
"Rou'er!"
Serentak dua orang tua dan muda ini bangkit berdiri dan berseru karena terkejut sekali melihat kedatangan Rouwei yang begitu tiba-tiba. Melihat keadaan gadis cilik itu yang pipinya sudah basah air mata, Yuan Fei segera datang mendekat dan memeluknya erat.
"Kakak tidak akan mati!" kembali Rouwei berseru sambil memukul-mukul pundak ayahnya. Dia berteriak-teriak hebat dengan tangisan yang makin keras.
Sungguh, baru kali inilah Lin Tian melihat kondisi gadis lincah itu sampai sepayah ini.
"Tenanglah nak, sekarang ada Lin Tian, harapan kakakmu untuk sembuh mungkin bisa sedikit meningkat." ayahnya berbisik di telinga gadis tersebut yang agaknya hanya dihiraukan saja. Dia tetap berteriak-teriak dan mengatakan bahwa kakaknya masih hidup.
Lin Tian yang melihat ini menjadi iba sekali, maka dia mendekati Rouwei dan mengelus lembut kepalanya. Memasang senyum hangat seraya berkata halus.
"Rou'er, kau tenang saja...akan kucoba semampuku untuk menyembuhkan kakakmu."
Rouwei berbalik dan menatap sepasang mata bening milik Lin Tian. Tangisnya kembali pecah dan dia menubruk Lin Tian.
"Huaaaa...kakak tak boleh mati!!"
"Baiklah...baiklah...." Lin Tian dengan sabar mengelus-elus kepala Rouwei yang menangis makin mengguguk.
Di saat seperti ini, diam-diam Lin Tian berpikir, Apakah hubungannya antara racun yang diderita kakak Rouwei dengan kristal puncak Pegunungan Tembok Surga?
Dia memandang Yuan Fei yang masih memasang ekspresi sedih. Tak ada pilihan lain, dia harus menanyakan hal itu nanti!
Kurang lebih selama lima belas menit, Rouwei terus menangis tanpa henti dan membuat ia mengantuk setelahnya. Lalu tanpa sadar, dia tertidur dalam pelukan Lin Tian. Dengan sabar, pemuda ini mengangkat tubuh mungil Rouwei untuk diletakkan dalam kamarnya.
Setelah itu dia lalu menghampiri Yuan Fei yang sudah duduk di ruang tengah setelah memindahkan rebusan bahan-bahan obat yang tadi dicari Lin Tian ke dalam tempat penyimpanan. Wajah tuanya itu terlihat makin tua saja karena hatinya sedang terhimpit.
Lin Tian duduk di salah satu kursi dan terdengar Yuan Fei menghela nafas berat.
"Hah...buruk, buruk, sangat buruk...bagaimana ini....?"
Lin Tian paham akan maksud pria tersebut, dia hanya diam tak mau berkomentar untuk beberapa waktu.
"Lin Tian, apakah aku bisa mengandalkanmu?"
__ADS_1
Lin Tian memandangnya penuh perhatian, diam-diam dia juga meragukan kemampuannya sendiri, namun apa boleh buat? Orang lain sedang kesusahan dan meminta pertolongannya, tak mungkin juga dia tolak mentah-mentah.
"Aku bahkan tak yakin bisa menyembuhkan dia dengan tanganku. Sebelum itu, bisakah anda beritahu apakah hubungan antara racun itu dan kristal puncak Pegunungan Tembok Surga?"
Yuan Fei menghela nafas sekali sebelum menjawab, "Menurut cerita yang turun-temurun di keluarga Yuan, nenek moyang kami tak mampu menetralkan racun dari ilmu Pukulan Tapak Api. Namun mereka bisa menekan untuk selamanya, yaitu dengan bantuan kristal puncak Pegunungan Tembok Surga."
"Aku menyuruh kakak Rou'er untuk mengambil sekalian air danau keramat yang ada di sana. Untuk jaga-jaga jika bisa membantu." jelasnya.
Tak bisa dipungkiri, Lin Tian terkejut sekali mendengar hal ini. Namun di sudut hatinya, ada perasaan senang juga lega karena bukankah Pedang Dewi Salju itu keampuhannya berasal dari kristal tersebut? Jika memang kristal itu bisa membantu, maka dia akan lebih percaya diri untuk menolongnya.
"Lin Tian, lebih baik kau istirahat dulu...."
Lin Tian sadar jika Yuan Fei sedang mengusirnya secara halus. Maka dia lekas pergi dari sana untuk memberikan waktu sendiri bagi pria baruh baya itu.
...****************...
Di kamar Lin Tian, pemuda itu memandangi bilah pedangnya lekat-lekat. Meneliti dari ujung pudang sampai pangkalnya dengan seksama.
"Benarkah pedang ini dapat membantu?"
"Coba dulu sajalah, tak ada salahnya!" dia lalu memasukkan kembali pedang itu ke sarungnya dan membungkusnya dengan kain tebal. Meletakkannya di sudut kamar.
"Wahai kakak Rouwei yang belum kutahu namanya, janganlah mati dulu sampai berhasil pulang kemari."
Keesokan harinya, seperti biasa Lin Tian dan Rouwei akan mengumpulkan bahan-bahan obat di hutan. Dan sama halnya dengan kemarin, Lin Tian menggendong Rouwei dalam tas keranjang besar di punggungnya.
Namun ada yang berbeda, kali ini Rouwei tak seceria kemarin. Dia bahkan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab saat Lin Tian mengajaknya bermain tuan putri dan pangeran.
"Hah...merepotkan. Baik itu yang dewasa, remaja atau anak-anak, perempuan benar-benar bikin pening." gumamnya tanpa sadar yang masih mampu didengar jelas oleh Rouwei.
"Kalau membikin engkau pening, turunkan aku sekarang!" ujar Rouwei dingin dan menatap tajam.
"Nah kan, benar perkataanku..."
...****************...
__ADS_1
Di rumahnya, Yuan Fei duduk di teras rumah memandangi langit pagi yang cukup cerah. Akan tetapi wajahnya tak cukup cerah seperti pagi ini, justru sebaliknya, seolah ada awan mendung tebal yang menyelimuti wajahnya itu.
Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari mulutnya. Hatinya benar-benar gelisah sekarang karena sampai beberapa minggu putri tercintanya itu belum juga kembali.
"Hah...apakah engkau masih hidup? Jika memang begitu, cepatlah pulang karena penolongmu sudah menunggumu di sini." bisik pria itu kepada diri sendiri.
Jari tangan kanannnya diketuk-ketukkan pada bantalan tangan sisi kanan kursi. Kakinya diselonjorkan ke depan dan tengkuknya ia letakkan pada sandaran kursi. Makin lama, ketukan tangan itu makin cepat dan keras, menandakan bahwa hatinya kian gelisah.
"Maaf membuatmu menunggu. Putri durhakamu ini sudah kembali."
Saat Yuan Fei hampir ketiduran di kursi teras rumah itu, tiba-tiba dia mendengar suara lembut di hadapannya. Sontak dia cepat membuka mata dan menegakkan posisi duduknya. Matanya melotot lebar memandang siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Namun sedetik kemudian, cairan bening turun membasahi pipinya dari kedua mata, mulutnya tak kuasa lagi untuk menahan senyum.
Yang datang ini tak lain tak bukan adalah putri Yuan Fei atau kakak Rouwei yang baru saja pulang setelah mencari kristal di Pegunungan Tembok Surga.
Wajahnya cantik sekali, berbentuk daun sirih dengan sepasang pipi ramping. Bibirnya kecil manis dan hidungnya mancung, alisnya tipis dan panjang, matanya tajam namun amat jelita. Tubuhnya ramping padat, tidak ada tanda-tanda lemak berlebih di setiap inci tubuhnya. Rambutnya panjang sepunggung dikuncir dengan pita sutra warna hitam.
Dia memakai pakaian sederhana berwarna coklat dan celana panjang warna hitam. Sepatunya hanya sepatu kulit lusuh yang entah sudah ditambal ke berapa kali. Di punggungnya membawa keranjang rotan besar.
Yuan Fei bangkit dan tergopoh-gopoh menghampiri gadis ini. Tak kuasa menahannya lagi, dia memeluk putrinya erat-erat sambil menangis haru.
"Haha...putriku yang paling cantik sudah pulang! Tak tahukah engkau seberapa khawatir ayah dan adikmu ini!?"
Melihat ini, timbul pula keharuan di hati gadis tersebut dan tanpa sadar dia menangis sambil memeluk ayahnya.
"Setelah aku kehilangan dia, aku bertemu dengan keluarga hangat ini. Sekarang, apakah mereka akan menangis saat aku pergi untuk selamanya. Waktuku tak banyak...tak banyak...hanya tinggal beberapa hari lagi untuk melihat wajah mereka..." bisik gadis itu dalam hati yang sangat tahu seberapa parah kondisinya. Namun dia selalu menutup-nutupi hal itu dari ayah dan adiknya.
"Tak apalah, sebentar lagi mungkin aku akan menyusulnya. Haha...apakah dia merindukanku di alam sana? Bodoh, mana mungkin! Dia pasti merindukan nonanya sampai tak bisa tidur...."
Berpikir sampai sini, seutas senyum tipis tercipta di wajah cantiknya. Sambil terus mengucurkan air mata, dia memandang ke atas dan mulutnya bergumam. Lirih sekali bahkan Yuan Fei yang memeluknya erat sampai tak mendengar.
"Lin Tian....sahabatmu ini sebentar lagi akan menemanimu....bersabarlah sedikit lagi...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1