu?"
Lin Tian hanya mengangguk mengiyakan.
"Dia dan keluarganya berada di seuatu tempat yang disiapkan kaisar untuk para pejuang. Letaknya jika dari sini berada di Utara."
"Para pejuang?"
"Benar, para pejuang."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi!"
Sedetik kemudian setelah berkata demikian, tubuh Kang Lim berkelebat dan lenyap dari sana. Lin Tian memandang itu dengan tatapan datar, pikirannya tertuju kepada para pejuang yang cukup menarik hatinya.
"Sepertinya...Iblis Tiada Banding ini bahkan jauh lebih ganas dari Aliansi Golongan Hitam."
Lin Tian bangkit berdiri dan memandang sekitar. Lalu dia memilih untuk pergi dari sana mengacuhkan mayat-mayat yang bergelimpangan tak karuan itu.
"Pertama-tama, cari kota atau desa terdekat." gumamnya dan melesat cepat sekali.
...****************...
"Hei....hei....wajah belang, kau menabrakku dan ini sakit sekali loh..."
Lin Tian menghela nafas kesal mengetahui perilaku seseorang di hadapannya. Dia mencoba sabar namun orang itu malah semakin menjadi-jadi.
Saat ini di restoran, di sebuah desa dekat dengan hutan tempat dimana tadi Lin Tian bercakap-cakap dengan Kang Lim, dia secara tak sengaja menyenggol pundak pemuda yang sepertinya adalah orang berada.
Makanan pesanannya masih berada di tangannya tanpa bergerak sedikit pun, malah makanan orang yang ditabraknya ini sengaja dilemparkan menuju wajahnya yang memang belang. Jika dalam keadaan normal, siapa yang seharusnya marah?
"Maaf tuan, tidak sengaja." balas Lin Tian seadanya dan berniat pergi ke mejanya. Akan tetapi orang itu agaknya tak ingin membiarkannya lolos dengan mudah.
"Kurang ajar, tikus got menjijikkan, tangkap dia! Dia sudah berani mengotorkan pakaianku!" ucapnya bersungut-sungut kepada tiga pengawal yang selalu mengikutinya. Serentak tiga orang itu sudah mengurung Lin Tian dari segala sisi.
Tapi walaupun mengurung dengan senjata terhunus, Lin Tian dapat melihat jelas raut tidak senang di wajah mereka. Bahkan ada satu orang yang memandangnya prihatin dan berkata padanya.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami terpaksa."
Lin Tian melirik mereka satu persatu, hatinya mulai jengkel dipermainkan seperti ini. Maka dia mencoba untuk sedikit memberi gertakan.
"Hoh...apa kau tak lihat ada pedang di pinggangku? Kau pikir ini hanya mainan?"
"Haha, pedang itu bisa apa melawan tiga pengawalku? Lagipula, kau pikir dirimu itu pendekar jagoan yang sangat kuat begitu? Mukamu tak bisa berbohong tolol!" bentaknya sambil meledek sarkas.
Tak ada satupun pengunjung restoran yang berani mencegah tindakan semena-mena itu. Mereka semua memandang ketakutan dan gemetaran.
Tiba-tiba, ada tiga orang yang daritadi duduk di pojokan ruangan berdiri dan membentak.
"Babi berbaju mewah, kotoran yang diberi nyawa, manusia rendah tak berakal! Hei gendut jelek, apa-apaan kau berani mengganggu tuan itu!?"
Sontak bangsawan gendut ini menoleh dengan marah dan memandang tajam. "Kau siapa memangnya hah!?"
"Kami keluarga Zhang!"
Bentaknya dengan bangga. Membuat Lin Tian sedikit tertarik dan tanpa sadar senyum tipis tercipta di bibirnya.
"Sepertinya dia orang baru, dia tak mengenalku. Mari kita lihat, apa yang kau lakukan?"
Tanpa aba-aba, tiga orang ini melesat cepat dan sedetik kemudian, tiga orang pengawal pengurung Lin Tian tadi sudah roboh dengan tulang pundak retak.
"Apa!? Kau ingin menyinggung keluarga Zhang!"
Seruan ini berhasil membuat wajah si gendut seidkit pucat, namun raut keangkuhan masih terpampang jelas di sana. "Heh, memangnya apa hubungannya keluarga Zhang dengan pria wajah belang itu!?"
"Beruntungnya dirimu! Jika seandainya nona kami yang ada di sini, dapat kupastikan hari ini adalah hari terakhir kali kepalamu menempel pada tempatnya!"
"Nona kita bukan orang seperti itu...!!" jerit Lin Tian dalam hati yang kurang setuju dengan pernyataan itu.
Orang gendut ini nampak mulai ketakutan dan gemetaran, namun dia tetap bersikukuh menjawab, "Kalian tidak tahu siapa orang yang ada di belakangku!?"
"Pelayan restoran, siapa lagi? Kau pikir kami buta!" bentak orang Zhang yang memang melihat di belakang pria gendut itu berdiri pelayan restoran dengan takut-takut.
"Bukan yang ini maksudku!" balas si gendut dengan hati mendongkol.
"Lalu yang mana binatang!"
"Di belakangku ada Iblis Tiada Banding, kau tidak takut hah? Kroco-kroco tak berharga!"
"Jelas sekali semua orang tahu Iblis Tiada Banding musuh besar kami, dan kau mengatakan kami takut? Jika kami berani mengibarkan bendera perang, lalu apa otakmu itu masih berpikir kami ini takut terhadap mereka?"
"Hahahahaha.....keluarga Zhang? jangan terlalu sombong."
"Siapa!?"
Booommm!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1