
"Swoosh–Swoosh–Swoosh"
Daun-daun pohon lebat itu bergerak liar tatkala ada sesuatu bayangan hitam yang melesat cepat di dekatnya. Ketika bayangan itu lewat, saat itu pula terdengar suara ketawa gadis kecil yang entah berasal darimana.
Siapa lagi kalau bukan Lin Tian dan Rouwei, anak dari Yuan Fei. Lin Tian mengabulkan permintaan Rouwei yang ingin merasakan kecepatan larinya, dan hasilnya pun memang Lin Tian jauh lebih cepat dari Yuan Fei.
Karena Rouwei adalah anak dari Yuan Fei, tentu saja dia tahu kemana arah yang harus dituju Lin Tian. Maka selain membuat bocah ini tertawa-tawa senang dalam pondongannya, dia juga menjadikan bocah tersebut sebagai penunjuk jalan.
"Kemana setelah ini?"
"Belok kanan saat bertemu tebing lumutan, lalu belok kiri ketika melihat batu berlubang. Setelah itu loncat terjun ke jurang kecil dimana ada tanda ukiran segitiga di batang pohon kembar dekat sana." seru Rouwei yang sedikit kesulitan karena sesak nafas akibat hempasan angin luar biasa.
Lin Tian menuruti perkataan gadis tersebut. Ketika dirinya sampai di tebing tinggi yang dipenuhi banyak lumut, segera pemuda ini belok kanan. Lalu sekitar beberapa menit kemudian, dia melihat batu sebesar dua kali tubuh manusia yang berlubang tepat di tengahnya. Secepat kilat Lin Tian belok ke kiri.
Namun tiba-tiba dirinya sedikit melambatkan larinya setelah beberapa menit berlari, tak kunjung juga menemukan jurang dan tanda segitiga tersebut.
"Kemana lagi?"
"Ke jurang!" balas Rouwei sedikit kesal karena Lin Tian berhenti berlari.
"Jurang yang mana!? Tak ada jurang di sini!"
Mendengar ini Rouwei pun mengerjap-ngerjapkan matanya. "Tak ada jurang?" ucapnya seraya memandang sekitar dan memang benar, hanya hutan belantara saja yang ada di sana.
Dia lantas turun dari gendongan Lin Tian dan berjalan ke sana-sini.
"Apa yang kau lakukan? Aku tak ingin dengar bahwa kita telah tersesat." ucap Lin Tian menyipitkan matanya karena merasakan firasat buruk.
"Tidak ada jurang....tidak ada tanda.....ah, aku baru ingat!" tiba-tiba Rouwei berseru ketika kakinya sudah melangkah entah ke berapa kali di sekeliling Lin Tian.
"Apa yang kau ingat!?"
Rouwei tersenyum masam dan menunjuk bukit terjal dengan tangan kanannya. "Kalau menuruni jurang itu saat kita berangkat, aku lupa kalau kita dalam perjalanan pulang."
Lin Tian merasa heran dan firasat tidak enaknya makin terasa jelas. Maka dirinya bertanya, "Jadi?"
"Kau harus mendaki bukit batu cadas itu. Lalu di atas sana adalah rumah ayahku."
Wajah Lin Tian seketika menjadi pahit tak enak dipandang. Diam-diam hatinya mengumpat kepada gadis cilik itu yang seolah sedang mempermainkannya.
Bukan tanpa alasan atau dia tidak mampu mendaki ke atas sana, justru sebaliknya, Pendekar Hantu Kabut yang sekarang akan dengan mudah mampu melesat cepat menuju atas sana.
Namun yang jadi masalah adalah, saat ini kedua tangannya harus membopong tubuh Rouwei dan itu sangatlah merepotkan. Dirinya hanya bisa mengandalkan kaki saja untuk naik ke atas sana.
"Bagaimana caraku membawamu ke atas?"
Rouwei lekas berjalan ke belakang Lin Tian dan tanpa aba-aba dia sudah meloncat ke punggung Lin Tian. Kedua tangan ia lingkarkan di pundak sedangkan dua kaki kecilnya melibat pinggang Lin Tian.
__ADS_1
"Kau fokus mendaki saja, tangan dan kakiku cukup kuat untuk bertahan dalam keadaan ini." ujar Yuan Rouwei dengan memasang ekspresi bangga karena bisa menunjukkan kemampuannya pada Lin Tian.
Lin Tian juga tak berpikir hal ini sebelumnya, maka dia menjitak kepala sendiri karena bisa melupakan hal seremeh itu.
Lalu dia mengambil tongkatnya yang tadi di selipkan di sabuk.
"Baiklah, jangan sampai jatuh dan merepotkan!"
"Siap!"
Sekali kakinya menghentak bumi, tubuhnya melesat secepat kilat kearah bukit terjal itu. Rouwei berteriak-teriak antara takut dan senang karena kecepatan Lin Tian kali ini sungguh berbeda dari yang tadi.
Hanya dalam tiga loncatan, dari tempat Lin Tian berdiri tadi yang berjarak lima puluh meteran dengan bukit, sudah dapat ditempuh dengan Langkah Kilatnya. Begitu sampai dekat dengan dinding bukit, dia menggerakkan tongkat dan menancapkannya ke dinding bukit penuh batu itu yang menjulang tegak menopang langit.
"Hiaaa!" Lin Tian berseru untuk sekedar memberikan kesan pada Rouwei bahwa dia ini seorang lelaki perkasa.
Dia menekan tongkatnya dan melambunglah ia dengan tumpuan tongkat tadi. Sambil melesat ke atas dengan kecepatan di luar akal ini, tak lupa pula dia sudah mencabut pedangnya ketika dirinya mulai melesat.
"Hahahaha....!" Rouwei tertawa makin keras, membuat Lin Tian tersenyum namun keningnya berkerut.
"Berani benar anak ini. Berani atau nekat?" gumam Lin Tian yang tak mampu di dengar oleh Rouwei karena angin kencang.
Lin Tian melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai tiga kali. Barulah setelah itu mereka berdua sudah tiba di puncak. Akan tetapi begitu sampai di sana, Lin Tian kembali heran dan bertanya kepada Rouwei yang masih tertawa-tawa.
"Kemana selanjutnya!?"
Lin Tian mengangguk dan melesat menuju ke sana. Dirinya juga sedikit kaget mendengar bahwa Rouwei memiliki kakak.
Selang beberapa menit, sekitar satu dua menitan karena kecepatan lari Lin Tian, dia sudah melihat pohon tinggi dengan tanda segitiga.
"Nah di sana! Itu rumah ayahku!" Rouwei berseru girang dan menunjuk rumah sederhana yang berdiri di tanah sedikit tinggi.
Ketika sampai di depan rumah, Lin Tian melongo lebar. Kaget juga kagum juga heran.
"Paman, bagaimana bisa kau sudah sampai sini?"
"Ayah, benar kata kakak. Bagaimana kau bisa sampai di sini lebih dulu?" Rouwei pun bertanya heran. Belum turun dari gendongan Lin Tian.
Memang benar bahwa Yuan Fei sudah datang lebih dulu ke rumahnya. Dia saat ini duduk santai di kursi depan sambil melihat-lihat keindahan alam sekitar rumahnya.
Setelah terkekeh pelan, dia menjawab, "Perjalanan yang tertunda di bawah bukit tadi, itu sudah cukup bagiku untuk melewatimu anak muda. Lagipula, kau masih menahan diri karena ada putriku di pondonganmu kan?"
Pemuda ini cukup terkejut, namun akhirnya terkekeh renyah. "Haha, mata anda memang jeli."
Lin Tian menurunkan Rouwei dari gendongannya.
"Kenapa anda membawa saya ke tempat ini?"
__ADS_1
"Hanya tertarik dengan dirimu yang masih sangat muda, namun sudah mampu menyaingi pendekar tingkat tinggi."
"Aku bahkan mampu mengalahkan pendekar sejati dengan cukup mudah!" tentu saja kalimat ini hanya diutarakan dalam hati saja karena tidak mau menyinggung Yuan Fei.
"Apakah setiap kali anda tertarik dengan sesuatu, maka anda akan membawanya pulang?"
"Haha...kau pandai bercanda. Tidak-tidak, aku tertarik padamu karena tentu saja ada maksudnya."
Lin Tian memicingkan mata dan kewaspadaannya meningkat. Dia memegang tongkatnya dengan dua tangan. Tangan kanan memegang ujung tongkat yang sejatinya adalah pedang, sedangkan tangan kiri memegang ujung kain yang menutupi seluruh tubuh pedang. Pergelangan tangan kanannya ia gunakan untuk menghalangi penglihatan Yuan Fei agar tidak melihat tangan kirinya.
"Bocah ini...cukup waspada. Pantas menjadi pendekar."
Yuan Rouwei bukannya tidak sadar dengan perubahan suasana sekitar ini. Dia memandang ayah dan Lin Tian secara bergantian dengan tatapan khawatir.
"Jika boleh tahu, maksud apakah itu, tuan Yuan Fei?"
"Tolong bantu aku sembuhkan putriku."
"Hah?"
...****************...
"Jadi begitu....?" Lin Tian menghela nafas berat setelah mendengar cerita dari Yuan Fei.
Rouwei lantas turun dari tempat duduknya dan memegang kaki Lin Tian, mengguncang-guncangnya. "Kakak, kakak, tolong bantu kami. Sembuhkan kakakku..." wajahnya memelas dan hampir menangis.
Lin Tian berpikir sejenak, kedua alisnya mengerut dalam seolah bisa menyatu.
"Jika aku di sini, tugasku untuk menelidik markas Iblis Tiada Banding akan terhambat. Namun jika kutinggal, mana mungkin kutinggal begitu saja. Apa yang harus kulakukan?"
"Tunggu, kakak?"
"Tian'er....Tian'er.....Tian'er...." tiba-tiba suara nonanya yang memanggilnya dengan sebutan sayang itu terngiang dalam pikirannya.
Tanpa sadar Lin Tian tersenyum simpul, "Lagi-lagi anda membantu saya nona."
Dia memandang Rouwei lekat-lekat dan sedetik kemudian dirinya tersenyum hangat. Tak mampu ia bayangkan bagaimana gadis sekecil ini akan segera kehilangan kakaknya jika ia tinggal begitu saja.
"Aku tak dapat menjamin, namun akan kucoba semampuku untuk membantu kalian." ucap Lin Tian seraya tangan kanannya mengelus lembut kepala Rouwei.
"Terima kasih kak!" Rouwei yang tak dapat membendung rasa senangnya itu meloncat ke pangkuan Lin Tian dan memeluknya erat.
"Adiknya secantik dan selincah ini, bagaimana dengan kakaknya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1