
Keesokan paginya, Zhang Qiaofeng menyeret kakeknya untuk datang ke kamar Lin Tian. Pagi masih gelap dan matahari baru tampak secuil, Zhang Hongli masih mengantuk dengan mata merahnya ketika cucunya datang dan berteriak.
"Kakek, cepat datang ke kamar Lin Tian, ada yang ingin dibicarakan oleh bocah itu!"
Dengan malas dan enggan, Zhang Hongli mengikut saja ketika Zhang Qiaofeng menariknya paksa menuju kamar Lin Tian.
Lin Tian belum bangun dan terkejut saat Zhang Qiaofeng serta Zhang Hongli datang dengan berisik. Ia menyingkap selimutnya dan memandang dua orang itu bergantian.
"Apa ini?" tanyanya kemudian dengan suara serak bangun tidur.
"Dia bilang kau hendak menemuiku untuk bicara. Nah, bicara apa?" balas Zhang Hongli memberi keterangan sebelum menguap lebar.
Tampak raut kebingungan di wajah Lin Tian, "Bicara apa? Aku tak ingat memanggil guru."
Namun Zhang Qiaofeng sudah duduk di sampingnya dan mencubit sebelah lengannya. Matanya melotot tajam dan mulutnya berbisik, "Yang tadi malam....tadi malam...!"
"Oh...."
Lin Tian kembali memandang Zhang Hongli yang masih setia menunggu. Dan entah dorongan darimana, mungkin karena rasa kantuknya belum hilang, dengan berani dia berkata langsung ke inti tanpa berbasa-basi.
"Aku ingin melamar cucu anda. Guru, apakah anda merestui?"
Zhang Hongli kedip-kedip seperti ingin menahan kesadarannya dari ketiduran. Tak berselang lama, dia mendekati Lin Tian dan menjabat tangannya.
"Cucuku sudah besar, sudah semestinya mencari pendamping dan aku senang sekali engkau lah orangnya. Sepakat! Kapan kau akan melaksanakan pernikahan?"
"Secepatnya."
"Baiklah."
Seperti tak terjadi apa-apa, dua orang aneh itu kembali ke aktivitas masing-masing. Zhang Hongli balik kanan untuk pergi ke kamarnya dan lanjut tidur. Sedangkan Lin Tian kembali menarik selimutnya dan berusaha keras untuk melanjutkan mimpinya yang terpotong. Mimpi "indah" dengan sang istri.
"Hanya begitu? Tidak ada sesuatu yang lebih hebat lagi?" Zhang Qiaofeng kebingungan dan bergumam tak jelas.
...****************...
Pelataran kediaman keluarga Zhang nampak meriah sekali. Berbagai macam hiasan dan lampu-lampu indah dipasang di sana-sini.
Bendera bertuliskan "Zhang" berkibar di sepanjang jalanan kota.
"Hei ada apa ini? Bukankah mereka orang-orang Zhang? Kenapa sibuk sekali?"
"Kau tak dengar beritanya? Kaisar Chu Quon akan berkunjung langsung ke kediaman Zhang!"
"Maksudmu?"
"Kau benar-benar tak tahu? Nona Zhang akan menikah! Sepasang Naga Putih akan menikah dan menjadi Sepasang Pasutri!"
"Apa!?"
Kedai-kedai menjadi ramai akan berita menggemparkan tersebut. Apalagi dengan kehadiran kaisar langsung, hal itu sungguh di luar dugaan.
Kaisar Chu Quon sendiri amat terkejut mendengar berita ini. Di samping itu, dia juga merasa amat senang dan turut berbahagia. Maka tanpa pikir dua kali, dia mengajak putra putrinya beserta istri untuk datang berkunjung ke keluarga Zhang.
Berita ini bahkan sampai ke telinga Chang Song Jie yang berada di seberang Pegunungan Tembok Surga. Dia segera mengirimkan beberapa perwakilan dan ucapan selamat untuk hari berbahagia ini.
__ADS_1
Di kamarnya, wajah Zhang Qiaofeng nampak berseri dan sedikit kemerahan. Pakaiannya serba putih dengan rambut disanggul tinggi. Kecantikan bagai dewi!
"Anda benar-benar sangat cantik hari ini nona!" puji Yin Yin, yang merias serta membantu Zhang Qiaofeng memakai pakaian pengantin itu.
"Emh....bibi, kau sudah pernah menikah. Jadi...apa yang harus kulakukan di acara nanti?" tanya Zhang Qiaofeng gugup seraya memandang kearah cermin.
"Benarkah ini diriku? Apakah aku secantik ini?"
"Ahaha...tak perlu gugup nona, nanti anda akan tahu sendiri. Anda tinggal mengucapkan janji setia, membakar dupa dan selesai. Duduk di kursi pelaminan untuk menerima tamu-tamu."
Zhang Qiaofeng cepat menoleh dengan wajah bingung, "Hanya begitu?"
"Tentu saja hanya begitu. Tapi sedikit repot untuk malam–"
"Ekhhmm....maaf atas kelancangan saya." salah seorang pelayan yang berdiri di ujung kamar, yang sedang merapihkan beberapa barang sengaja terbatuk untuk mengingatkan Yin Yin.
"Eh....maaf nona, saya sungguh terlalu..." kata Yin Yin dengan senyum getir dan tertawa hambar. Sedangkan wajah Zhang Qiaofeng sudah memerah sekali dan ia tutupi dengan kedua tangan.
Tak berselang lama, ada satu pelayan lagi yang datang dan segera membungkuk hormat di hadapan Zhang Qiaofeng. "Nona, tuan Lin Tian sudah menunggu."
"B-baiklah..."
Zhang Qiaofeng memandang Yin Yin, namun wanita setengah tua itu mengangguk memberi keyakinan pada nonanya.
Dengan dibantu oleh Yin Yin, Zhang Qiaofeng berjalan keluar dari kamarnya menuju tempat Lin Tian berada. Beberapa pelayan lain juga sibuk mengangkat gaun pengantin Zhang Qiaofeng yang lebar dan panjang sekali.
Saat tiba di sana, keduanya sama-sama terkejut dengan penampilan masing-masing yang sangat berbeda dari hari biasa.
"Cantik...." gumam Lin Tian tanpa sadar dan Zhang Hongli yang mendengar itu cepat mencibir.
Lin Tian dengan wajah sumringah, menghampiri calon pengantin wanita dan mengulurkan tangan. Sampai di sini, saking gugupnya Zhang Qiaofeng bingung dan tidak melakukan apa-apa.
"Terima uluran tangannya nona! Terima itu! Jalan bergandengan menuju pelaminan!!" bisik Yin Yin di sebelah telinganya.
"Eh...eh...oh..." Zhang Qiaofeng gelagapan namun akhirnya menerima uluran tangan itu.
Ketika keduanya berjalan keluar menuju meja sembahyang, para tamu yang jumlahnya entah berapa itu bersorak sorai seraya melemparkan bunga-bunga.
Yang berada di dalam pekarangan Zhang adalah tamu-tamu undangan, namun banyak sekali para penduduk atau pendekar yang mengagumi akan Sepasang Naga Putih, berdiri menonton dari luar. Tak jarang yang menyelinap untuk menonton dari atas genteng.
"Kakak, bahagia selalu!!"
Lin Tian refleks menoleh ke sumber suara. Begitu tampak olehnya, dia dikejutkan oleh hadirnya beberapa orang yang sudah lama tidak ia temui.
Terlihat di salah satu atas genteng bangunan, berdiri Yuan Fei dengan keranjang obatnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian di sebelahnya, terdapat Zhi Yang yang menggendong Rouwei di keranjang raksasa. Keduanya melambaikan tangan kearahnya.
"Bagus, matamu memang tajam!" Yuan Fei berteriak dan mengacungkan jempolnya. Melihat ini Lin Tian hanya tersenyum masam.
"Hei Lin Tian, jangan lupakan yang satu ini. Kalau mau dua di sini sudah siap!"
Kali ini, Lin Tian harus mencengkeram tangan Zhang Qiaofeng guna mengalihkan perhatian gadis itu. Teriakan Zhi Yang tadi sungguh berani dan dia takut mendapat masalah di hari pertama bersama istrinya ini.
"Lin Tian–eh, maksudku Zhang Tian, apa yang dua tadi?" agaknya gadis itu tak terlalu mendengar.
"Tak apa, tidak penting."
__ADS_1
Di atas genteng sana, Yuan Fei dan Rouwei menjitak kepala Zhi Yang habis-habisan yang dianggap terlalu berlebihan.
"Aku hanya bercanda..." keluhnya kepada ayah dan adik angkatnya.
"Bercandamu keterlaluan!"
"Biarlah! Kalau pun Lin Tian menganggap serius, aku bersyukur."
"Zhi Yang!"
Perwakilan keluarga penguasa dan kaisar sendiri duduk berderet rapi di pinggiran. Mereka tak henti-hentinya mengirim ucapan selamat dan tepuk tangan meriah.
Bahkan di antara rombongan keluarga Chu, mantan kaisar itulah yang paling heboh. Seolah dia sudah lupa akan kedudukannya sebagai mantan kaisar.
"Feng'er...tak kusangka kita akan sampai sejauh ini...."
"Hm...." Zhang Qiaofeng hanya balas dengan gumaman saja karena bingung hendak menjawab apa.
"Ayo cepat selesaikan ritual ini, aku tak sabar untuk nanti malam."
"Hm....eh?" Zhang Qiaofeng tak sempat untuk mencerna keterkejutannya karena saat itu mereka sudah sampai di depan meja sembahyang.
"Ucapan janji suci, dimulai!"
...****************...
Keesokan paginya, Zhang Qiaofeng bangun dari tidur dengan sedikit lemas. Dia memandang kearah jendela dan sedikit mengeluh dengan dirinya sendiri.
"Ini sudah terlalu siang. Aku yakin hari inilah aku bangun tidur yang paling siang."
Dia menghela nafas lelah dan berjalan ke salah satu meja dimana ia letakkan pakaiannya semalam. Ia menggunakan sehelai kain tipis yang biasa ia gunakan untuk tidur selama ini sebelum membuka laci meja dan mengambil buku kecil.
Dia mengambil pensilnya dan membuka buku kecil itu. Wajahnya yang berseri itu selalu menyunggingkan senyum lebar, dan senyum itu makin lebar ketika dia menuliskan beberapa kata di bukunya.
"Hari ketujuh, lagi-lagi kau memberi rasa manis dalam hidupku ini. Namun sepertinya, kali ini kau tidaklah berbohong. Terima kasih telah menutup kisah ini dengan akhir yang berbahagia....."
Tepat di kata terakhir itu, buku kecil milik Zhang Qiaofeng telah mencapai akhir di penghujung halaman. Sejak saat itu, dia menyimpan buku kecil ini sebagai kenang-kenangan. Kenangan masa mudanya yang penuh dengan suka dan duka, penuh dengan pahit manisnya kehidupan.
Setelah bertahun-tahun kemudian, saat satu keluarga kecilnya berkumpul dan Zhang Qiaofeng menunjukkan buku itu. Suami dan anaknya hanya tertawa mengetahui kalau sosok paling cantik dirumah itu ternyata menyembunyikan tulisan kisah hidupnya.
"Hahaha...ibu sungguh dramatis menuliskan kisah ini." anaknya menunjuk ke salah satu bagian cerita.
"Hei, dahulu kau yang memaksa dan aku tidak seketerlaluan itu!" Lin Tian protes mengetahui istrinya itu menulis seberapa repotnya mengurus Lin Tian pasca Pertempuran Hitam Putih.
Inikah akhirnya? Tidak, ini baru permulaan. Setelah pernikahan, seseorang bukan menemui akhir dari perjalanan hidupnya. Melainkan akan memulai hidup baru, membuka lembaran baru dan menuliskan kisah-kisah baru.
Seperti yang dikatakan seorang kakek tua bertongkat butut dan bercaping yang berpidato panjang lebar di hadapan murid-muridnya. Di akhir ceritanya, dia berkata dengan wajah sedikit sedih.
"Hah...nasib....nasib. Ini masih awal mula dan perjalananku hanya bisa sampai sini...."
...Pendekar Hantu Kabut...
...Season 3 : Sepasang Naga Putih...
...Selesai...
__ADS_1