Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 155. Dua Orang Pengawal


__ADS_3

Zhang Qiaofeng dan Lin Tian melanjutkan perjalanan. Setelah tadi malam Lin Tian mengatakan segala ketidak enakan di hatinya, dia menjadi lega dan seolah batu besar sudah terangkat dari kedua pundaknya.


Pagi ini dia mampu berjalan dengan tegap dan mata berbinar penuh semangat. Sungguh berbeda dari beberapa hari lalu yang selalu nampak murung sekaligus lesu.


Mereka berjalan menuju Selatan, dan tentu saja tujuannya adalah keluarga Zhang. Namun, di tengah perjalanan Lin Tian tiba-tiba berkata.


"Nona, maafkan kelancangan saya ketika dahulu saya memotong ucapan Nona di depan Cin Kok. Saya takut jika Nona membocorkan tentang diri saya yang mampu menguasai ilmu Ketenangan Batin, keluarga Cin akan marah."


Zhang Qiaofeng memandang sambil tersenyum dan menjawab, "Tak apa, aku sendiri yang salah karena ceroboh."


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terdengar di antara keduanya. Mereka terlalu sibuk untuk mengagumi keindahan hutan dipagi hari itu.


Hingga ketika mencapai sebuah jalan menurun dan melewati tebing kecil, mereka mendengar suara beradunya senjata dari kajauhan. Refleks Lin Tian menatap Zhang Qiaofeng untuk minta keputusan.


Wajah gadis itu sudah tidak enak sekali, dengan kening berkerut dia berkata serius, "Ayo kita ke sana!"


Mereka segera menggunakan ilmu lari cepat untuk menuju ke tempat suara pertarungan itu berasal. Hingga setelah beberapa saat, suara pertempuran itu menghilang, digantikan dengan suata jerit-jerit wanita yang terdengar sedang ketakutan.


"Wah...ini buruk!! Buruk sekali!! Lin Tian gendong aku agar bisa lebih cepat!" tanpa minta persetujuan dari Lin Tian, gadis ini segera melompat ke punggung pemuda tersebut.


Lin Tian paham akan maksud nonanya. Karena ilmu lari cepat Zhang Qiaofeng itu masih kalah ketimbang dirinya, sehingga dia ingin agar Lin Tian menggendongnya supaya lebih cepat sampai.


Dan benar saja, begitu tubuh yang ramping itu digendong oleh Lin Tian, sebentar saja Lin Tian sudah berkelebat lenyap dan melesat cepat sekali. Zhang Qiaofeng yang berada dalam gendongan merasa seolah-olah dirinya dibawa terbang.


...****************...


Perasaan Xiao Lian makin tak karuan ketika mendengar suara ketawa-tawa dari beberapa orang pria. Yang lebih tidak mengenakkan lagi adalah, suara ketawa itu sungguh tidak asing di telinganya.


"Wanita itu akan diperkosa!!" kata Xiao Lian kepada Hao Yu.


Mereka memepercepat larinya, makin lama makin terdengar jelas suara itu. Dan begitu sampai, mereka melihat selusin orang pria yang tadi malam telah mengeroyok mereka. Betapa kaget mereka begitu memandang bahwa selusinan orang itu sudah siap untuk "melahap" dua orang wanita baju merah dan hijau. Pemandangan itu bagaikan dua ekor kelinci yang dikurung kawanan harimau kelaparan.


"Bajingaaaann!!! Dasar ibliss!!" Xiao Lian sudah tak bisa menahan amarahnya lagi, dan tanpa aba-aba, dia menerjang ke depan.


...****************...


Lin Tian berlari cepat sekali. Jika seandainya Zhang Qiaofeng tidak berpegangan erat-erat di kedua pundak pemuda itu, mungkin sekali saat ini dia sudah terbang entah kemana.


Beberapa saat lamanya, mereka tiba si tempat tujuan. Terlihat di sana, sebuah tanah bertilam rumput tebal bagai permadi, sedang ditiduri oleh dua orang wanita baju merah dan hijau dengan tak berdaya.


Di sekeliling mereka terdapat dua belas orang yang kesemuanya sudah bertelanjang dada. Sambil tertawa-tawa, sesekali mereka mencolek-colek tubuh keduanya.


"Haha...beginikah murid dari si sakti itu? Hahahaha!!" kata salah satu dari mereka sembari mencubi-cubit pipi baju merah.


"Oh...wanita ini sungguh pun masih amat muda, namun juga sudah masak. Benar-benar idamanku..." kata pula orang lainnya sambil menikmati tubuh si baju hiaju.

__ADS_1


Zhang Qiaofeng yang sudah pernah merasakan ketika dirinya hampir diperkosa, menjadi marah bukan main melihat tindakan bejat dua belas orang itu. Maka tanpa berkata-kata lagi, dia meloncat dari punggung Lin Tian seraya mencabut sepasang belatinya.


"Setan!! Lepaskan mereka!!" sambil berseru nyaring dia melompat tinggi dan menukik tajam.


...****************...


Song Qian dan Fen Lian sudah pasrah. Sadar bahwa tidak ada lagi jalan keluar bagi mereka. Mengingat akan totokan lumpuh ini, mungkin dengan kemampuan mereka, mereka baru bisa lepas setelah setengah jam.


Namun dalam waktu setengah jam itu, apakah mereka akan baik-baik saja? Agaknya tidak...


Apalagi setelah beberapa kali mereka merasakan betapa tangan-tangan kasar itu mencubit atau bahkan mengelus-elus tubuh mereka. Sambil menangis mereka meramkan mata.


"Hehe ayo mulai." kata seorang pria yang daritadi sudah mengincar Song Qian.


"Ayo!!" kata pula si pengagum Fen Lian.


Air mata dua orang wanita ini makin deras. Apalagi setelah kedua tangan dibentangkan lebar-lebar. Mereka hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan tatapan iba.


Akan tetapi secara tiba-tiba dan mengejutkan, mereka mendengar suara bentakan dua orang wanita disusul berkelebatnya dua bayangan yang segera menyerang dua pria bejat itu.


"Bajingaaaann!!! Dasar ibliss!!"


"Setan!! Lepaskan mereka!!"


"Waaahhh!!" dua orang ini memekik keras dan segera menghindar ke belakang.


"Crok-Crok!!" dua kali berturut-turut terdengar suara bacokan, dan dua kepala itu sudah menggelinding di tanah.


Mereka ini bukan lain adalah Zhang Qiaofeng dan Xiao Lian serta pengawal pribadi masing-masing. Sungguh kebetulan memang karena mereka bisa sampai di tempat ini dengan berbarengan.


"Siapa kalian!!" bentak seorang dari mereka sambil memegang golok di tangan.


"Heh, bukannya kau Xiao Lian!!" seru seorang lainnya.


"Dan juga, Pendekar Hantu Kabut!!" kata yang lain.


Zhang Qiaofeng tak mempedulikan hal itu dan lekas berjalan menghampiri Song Qian serta Fen Lian untuk membebaskan totokan.


"Nona, kau tak apa?" tanya Zhang Qiaofeng dengan raut wajah khawatir.


Bukannya menjawab, dua orang itu malah terbelalak memandang Lin Tian yang baru saja mereka dengar sebagai Pendekar Hantu Kabut. Tak terasa lagi, air mata kembali jatuh. Bukan air mata ksedihan, melainkan air mata keharuan.


"Bagus, makin banyak yang datang, makin seru pesta kita!!" seru pemimpin rombongan itu sambil tertawa-tawa.


"Apa maksud kalian!!!" bentak Hao Yu dan Lin Tian berbareng. Sungguh mereka merasa marah sekali.

__ADS_1


"Dua orang nona kalian itu akan kami jadikan teman tidur malam ini. Haha, jika kalian suka bergabung, kami orang-orang dari Iblis Tiada Banding akan mempersilahkan!" jawab pemimpin itu sambil memperkenalkan identitas. Mencoba menggertak lawan.


Hao Yu dan Lin Tian menggertakkan giginya sampai menimbulkan suara bergeretakan. Sedangkan Zhang Qiaofeng dan Xiao Lian di belakang sana sudah memerah muka mereka karena malu sekaligus jengah.


"Biadab kalian!! Apa kalian pikir--" Zhang Qiaofeng bangkit berdiri dan dengan kemarahan meluap dia siap maju bertempur. Namun ucapannya terpotong oleh seruan nyaring milik Lin Tian.


"Hei kalian anjing-anjing busuk!! Biar aku maju sendiri mewakili nonaku untuk menumpas kalian!! Persetan dengan Iblis Tiada Banding atau apalah, kau pikir gertakanmu itu mampu menggentarkan aku!? Nona, tetap jaga dua orang itu!"


"Aku juga, hanya aku sendirian kalian pikir aku takut!! Xiao Lian, tetap di sana dan jaga mereka bersama Nona Zhang!!"


Sedetik kemudian, dua orang yang sudah dikuasai amarah ini melesat maju dan mengirim serangan. Lin Tian dengan pedangnya, Hao Yu dengan goloknya.


Pedang Dewi Salju itu berubah menjadi gulungan sinar putih kebiruan yang menyambar-nyambar. Sedangkan sinar keperakan milik Hao Yu juga tak kalah hebat disetiap serangannya.


Dua sinar yang saling gulung itu terlihat amat mendominasi pertempuran. Bahkan Hao Yu yang sebelumnya mampu didesak oleh mereka, agaknya dengan batuan tenaga amarah, dia menjadi amat kuat.


Pedang Lin Tian juga mengeluarkan kabut-kabut tipis yang selain mengakibatkan hawa dingin, juga berguna untuk membuat pandangan lawan sedikit kabur.


"Waahhh gila sekali, sungguh hebat!!" teriak salah satu pengeroyok.


Detik berikutnya, nampak kabut tipis menyambar dan tanpa dapat dielakkan lagi, mukannya terbelah dua.


Di lain sisi, Hao Yu yang menghadapi pengeroyokan tiga orang, dengan lihai sekali dia memutar-mutar goloknya. Sesekali pria ini harus melompat ke udara untuk menghindarkan diri daripada sinar golok lawan.


"Orang cacat, mampuslah!!" teriak seorang tinggi kurus sambil menyabetkan golok ke arah paha kiri Hao Yu. Sedangkan tangan kiri mengirim hawa pukulan mengarah dada.


Hao Yu yang memang memiliki kepandaian cukup tinggi, segera menyabetkan goloknya ke arah tangan kiri lawan. Sedangkan kaki kirinya bergerak mengangkis golok penyerang.


"Crok!!-Dess!!"


"Aaaahh!!" tangan orang itu terbabat buntung.


Lebih hebat lagi, tangkisan kaki kiri Hao Yu tadi mampu membuat golok musuh terpental. Sedetik kemudian, kaki itu kembali menendang dan berhasil menghantam dada orang itu yang masih telanjang tanpa baju atas.


"Bresss!!" kaki Hao Yu melesak dalam ke dada itu. Sedangkan orang yang kena tendangannya langsung muntah darah seiring menjemputnya ajal.


Di pinggiran sana, empat orang perempuan itu memandang dengan mata terbelalak kagum.


Xiao Lian memandang tanpa berkedip, terkejut juga akan keliahaian Hao Yu. Kiranya di pertempuran sebelumnya, lelaki itu harus melindungi dirinya disamping melindungi diri sendiri. Sehingga keampuhan daripada serangannya menurun.


Kali ini, dengan adanya Lin Tian, untuk apa berkhawatir lagi? Tentu pendekar bertopeng itu tanpa membutuhkan perlindungan Hao Yu pun dia akan tetap mampu menjaga diri sendiri. Bahkan boleh jadi jika pemuda itu seorang diri saja mampu membikin roboh mereka semua.


Sedangkan dua orang berbaju merah dan hijau itu hanya mampu terbengong lebar. Sambil bergandengan tangan erat karena saking tegangnya melihat pertempuran hebat itu.


"Hebat sekali...." gumam mereka memandang sepak terjang Lin Tian.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2