
Baca bab 238 dulu ya bro, kemarin gk sengaja ada kesalahan teknis, jadinya 237 sama 238 isinya sama. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya🙏🙏
...----------------...
Siur angin malam mengibarkan rambut panjang kedua orang itu. Mata mereka yang sudah lama tak saling pandang itu kini terpaut seolah-olah ada tenaga magnet yang memaksa mereka dalam keadaan seperti itu.
Suara gemuruh ombak yang menabrak karang sangat keras terdengar, tapi di telinga Zhang Qiaofeng, suara gemuruh akibat gejolak rindu di dada gadis itu jauh lebih keras dan terdengar jelas.
Perlahan, tubuhnya mulai pulih dan tangan kakinya dapat digerakkan kembali. Gadis ini mencoba bangkit dan tersenyum.
"Lin Tian....Lin Tian....ah...Lin Tian, apa kau tahu seberapa rindu nonamu ini?"
Zhang Qiaofeng terus mengucurkan air mata. Tangannya direntangkan lebar-lebar seakan hendak mendekap erat tubuh Lin Tian yang masih nergeming di tempat. Saking kaget dan terharunya, bahkan untuk berjalan saja dia merasa kesusahan.
Akan tetapi tahu-tahu tubuhnya kaku seperti ada kekangan besi yang menahan laju kakinya, saat terdengar sosok yang paling disayangnya itu mengeluarkan suara, hatinya seperti dipukul dengan gada raksasa, hancur berkeping-keping.
"Nonaku? Siapa engkau, mengapa pula kau tahu namaku?"
"Lin Tian....? Hei, ini aku...Zhang Qiaofeng! Teman kecil sekaligus nonamu, kau ingat? Haha....jangan bercanda yang tidak lucu."
"Aku sungguh tak mengingatmu atau bahkan seingatku kita baru bertemu hari ini!"
Perkataan sinis penuh penekanan itu berhasil menembus ulu hati Zhang Qiaofeng yang kian terasa sesak. Tak kuasa menahannya lagi, dia menangis terisak dan berteriak.
"Lin Tian....!!! Apa yang terjadi padamu!? Ini aku, nonamu dari keluarga Zhang!! Tak ingatkah dirimu kalau aku ini yang merawatmu setiap kali kau sakit? Apa kau lupa jika aku ini satu-satunya orang yang mampu membuatmu menangis? Apa kau melupakan hari-hari kita yang selalu bersama di setiap detiknya!?? Jawab!! Apa yang terjadi setelah kau jatuh!!?"
Diiringi suara tangisnya, Zhang Qiaofeng tanpa rasa takut lagi berteriak keras. Karena hal inilah maka dari berbagai penjuru tampak bayangan-bayangan berkelebat yang segera datang kemari. Mengurung Zhang Qiaofeng.
"******! Penyusup!" satu dari mereka maju seraya mencabut pedang.
Kemudian satu lagi mencegah kawannya dan maju menghampiri Zhang Qiaofeng dengan senyum memikat. "Kawan, jangan galak-galak. Nona cantik ini bisa kita jadikan kawan tidur untuk beberapa hari ke depan. Yah, untuk sekedar penghilang bosan."
Orang ini lantas menghampiri Zhang Qiaofeng yang masih memandangi Lin Tian dengan tatapan tak percaya. Dia tanpa ragu-ragu menyentuh tangan Zhang Qiaofeng dan berkata kurang ajar.
"Mari temani kami bermain nona manis."
Akan tetapi belum juga lima detik semenjak perkataan ini terucap dari mulutnya, tiba-tiba kejadian yang mengerikan berhasil membuat mereka semua kaget. Tak terkecuali Zhang Qiaofeng sendiri yang menjadi bingung sekali.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu bersikap sembarangan? Apa kau lupa akan tugasku di sini?"
Orang yang sebelumnya berani memegang lengan Zhang Qiaofeng dengan maksud kurang ajar itu tiba-tiba tersungkur dengan mata melotot dan mulut berteriak-teriak kesakitan. Beberapa orang yang hadir di sana pun merasa ngeri dan juga heran.
Tangan orang itu entah bagaimana sesaat setelah menyentuh lengan Zhang Qiaofeng, putus seketika. Tapi jika diperhatikan, pedang Lin Tian yang masih tergenggam erat itu nampak ada lumuran darah segar. Tahulah mereka jika Lin Tian ini yang bergerak cepat memotong tangan orang tersebut.
"Lin Tian..." Zhang Qiaofeng terharu karena berpikir Lin Tian sudah sadar. Namun kembali dia tercekat saat pemuda itu mendekatinya dan menotok lumpuh.
"Jangan salah paham...aku memotong tangannya hanya karena dia bertindak di luar perintahku. Kau pikir aku membelamu? Hmph, jangan harap!"
Kemudian dia menarik kerah Zhang Qiaofeng dan diseretnya menuju pinggir jurang. Lin Tian menunjuk ke bawah seraya berkata.
"Lihat? Itulah kematianmu!"
Zhang Qiaofeng terbelalak ngeri memandang pusaran air dan batu-batu cadas berbentuk seperti pedang itu. Dia mencoba meronta namun tak banyak membantu karena tubuhnya lemas tertotok. Hanya mampu berteriak-teriak saja.
"Lin Tian, bodoh! Apa yang akan kau lakukan? Kembali!!!"
Akan tetapi pemuda itu seperti tak mendengar dan mengayunkan tangannya. Melempar tubuh Zhang Qiaofeng seperti sekarung sampah saja.
"Selamat tinggal...." ucap pemuda itu lirih yang masih didengar oleh Zhang Qiaofeng. Dia terjun ke bawah dengan kecepatan tinggi. Namun ekspresi di wajahnya itu membayangkan jelas perasaan ketidak percayaan dan kecewa.
"Byuurrr!!!"
...****************...
"Tuan, siapakah perempuan itu tadi?"
"Aku tak ingat, mungkin dia mengenalku sebelum ingatan ini hilang."
"Kembali bekerja!" lanjut Lin Tian memberi perintah.
Setelah beberapa orang itu melesat pergi ke sana-sini menuju tempat penjagaan masing-masing, Lin Tian melanjutkan perjalanannya menuju acara pemilihan ketua baru.
Di perjalanan, dia memandangi sepasang belati nonanya itu lekat-lekat. Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda itu saat ini sampai menampakkan ekspresi sulit diartikan seperti itu, yang jelas dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku harus bisa melakukannya!" gumamnya yang tanpa sadar sudah tiba di tempat ramai tersebut.
__ADS_1
Begitu dia sampai di sana, ternyata pertandingan di panggung itu adalah pertarungan A Jiu dan A Liu. Dua orang yang sudah berumur enam puluhan tahun lebih itu bertanding dengan sangat sengitnya. Sedangkan Zhang Heng sudah duduk di kursinya, di sebelah Sian Yang.
Lin Tian menghampirinya dan berdiri tegak di belakang pria itu.
"Kudengar baru saja ada orang yang mengacau. Tapi tidak tahu siapa dia?" Zhang Heng berkata perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari pertandingan di atas panggung.
Walaupun tanpa menoleh, tentu saja Lin Tian tahu kalau dialah yang diajak bicara. Maka cepat dia majukan sedikit tubuhnya untuk mendekat agar ucapannya lebih jelas di dengar. Lin Tian berkata perlahan saja.
"Ya, ada wanita yang mengacau tadi tapi sudah kubinasakan. Kubuang dia ke jurang yang menghubungkan dengan pusaran air."
Zhang Heng mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dia menopang kepalanya dengan tangan kanan yang disandarkan ke bantalan kursi.
"Siapa dia? Darimana asalnya? Kupikir pulau ini tak pernah dikunjungi selain anggota sendiri. Agaknya dia bukan orang biasa, salahkah aku berpikir demikian?"
Lin Tian tak langsung menjawab mendengar pertanyaan ini. Wajahnya sedikit menegang dengan raut wajah keraguan yang tampak jelas.
"Ada apa?"
"Sebenarnya aku ragu akan mengatakan ini atau tidak, takut itu akan menyinggumu."
"Katakan saja, aku percaya padamu."
Lin Tian menundukkan kepalanya dalam, kemudian mengangkat lagi saat dia berkata.
"Dia wanita yang cantik sekali, pakaiannya sangat kukenal dan kuyakin kau juga mengenal. Dia itu kalau tidak salah, anggota Pedang Hitam."
Sontak Zhang Heng menolehkan kepalanya memandang Lin Tian, "Kau yang benar? Jangan bercanda!"
"Aku tak bohong, aku melihatnya sendiri."
Zhang Heng lantas melihat ketua Pedang Hitam yang duduk tenang di kursinya. Dia memandangnya tajam seraya mengapalkan tangannya erat.
"Kuperintahkan engkau, awasi Pedang Hitam!"
"Baik!" dengan seringaian iblis, Lin Tian melesat pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG