Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 160. Pria Bercaping


__ADS_3

Pagi hari itu, setelah menyelamatkan Song Qian dan Fen Lian, kemudian melihat Lin Tian menebas dua orang wanita itu, Xiao Lian pergi melanjutkan perjalanan. Dia dan Hao Yu mengira jika Lin Tian benar-benar membunuh dua orang kaki tangan Aliansi Golongan Hitam tersebut.


Keesokan harinya, mereka sampai di sebuah desa kecil yang bermata pencaharian sebagai petani atau pengembala. Pagi hari itu cuaca tidak terlalu cerah, juga tidak mendung. Membuat udara sekitar menjadi nyaman sekali.


Memasuki wilayah desa, dua orang ini tidak terlalu menarik perhatian. Dengan setelan pakaian ringkas yang dikenakan Xiao Lian dan Hao Yu, juga senjata yang dibawa keduanya, warga desa langsung paham jika dua orang asing itu adalah pendekar. Namun mereka tidak merasa heran, karena memang desa ini merupakan salah satu jalan yang bisa digunakan untuk menuju kota raja, sehingga tak heran jika di desa ini terdapat banyak pendekar lewat.


"Kita cari rumah makan terlebih dahulu untuk singgah sejenak di desa ini sebelum kembali melakukan perjalanan." ucap Xiao Lian. Gadis itu sedaritadi tengok sana tengok sini untuk mencari rumah makan.


"Di sana rumah makan." kata Hao Yu menunjuk ke salah satu bangunan tak jauh dari mereka.


Segera saja keduanya memasuki rumah makan sederhana itu. Begitu masuk, mereka sudah disambut oleh salah satu pelayan yang segera menanyakan pesanan mereka.


"Dua porsi makanan dengan lauk dan sayur seadanya. Juga tolong siapkan teh panas untuk kami."


"Baik nona, pesanan segera datang."


Xiao Lian kemudian memilih untuk duduk di pojokan ruangan, tepat di belakang tiang bangunan yang cukup besar. Xiao Lian duduk menghadap pintu masuk, sedangkan Hao Yu duduk membelakangi pintu masuk.


Tak lama setelah itu, perhatian Xiao Lian teralihkan oleh munculnya seorang pria sederhana bercaping lebar yang memasuki rumah makan tersebut. Yang menarik perhatian gadis ini adalah gelagatnya. Pasalnya, pria ini memasuki rumah makan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Seolah dia sedang berwaspada kepada suatu hal.


"Hm...kenapa dia? Apakah di sini ada musuhnya?" gumam Xiao Lian sambil melirik sana-sini. Aneh benar rasanya jika seseorang memasuki sebuah rumah makan dengan cara tanpa bersuara. Entah hal itu karena terlalu waspada atau kesombongan.


Hao Yu yang mendengar itu segera menengok ke balik tiang bangunan. Karena tiang itu tepat berada di belakangnya, terpaksa dia harus miringkan tubuh untuk melihat kearah pintu. Hao Yu melihat seorang pria berjubah lebar yang sedang duduk membelakanginya.


"Sudahlah, hiraukan saja." akhirnya Hao Yu berkata.


Pesanan mereka datang dan saat itu juga Xiao Lian membayarnya. Mereka makan dengan hening, tidak ada satu pun yang ingin membuka suara. Hingga habis makanan mereka, barulah terdengar Hao Yu buka suara.


"Kita langsung berangkat?"


Akan tetapi pertanyaan ini dihiraukan oleh Xiao Lian yang sudah memandang kearah pria misterius itu dengan tajam. Entah mengapa perasaannya sangat tidak enak akan orang tersebut.


"Xiao Lian, sudahlah jangan hiraukan dia..." Hao Yu mengingatkan.


"Bagaimana mungkin aku menghiraukannya, kelakuannya terlalu aneh. Mana ada orang masuk restoran dengan pengerahan tenaga dalam agar langkahnya tak terdengar? Dia ini sungguh sesuatu." balas Xiao Lian tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pria ini bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun buru-buru Xiao Lian memegang tangan Hao Yu sambil tersenyum ketika melihat pria itu melirik kearahnya.


"Hao Yu, sekarang kita pergi kemana lagi?" tanya Xiao Lian dengan manis. Namun dalam pandangan matanya, dia memberi "kode" untuk Hao Yu.


"Ah...kau ini sungguh menyusahkan. Sekarang kita pulang! Kasihan bibi Cu yang menunggu sendirian di rumah." jawab Hao Yu membalas sandiwara Xiao Lian.


Pria bercaping itu mendengus sebelum membalikkan tubuh dan benar-benar pergi. Saat itulah, Hao Yu dan Xiao Lian merasakan adanya "ancaman".


"Orang itu bukan orang biasa."


"Apa kubilang! Boleh jadi dia mengenalku!" balas Xiao Lian.


"Kita ikuti kemana dia pergi. Sangat mencurigakan."


Tanpa menunggu lama lagi, dua orang ini lekas bangkit dan keluar rumah makan. Berjalan ke tempat sepi sebelum kemudian berkelebat untuk meloncat ke atap rumah warga.


"Di sana! Dia menunggang kuda!!" seru Xiao Lian menunjuk kearah pintu gerbang desa di sebelah Barat.


"Ayo kejar!!" Hao Yu segera melompat cepat disusul oleh Xiao Lian.


...****************...


Dia ini adalah seorang utusan dari keluarga Chen yang ditugaskan untuk menerima surat dari seseorang. Akan tetapi tugas ini amatlah penting dan rahasia, sehingga dirinya tadi sangat berwaspada ketika memasuki rumah makan. Sampai-sampai dia menyembunyikan suara langkahnya.


Surat itu terlalu penting dan rahasia, sehingga pihak pengirim tidak mau menggunakan burung pengirim pesan. Juga dengan siasat yang cerdik sekali, pengirim pesan sengaja mengutus sepuluh orang kepercayaan untuk mengirim pesan tersebut. Namun sepuluh orang itu tidak berangkat secara berbareng, mereka menunggu di tempat pertemuan masing-masing. Jadi cara kerjanya, surat itu akan dioper dari satu orang ke orang lainnya, dan pria utusan ini bertugas untuk menerima surat dari orang kesepuluh.


Beberapa jam kemudian, pria ini tiba di sebuah sungai lebar yang cukup jernih. Di kanan kiri sungai terdapat hutan bambu yang cukup luas. Kebetulan angin sedang bertiup kencang sehingga bambu-bambu itu mengeluarkan suara seperti suara suling yang sangat merdu.


Pria ini menghentikan kudanya dan menengok ke sana-sini.


"Seharusnya di sini tempatnya." gumamnya sambil meloncat turun dari pelana.


Dia lalu menghampiri salah satu bambu dan mengambil pedangnya. Dengan pedang yang masih tersarung, dia mengetok-ngetokkan pedang itu ke bambu tersebut sebanyak tiga kali.


"Tok-Tok-Tok!"

__ADS_1


Kemudian disusul dengan tujuh kali ketukan. Lalu yang terakhir sebanyak empat kali ketukan. Setelah empat belas kali ketukan, tidak nampak perubahan apa pun. Namun tak berselang lama, berkelebatlah seseorang yang berpakaian hitam-hitam, menampakkan kesan misterius. Gerakannya cepat dan ringan, membuktikan dia bukanlah pendekar lemah.


"Kau datang tepat waktu." kata orang tersebut.


"Langsung saja, mana surat itu?" jawab pria bercaping.


Orang berpakaian hitam itu segera merogoh saku baju dan menyerahkan secarik surat kepada pria bercaping. Setelah surat itu di terima, orang ini berpesan.


"Hanya surat inilah yang isinya asli dari tulisan ketua. Untuk sembilan surat lain, kesemuanya palsu. Jadi jagalah baik-baik."


"Kalian benar-benar berwaspada ya...sampai mengirim sepuluh orang yang saling mengoper surat. Padahal itu semua hanya kedok untuk menutupi surat yang ini bukan?" balas si caping sambil terkekeh.


"Jika sudah tahu, cepat kembali dan sampaikan kepada Tuan Chen." balas pria misterius tersebut sebelum kemudian tubuhnya lenyap dari sana.


Pria bercaping itu memandangi sejenak surat di tangannya sebelum memasukkannya ke dalam saku. Sekali lagi dia menengok ke kanan dan kiri sebelum melompat ke atas punggung kuda.


"Apa hanya perasaanku saja? Tapi...aku merasa seperti diikuti sejak keluar dari desa." gumam utusan keluarga Chen ini.


"Ah sudahlah, untuk apa dipikirkan? Oh...Nona Xiao Lian? Hmph, tak mungkin dia mengikutiku. Lagipula siapa lelaki yang bersamanya tadi....? Ah...tidak tidak, aku harus fokus akan tugasku." kata pria tersebut untuk meyakinkan diri.


Kemudian dia membedal kudanya dan berlari kearah jurusan dari mana dia datang. Kuda itu berlari cepat sekali, seolah tidak pernah lelah. Namun yang lari kudanya, tapi yang penuh keringat malah penunggangnya. Sungguh aneh betul.


Akan tetapi utusan itu mengucurkan keringat bukan tanpa alasan. Hal ini adalah karena sedaritadi kudanya berlari cepat, dari ujung matanya dia menangkap siluat dua bayangan yang selalu mengimbangi larinya kuda. Karena penakut dan percaya tahayul, dia tak berani menengok.


"Iblis, setan, hantuu...!! Hiii...mereka tentu hantu penjaga hutan yang terusik akan kehadiranku!!" teriaknya dalam hati sembari mempercepat laju kuda.


Tiba-tiba, dia memekik keras ketika melihat dua bayangan itu semakin dekat dan menubruknya.


"Wahhh!!!!" orang ini terjungkal ketika ada sebuah tinjuan telak mengenai wajahnya.


Sedangkan satu bayangan lagi cepat berkelebat untuk memegangi kudanya yang mulai meringkik ketakutan.


Orang yang meninjunya tadi ternyata seorang pria bertangan dan bermata satu, sambil menodongkan goloknya, pria itu berkata dingin.


"Kami dari keluarga Xiao, sudah melihat dan mendengar semuanya. Harap supaya kau suka memberitahu semua tanpa ditutup-tutupi, agar kami bisa menentukan mati hidupnya dirimu."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2