
Hening, hanya itulah satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan suasana pagi hari di puncak gunung itu. Tidak ada suara apapun selain siur angin pagi yang menerpa daun-daun pohon hingga membunyikan suara gemersak yang khas.
Halimun tebal menutupi puncak gunung itu sehingga jika ada seseorang yang berdiri di sana, yang ia lihat pastilah hanya gumpalan putih yang bergulung-gulung.
Sama seperti halnya seorang kakek sepuh berjubah kuning disertai topi caping sebagai penutup kepala itu. Dia duduk termenung di sana sambil memandangi tebalnya halimun segar di pagi hari ini.
Kadang-kadang dia menghela nafas, kadang-kadang dia memejamkan mata, kadang malah tertidur. Aneh memang watak orang satu ini.
Dia ini bukan lain adalah Chong San, guru baru Lin Tian yang sudah meninggalkan rumah gubuknya di dekat gunung yang memiliki puncak meruncing macam tombak itu.
Sudah lebih dari setengah tahun dia berdiam di sini, bertahan hidup di tempat liar ini sambil menunggu sesuatu yang selama ini ia nanti-nantikan.
"Huh! Akhirnya, sudah waktunya!!" tiba-tiba dia membuka mata lebar-lebar dan mulutnya berseru.
Chong San lekas mengambil tongkat bambunya yang sebelumnya ia letakkan di pangkuannya. Berdiri tegak sambil memandang ke satu jurusan.
"Waktunya bekerja!"
Sekali kakinya bergerak, dia sudah berkelebat pergi dari sana dengan cepat sekali. Tak sampai satu detik, tubuhnya sudah tenggelam dalam gumpalan kabut pagi yang teramat tebal itu.
...****************...
Pada waktu yang sama di kediaman Xiao, mereka semua sedang panik-paniknya karena ada seorang mata-mata yang baru melaporkan bahwa Iblis Tiada Banding datang menyerbu.
Pemimpin sementara yang dipegang oleh tetua pertama itu menjadi kerepotan bukan main. Bagaimana tidak, kekuatan keluarga Xiao belum kembali seperti sedia kala sejak kematian Xiao Li, dan sekarang Iblis Tiada Banding malah datang menyerbu. Tentu hanya kematian yang akan menghampiri mereka.
Di sebuah kamar yang dihuni oleh keluarga utama, terlihat seorang anak kecil yang duduk meringkuk di pojokan kasur. Matanya sembab dan pipinya merah, dia sedang menangis terisak.
"Ayah...ibu...kakak.....semua sudah pergi. Untuk apa aku hidup lebih lama, lebih baik pergi saja sekalian...." gumamnya seperti orang tidak sadar.
Teriakan dan gedoran pintu dari para pelayannya sama sekali tidak dihiraukan. Dia bahkan menghalangi pintu kamarnya menggunakan meja, kursi dan benda-benda berat lainnya.
"Sudahlah...mati lebih baik...." Xiao Niu memejamkan mata pasrah.
Sedangkan di luar kota Batu, sedang terjadi pertempuaran hebat antara keluarga Xiao melawan Iblis Tiada Banding. Terlihat jelas siapa pihak yang unggul di sana.
__ADS_1
Hal ini wajar karena keluarga Xiao bahkan kalah jumlah dari musuh, ditambah dengan kematian Xiao Li dan cemoohan semua orang yang selama ini mereka terima, membuat mental mereka menjadi pesimis.
Sehingga, tak sampai satu hari lamanya, Iblis Tiada Banding yang dipimpin langsung oleh Sian Yang berhasil menduduki kota Batu.
"Hahahaha....cukup mudah!"
Seru Sian Yang yang sudah duduk di kursi pemimpin keluarga Xiao. Dia yang baru saja berhasil meruntuhkan satu kota tentu saja menjadi angkuh dan sombong.
"Bunuh semua keluarga Xiao yang tersisa!"
Perintahnya kepada seluruh anak buahnya.
Sedangkan di kamarnya, Xiao Niu masih meringkuk di ujung kasur. Tidak ada lagi yang berusaha membujuknya keluar dari sana kecuali satu orang.
"Nona, nona! Keluarlah! Kediaman sudah dikuasai Iblis Tiada Banding!" teriak seorang wanita dari luar sana.
"Cukup bibi Sun! Tinggalkan aku dan selamatkan dirimu!" bentak gadis kecil ini garang.
"Tidak nona! Saya akan pergi bersama anda!"
"Pergilah!!"
"Bibi Sun?" rasa khawatirnya mulai muncul. Karena bibi Sun merupakan sosok pengganti ibu bagi Xiao Niu.
"Bibi Sun!" dia memekik dan berlari ke arah pintu. Menyingkirkan semua penghalang yang ada dan membuka pintu kamar untuk melihat apa yang terjadi.
"Hehe, akhirnya kau keluar!" kata seorang pria dengan seringaian lebar. Tangan kanannya sudah mengikat seorang wanita cantik tiga puluh tahunan. Dialah bibi Sun.
"Lepaskan bibi Sun!" bentaknya dan dengan nekat menubruk maju.
"Tuk!" hanya dengan dua jarinya saja, lelaki itu berhasil menotok lumpuh dan membikin pingsan Xiao Niu.
"Nah, tenang lah sedikit sehingga aku bisa menikmatinya." gumamnya sembari melirik bibi Sun yang diikatnya.
Di sisi lain, bibi Sun sama sekali tidak mempedulikan keadaannya sendiri. Dia malah lebih mengkhawatirkam keselamatan Xiao Niu yang sudah rebah tak sadar. Terlihat jelas dari matanya yang melotot lebar sambil memandangi tubuh kecil itu.
__ADS_1
"Hm....memang semena-mena dan tukang onar." ucap suara menggema yang berhasil mengejutkan penyandera itu dan bibi Sun.
"Siapa di sana!" bentak penyandera itu.
"Bukan di sana, tapi di sini...." jawab suara itu yang sudah berada di belakang penyandera sambil memondong tubuh Xiao Niu.
Sontak saja penyandera itu segera membalikkan tubuh sambil menebaskan pedangnya. Namun apa yang dia dapatkan hanyalah kekosongan, pedangnya itu hanya menebas angin.
"Apa yang kau tebas? Aku di sini..." ucap suara itu lagi yang sudah berdiri di halaman kediaman Xiao Niu sambil memondong tubuh Xiao Niu dan bibi Sun.
"Apa yang kau inginkan tua bangka!" bentak penyandera itu.
"Matilah sana!"
"Ugh–Akkhh!"
Hanya dalam memandangnya saja, tiba-tiba penyandera itu merasakan rasa sakit yang luar biasa dari dadanya. Sedetik kemudian, dari hidung, mata, telinga dan mulut orang itu menyembur darah segar yang berhasil menewaskannya seketika
Seseorang yang tak lain adalah Chong San itu memandang dengan dingin sambil bergumam.
"Dua orang ini belum waktunya mati..."
Setelah itu sama seperti sebelum-sebelumnya, sekali kakinya melangkah, tubuh kakek rentan itu sudah lenyap dari sana.
Beberapa menit kemudian, Sian Yang dan seluruh pasukan dikejutkan dengan kematian tragis salah satu anak buahnya. Kematian yang tak wajar karena seluruh tempat ini sudah dikuasai Iblis Tiada Banding, jika ada sesuatu seharusnya ada orang yang melihat. Namun kali ini sama sekali tidak ada yang menyadarinya sebelum tubuh itu sudah tergeletak tak bernyawa.
"Siapa yang bisa masuk ke sini tanpa sepengetahuan kita?" Sian Yang memandangi mayat itu sambil menelan ludah susah payah. Diam-diam merasa jeri juga hatinya ketika mengetahui penyerangan gelap ini.
"Entahlah, apakah ada pendekar yang cukup nekat di Selatan ini?" ucap Chan Fan menimpali.
"Apa mungkin, naga itu?" Naga Emas menyahut sembari mengingat-ingat seekor naga raksasa yang dahulu pernah muncul di hadapan ketiganya ketika mereka hendak membunuh Zhang Hongli.
Mendengar ucapan Naga Emas ini semuanya menjadi bungkam. Di benak mereka semua harus mengakui bahwa mereka memang merasa jeri dengan naga itu.
"Urus mayat ini. Mungkin ini hanya gertakan!" akhirnya Sian Yang berkata sekaligus untuk menenangkan diri.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG